Yama menatap satu persatu siswi yang lewat seraya menghembuskan asap rokok dari mulutnya. Saat ini ia sedang duduk di sebuah warung kopi lumayan dekat dari sekolahnya. Dan ketika jam pulang, banyak siswa siswi SMA ADIPATI yang lewat depan warkop itu seperti sekarang ini.
"Noh, si Ahilya, cewe baru kelas 11 woi," ucap Farid dengan suara berbisiknya. Yama memutar bola matanya malas.
"Lo tau ngga? Cewek itu tuh bekas pake temen gue di sekolah lamanya. Kan dia dikeluarin dari sekolahnya gara - gara ketauan m***m di toilet."
Yama melirik ke arah Daryan, teman satu tongkrongan mereka. Dirga dan Abrar tampak tidak perduli, sedangkan Farid masih fokus mendengarkan perkataan Daryan.
"Hah? Serius lo? Tapi dia kelihatannya anak alim, cewek baik - baik, Yan." Farid membantah omongan Daryan.
"Lo liat badannya, berisi, bro! Berlekuk gitu, terus lo pernah lihat Tiana nggak? Kata Devi, tuh anak simpenan Om - Om—"
Brak!
Semua orang terkejut, bahkan pemilik warkop—Bu Lastri—yang tengah mengelap kulkasnya ikut beristighfar saking kagetnya.
"Apa - apaan lo ngomong gitu, hah?! Tau apa lo tentang Tiana?!" gertak Yama dengan suaranya yang tinggi. "Kalau nggak tau kebenarannya, mending lo diem, daripada gini malah nyebar fitnah tau nggak?!"
"Weh, santai, Yam." Daryan ikut berdiri menyamai tinggi Yama. "Kenapa sih lo sensi banget kek cewek lagi mens? Perasaan waktu ngomongin Ahilya biasa aja tuh."
Yama tidak mungkin mengatakan kebenarannya kepada Daryan. Karena pasti semuanya akan tahu, dan bukan hanya posisinya sebagai siswa yang terancam drop out, namun Tiana pun akan terbawa. Ia tidak perduli jika hanya ia yang terkena masalah, tapi kalau sampai Tiana juga ikut terkena imbasnya. Yama tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.
Yama menghela napasnya dalam. Lalu ia berkata pada Daryan dengan tatapan menusuknya, "bilang apa lagi Devi ke lo tentang Tiana?"
"Devi cuma bilang tubuhnya Tiana berisi, trus juga dadanya—"
"ANJING LO!" dengan amarah yang membuncah, Yama langsung menonjok wajah Daryan hingga ujung bibirnya mengeluarkan darah. Baru saja Yama ingin memukul lelaki itu lagi, namun teman - temannya dengan cepat menahannya.
"Yam! Udah!" ujar Abrar yang sudah berdiri di tengah - tengah Yama dan juga Daryan.
"Sekali lagi lo ngomongin Tiana, abis lo sama gue!" geram Yama setelah itu ia langsung menggendong tasnya di pundak kiri dan pergi meninggalkan tempat tongkrongan.
"Tuh bocah kenapa si?" ucap Daryan seraya meringis menahan sakit di ujung bibirnya. "Kayak cewe lagi mens tau gak! Sensi banget, t*i!"
"Lo juga si bahas - bahas Tiana!" Abrar kembali duduk di sebelah Farid, lalu mulai menyalakan rokoknya.
"Emangnya kenapa? Dia suka sama tuh cewek?"
"Mereka kan deket dari lama, waktu Tiana masuk sekolah, Yama sama Tiana udah kayak abang adik, jadi ya mungkin dia gak suka aja Tiana lo bilang begitu," celetuk Farid.
"Jangan - jangan si Yama naksir lagi sama Tiana?" tebak Daryan.
"Yang gue liat si begitu," jawab Abrar. "Tapi udahlah, urusan mereka, ngapain si kita ikut campur."
"Tapi seru kalau dibahas kan?" Daryan tersenyum miring.
"Emang bener kata cewek ya, cowok sekalinya gibah pasti lebih pedes omongannya dari cewek," ujar Dirga. Setelah itu, ia pun berdiri dan pergi.
"Dir! Tunggu!" ucap Farid. "Gue balik ya Yan," lanjutnya seraya berlari mengejar Dirga.
"Gue juga deh," Abrar pun ikut menimpali. "Bu, ini uang bayarnya ya, ambil aja kembaliannya!" ucap Abrar sambil memberikan 2 lembar uang sepuluhribuan, lalu ia pun pergi mengejar Farid dan Dirga.
"Heh! Ieu duitna kurang! Heh!" teriak ibu pemilik warung.
"Daryan bu yang bayar!" balas Abrar sambil teriak juga.
Daryan pun memutar bola matanya malas.
•••••
Ketika matahari mulai tenggelam, Yama baru sampai di rumahnya. Ia memarkirkan motornya, lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Yama merasakan hawa yang berbeda saat ia mulai menapakkan kakinya di dalam, ada sesuatu yang berbeda.
"Bik! Bik Odah!" teriak Yama.
Kaki Yama seakan terpaku ketika melihat seseorang yang duduk di sofa ruang tengah sambil menonton televisi. Matanya beberapa kali mengedip seakan mengusir bayangan kalau ia sedang menghalusinasi.
“Yama ...” panggil wanita itu.
Yama menggelengkan kepalanya sejenak. Tiba - tiba saja matanya mulai berkaca - kaca. Rasa rindunya begitu dalam kepada seorang wanita yang duduk tepat di hadapannya kini. Namun, langkah Yama begitu berat hanya untuk sekadar menghampirinya.
Sudah berapa lama ia tidak bertemu dengan Ibunya? Dua tahun? Empat tahun? Yama pun sudah tidak ingat lagi, karena waktu itu ia masih sangat kecil dan tidak mengerti apapun.
“Mulai hari ini Mama akan tinggal di sini.”
Yama terkekeh pelan. “Memangnya kenapa di Belanda?” ucapnya getir.
“Mama putus sama pacar Mama di Belanda! Mama juga dipecat dari kantor di sana, sekarang Mama akan tinggal di sini.”
“Mama gak punya malu ya? Kemana Mama selama ini? Kemana Mama saat saya kecil? Kemana Mama saat saya butuh sekali bentuan dua bulan lalu?!” gertak Yama dengan suara yang tertahan.
Mila tersenyum miring, lalu ia berdecak kesal. “Yaudah lah, anggap itu angin lalu, kalau kamu membentak Mama kayak gini, kamu mau jadi anak durhaka hah?!”
“Saya gak perduli! Saya udah anggap kalau diri saya ini gak punya orang tua,” balas Yama tidak kalah sengit.
“Den Yama!” Bik Odah datang dari dapur. Lalu ia mengelus pelan lengan Yama. “Den Yama gak boleh begitu, bagaimanapun juga Nyonya Mila itu Mamanya Den Yama, Den Yama harus menghormati dia.”
Yama menggeleng dengan tegas. “Lebih baik Yama hormati Bik Odah daripada dia, karena bibik yang udah rawat Yama dari kecil, lebih baik bibik saja yang jadi Ibu Yama.”
Di usia senjanya, Bik Odah merasa terharu karena ucapan anak majikannya itu. Sudah hampir 15 tahun ia merawat Yama seperti anaknya sendiri. Ia merasa sangat kasihan kepada Yama, walaupun terlahir dengan keluarga yang sangat berkecukupan, tapi Yama sangat kurang kasih sayang kedua orang tuanya.
Bagaimana tidak, sejak kejadian itu, Yama seakan dibenci oleh kedua orang tuanya. Dan akhirnya, kedua orang tuanya pun berpisah dan mempunyai kehidupan masing - masing. Yama kecil dirawat oleh dirinya, setiap bulan Papa Yama sering memberinya uang untuk kebutuhan hidup Yama.
Dan kini, Bik Odah sangat paham kenapa sikap Yama begitu keras pada ibu kandungnya sendiri. Yama seakan meluapkan emosinya kepada ibunya.
“Ini ada apa?” tanya Tiana dengan wajah bingungnya. Gadis itu berjalan dari arah dapur sambil membawa nampan berisikan makanan ringan serta minumannya.
“Sini sayang duduk,” ucap Mila seraya tersenyum lembut kepada Tiana. Tiana pun menurutinya.
Yama mengernyitkan dahinya ketika melihat Tiana yang dekat dengan ibunya. Kenapa bisa?
“Sejak kapan Mama datang bik?” tanya Yama.
“Tadi siang,” jawab Mila yang mendengar percakapan Yama dengan Bik Odah. “Sayang, pokoknya kamu jangan capek - capek ya, nanti cucu Mama bisa kenapa - napa lagi.” Wanita setengah baya itu berbicara pada Tiana.
“Sejak kapan Mama dekat sama Tiana, bik?” tanya Yama lagi.
“Sejak Tiana pulang sekolah, kamu ini ya, Mama ada loh di depan kamu, kenapa harus tanya ke Odah sih?” ujar Mila kesal. “Mama udah bicara banyak sama Tiana tadi, dari ciri - ciri perutnya, Mama yakin anak kalian itu cewek, jadi Mama putuskan buat kasih nama dia Gianandira.”
Deg.
Yama terdiam mendengarnya. Gianandira. Gianandira. Dia adalah seseorang di masa lalu Yama. Seorang gadis kecil yang sangat Yama sayangi. Dan kini, ia tahu kenapa ibunya sangat perhatian kepada Tiana. Ibunya mengira bahwa Tiana mengandung bayi perempuan, padahal mereka pun belum bisa mengetahui jenis kelaminnya.
“Nggak! Yama gak setuju! Anak Yama pun belum tentu perempuan, bisa saja dia laki - laki, jadi Mama jangan langsung menyimpulkan seperti itu! Yama hanya takut, jika nanti anak Yama lahir dan itu tidak sesuai ekspektasi Mama, Mama akan membencinya seperti Mama membenci Yama,” setelah mengatakan itu, Yama pergi menuju kamarnya.
Tiana terdiam. Ia tidak tahu apapun yang terjadi di sini. Ia tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Yama tadi. Tapi ia dengar, suara Yama yang bergetar dan Tiana menyimpulkan bahwa Yama merasa sedih ketika mengatakannya.
“Udah sayang, jangan dipikirin ya,” ucap Mila seraya mengusap rambut Tiana. “Mama tetap yakin kok, anak kalian pasti perempuan.”
Tiana pun tidak mengerti kenapa ibu mertuanya itu sangat menginginkan anak perempuan. Sebenarnya ada apa ini? Apa yang tidak ia ketahui tentang keluarga Yama?