Makan malam tiba. Yama sudah duduk dengan santainya di kursi sebelah kanan tepat di samping Tiana. Sedangkan kursi kepala keluarga diduduki oleh Pakde Haris. Yama pun mengernyit penasaran karena mendapati tatapan tajam dari Budhe Sila dan Pakde Haris.
Tadi dia sudah menjelaskan tentang kemana ia pergi. Ia beralasan bahwa dirinya nongkrong bersama teman di warung kopi. Dan untungnya mereka semua percaya, walaupun sampai sekarang Pakde dan Budhe masih menatapnya dengan tajam.
"Udah Budhe, liatin Yama gitu banget, gak perih apa itu mata gak kedip-kedip?" ucap Yama pelan.
"Untuk kali ini kamu Budhe maafkan, tapi tidak lain kali, gimana kalau Budhe sama Pakde pulang ke Semarang? Kamu seenak jidat ninggalin istri lagi hamil di rumah, ditemenin Bik Odah doang, ngeri Yam, takut ada apa-apa," ujar Budhe Sila dengan wajah khawatirnya. "Kita kan gak tau musibah datangnya kapan, bisa aja nanti tiba-tiba ada maling masuk pas kamu gak ada, gimana?"
"Budhe, jangan kebanyakan nonton sinetron makanya, lagian kan ada satpam." Yama menjawab dengan santainya.
"Ish! Dibilangin orang tua tuh didengar toh, Le'," geram Budhe Sila.
"Iya Budhe, Yama gak bakalan gitu lagi deh, janji."
Setelah itu, mereka mengambil makanan masing-masing. Yama dengan antusiasnya mengambil bagian untuk dirinya sendiri. Sedangkan Tiana, gadis itu lebih memilih diam sambil terus mengaduk-aduk makanan di hadapannya.
"Kenapa gak dimakan?" tanya Yama pada istrinya itu. Lalu lelaki itu menyuapkan sesendok nasi dengan lauknya ke dalam mulutnya sendiri. Kemudian mengunyah makanan itu dengan perlahan.
"Gak nafsu."
"Kenapa? Ini enak kok, apa kamu mau makanan lain? Bilang aja nanti aku beliin," jawab Yama.
Budhe Sila dan Pakde Haris saling berpandangan dengan senyum yang terukir diwajah masing-masing.
"Gak mau," cicit Tiana. Ia merasa malu diperhatikan oleh orang yang lebih tua di hadapannya.
"Apa mau disuapin?" tawat Yama.
Tiba-tiba Tiana diam sejenak. Memikirkan bahwa dirinya disuapi oleh tangan Yama, pasti akan terasa nikmat. Ya ampun! Apasih yang ada dipikirannya kini?
"Buka mulutnya," ujar Yama sambil mengarahkan sesendok nasi beserta lauknya di depan mulut gadis itu.
Dengan sungkan, akhirnya Tiana membuka mulutnya. Hingga mereka tidak sadar bahwa satu piring itu habis dilahap oleh keduanya.
"Aduh romantis banget ini," celetuk Budhe Sila dengan senyumannya. "Dulu juga kita sering begini ya, Mas?"
Pakde Haris hanya mengangguk saja. Sedangkan Tiana menahan malu yang luar biasa.
"Makan yang banyak, biar kalian berdua sehat," ucap Yama secar tidak sadar. Tiana langsung mendelik ke arah lelaki itu.
"Udah jangan malu-malu, kalian udah nikah ini."
Perlahan senyuman terukir di wajah manis Tiana. Walaupun tidak makan langsung dari tangan Yama, gadis itu merasa senang. Entah kenapa ia pun tidak tau. Yang penting, sekarang ia merasa sedikit lebih lega dari sebelumnya.
Dan satu hal yang ia ketahui sekarang. Bahwa Yama sangat menyayangi anaknya yang ia kandung kini.
•••••
Tiana dan Elis berjalan berdampingan menuju toilet perempuan. Sesekali mereka berbincang mengenai pelajaran Kimia yang sulit untuk dimengerti. Lalu dari arah berlawanan tampak seorang lelaki berjalan cepat sambil sesekali menoleh ke belakang seakan mengamati sesuatu.
"Itu.. Kak Yama kenapa ya?" ucap Elis dengan tatapan kebingungannya. Tiana hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Jarak mereka semakin dekat, hingga Tiana merasakan pergelangan tangannya digenggam oleh seseorang. Gadis itu mendongak dan tampaklah wajah Yama yang sedang memperhatikannya. Tiana risih, dengan pelan dia berusaha untuk menyingkirkan tangan Yama, namun tidak bisa.
"Lepas, aku kebelet mau pipis," ucap Tiana pelan. Elis yang melihatnya hanya bisa diam tanpa berniat membantu kawannya itu.
"Nanti pulang bareng, tunggu di depan gerbang ya." Setelah itu Yama melepaskan tangannya dari tangan Tiana, tanpa tunggu lama ia berjalan cepat menuju gerbang samping.
Sebenarnya Tiana ingin bertanya mau kemana lelaki itu? Tapi lidahnya kelu untuk mengucapkan. Dia pun kembali berjalan menuju toilet bersama Elis.
"Kamu semakin dekat ya sama Kak Yama.." ucap Elis yang membuat Tiana gugup.
"I–iya, aku sama Kak Yama udah seperti sahabat saja."
"Ya, itu bagus. Setidaknya selama ada Kak Yama, kamu jadi tidak dibully lagi di sekolah."
Tiana tersenyum kecil lalu mengangguk. Dalam otaknya ia berpikir bahwa ia harus membalas kebaikan Yama, tapi setelah kejadian itu, dimana mengharuskannya menikah dengan Yama, pikiran itu menghilang entah kemana. Sekarang hanyalah rasa sesak tiada tara karena dua bulan lagi, ketika kenaikan kelas, terpaksa ia harus berhenti bersekolah.
Dan itu semua karena lelaki bernama Yama.
•••••
Yama merutuki kebodohannya sendiri. Ia menatap jam yang tertera di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 5 sore. Dan ia terjebak di rumah sakit bersama Sinta yang kini sedang menyenderkan kepala di bahunya sambil terisak.
Pikirannya tertuju kepada istrinya. Oh, bisakah ia memanggil gadis itu dengan sebutan istri? Sedangkan dirinya saja tidak bisa menepati janjinya untuk mengantarkan gadis itu pulang. Dia bukanlah suami yang baik.
Dalam hati, Yama terus berdoa supaya Tiana tidak menunggunya dan lebih memilih pulang sendiri. Ia tidak bisa pergi meninggalkan Sinta sendirian di rumah sakit karena Papanya belum datang dari luar kota. Tadi, ketika Sinta menelpon Papanya karena tiba-tiba saja sang Mama kolaps, pria paruh baya itu langsung meminta Yama agar tetap menjaga putrinya hingga ia kembali dari Surabaya.
Tapi ia tidak tenang, memikirkan Tiana. Bagaimana dengan gadis itu? Apakah dia baik-baik saja? Dan pulang dengan selamat? Atau ada sesuatu yang terjadi kepadanya? Yama menggelengkan kepalanya menepis semua pemikiran buruk. Betapa bodohnya ia menjanjikan hal yang tidak bisa ia tepati karena ia lupa, jika ia juga sudah berjanji untuk mengantar pulang Sinta setiap hari.
"Mama.. Yam.. Mama gimana?" ucap Sinta dengan suaranya yang serak.
"Berdoa, pasti Mama lo baik-baik aja," jawab Yama seadanya. "Bentar ya, gue mau telepon orang dulu."
"Sini aja."
"Gak bisa, ini.. masalah penting," jawab Yama.
Akhirnya Sinta mengalah dan membiarkan Yama sedikit menjauh.
Yama berjalan menuju ruang tunggu yang ada di lobi rumah sakit. Melihat keadaan sekitar sebelum ia menghubungi nomor Tiana yang ternyata tidak aktif. Beberapa kali dan hasilnya pun sama, nomor yang dia tuju sedang tidak aktif.
"Kenapa sih, Na?" gumamnya pelan. Lalu ia menelpon Bik Odah. Dan akhirnya diangkat oleh wanita paruh baya itu.
"Halo Den Yama, kenapa?"
"Bik, Tiana udah di rumah?"
"Loh, belum den, Non Tiana belum pulang daritadi."
Yama menelan salivanya dengan susah payah. Kemana gadis itu? Apa ia masih menunggunya di sekolah?
"Oh yaudah Bik, kalau dia udah pulang, kabari Yama ya."
"Oh iya, siap den."
Yama memutus telepon itu sepihak. Lalu ia kembali berjalan menemui Sinta. Dalam hati ia terus bedoa agar Tiana baik-baik saja, walaupun ia tidak yakin, apakah doa dari seorang pendosa sepertinya akan dijabah oleh Yang Maha Kuasa?
•••••
Pukul 8 malam, Yama pulang ke rumah dengan keadaan basah kuyup karena kehujanan. Tanpa menunggu lama ia segera berlari masuk ke dalam villa sambil meneriakkan nama Tiana. Dan gadis itu pun muncul dari dalam kamarnya yang terletak di lantai satu.
"Ya ampun, Na, kamu gakpapa kan? Kamu baik-baik aja kan? Kamu pasti tungguin aku lama banget ya? Maaf, Na.." sesal Yama sambil menatap lembut Tiana.
"Nggak kok, aku udah pulang daritadi, cuma ada kerja kelompok aja, makanya lama."
Yama bernapas lega. "Tadi aku telepon kamu, tapi nomornya gak aktif, terus tiba-tiba aja hp aku mati karena batrenya abis."
Tiana hanya mendengus pelan. "Udah, itu aja? Kalau udah, aku mau istirahat lagi di dalam," ketusnya.
"Kamu pulang jam berapa?"
"Tadi, jam 6."
"Naik apa?"
"Angkot."
"Sama siapa?"
"Udah ah, jangan banyak tanya, aku capek. Mau tidur," ketusnya lagi. Dan gadis itu pun langsung menutup pintunya dengan kencang.
Yama mengernyit mendengar jawaban Tiana barusan, dan ada sedikit perbedaan di wajah ayu Tiana, mata gadis itu tampak memerah.
Tiba-tiba saja Bik Odah dan Budhe Sila datang mendekati lelaki itu.
"Kamu darimana aja sih Yam?!" geram Budhe Sila.
"Aku abis nganterin Mama Sinta ke rumah sakit Budhe," jawab Yama jujur.
"Bagus banget, itu perbuatan yang mulia sekali. Tapi kamu gak bisa melakukan itu Yam, sedangkan tadi Budhe melihat Tiana pulang dengan seragam yang basah sambil menangis dan langsung masuk ke kamar, Budhe takut dia kenapa-napa Yam."
Kaki Yama melemas seketika. "Katanya, Tiana pulang jam 6 sore tadi."
"Kamu salah! Istrimu itu baru pulang setengah jam yang lalu."
"Maaf den, Bibik mau telepon tapi nomor Den Yama gak aktif."
Yama mengangguk pelan. Ponselnya mati kehabisan baterai.
"Budhe takut Tiana kenapa-napa Yam, coba kamu bujuk dia keluar, tadi Budhe liat dia ngobrol sama kamu. Budhe takut terjadi sesuatu, karena tadi dia pulang sambil menangis."
Yama dengan cepat mengetuk pintu kamar Tiana dengan keras. "Tiana! Na.. buka pintunya.."
Namun tidak ada balasan apapun.
"Tiana sayang, ini Budhe, ayo keluar, kita makan malam dulu."
Lalu terdengar suara isak tangis dari dalam kamar itu. Membuat Budhe dan Bik Odah semakin khawatir, terutama Yama, lelaki itu bahkan terus menerus mengetuk pintu kamar Tiana.
"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini?" ujar Budhe Sila.
"Ini salah Yama.. ini salah Yama.. Yama berjanji untuk pulang bersama, tapi Yama malah mengantar Sinta pulang dan tiba-tiba saja Mamanya kolaps, karena tidak ada sopir yang mengantar akhirnya Yama yang membawanya ke rumah sakit. Yama pikir Tiana sudah pulang duluan, ternyata.. ternyata dia menungguku." Lirih Yama dengan suara yang tercekat.
Budhe Sila menggelengkan kepalanya tidak percaya. "Bodoh sekali! Apa kamu tidak berpikir bahwa bisa saja kejahatan terjadi diluar sana? Yam, Tiana itu perempuan, apalagi dia sedang mengandung, Budhe tidak bisa membayangkan apa yang terjadi saat ia menunggumu datang."
Hati Yama terasa sesak. Dia menatap pintu kamar Tiana dengan tatapan sayu. Ingin rasanya menarik gadis itu ke dalam pelukannya dan berkata apa yang terjadi dan maafkan aku karena tidak bisa menepati janji. Tapi itu hanyalah sebuah khayalan semata. Nyatanya, pintu itu menjadi penghalang antara dirinya dan Tiana.
"Maaf Na.."
•••••
"Budhe bagaimana ini, Tiana belum keluar dari kamar, sudah 2 jam." Yama menatap cemas ke arah Budhe Sila yang kini tengah menyenderkan tubuhnya di sofa ruang tamu.
"Rasain, makanya kalau punya janji tuh ditepati Yam."
"Budhe tolong, tadi Yama sudah mencoba pakai kunci cadangan, tapi nggak bisa soalnya ada kunci lagi dari dalam," lelaki itu meremas kencang rambutnya. Ia sungguh tidak tenang dengan keadaan ini.
Tiba-tiba saja Pakde Haris datang sambil membawa linggis. "Congkel jendelanya, ayo Pakde bantu."
Seakan mendapatkan sesuatu yang berharga, Yama langsung mengangguk cepat, mengambil linggis itu dari tangan Pakdenya dan berjalan keluar rumah. Pakde Haris dan Budhe Sila mengikutinya dari belakang.
Ketika sampai di depan jendela kamar Tiana yang ternyata gordennya belum ditutup sehingga menampilkan siluet gadis itu yang sedang berbaring di ranjang membuat Yama tersenyum kecil. Sepertinya gadis itu tertidur? Ya semoga saja seperti itu.
Tak menunggu lama, Yama langsung menyelipkan ujung linggis ke sela-sela jendela. Lalu ia mencongkelnya dengan kencang, walaupun beberapa kali tidak bisa, namun dengan bantuan Pakdenya akhirnya jendela itu terbuka.
"Sudah kamu saja yang masuk sana, selesaikan masalah kalian dengan baik," ucap Pakde Haris sambil mengelus pelan pundak Yama. Yama pun mengangguk kecil.
"Yaudah, Budhe sama Pakde ke dalam dulu, kalau ada apa-apa bilang, ingat jangan pakai kekerasan untuk menghadapi perempuan," nasihat Budhe Sila kepada Yama. Akhirnya mereka berdua pun kembali masuk ke dalam villa melewati pintu utama.
Sedangkan Yama, lelaki itu mulai menapakkan kakinya di jendela dan mengangkat tubuhnya hingga ia benar-benar masuk ke dalam kamar Tiana.
Baru kali ini ia masuk ke dalam kamar gadis itu, yang ia lihat kini sudah banyak barang-barang milik gadis itu yang tertata rapi di dalam kamar. Meja belajar pun sudah dihias sedemikian rupa membuat Yama tersenyum lebar.
Namun ada suatu hal yang membuat Yama terpaku. Foto-foto gadis kecil yang terpajang di tembok kamar itu. Ternyata Tiana tetap membiarkannya di situ. Yama rindu gadis itu, mungkin sekarang jika ia masih hidup, usianya seumuran dengan Tiana.
Lalu tatapan matanya kembali kepada Tiana yang tengah berbaring miring sambil terpejam. Yama mendekatinya, lalu duduk di pinggiran ranjang sambil terus menatap wajah gadis itu. Tangannya terangkat untuk mengelus rambut halus milik Tiana.
"Cantik.." gumamnya pelan. "Maaf ya.." lanjutnya lagi.