Bab 14

2538 Words
Yama menatap dan mendengarkan apa yang sedang dijelaskan oleh guru matematika. Ia sudah bertekad bahwa ia harus berubah, demi masa depannya.  Lalu tiba - tiba suara speaker pengumuman terdengar dari luar. Membuat pelajaran dihentikan sejenak. Innalillahi wainnailaihi rojiun ... telah berpulang ke rahmatullah, teman kalian, kakak kelas kalian, Rian Atma Wijaya kelas 12 IPS 4, pukul 5 pagi di rumah sakit. Mari kita doakan ananda Rian agar diberi tempat layak di sisi-Nya. Yama tersentak kaget. Kabar yang mengejutkan. Karena baru saja kemarin ia bertemu dengan Rian dan lelaki itu baik - baik saja. Yama melihat Pak Ubay—guru matematika—berjalan keluar dari kelas seakan ingin mengetahui informasi lanjut. Yama pun dengan cepat keluar kelasnya. Dan ia melihat Farid, Abrar dan juga Dirga di depan kelas. Banyak anak murid di depan kelas mereka sekarang. Seakan kaget akan berita yang disampaikan. Yama mengambil ponselnya dari dalam saku celananya. Ia mencari kontak Azis, lalu ia menelpon nomor itu. Yama berjalan sedikit jauh dari kerumuran murid. "Rian kenapa, Zis? Gue kemarin ketemu dia baik - baik aja," ucap Yama. "Dia overdosis n*****a, Yam." Lutut Yama melemas. Tiba - tiba terpikirkan sesuatu di otaknya. Tidak, dia tidak ingin bernasib sama dengan Rian. Dulu, memang ia ingin perlahan - lahan membuat hidupnya hancur, karena dulu ia merasa tidak dibutuhkan di dunia ini oleh karena itu ia mengonsumsi n*****a yang pertama kali diajak oleh Rian. Tapi tidak dengan sekarang. Ia punya Tiana. Seseorang yang membuatnya kembali hidup, kembali merasakan apa arti hidup sebenarnya, karena Tiana ia ingin berubah. Ada sesuatu yang spesial yang sebentar lagi akan hadir, sesuatu yang tadinya sebuah kesalahan tapi sekarang menjadi keajaiban dalam hidupnya. "Lo bisa, Yam! Lo harus bisa!" ucap Yama menyemangati dirinya sendiri. Yama mematikan teleponnya dan kembali menemui teman - temannya. Pulang sekolah, Yama melihat satu persatu anak kelas 10 yang berjalan melewati gerbang. Tapi hingga beberapa lama ia tidak kunjung menjumpai Tiana. Ia hanya ingin memastikan bahwa Tiana pulang dengan aman. Apa Tiana sudah pulang lebih dulu? Yama pun kembali ke parkiran. Ia mengambil motornya dan mulai menjalankannya menuju villa. Sedangkan di sisi lain, Tiana ditarik paksa oleh   6 orang murid perempuan kelas 12. Siapa lagi kalau bukan gengnya Devi, dan tentu saja di sana ada Sinta. "Lepas, Kak!" ucap Tiana ketika ia melihat dirinya dibawa menuju belakang sekolah sebelah gudang yang sangat jarang dilewati oleh murid - murid. "Diem lo! Urusan kita belum selesai, ya!" ucap Devi dengan nada tajamnya. Ketika sampai diruangan kosong yang penuh dengan bangku dan meja rusak, Tiana didorong oleh Devi hampir tersungkur di lantai jika tidak ada sebuah kuris yang menjadi pegangannya. "Lo itu baru kelas 10! Jangan sok cantik deh mentang - mentang deket sama Yama!" ucap Devi sambil menoyor kepala Tiana. "Aku gak gitu," balas Tiana. "Berani lo ngomong, heh!" Devi menarik rambut Tiana hingga gadis itu mengaduh kesakitan.  "Lo mau cantik? Sini gue dandanin," kata Agnes, seorang cewek dengan rambut pendek dan juga bibir merah dilapisi oleh liptint. Agnes mengambil alat make-upnya dari dalam tas. Ia mengambil lipstik berwarna merah darah, lalu ia memoleskan bibir itu ke bibir Tiana, dan sengaja membuatnya keluar dari garis bibir hingga menyentuh hidung agar terlihat seperti badut. Tiana menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. Ia ingin menolaknya tapi kedua tangannya ditahan oleh dua orang teman Devi lainnya. Tiana tidak bisa berbuat apa - apa. Dan kini, Agnes mulai mencoretkan lipstik itu ke wajahnya, lalu ke dahi dan juga dagunya. Tiana menatap kosong ke arah depan. Dimana cewek yang merupakan mantan kekasih Yama menatapnya dengan tatapan kasihan. Tiana menengadah ke atas, menghalau air mata yang ingin jatuh. "Nih, liat muka lo, dah cantik!" ucap Devi seraya memberikannya kaca. Tiana membuang pandangannya, ia tidak ingin menatap dirinya sendiri yang menyedihkan seperti sekarang. "Makanya, jangan jadi pelakor! Masih banyak cowok lain, ngapain ngambil cowok orang! Sampah lo!" kata Devi. Lalu ia mengajak kawan - kawannya keluar dari ruangan itu. Meninggalkan Tiana sendirian di sana. Tiana menangis. Ia mengusap air matanya yang jatuh. Lalu ia merapikan rambutnya dan berjalan keluar gudang. Ia berjalan ke kamar mandi. Membersihkan wajahnya kemudian menatap pantulan wajahnya di cermin. Tiana menghela napasnya pelan. Sesampainya di villa, Yama menyambutnya dengan khawatir, bagaimana tidak, Tiana baru pulang ketika azan maghrib berkumandang. "Kamu gakpapa?" tanya Yama. "Nggak." "Beneran?" "Aku capek, Kak. Mau ke kamar." "Kamu pucet banget, Na... kita ke dokter ya?" Tiana tidak membalasnya. Ia lebih memilih masuk ke dalam kamar meninggalkan Yama dengan seribu pertanyaan diotaknya. ••••• Malam harinya, Yama langsung menyiapkan sebuah tong yang terbuat dari besi. Ia menaruhnya di belakang rumah dekat pohon. Yama menatap beberapa bungkusan yang ada di tangannya. Ia meremas bungkusan itu sebelum akhirnya ia memasukkan bungkusan itu ke dalam tong. Yama mengambil korek api lidi dari dalam kantong celananya. Ia mulai mengisi tong dengan sedikit minyak tanah. Lalu ia menatap satu lidi korek api yang sudah ia gesekkan ke bungkusan korek hingga mengeluarkan api. Yama membuang korek itu ke dalam tong. Dan seketika api menyala besar. Yama menatapnya gamang. Lalu ia menarik sebuah boks kayu berisikan botol minuman keras yang masih ada isinya. Ia mengambil satu per satu botol minuman itu dan melemparnya ke pohon besar yang ada di hadapannya hingga hancur berkeping - keping. Yama menatap puas. Rasanya ada beban dari dalam hidupnya yang terangkat. Selamat datang hidup baru. ••••• Beberapa siswi menatap kagum pada seorang siswa baru anak kelas 12 yang berjalan di koridor sekolah dengan tas yang hanya disampirkan dibahu kanan. Lelaki itu berjalan dengan pedenya, bahkan banyak siswi yang terang - terangan berkata dirinya tampan dengan potongan rambut model messy hair. "Gila, ganteng banget Kak Arya." "Pengen punya cowok kayak dia." "Kira - kira udah punya pacar belum ya?" Lelaki bernama panjang Damara Aryasetya itu hanya tersenyum menanggapi mereka semua. Yang mereka tidak tahu adalah tentang dirinya yang tidak sempurna. Ia memiliki penyakit bawaan dari kecil, itulah yang membuat dirinya tidak boleh terlalu capek. Benar yang dibilang orang - orang, setiap manusia yang terlihat sempurna diluar belum tentu mereka tidak punya kekurangan apapun. Pada dasarnya manusia itu tidaklah sempurna, kesempurnaan hanyalah milik Tuhan. "Halo bro," ucap Yama ketika ia dan kawannya sudah berada di depan Arya. Arya tersenyum ramah. "Gue gak mah basa - basi sama lo, intinya jauhin Tiana!" "Oh, lo yang kemarin digosipin sama dia itu, ya?" "Nah itu lo tau," jawab Yama santai. "Emang seberapa dekat hubungan kalian?" Yama terkekeh pelan. "Lebih dari temen atau sahabat, jadi sekali lagi gue bilang, jangan deketin Tiana," jelas Yama dengan penuh penakanan. "Bukan pacar kan? Kalau gue bilang, gue suka Tiana, gakpapa dong?" "Wah, sialan!" geram Yama. Hampir saja ia ingin meninju wajah Arya sebelum akhirnya Dirga menengahi mereka. Dan berbisik pada Yama yang membuat lelaki itu kembali menarik tangannya. "Kenapa gak jadi?" Arya berucap dengan santai. "Gue gak mau liat Mama lo nangis gara - gara liat anaknya yang mati karena gue pukulin. Gue tau, lo itu cowok lemah," jawab Yama seraya tersenyum miring. Arya menatapnya dalam diam. Kemudian ia tersenyum kecil dengan rahang yang mengeras. Ia melayangkan sebuah kepalan tangan menuju wajah Yama hingga ... Bugh. Wajah Yama terbanting ke samping. Semua siswa yang melihatnya langsung mengerubungi mereka, seakan mereka adalah tontonan gratis yang sayang untuk dilewatkan. Yama tersenyum mengejek sambil mengusap bekas tonjokan Arya. Baru saja ia ingin membalasnya, namun Dirga menahannya. "Lepasin gue, njing! Nyolot banget lo jadi orang!" geram Yama seraya memberontak. Dirga masih tetap menahannya. "Sini lo kalau berani!" tantang Arya dengan langkah yang sedikit maju mendekati Yama. Tapi Farid langsung menghalanginya. "Ya, plis, jangan mancing Yama! Lo bisa mati!" kata Farid memperingati Arya. "Gue gak perduli." "Nantangin gue, lo?! Lepasin gue, Dirga!" Yama masih terus memberontak Dirga. "Gak akan, gue gak mau lo ngadep kepsek gara - gara masalah ini doang, inget janji lo, lo bakalan serius belajar, lo bakalan jadi anak baik di sekolah, lo bakalan berusaha ikut tes masuk PTN, jadi Yam, gue gak akan biarin lo ngerusak janji lo itu hanya karena ini!" Yama menetralkan napasnya sejenak. Kemudian ia melepaskan tangan Dirga yang menahan bahunya.  "Gue bukannya gak berani bales lo, gue cuma kasian aja sama lo, yang punya penyakit parah bisa - bisanya berani nantangin orang, sembuhin dulu penyakit lo, abis tuh gue tunggu di ring tinju, kita main imbang!" kata Yama. Setelah itu Yama pergi, diikuti oleh Dirga, Farid dan juga Abrar. Arya menatap kepergiannya dengan rasa amarah yang memuncak. Ia kesal pada Yama yang mengejeknya karena mempunyai penyakit sialan itu.  •••••  Di ruang kelas yang sudah kosong dari bangku dan meja karena telah diubah untuk tempat ruang rias, kini ramai pada siswi yang tengah berdandan ala kerajaan dengan baju tradisional. Mereka berbusana sesuai perannya masing - masing. Ada satu hal yang menarik perhatian, yaitu seorang gadis yang tengah gelisah sambil memegang sebuah naskah di tangannya. Ia sudah rapi dengan pakaian tradisional yang membuat dirinya sesak napas itu. "Aku gak bisa, Lis," ujarnya dengan nada putus asa. "Kamu bisa, Na! Aku yakin kamu bisa," jawab gadis berkacamata itu. "Tapi ini dadakan banget, aku takut gak hapal dialognya nanti, aku takut ngecewain Bu Inggrid." "Bu Inggrid pasti udah pikir matang - matang waktu milih kamu buat gantiin Farah yang sakit, aku yakin kamu pasti bisa." Tiana memegang erat naskah dialog yang ada di tangannya. Kemarin, sewaktu pulang sekolah, tiba - tiba Bu Inggrid—wali kelasnya—memintanya untuk menggantikan Farah sebagai Purbasari dalam pentas seni yang akan diadakan besok. Tiana sudah menolak, tapi Bu Inggrid memohon kepadanya karena merasa tidak ada yang cocok selain dirinya untuk menggantikan Farah yang sakit tipes. "Hei," sapa seseorang yang baru saja datang mendekati mereka. Tiana dan Elis mendongak dan terkejut melihat Arya yang ada di dalam bersama mereka. "Loh, Kak Arya? Inikan tempat buat ganti baju cewek," ucap Elis. Tiana mengangguk untuk membenarkan. Arya meringis pelan sebelum akhirnya tersenyum. "Gakpapa kok, tadi udah pada selesai katanya, terus kata Bu Inggrid, gue suruh ketemu sama Tiana, buat latihan akhir sebelum pentas nanti." "Buat apa?" ujar Tiana bingung. "Gue kan jadi Guruminda-nya Purbasari, Na. Lo berarti pasangan gue." "Hah?" "Aduh, gimana ya, gue itu sebenernya ikut ekskul seni, nah makanya gue dipilih buat jadi Rama, Farah juga ikut ekskul seni kok, makanya dia dipilih buat jadi Purbasari, terus dia sakit, nah Bu Inggrid minta lo buat gantiin Farah kan?" "Kok aku? Maksudnya, kenapa gak anak seni yang lain?" "Karena mereka udah dapet perannya masing - masing, terus mereka gak ada yang mau buat gantiin Farah, makanya Bu Inggrid minta lo, soalnya dia pikir lo itu cocok buat jadi Purbasari." Tiana menghela napasnya. "Tapi aku gak yakin, Kak." "Lo udah hafalin naskahnya?"  "Udah, dari kemarin sore, tapi aku masih lupa - lupa inget." "Yaudah, lo bisa impromptu nanti, bisa kan Na? Ayo optimis lo pasti bisa!" ucap Arya memberikan semangat. "Iya, aku juga yakin kamu bisa, Na!" Tiana menatap Elis dan Arya bergantian. Lalu ia mengangguk pelan. Setelah itu terdengar suara dari arah luar yang menyuruh para siswa untuk hadir di lapangan menyaksikan acara pentas seni yang akan berlangsung. •••••  Yama dan teman - temannya mencari tempat yang nyaman untuk diduduki di lapangan yang sudah diberi tenda agar tidak kepanasan. Ia melihat panggung besar di hadapannya dan ada spanduk yang bertuliskan Pentas Seni SMA ADIPATI. Sebenarnya Yama malas untuk menonton acara seperti itu. Oleh karena itu sepanjang acara dimulai ia malah fokus bermain game di ponselnnya. "Wow, demi apa itu Tiana?" ucap Abrar dengan mata terkagum. "Gila, cantik juga ya, Tiana!" balas Farid. "Nyesel gue gagal pdkt-in dia dulu," celetuk Abrar. Yama mengerutkan keningnya, lalu ia menatap ke arah panggung dan terkejut melihat Tiana yang benar - benar berperan sebagai gadis cantik dengan pakaian tradisionalnya. Yama yang tadinya malas untuk menonton jadi terus menatap ke arah Tiana yang sedang berakting di panggung. Lalu Yama terus melihat ke arah Tiana yang kini sedang mematut dirinya di cermin seraya tersenyum kecil berakting mengagumi kecantikannya. Kemudian adegan diganti oleh siswi lainnya yang berperan sebagai seorang yang jahat, Yama sempat mendengarnya tadi bahwa namanya tokohnya dalah Purbararang. Dan Yama tahu bagaimana cerita ini berlanjut, siapa yang tidak tahu kisah Lutung Kasarung. Yama tersenyum senang ketika Tiana kembali ke panggung, gadis itu tampak berakting frustasi akibat wajahnya yang tiba - tiba menjadi buruk rupa. "Kuatkan hatimu, Tuan Putri! Cobaan ini pasti akan berakhir. Semoga Tuhan Yang Mahakuasa senantiasa melindungimu. Paman akan sering datang kemari mengantar makanan dan minuman untukmu." "Terima kasih, Paman. Kau sangat baik kepadaku," ucap Purbasari. Yama terus menontonnya, sampai ia tidak sadar bahwa dirinya sudah hanyut dalam cerita itu. Lalu ia memperhatikan tokoh Lutung Kasarung yang sudah muncul. Ia jadi penasaran siapa cowok yang dibalik itu. Ia geram ketika melihat adegan Tiana dan juga si Lutung Kasarung yang sangat romantis, bahkan ada beberapa siswi yang merasa baper karenanya. Yama terus berkata dalam hatinya bahwa itu hanyalah akting. Tapi ketika ia melihat Lutung Kasarung berubah menjadi manusia, ia terkejut bukan main. Tangannya mengepal begitu erat dengan rahangnya yang mengeras. "Ba—bagaimana bisa kau berubah Lutung? Kau ... kau sangat tampan," ujar Purbasari. "Aku adalah Sanghyang Guruminda, suamimu." Saat itu pula Yama berdiri, lalu ia pergi begitu saja. "Temen lo kenapa?" tanya Dirga. Farid dan Abrar mengidikkan bahunya. Akhirnya mereka pun berdiri dan menyusul Yama. Mereka melihat Yama yang terduduk di warung belakang sekolah tengah mengisap rokoknya. Mereka pun ikut duduk di sebelah Yama. "Lo kenapa sih?" tanya Dirga. "Ceu Asih, biasa Dirga, kopi satu sama gorengannya nih, Ceu," lanjutnya sambil melihat pemilik warung yang tersenyum menganggukkan kepala. Farid dan Abrar pun ikut memesan. "Lo kek orang cemburu sumpah," celetuk Abrar. "Padahal Tiana juga bukan siapa - siapa lo." Yama tersenyum mengejek ketika mendengar bahwa Tiana bukan siapa - siapanya. Mereka tidak tahu bahwa Tiana itu adalah istrinya. Oh astaga ... "Sering bareng jadi ada perasaan kali si Yama ke Tiana," kata Farid. "Lo suka sama dia," tebak Dirga. Yama terdiam. Ia masih terus menghisap rokoknya lalu menghembuskan asap rokok itu lewat hidung dan mulutnya. Kemudian bibirnya melengkung membuat sebuah senyuman. •••••  Di villa tempat tinggal Yama, Bik Odah yang sedang mencuci piring dikejutkan oleh suara bel dari luar. Lalu wanita paruh baya itu berjalan menuju pintu utama untuk membukakan pintu. Ketika ia membuka pintu, dirinya terkejut kaget melihat wanita setengah baya dengan gayanya yang sosialita. Wanita setengah baya itu sangat cantik dengan rambut panjang yang bergelombang di bawah, memakai blouse berwarna putih dan juga celana kulot bergaris berwarna hitam, tak lupa kacamata yang bertengger di hidungnya dan juga topi fedora di kepalanya. Tangan kanannya memegang sebuah koper besar. "Halo, apa kabar Bik?" sapanya pelan. Bik Odah yang masih speechless tidak menanggapi ucapan itu. "Bik?" lanjut wanita itu. "Oh iya, Nyonya." Wanita setengah baya itu tersenyum miring. "Saya kangen anak saya." Bik Odah merasa janggal karena tiba - tiba saja Nyonya-nya itu rindu dengan putranya. "Maaf, Nyonya Mila, Den Yama sedang bersekolah." Ya, wanita itu adalah Ibu Yama. Ibu yang sangat dirindukan oleh Yama tapi sayangnya sang Ibu malah membencinya. Dan entah ada angin darimana, tiba - tiba saja wanita itu ada di depan villa tempat tinggal Yama dan mengaku bahwa dirinya rindu dengan anaknya. Aneh. Bik Odah mempersilahkan Mila masuk. Dan wanita itu tanpa sungkan duduk dengan angkuhnya di sofa. "Waktu itu, Yama menelepon saya katanya dia menghamili seorang gadis, benar itu Bik?" Bik Odah mengangguk. "Demi Tuhan! Anak itu benar - benar pembuat masalah ulung yang parahnya masalah itu selalu membawa sial!" Mila tampak menahan emosinya. "Saya akan tinggal di sini, Bik, mulai dari sekarang."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD