"Apa?!" ujar Yama kaget. Bik Odah yang mendengar itu, langsung mendekati mereka.
"Aku mau tinggal di rumah Bapak," jawab Tiana.
"Gak, gak boleh."
"Aku gak mau di sini, Kak."
Yama mendekati Tiana. Ia menatap gadis itu dengan tatapan meminta jawaban. "Kenapa? Kamu bilang, kenapa?"
"Kamu belum bilang sama Yama, Na?" tanya Pak Arif sembari melihat raut wajah putrinya yang terlihat lesu.
Tiana menggeleng pelan.
"Bapak gak bisa bawa kamu pulang, kalau kamu aja belum dapat izin dari suami kamu."
Dada Tiana berdesir ketika Bapaknya menyebut Yama sebagai suaminya. Gadis itu sudah tidak ingin lagi tinggal di rumah Yama. Ia takut akan kemarahan Yama semalam.
"Aku mau pulang, Pak." Tiana tiba - tiba menangis. Tadi subuh, ia langsung menelepon Bapaknya untuk meminta jemput. Bapaknya sempat menanyakan kenapa tiba - tiba ingin pulang, Tiana langsung menjawab kalau dirinya merindukan rumah dan juga Ibu. Setelah itu Bapaknya setuju untuk menjemput dirinya.
"Izin dulu ke Yama, kalian ada masalah?" ucap Pak Arif.
Tiana terdiam. Yama pun ikut memikirkan apa yang terjadi. Dan tiba - tiba ia ingat, semalam ia sempat sakau, dan Tiana menangis karena dirinya. Apa karena itu? Karena itu Tiana ingin pulang? Yama merutuki dirinya sendiri. Bagaimana ia bisa melupakan hal itu?
Yama berjanji pada dirinya sendiri untuk berubah, menjauhi barang haram itu, ternyata sangat susah. Dirinya seakan terikat oleh barang itu. Dan karena itu pula, Tiana takut kepada dia.
"Kak, aku mau pulang, tolong izinin ya?" ucap Tiana sambil menunduk.
Yama yang melihat itu tidak tega. Tapi ia juga tidak ingin Tiana jauh darinya. Namun dengan berat hati, akhirnya ia mengangguk. "Seminggu ya, Na. Habis itu kamu pulang, aku jemput."
Tiana sempat ingin protes, karena seminggu terlalu cepat. Namun ia mengurungkan niatnya. Akhirnya ia mengangguk.
•••••
Yama bersyukur, akhirnya ia bisa menjadi mitra salah satu ojek online. Akhirnya, ia bisa menghasilkan uang sendiri. Walau ia mulai dari bawah, tidak apa, yang penting ia berusaha untuk bertanggung jawab pada Tiana.
Sudah dua hari Tiana menginap di rumah orang tuanya. Setiap malam, Yama selalu menghubungi Tiana. Mereka sering bertemu di sekolah. Yama hanya bisa sekedar menyapa pada Tiana. Sudah beberapa kali ia menawarkan Tiana untuk pulang bersamanya, namun selalu ditolak oleh gadis itu. Yama pun tidak bisa memaksanya.
Malam ini terasa dingin, dan ia merasa risih karena seorang wanita yang terus menempel pada tubuhnya. Yama berusaha sabar, karena bagaimana pun, wanita itu adalah customernya.
Setelah sampai di tempat tujuan. Akhirnya Yama dapat bernapas lega karena wanita itu turun dari motornya.
"Aa', ari si Aa' masih kuliah?" tanya gadis itu seraya menatap Yama s*****l.
"Iya, Teh, dua bulan lagi lulus, baru kuliah."
"Oh masih sekolah." Wanita itu menyampirkan anak rambutnya ke telinga.
"Udah Teh? Saya mau pulang."
"Eh iya, makasih ya A'."
"Sama - sama, Teh," jawab Yama sambil tersenyum. Lalu ia memutarbalikkan motornya lalu mengendarainya menuju rumahnya.
Wanita itu tersenyum - senyum sendiri. "Ganteng juga, masih sekolah, motornya bagus lagi," ucap wanita itu lalu masuk ke dalam rumahnya.
Yama sampai di villa ketika waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Badannya terasa remuk karena dari sepulang sekolah ia mengojek. Ia menyempatkan ganti baju di rumah, agar orang tidak tau bahwa dirinya masih sekolah.
Ia mengambil dompet dari dalam saku celananya. Dibukanya dompet itu dan dilihatnya ada beberapa lembar uang disana. Yama menghitung uang itu, ia mendapatkan sekitar seratus empat puluh ribu rupiah. Dan Yama bersyukur, walaupun sedikit, itu adalah awal yang bagus. Yama bisa merasakan betapa sulitnya mencari uang.
"Den Yama, mau Bibik siapkan air panas buat mandi?" Bik Odah datang dari arah kamarnya sembari memakai kerudung terusn miliknya.
"Eh, gak usah bik, lanjut tidur aja, Yama mandi pakai air dingin aja."
Bik Odah mengangguk, lalu pamit kembali ke kamar. Yama pun berjalan menuju kamarnya di lantai atas. Lelaki itu langsung masuk ke kamar mandi setelah itu berganti pakaian. Tak lama setelah ia merebahkan tubuhnya di kasur, lelaki itu terpejam menyelami alam mimpinya.
Sementara di satu rumah, di kamar kecil milik Tiana. Gadis itu selalu mengecek ponselnya, berharap ada telepon dari suaminya. Tapi sampai tengah malam, Yama sama sekali belum meneleponnya. Tiana kesal sendiri, akhirnya ia pun memilih untuk tidur saja.
•••••
Sudah seminggu berlalu sejak Tiana memutuskan untuk menginap di rumah orang tuanya. Yama benar - benar merasa kesepian, tidak ada suara gadis itu, dan ia pun tidak puas menatap wajah Tiana ketika berpapasan di sekolah.
Hari ini, hari terakhir Tiana di rumah orang tuanya, dan nanti sore, Yama berniat ingin menjemput Tiana.
"Yam," ucap Farid sambil melentingkan jarinya di depan wajah Yama yang sedang terpaku melihat Tiana dan temannya makan di kantin.
Yama langsung menoleh dan menatap tajam Farid, hilang sudah fokusnya terhadap Tiana.
"Bengong aja lu daritadi," ucap Abrar sembari meminum es tehnya, lalu memakan semangkuk mie ayam di hadapannya.
"Ari maraneh nyaho teu, minggu depan rek aya pentas seni." (Kalian tahu tidak, minggu depan bakalan ada pentas seni)
Farid, Abrar dan Yama langsung menoleh menatap Dirga. "Seriusan?" tanya Abrar dengan mata yang berbinar.
"Lo kira gue bohong?! Lah orang tadi aja ada posternya dipajang di mading, anjir," jawab Dirga seraya memutar bola matanya malas.
"Pentas seni apa?" Kini, giliran Yama yang penasaran.
"Lomba - lomba kos kitulah, kesenian budaya daerah," jawabnya. Yama mengangguk mendengarnya.
Hari ini sungguh melelahkan bagi Yama, kurang dari sebulan lagi ia akan mengikuti ujian nasional. Dan beberapa hari ini banyak sekali tugas praktek yang harus dikumpulkan, belum lagi minggu depan sudah ujian sekolah.
Tak menunggu lama, setelah bel sekolah berbunyi, Yama langsung menuju parkiran. Lelaki itu mengambil motornya, lalu tak lupa memakai helm dan juga jaket kulitnya. Setelah itu Yama mengendarai motornya sampai ke depan gerbang.
Matanya menelisik satu persatu siswa yang lewat.
"Halo, Yama!" sapa Sinta dengan senyumannya yang lebar. "Aku boleh bareng gak?"
"Ekhem!" goda Devi ketika melihat itu. "Gue sama temen - temen balik duluan ya, Sin. Semoga berhasil!"
Sinta melambaikan tangannya. Lalu matanya terfokus lagi kepada Yama yang kini tengah mencari - cari seseorang. "Cari apaan sih, Yam? Kamu dengar apa yang aku bilang gak sih?"
"Gue denger."
"Aku mau bareng, boleh ya?" Sinta kini sudah duduk menyamping di jok belakang motornya. Lalu gadis itu melingkarkan tangannya di pinggang Yama.
"Sinta, lepasin! Gue bareng sama orang, gue gak bisa nganterin lo!" ucap Yama seraya melepaskan pelukan Sinta di pinggangnya.
Sinta turun dari motor Yama dengan wajah yang ditekuk. Dia menatap Yama yang kini tersenyum melihat seseorang yang tak jauh dari gerbang. Sinta menggeram kesal, apa mungkin Yama kini menyukai gadis miskin itu?
Yama menjalankan motornya perlahan mendekati Tiana yang kini sudah berjalan keluar dari gerbang. "Na! Buru naik!"
Tiana yang tadi sempat melihat interaksi antara Yama dan Sinta, ia menjadi takut untuk pulang dengan Yama. Karena pasti nanti akan ada berita - berita yang tidak enak di sekolah tentang dia dan Yama. Apalagi Yama dan Sinta baru saja putus. Tiana tidak ingin dia yang disalahkan dan dituduh menjadi orang ketiga.
"Naa..." kata Yama lagi. Ia terus menjalankan motornya pelan menggunakan kaki, agar bisa menyamai langkah Tiana.
"Na, dipanggil sama Kak Yama loh itu," ucap Elis.
Tiana berhenti berjalan. Yama menghela napas lega. "Aku naik angkot aja, Kak," jawab Tiana sembari melihat ke arah Sinta yang tengah menatapnya tajam.
"Nggak, kamu bareng aku, please..." pinta Yama. Sekali lagi Tiana menoleh ke arah Sinta, dan gadis berambut sebahu itu masih tetap memperhatikannya.
"Aku gak enak sama Elis, aku bareng dia aja."
"Elis, lo gakpapa kan kalau Tiana bareng gue?" tanya Yama yang langsung diangguki Elis dengan salah tingkah.
"Gakpapa, Kak! Elis bisa sendiri," jawab gadis itu. "Udah, Na... kamu bareng sama Kak Yama aja, kapan lagi dapat tumpangan gratis."
Yama tersenyum senang. Tiana melihat lagi ke arah Sinta, dan ternyata mantan pacar Yama itu sudah menghilang. Kepala Tiana bergerak mencari keberadaannya, namun sudah tidak ada lagi batang hidung Sinta. Lalu dengan cepat Tiana mengangguk. Ia pun mendudukkan dirinya di atas motor Yama dengan posisi menyamping.
"Elis duluan ya..." ucap Tiana yang langsung diangguki oleh Elis.
Yama menjalankan motornya menuju rumah orang tua Tiana. Tetangga memperhatikan mereka ketika Yama membantu Tiana membawa tas besarnya.
"Loh, Neng Tiana mau kemana lagi?" tanya salah satu tetangga Tiana yang bernama Bu Euis.
"Ini loh, Bu, Yama mau nganterin Tiana ke rumah Uwak Ratih, udah hampir 2 bulanan Tiana tinggal di sana," jawab Ibunya Tiana.
"Oh, hati - hati atuh ya Neng."
"Eh iya, Bu," jawab Tianya sambil tersenyum kecil. Yama pun ikut senyum.
Setelah bersalaman dan pamit kepada kedua orang tua Tiana, Yama kembali mengendarai motornya menuju rumah miliknya. Dilihatnya dari kaca spion wajah Tiana yang tampak murung.
"Uwak Ratih tuh siapa, Na?" tanya Yama.
"Kakaknya Ibu."
Yama mengangguk pelan. "Dia tinggal deket sini?"
Tiana mengangguk lagi. "Iya, tapi gak terlalu dekat sama Ibu."
"Kamu mau makan dulu?" ucap Yama dengan suara yang agak dikencangkan agar terdengar oleh Tiana.
"Gak usah, aku mau langsung pulang."
"Yaudah nanti kita pesan aja ya."
Setelah itu tidak ada lagi percakapan diantara mereka. Beberapa menit kemudian, motor Yama sudah masuk ke kawasan villa. Ketika sampai, Tiana langsung masuk begitu saja tanpa mempedulikan Yama yang ingin berbicara namun tergantung katanya.
"Padahal mau tanya dia mau makan apa..." kata Yama seraya menghembuskan napasnya pelan.
••••••
Yama membuka pintu kamar dengan pelan. Dan ia terkejut ketika melihat Tiana yang sedang berdiri di depan cermin fullbody dengan baju setengah terangkat hingga atas perut. Gadis itu sudah berganti pakaian sekolahnya dengan baju rumahan biasa. Celana panjang dan kaos oblong polos.
Lelaki itu terus melihat bagaimana Tiana membalikkan tubuh hingga menyamping, dan mengukur - ukur perutnya yang sudah terlihat membuncit. Lalu dengan gerakan perlahan tangan Tiana mengelus perutnya dari atas ke bawah.
"Kamu makin gede, kalau ke sekolah bakalan keliatan gak ya? empat minggu lagi kan mau ulangan kenaikan kelas," ucap Tiana pada dirinya sendiri.
Tiana masih tidak menyadari kehadiran Yama yang tengah mengintip dirinya karena terhalang sebuah rak buku.
Yama menghela napasnya pelan. Lalu ia mengetok pintu hingga membuat Tiana panik dan langsung membenarkan bajunya.
"Aku udah pesen makanan, ayo makan."
"Iya, nanti aku nyusul," jawab Tiana.
Lalu Tiana menatap Yama dari atas hingga bawah. Lelaki itu sudah rapi dengan celana jeans hitam dan jaket kulitnya. Mau kemana lagi dia?
"Aku mau pergi dulu, pulang malam, jadi jangan lupa buat bikin susunya ya, Na..."
"Mau kemana?" Akhirnya, Tiana berhasil memberanikan diri untuk bertanya.
"Ada deh, yaudah aku berangkat ya, jangan lupa makanannya dihabisin."
Setelah itu Yama pergi meninggalkan Tiana dengan rasa penasarannya.
Pukul 7 malam, Tiana masih menunggu Yama di depan televisi sambil memakan camilan. Sudah tak terhitung berapa kali ia menengok ke arah jam dan berharap Yama cepat pulang. Karena Tiana merasa pertanyaan yang ia tanya tadi belum dijawab dengan benar oleh Yama. Dan ia juga ingin tau Yama pergi kemana, karena Tiana sudah bertekad kembali untuk merubah Yama agar tidak lagi mendekati barang haram seperti alkohol.
Ting.
Bunyi notifikasi ponselnya. Tiana mengeceknya dan melihat Elis yang mengiriminya pesan.
Elis Rahmawati : Buka grup angkatan na cepettt 19.12
Dengan cepat ia membuka grup angkatan yang sudah ramai. Dibacanya satu persatu hingga ia kaget dan mendadak lemas ketika melihat foto dia dan Yama yang berboncengan di atas motor tersebar, seperti ada yang memotonya diam - diam.
ANGKATAN 46' ADIPATI
Vania : sent a photo. 19.05 Anjir demi apapun nih orang ga ada adab, ngebuat orang putus 19.05
Helmi : Beneran itu si anak beasiswa?? 19.05
Ajeng : Demi apasih anjir, mukanya polos banget eh taunya pelakor 19.05
Adzkia : Wah gilaaa, buta kali Kak Yama ninggalin Kak Sinta demi batu akik kek Tiana 19.06
Ghina : Dapet darimana tuh foto? 19.06
Vania : Digrup angkatan kelas 12 dah rame Na, gue aja dapet dari Kak Devi 19.06
Tiana tidak kuat lagi untuk membacanya. Lalu terpampanglah nama Yama di layar ponsel Tiana yang sedang memanggil.
Kak Yama is calling...
Tiana tidak menjawabnya. Dia membanting ponselnya ke sofa dan menangis. Dadanya terasa sesak. Kenapa semua dia yang disalahkan?