Bab 13

2215 Words
 Yama memarkirkan motornya di halaman villa. Lelaki itu dengan cepat membuka helmnya dan menaruhnya di spion motor. Setelah itu Yama berjalan cepat masuk ke dalam rumah. Dilihatnya rumah yang tampak sepi, sepertinya Bik Odah sudah tidur di belakang. Yama pun melangkahkan kakinya menuju kamar Tiana, telinganya menangkap suara perempuan yang sedang menangis.  Dengan pelan, ia membuka pintu kamar Tiana yang kebetulan tidak dikunci. Dan benar saja, Yama melihat Tiana yang sedang berbaring membelakanginya dengan tubuh bergetar hebat. Yama mendekatinya, setelah ia sampai di depan gadis itu yang tengah menutupi mukanya dengan bantal, Yama berjongkok untuk bisa menyamai tubuhnya dengan Tiana. Tangannya terulur menyentuh rambut Tiana yang berantakan. "Maaf..." ucap Yama. Entah untuk yang keberapa kalinya ia mengucapkan maaf kepada Tiana. Yang pasti ia bosan untuk mengucapkan kata itu, ia selalu membuat Tiana sakit, ia ingin membuat Tiana bahagia dengannya. Apakah bisa? Tiana masih tidak menyahut. Tapi tangisan gadis itu mulai mereda. "Aku bisa bilang ke semuanya kalau kita pacaran, Na. Aku akan bilang kalau kita berpacaran ketika aku sudah putus dengan Sinta." Tiana melemparkan bantalnya. Lalu ia bangun dan duduk di pinggir kasur. "Cukup, Kak! Gak perlu bilang seperti itu. Yang ada nanti aku yang malah semakin salah di mata mereka!" Yama memperhatikan wajah Tiana yang sembab, mata yang berair dan juga hidungnya yang memerah. "Na... maaf..." "Kakak gampang minta maaf. Kak Yama gak ngerasain gimana jadi aku? Kak Yama gak disalahin! Yang disalahin cuma aku! Aku dikatain pelakor, aku yang udah ngancurin hubungan Kak Yama sama Kak Sinta," ucap Tiana dengan dadanya yang sesak. "Gak... kamu gak gitu." "Tapi itu emang bener kan Kak? Aku penyebab kalian putus!" katanya. "Gara - gara anak ini!" tunjuk Tiana ke perutnya. "Dia gak salah..." lirih Yama. "Dia salah, karena hadir diwaktu yang gak tepat! Tapi Kak Yama yang lebih salah di sini! Kenapa harus aku, Kak? Kenapa Ya Tuhan?" tangis Tiana kembali pecah. Yama ingin memegang tangan Tiana, tapi langsung ditepis oleh gadis itu. "Kenapa aku harus bertemu dengan kamu? Kalau dari pertama kita tidak saling kenal mungkin sekarang hidup aku akan biasa - biasa saja seperti murid lainnya. Tidak akan ada berita itu, walaupun aku terus dibilang anak miskin, anak beasiswa, aku gak perduli, memang itu kenyataannya kan, seharusnya Kak Yama jangan datang sebagai malaikat pelindung, seharusnya Kak Yama diam saja." "Kamu percaya takdir kan, Na?" ucap Yama pelan. Tangan besarnya menyentuh lutut Tiana yang terlapisi oleh celana tidur panjang. "Semua itu sudah Tuhan yang mengatur, kita sebagai manusia hanya bisa menerima dan menjalaninya saja." "Kak Yama percaya Tuhan?" tanya Tiana dengan suara tercekat.  Yama terdiam. Dia bahkan jarang sekali menjalankan ibadah. Dia sering melaksanakan solat ketika di sekolah pas hari jumat karena seluruh murid laki - laki yang muslim harus melaksanakan solat jumat di masjid sekolah.  "Mulai besok, jangan dekati aku di sekolah ya, Kak? Jangan pernah minta aku untuk pulang bareng, anggap aja kita orang asing di sekolah." "Jangan dengerin omongan orang, Na! Biar aku yang selesaiin itu semua, aku gak bisa untuk jauh dari kamu walaupun itu hanya di sekolah." Tiana menghela napasnya. "Tapi aku selalu kepikiran dengan omongan orang, Kak. Aku capek, capek banget..." lirihnya. "Oke, kalau itu yang kamu mau, aku akan menjauhi kamu di sekolah, supaya kamu nyaman di sana." "Aku mau tidur, Kak." Setelah itu Tiana kembali membaringkan badannya. Yama mengangguk. Ia pun menarik selimut agar menutupi tubuh Tiana. "Selamat malam, Na." "Selamat malam, Kak," ucap Tiana yang tidak mungkin didengar karena Yama sudah keluar dari kamarnya. •••••  Tiana datang ke sekolah. Namun ada yang berbeda kali ini, karena seluruh murid yang berpapasan dengannya menatapnya dengan sinis. Bahkan beberapa murid laki - laki dengan terang - terangan menggodanya. Sepertinya ada yang tidak beres. Lalu Tiana melihat mading yang dipenuhi oleh siswa. "Ehm, permisi, ada apa ya?" tanya Tiana ke salah satu murid perempuan.  "Oh, ini pelakornya." Karena ucapan murid perempuan itu cukup kencang membuat seluruh murid yang tadinya fokus ke mading berubah menatap Tiana dengan tatapan seakan Tiana ini adalah sampah. Tiana melihat ke arah mading, dan ia begitu terkejut ketika melihat foto dirinya dan Yama di atas motor terpampang jelas di mading. Dengan cepat Tiana menarik foto itu dan merobeknya. "Kelakuan lo kebangetan banget." "Muka lo tebel ya, masih berani nampakin diri di sekolah." "Ya iyalah, secara dia kan anak beasiswa, kesian orang tuanya gak mampu!" Tiana menangis dengan cepat ia menghapus air matanya. "Woi, liat tuh apa rame - rame?" ucap Dirga kepada Yama, Farid, dan Abrar yang tengah berjalan di koridor. Yama menyipitkan matanya, dan ia mengepalkan tangannya ketika melihat ada Tiana di sana sendirian di tengah - tengah murid yang sedang mengejeknya. Yama berlari ke sana, diikuti oleh teman - temannya. "Na..." ucap Yama. "Lo semua ngapain disini hah?! Gak ada urusannya sama kalian masalah ini, ini masalah pribadi, ngapain sih jadi orang kepo banget, anjing!" geram Yama. "Jadi, berita itu bener kan, dia pelakor!" ucap seorang perempuan yang merupakan teman sekelas Yama yang terkenal julid sama seperti Devi karena mereka satu geng. "Lo tau bacot gak?! Mulut lo minta dicabein ya? Gak betah sehari aja diem gak ngomongin orang!" bentak Yama. "Oh, pangerannya udah dateng melindungi si upik abu," ucap Devi dengan songongnya. "Gue sama Sinta udah lama putus! Ya terserah gue dong deket sama cewek siapapun itu!" "Kak Yama, tolong..." ucap Tiana denga tatapan memohon agar ia jangan berbicara apapun lagi. "Dan kalian semua, aku gak ada salah sama kalian, kenapa kalian benci banget sama aku? Apa salah kalau aku cuma anak beasiswa? Apa aku gak berhak sekolah di sini?" lirihnya. Setelah itu Tiana pergi, berlari menjauhi orang yang berkumpul. Dan semua itu tidak luput dari perhatian seorang murid lelaki yang diam sambil memegang tasnya di paling belakang. Setelah melihat gadis itu yang pergi, dia pun ikut menyusulnya. Dan di sinilah ia berada. Di taman bermain, yang jaraknya lumayan jauh dari sekolah. "Hai," sapanya. Tiana dengan cepat menghapus air matanya. "Loh, Kak Arya kok di sini?" "Mau gue jawab jujur atau bohong?" Tiana terkekeh pelan. "Ya jujurlah, siapa juga yang mau dibohongin." "Gue ngikutin lo dari sekolah." "Bentar lagi masuk loh, Kak. Mending balik ke sekolah." "Males, enakan di sini." Tiana menghela napasnya pelan. Lalu ia menatap anak - anak yang berlarian diikuti oleh ayah mereka dari belakang. Sedangkan di sisi lain, sang ibu tengah duduk lesehan di karpet dan menyiapkan makanan untuk suami dan anaknya. Keluarga yang bahagia dan sehat. Tiana suka melihatnya. Tapi sepertinya itu semua tidak akan terjadi di dirinya. Yama tidak mungkin bukan ingin hidup selamanya bersama ia? "Loh jadi melamun! Bantuin gue bikin tugas aja deh, Na." "Tugas apa?" "Matematika wajib, susah banget ampun dah! Ngapa sih ada orang yang nyiptain matematika?! Kalau gue hidup di jaman dia, dah gue bunuh duluan supaya matematika gak pernah ditemuin." Tiana tertawa. Dan itu membuat Arya terpaku. "Nah gitu, kan cantik, serius lo cantik kalau ketawa." Wajah Tiana memanas. Lalu ia tersenyum kecil. Arya merubah duduknya yang tadi di bangku taman yang terbuat dari kayu bersama Tiana sekarang menjadi di bawah, di atas rumput hijau kering. Arya menaruh tasnya di sebelah Tiana dan membukanya untuk mengambil buku. Ia gunakan bangku itu sebagai meja, sedangkan Tiana masih duduk di atas. "Ini x-nya dapet darimana Na? Kok bisa jadi ada dua? x sama dengan -5 sama x sama dengan 5?" Tiana melihat soal itu. Lalu ia mengangguk mengerti. "Ini tuh dipecah Kak dari persamaan ini," dengan pelan Tiana menjelaskannya. Arya manggut - manggut mengerti. Walaupun sebagaian besar ia hanya mengamati wajah serius Tiana yang tampak mempesona. "Sini biar gue tulis." Tiana melihat Arya yang serius mengerjakannya. Ia jadi ingat, dulu, ia dan Yama sering seperti ini. Dan sekarang, mereka jarang sekali melakukannya lagi. Tanpa mereka sadari, seorang lelaki yang tidak lain adalah Yama memperhatikan mereka dengan napas yang ngos - ngosan karena habis berlari. Yama mengepalkan tangannya, lalu berjalan balik tanpa mempedulikan niat awal yang ingin menyusul Tiana. •••••  Tiana sedang menonton televisi dengan camilan kripik singkong buatan Bik Odah di pangkuannya. Tiba - tiba saja pintu terbuka dan memperlihatkan Yama yang pulang dengan tubuh yang acak - acakan. Tiana menjerit ketika melihat tubuh Yama yang luruh di lantai sambil bergumam tidak jelas. Tiana pun mendekatinya dan memapah Yama. Bik Odah datang untuk membantu Tiana memapah Yama menuju kamarnya di lantai bawah. Tidak mungkin di kamar Yama karena kamar lelaki itu ada di lantai atas. "Makasih, Bik," ucap Tiana ketika mereka berhasil menidurkan Yama di kasur. "Sepertinya Den Yama mabuk." Tiana diam, lalu melihat ke arah Yama yang kini tengah terkekeh tidak jelas bagaikan orang gila. "Yaudah Bibik ke dapur lagi ya, Non. Lagi masak ayam." Tiana mengangguk. Lalu ia duduk di pinggir ranjang sambil terus melihat Yama. "Kenapa sih Kak Yama suka banget mabok?" Tangan Tiana terulur untuk melepaskan jam tangan Yama. Ia ingin melepaskan seragam Yama dan menggantinya dengan baju biasa, namun Tiana tidak berani. "Na..." ucap Yama sambil memegang erat pergelangan tangan Tiana. "Jangan deket - deket lagi sama cowo baru itu! Gue gak suka!" ucapnya seraya memijit kepalanya yang pusing. "Satu lagi, jangan pernah capek buat selalu di sisi gue, Na... cuma lo satu - satunya dihidup gue, gue gak punya siapa - siapa lagi, Na." ••••• Matahari pun belum menampakkan diri dan ia dikejutkan dengan suara heboh dari kamar mandi. Tiana bangun dari tidurnya dan berjalan ke arah kamar mandi, benar saja, di sana ada Yama yang tengah memuntahkan isi perutnya di closet. Tiana mendekatinya, memijat pelan tengkuk Yama hingga akhirnya lelaki itu menepis tangannya dan berdiri. "Maaf, bangunin tidur kamu," ucapnya. Tiana menggeleng. "Mau aku buatin teh, Kak?"  "Nggak usah, tidur aja lagi, Na." Tiana menatap ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 3 pagi. "Sebentar lagi juga sekolah, ada waktu sedikit buat belajar." Yama tersenyum kecil. Tiana sangat suka belajar, pantas saja gadis itu sangat pintar hingga bisa mendapatkan beasiswa di sekolah. Yama terus memperhatikan Tiana yang kini sudah berada di atas kasur dengan buku - buku pelajaran di sekitarnya. "Kak Yama ngapain diem disitu? Mending belajar, sebentar lagi kan SBMPTN, biar nilainya bagus bisa masuk jurusan yang Kak Yama mau." Seperti tersihir oleh ucapan Tiana, Yama pun mengambil buku tebal dari dalam meja, buku pembahasan soal - soal SMBPTN yang sudah ia beli beberapa hari lalu. Ia duduk di kasur, bersebelahan dengan Tiana. Yama membuka buku itu, dia menggaruk kepalanya ketika melihat soal matematika yang membuatnya mati kutu. Dia tidak mengerti sama sekali soal itu. Di sekolah ia tidak pernah belajar dengan serius, selalu bercanda dan bermain - main dengan temannya. "Aku baru lihat bukunya, Kak Yama kapan belinya?"  "Beberapa hari yang lalu, itu juga lagi ada diskon." "Tumben beli bukunya," balas Tiana sarkas. "Setelah dipikir - pikir, hidup jadi orang b**o itu gak enak. Hidup susah. Aku gak mau punya masa depan yang suram, walaupun tampang kayak jamet gini, aku juga mau membuktikan pada orang tua kalau aku bisa jadi orang sukses." Tiana tersenyum kecil. "Kak Yama cita - citanya mau jadi apa?" celetuk Tiana. Yama memikirkan itu sejenak. Lalu ia kembali menatap Tiana. "Kamu tau gak, dulu waktu kecil, aku pernah berpikir kalau nanti udah gede mau jadi nahkoda, karena aku suka laut." Tiana mengernyitkan dahinya. "Kenapa?" "Gak tau juga, alasannya gak pasti. Di laut tuh nyaman, angin berhembus setiap saat, melihat birunya air laut yang membuat mata terpesona, jika sudah menjelang malam, langit menjadi bagus dan bisa melihat matahari terbenam berwarna jingga." "Kak Yama tetep mau jadi nahkoda?" Yama menggeleng. "Dulu, Mama melarang, katanya bahaya, bisa mati kalau ada tsunami." Gadis itu tertawa kecil. "Semua pekerjaan kan punya risikonya masing - masing." "Kalau kamu, kamu mau jadi apa, Na?" tanya Yama. "Aku mau jadi dokter gigi." Yama terkekeh pelan. "Gak takut nyium bau mulut orang - orang yang mungkin baunya kayak durian busuk." "Kalau udah suka sama pekerjaan kita, udah ikhlas bantu orang lain, semuanya akan terasa menyenangkan." Tiana tersenyum kecil. Yama pun ikut tersenyum. "Maaf Na tentang kejadian kemarin." "Bosen aku denger Kak Yama bilang maaf terus." Yama menggaruk tengkuknya merasa malu sendiri. "Karena semua itu salahku." "Mulai sekarang, aku pulang sendiri aja." Baru saja Yama ingin protes, tapi ia urungkan. Karena ia tidak ingin membuat Tiana semakin marah. Biarlah, tidak apa - apa jika dirinya menjaga jarak di sekolah, mereka masih mempunyai waktu di rumah. Tiba - tiba ia teringat akan seorang lelaki yang bersama Tiana kemarin di taman. "Sejak kapan kamu deket sama anak baru itu?" tanya Yama. Gadis itu mengernyit pelan. Lalu mulutnya membentuk huruf o ketika ia mengerti siapa yang dimaksud oleh Yama. "Waktu di UKS, gak deket juga kok. Cuma beberapa kali ketemu." "Jangan deket - deket, Na. Nanti dia suka sama kamu." Yama berucap dengan nada jengkel. "Nggak mungkinlah." "Kita gak tau apa yang ada di hatinya kan? Mending jauh - jauh sama dia, Na." Yama menyentuh pelan tangan Tiana yang berada di atas kasur. Gadis itu menoleh menatap Yama. "Ada aku, jangan pernah deket sama cowo lain. Aku gak suka." Entah kenapa hati Tiana merasa berbunga - bunga. Tapi... ia tidak ingin kepedean dulu. Ia masih harus menjaga perasaannya. "Kalau gitu, Kak Yama harus berubah, jangan mabok lagi, bisa? Karena bukan hanya hidupmu yang dipikirkan, tapi juga ..." Tiana memejamkan matanya seraya menghela napas. Lalu ia membuka matanya lagi. "Ada manusia yang sebentar lagi lahir, dan dia butuh Kak Yama." Saat itu juga Yama terdiam. Matanya menatap dalam mata Tiana dan mereka bertatapan beberapa saat sebelum akhirnya kembali pada buku mereka masing - masing.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD