Bab 9

2008 Words
Tiba-tiba saja Tiana menggerakkan tubuhnya, dan mata gadis itu terbuka perlahan karena merasa ada yang menggangu tidurnya. Dan ia terkejut ketika melihat Yama yang berada di dalam kamarnya. "Loh? Kok Kak Yama di sini?" ucapanya kaget. Ia mengucek matanya sebentar. "Ngapain di sini?" ucapnya jutek. "Kamu belum makan, ayo makan malam dulu." Yama menyentuh tangan Tiana berniat untuk menarik gadis itu berdiri. Namun dengan cepat Tiana menghentakkan tangannya hingga pegangan itu terlepas. "Gak lapar. Makan aja sendiri." "Na.. please.. maafin aku ya.." lirih Yama. Tiana yang mendengar itu langsung terisak pelan ketika mengingat kejadian beberapa jam yang lalu. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Yama yang melihat itu langsung mendekat lagi dengan wajah bingung. "Kenapa? Tiana bilang.. ada apa? Ada yang sakit?" tanya Yama. "Harusnya kita gak seperti ini Kak, harusnya kita menjadi teman biasa saja, bukannya menikah dan terjebak dalam hubungan rumit ini.." ucap Tiana disela tangisannya. "Tiana.." "Seharusnya Kak Yama menuruti apa permintaanku! Kalau Kak Yama menurutinya, kita gak akan terjebak dalam situasi ini, dan anak ini pun gak harus merasakan sakit karena kedua orang tuanya yang menikah akibat kesalahan satu malam. Dan aku tidak menginginkannya!" "Tiana!" Dengan refleks Yama mencengkeram erat tangan Tiana. Sungguh, ia benci ketika Tiana mengatakan hal itu lagi. "Itu salahku! Lagipula aku sudah tanggung jawab, lalu apalagi yang kamu permasalahkan? Aku, aku ayahnya! Kamu gak sendirian, aku selalu ada buat kamu, Na.." tegas Yama dengan wajah seriusnya. "Sakit.." lirih Tiana sambil menatap pergelangan tangannya yang masih dicengkeram erat oleh Yama. "Maaf.." Yama langsung mengendurkan cengkeramannya dan berubah menjadi elusan pelan. "Kalau Kak Yama gak bisa menepati janji, seharusnya Kak Yama jangan melakukan itu.." "Coba kamu ceritakan.. apa aja yang kamu alami tadi.."  Walau sedikit enggan, akhirnya Tiana berani untuk berbicara. Saat itu, bel pulang sudah berbunyi, Tiana bergegas keluar kelas bersama Elis. Lalu ia melihat Yama yang sedang bermain basket di lapangan. Dan lelaki itu tidak menyadari bahwa Tiana memperhatikannya. "Na, temenin aku beli siomay di depan yuk." "Ayo," tanpa menunggu lama Elis dan Tiana pun berjalan keluar sekolah. Setelah beberapa menit, akhirnya pesanan mereka jadi. Tiana dan Elis pun memakannya di bawah pohon rindang. "Kamu pulang bareng aku gak?" tanya Elis sambil membenarkan letak kacamatanya. "Oh iya lupa, tadi Kak Yama ngajakin kamu pulang bareng kan?" ucap Elis dengan nada menggoda Tiana. "Ih apasih Elis?!" Elis hanya terkekeh kecil. Ketika selesai makan, Elis pun membayar makanan mereka, Tiana lebih memilih untuk tetap duduk dan menitip uangnya kepada Elis. Entah kenapa ia jadi malas untuk bergerak. "Na, udah sore ini, aku pulang duluan gakpapa?" ucap Elis. "Iya gakpapa.." Dan akhirnya Tiana menunggu sendirian di bawah pohon. Lalu tiba-tiba saja sebuah motor berhenti di hadapannya. Dan Tiana dapat menebak bahwa itu adalah Abrar, karena lelaki itu tidak memakai helmnya dengan benar, kaca helmnya terbuka. "Na.. mau bareng gak?" tanyanya. "Eh nggak usah Kak." "Serius? Kamu ngapain di sini sendirian?" "Oh, itu.. nungguin teman." "Aku tungguin ya?" "Gak usah Kak, makasih." Abrar menghela napasnya pelan. "Yaudah deh, aku pulang duluan kalau begitu." Tiana mengangguk. Lalu matanya melihat motor itu yang melaju menjauhinya. Dan Tiana masih setia menunggu Yama di bawah pohon rindang. Tak terasa sudah hampir 2 jam ia menunggu Yama. Jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 5 sore. Apa selama ini Yama bermain basket? Sambil menggigit bibir bawahnya Tiana masih tetap menunggu lagi, dan sekarang waktu sudah menujukkan pukul 6 sore. Suara adzan maghrib sudah berkumandang, Tiana semakin takut karena sekolah sudah mulai sepi, tinggal beberapa anak saman yang sedang eskul berkeliaran di area sekolah. Karena tidak ingin sendirian saja, Tiana akhirnya berjalan menuju masjid sekolah. Di sana ia menunaikan ibadahnya sebagai seorang muslimah. Dan ketika sudah selesai, ia melihat Farid—teman Yama—yang sedang menatapnya dengan kening berkerut. "Loh, Tiana kok belum pulang?" tanya Farid dengan wajah yang bingung. "Ada kerja kelompok?" "Eh nggak Kak, Kak Farid lihat Kak Yama?" ucap Tiana. "Loh, dia udah pulang dari jam 4 tadi, bareng sama Sinta." Deg..  Lutut Tiana terasa lemas seketika. "Kok aku gak lihat tadi di depan?" tanyanya lagi. "Mereka lewat gerbang belakang, soalnya motor Yama susah keluarnya kalau lewat gerbang depan. Emang kenapa Na?" "Oh nggakpapa Kak, makasih kalau gitu." Dengan cepat Tiana memakai kaos kaki dan sepatunya. Lalu ia mengambil tas dan langsung menggendongnya. Tanpa pikir panjang ia pun langsung berjalan cepat keluar sekolah. Gadis itupun akhirnya menunggu angkot datang di tepi jalan raya sambil duduk di sebuah toko klontong milik seorang kakek-kakek yang sudah dikenalinya. "Lila nyah, angkot datangnya," ucap kakek Asep. "Angin sudah kencang sekali. Rasa-rasa ingin hujan tapi si Neng belom dapat angkot." "Gakpapa Kek, ini lagi tungguin juga. Pasti sebentar lagi ada." "Emang biasanya kalau sudah malam begini, susah dapat angkot." Tiana semakin dibuat takut karena suara petir yang sudah menggelegar. Dan ia bersyukur dalam hati akhirnya angkot itu sudah datang. "Kek, angkotnya sudah ada. Pamit pulang." "Iya, hati-hati dijalan ya Neng." Dengan cepat Tiana menaiki angkot itu. Ada beberapa orang di dalamnya. Dua ibu-ibu dan dua lagi anak remaja yang berpakaian seragam beda dengannya. Ia melihat jam lagi, sudah pukul 7 malam. Dan suara adzan isya' mulai terdengar. Dan ketika sampai di depan gapura villa Yama. Tiana turun. Dan gerimis sudah mulai membasahi dirinya. Ia berjalan memasuki kawasan itu. Ada beberapa tukang ojek yang mangkal di situ menggodanya, karena seragam sekolah yang basah membuat baju dalamnya tercetak jelas. "Sini Neng, Aa antarkan pulang," ucap seorang tukang ojek sambil menyentuh tangannya. "Lepas!" Tanpa menunggu lama Tiana pun berlari. Dan ketika sudah mulai jauhan, ia pun kembali berjalan pelan. Dan ketika sampai di depan villa Yama, ia dengan cepat masuk sambil mengucapkan salam. Tanpa dipedulikannya Budhe Sila dan Bik Odah, gadis itu berlari masuk ke dalam kamar. Yama terhenyak. Ia langsung memeluk tubuh rapuh gadis itu. Mencium pucuk kepalanya sambil begumam kata maaf berulang kali.  Dan Tiana pun terisak. Masih teringat jelas kejadian tadi. "Maaf Na.. Maaf.." "Aku siap kalau Kak Yama ingin berpisah dariku.." lirih Tiana yang sangat jelas di telinga Yama. ••••• Tak pernah terpikirkan oleh Yama bahwa ia akan menikah semuda ini. Padahal masih banyak yang ia ingin lakukan dimasa mudanya, namun takdir berkata lain. Saat ini, sudah ada seorang gadis yang menjadi tanggung jawabnya. Gadis manis yang terpaksa menikah dengannya karena kesalahan yang ia lakukan. Tangan kanan lelaki itu terus mengusap lembut kepala gadis yang tertidur lelap di kasur. Dipandanginya wajah gadis itu yang tidak pernah membuatnya bosan. Setelah sedikit perdebatan tadi, akhirnya Tiana memakan makan malamnya, setelah itu gadis itupun tertidur. Dan Yama, masih belum beranjak dari samping kasur, ia masih duduk sambil memperhatikan Tiana yang terlelap, entah kenapa rasanya lelaki itu ingin berlama-lama di kamar Tiana. Tapi ia tahu batasannya, daripada setan dalam dirinya yang terus menyuruhnya untuk tidur di sebelah Tiana semakin menguat, Yama pun berdiri, mengecup pelan pelipis Tiana dengan pelan, lalu membenarkan selimutnya seraya berkata, "Selamat malam, semoga mimpi indah ya." Dan lelaki itupun lantas berjalan menuju pintu kamar, membukanya dengan pelan lalu menutupnya kembali. Dilihatnya sekitar ruang tamu dan dapur yang tampak sepi, mungkin sudah pada tidur. Yama yang sudah mengantuk pun segera menuju kamarnya yang ada di lantai atas. Dan jangan lupa, sebelum tidur segelas tequilla masuk ke dalam tenggorokannya. Setelah itu, lelaki itupun tertidur nyenyak. ••••• "Aku berangkat sendiri saja, Kak," ucap Tiana sambil memakai sepatu sekolahnya di bangku teras rumah. Sedangkan Yama sedang memanaskan motornya. "Sekalian Na, biar gak usah jauh - jauh naik angkot." "Gak apa - apa sekalian olahraga," jawab Tiana. "Ingat perjanjian kita semalam, Na? Please, nurut sama aku ya?" ujar Yama dengan wajah memohonnya. Tiana pun mengangguk terpaksa. Budhe Sila dan Pakde Haris datang dari dalam rumah. Mereka pun tersenyum manis melihat kedekatan antara Tiana dan Yama lagi. "s**u kamu sudah diminum, Nduk?" ucap Budhe Sila kepada Tiana. "Sudah, Budhe, terima kasih ya sudah dibuatkan," ucap Tiana sambil tersenyum simpul. "Bukan Budhemu itu yang bikin, tapi Yama, tadi Pakde melihat dia begitu cekatan membuatnya, sampai Pakde lihat tangannya terkena air panas." Tiana mengerutkan keningnya menatap Yama yang saat ini sedang mengelap motornya dengan kanebo. Sepertinya lelaki itu tidak mendengar perkataan Pakde dan Budhe Sila. "Ayo, Na, berangkat keburu siang." Yama berjalan menuju teras, Tiana memberikan tas Yama yang tersimpan di meja kepada lelaki itu. Yama pun menerimanya sambil berkata terima kasih. Mereka berdua bersalaman kepada Pakde Haris dan Budhe Sila, setelah itu mengucapkan salam. Yama memakai helmnya, lalu duduk di atas motor kebanggaannya, setelah itu Tiana menyusul, duduk di belakang Yama. Gadis itu melihat jari kelingking Yama yang memerah. Tiana jadi ingat perkataan Pakde Haris kalau Yama terkena air panas saat membuatkan s**u untuknya. "Jarinya kenapa?" ucap Tiana. Yama memperhatikan jarinya sendiri. Lalu ia pun tersenyum kecil dari dalam helm. "Gak apa - apa, cuma gatel aja tadi, jadi merah gini deh." Tiana pun mengangguk pelan. Bohong. "Udah siapkan? Jangan lupa pegangan," ucap Yama yang langsung diangguki oleh Tiana. Motor itupun melaju menjauhi pekarangan vila dan membelah jalanan Puncak yang begitu ramai. ••••• Tiana dan Elis melihat murid kelas dua belas yang saat ini sedang ada penyuluhan di aula. Tiana tidak tahu apa yang terjadi, namun ia melihat beberapa murid lelaki yang berjalan dengan tergesa-gesa menuju gudang belakang. Dan ada satu orang yang paling Tiana kenal. Yama. Ya, lelaki itu berada di paling depan seakan memimpin teman - temannya yang lain. Tiana mengernyitkan keningnya. Kenapa mereka seperti orang ketakutan? "Eh, kamu mau kemana, Na?" ucap Elis sambil memegang tangan Tiana karena ia melihat gadis itu yang berjalan mengikuti segerombolan murid lelaki kelas 12 itu. "Aku penasaran Lis, kita ikutin yuk?"  Elis berpikir sebentar, lalu gadis berkacamata itupun mengangguk. Mereka berjalan mengendap - endap di belakang mengikuti jalannya segerombolan cowok itu. Dan ia melihat mereka menuju gudang belakang, dan ya, mereka lantas memanjanjat pagar dan menuruninya dengan cepat, padahal Tiana tahu pagar itu tinggi. Ia sempat meringis pelan melihat bagaimana mereka loncat dari atas pagar. Dan setelah berada di luar sekolah, mereka semua berlari kencang, seakan ada yang memburunya.  "Sedang apa kalian?" Tiana dan Elis saling menatap. Mereka berdua tampak kaget. Dan menoleh ke arah belakang. Mereka melihat Pak Bayu—guru BK—sedang menatap mereka dengan tatapan tajamnya. "Bapak tanya kalian sedang apa?" "Eh.. anu Pak," ucap Elis dengan nada terbata - bata. "Sekarang masih jam pelajaran, cepat masuk ke dalam kelas." Elis dan Tiana pun mengangguk, mereka berjalan menuju kelasnya. Namun sebelum itu Bu Yuni—guru BK—datang menghampiri Pak Bayu. "Kita harus awasin semua daerah sekolah, Pak, takut ada yang kabur," ucap Bu Yuni yang masih dapat didengar oleh Elis dan Tiana. "Ya, saya yakin, ada beberapa siswa di sini yang pemakai n*****a, semoga saja dengan adanya penyuluhan ini, dapat kita ketahui siapa saja yang pakai barang haram itu!" ujar Pak Bayu. "Ya, setelah itu akan langsung dikeluarkan dari sekolah." Tiana dan Elis saling bergidik. Tiana jadi berpikir apa yang membuat Yama dan teman - temannya tadi kabur? Apa mereka menghindari penyuluhan n*****a itu? Semoga saja apa yang ada dipikirannya kini tidak terbukti nyata. Pukul 3 sore, semua anak keluar kelas. Tiana memperhatikan sekeliling, dan ia tidak mendapati Yama. Tapi ia dapat melihat Abrar, Dirga dan Farid sedang duduk di bawah pohon sambil menggoda anak perempuan yang lewat situ. Tiana jadi khawatir, kemana perginya Yama? "Na, ayo pulang." Tiana pun mengangguk dan berjala beriringan dengan Elis menuju gerbang sekolah. Akhirnya ia pulang bersama Elis. Dan berharap ketika ia sampai vila, Yama sudah ada di sana. Karena ada beberapa pertanyaan yang ia ingin tanyakan kepada lelaki itu. Harapannya pupus, ternyata Yama belum pulang. Lalu kemana perginya lelaki itu? Karena terlalu lelah, Tiana langsung ke kamarnya, mengganti seragam sekolahnya menjadi pakaian rumah. Lalu menemui Budhe dan Bik Odah yang sedang membuat beberapa menu makanan untuk makan malam. "Kenapa tidak istirahat saja?" ucap Budhe Sila. "Lagi pengen masak Budhe." Budhe Sila dan Bik Odah tersenyum kecil.  "Oh iya Na, Budhe sama Pakde minggu depan akan pulang ke Semarang." "Loh, kenapa?" tanya Tiana bingung. "Rumah di sana tidak ada yang mengurus, Pakde juga harus lihat kebun," ucap Budhe Sila. "Budhe sudah bilang Kak Yama?" "Sudah, Budhe minta, kamu perhatikan Yama ya? Kasihan Yama itu, orang tuanya tidak ada yang perduli, tapi Budhe yakin, Yama akan menjaga kamu juga, Nduk." "Iya, kalau itu mau Budhe, Tiana akan berusaha melakukannya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD