Yama melangkah dengan pelan menuju kamar Tiana. Dilihatnya pintu yang tertutup dengan rapat. Dengan pelan ia membuka pintu itu, menyisakan celah sedikit untuk ia mengintip. Ternyata Tiana sedang beribadah dengan khusyuk.
Yama jadi ingat, dulu dia adalah muslim yang taat, bahkan sudah hapal beberapa juz Al-Quran. Tapi sejak masuk usia remaja, dia seakan jauh dari semua itu. Bahkan kalau beribadah pun itu jika ia ingat. Dan masih masuk hitungan jari dalam sebulan.
Yama tersersenyum kecut. Betapa dirinya menjadi pendosa besar sekarang.
Telinganya semakin menajam ketika ia mendengar suara yang dia yakini bahwa Tiana sedang berdo'a.
"Ya Allah, ampunilah dosaku, dosa keluargaku, ibu dan bapakku, dan juga adikku. Jauhkanlah kami dari siksa api neraka. Berikanlah umur yang panjang untuk kedua orang tuaku. Jangan biarkan mereka menangis karenaku. Ya Allah, ampunilah aku, sungguh aku takut dengan nerakamu, salah satu dosa besar sudah aku perbuat. Sejujurnya aku tidak siap Ya Allah, kenapa Engkau menghadirkan dia disaat aku tidak menginginkannya? Bukannya aku tidak mensyukuri apa yang Engkau berikan. Tapi aku takut melahirkan, aku belum siap..."
Yama merasakan dadanya yang sesak. Suara isi hati Tiana benar-benar membuatnya merasa sangat bersalah. Lalu ia mendengar Tiana yang menangis sekarang. Yama tidak tau apa yang harus ia lakukan agar gadis itu bisa memaafkannya. Diurungkannya niat untuk menemui gadis itu. Akhirnya Yama kembali berjalan menuju sofa ruang tamu.
Ia membuka aplikasi google untuk menjawab semua pertanyaan yang ada dipikirannya. Kemudian ia mengetik sesuatu di sana. Dan banyak artikel yang bermunculan di sana. Ia mengklik salah satu artikel lalu membacanya.
Risiko Hamil Diusia Muda
Fenomena hamil usia muda ternyata menjadi latar belakang kematian banyak remaja perempuan di dunia. Remaja perempuan yang melahirkan di bawah usia 15 tahun, lima kali lebih berisiko meninggal dalam proses persalinan dibanding wanita usia 20 tahun ke atas.
Yama berhenti membacanya. Tiba-tiba ia merasa takut. Takut akan kehilangan gadis itu. Bayangkan saja, 5 kali lebih berisiko menyebabkan kematian. Ia meremas rambutnya.
Kalau jadinya seperti ini, lebih baik hari itu tidak terjadi. Hari dimana ia melakukan kesalahan besar. Jika ia bisa mengulang waktu, rasanya ingin sekali tidak mengajak Tiana pulang, agar kejadian itu tidak terjadi.
Namun nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada yang bisa ia lakukan lagi. Ia hanya perlu menjalankan kehidupannya yang sudah berbeda sekarang. Karena sudah memiliki tanggung jawab atas anak gadis orang. Yang harus ia lakukan adalah membuat bubur itu tidak hambar dan lezat ketika dinikmati. Ya, mulai sekarang, ia akan melakukan apa saja untuk Tiana.
Tiba-tiba ia mendengar suara gaduh dari dapur. Dengan cepat Yama bangkit dan berjalan menuju dapur, takut ada maling menyusup.
Dan ia terkejut ketika melihat Tiana yang sedang meminum air dingin di depan pintu kulkas yang terbuka. Yama menghela napasnya pelan. Tiana pun tidak kalah terkejutnya dengan Yama. Seperti kucing yang ketahuan mengambil ikan asin, Tiana yang bisa diam di tempatnya melihat reaksi Yama.
"Kenapa? Kamu cari apa?" ucap Yama pelan.
Uhh, telinga Tiana terasa asing dengan ucapan Yama, apa katanya? Kamu? Biasanya lelaki itu selalu bicara lo-gue dengannya. Kenapa bisa secepat ini berubah?
"Aku lapar."
Yama mengerjapkan matanya ketika tatapannya tertuju pada tangan Tiana yang sedang mengelus perutnya.
"Terus mau makan apa?" ucap Yama.
Tiana menggigit bibirnya seakan ragu untuk mengungkapkan apa keinginannya.
"Bilang, Na. Nanti aku belikan."
"Aku mau bakso yang ada di dekat sekolah," cicit Tiana.
Yama membulatkan matanya. Ini hari Rabu. Hari sekolah. Masa dirinya harus ke sekolah disaat ia meliburkan diri karena menikah? Yang benar saja. Tapi tidak apa, Balaram Yamadipati adalah lelaki yang tidak takut apapun, hanya membelikan bakso di sekolah, itu hal mudah.
"Yaudah, tunggu ya, aku ke sana."
"Aku ikut."
Yama mengernyitkan dahinya. "Mau ngapain? Aku aja yang beliin, kamu tunggu sini, kan sekolah gak libur sekarang."
"Tapi aku pengennya makan di sana," jawab Tiana.
"Aku sih gakpapa, tapi nanti kalau kamu ketemu guru gimana?"
Tiana menggigit ujung kuku jari telunjuknya yang kanan. "Aku pengen makan di sana, terus gimana?"
Yama menghela napasnya. Tiana malah bertanya lagi kepadanya. "Yaudah ayo, kita makan di sana."
Tiana tersenyum kecil dan mengangguk mendengarnya. Dengan cepat ia menuju kamarnya untuk bersiap-siap. Yama pun tersenyum lebar melihatnya, tanpa membuang waktu, ia segera mengganti pakaiannya dan memanaskan motor.
•••••
Yama meringis ketika melihat mangkok bakso Tiana yang sudah diisi oleh sambal yang banyak. Lalu gadis mengaduknya dengan bakso di dalamnya. Yama bisa melihat betapa inginnya Tiana memakan bakso itu.
Lalu dengan cepat Tiana memakannya. Dan Yama sampai membuka mulutnya karena melihat Tiana yang begitu lahap memakannya. Yama pun tidak tertarik lagi dengan bakso di depannya, sekarang ia malah fokus menatap Tiana yang sedang makan.
"Udah ya, itu pedas banget loh, kalau kamu sakit gimana?" ucap Yama sambil melihat Tiana yang sedang menatap ke arahnya.
Wajah Tiana yang kuning langsat tampak berkeringat dengan bibir yang merah merekah dan sesekali merasa kepedasan. Yama tersenyum melihatnya, Tiana cantik, walaupun ada beberapa bekas jerawat yang tidak banyak di pipinya, namun Yama tidak bosan memandangi gadis itu. Yama suka gadis yang natural seperti Tiana, dia itu tidak neko-neko.
"Tapi ini enak banget, Kak."
"Iya enak, tapi kalau bahaya buat anak aku gimana?" ucap Yama khawatir.
Tiana tiba-tiba memberhentikan mengunyah makanannya. Gadis itu sekarang malah diam sambil menatap ke arah depan. Yama mengernyit, ia meneliti lagi apa ada yang salah dengan ucapannya.
"Kenapa? Tiana, kamu marah?" tanya Yama sambil menyentuh lengan gadis itu.
"Aku mau pulang," ucap Tiana sambil bangkit dari duduknya.
"Tapi belum habis baksonya," jawab lelaki itu.
"Pulang."
Yama pun hanya bisa mengangguk. Ia membayar bakso yang sudah dipesannya.
"Gak sekolah, Yam?" tanya Mang Ade—tukang bakso itu—yang kebetula kenal dengan Yama.
"Nggak Mang," jawabnya.
Mang Ade tersenyum kecil sambil memberikan kembaliannya. Ia tau Yama merupakan anak bandel. Jadi ia tidak kaget melihatnya yang dengan santai makan bakso di depan sekolahan.
Yama menggaruk tengkuknya pelan. "Mang ngedenger omongan gue sama cewek gue gak tadi?"
Mang Ade mengernyit lalu menggeleng. "Nggak, emang kenapa? Baksonya gak enak?"
"Oh nggak, enak banget malah, yaudah kalau gitu gue pulang dulu, makasih Mang."
Mang Ade mengangguk, lalu ia melihat wajah pacar Yama yang tidak asing, seperti pernah melihat sebelumnya. Namun pria paruh baya itu tidak menghiraukannya.
Yama mendekati Tiana yang sudah berdiri di samping motornya. Lalu ia menaiki motor itu diikuti oleh Tiana di belakangnya.
"Na, masih marah?" tanya Yama pelan. "Ngomong dong, kalau kamu diam aja, aku gak tau apa-apa."
"Harusnya Kak Yama jangan bicara itu di sini, kalau ada yang mendengar gimana?" cicit Tiana takut.
"Nggak ada kok, lagian sekolah sepi, masih pada belajar."
"Maafin Tiana ya, kalau bakso tadi membahayakan anak Kak Yama," ucap Tiana.
"Na.." ucap Yama memperingati, dia merasa tersindir.
"Iya aku tau, cuma Kak Yama yang mau anak ini kan?"
Yama menoleh ke belakang dan menatap Tiana dengan marah. "Tiana!" geramnya.
"Ayo pulang, Kak."
Yama menghela napasnya pelan. Lalu ia memakai helm dan menjalankan motornya menjauhi sekolah.
•••••
Tiana langsung melesat masuk ke villa ketika mereka sudah sampai. Yama pun hanya bisa menghela napasnya pelan sambil melepaskan helmnya.
"Darimana?" tanya Budhe Sila ketika melihat Tiana masuk.
"Abis makan bakso Budhe," jawab Tiana pelan. Jujur, ia masih sungkan dengan Budhe Sila.
"Ngidam ya?"
Tiana mengernyitkan dahinya bingung. Namun karena ia malas berbicara akhirnya gadis itu pun mengangguk.
Budhe Sila tersenyum kecil. "Yaudah, pasti capek kan? Kamu istirahat dulu, Nduk."
"Iya Budhe, Tiana permisi ke kamar dulu ya."
"Iya.. eh.. Yama mana?"
"Masih di luar kali," jawab Tiana acuh.
Budhe Sila pun mengangguk. Tiana langsung berjalan menuju kamarnya.
Ketika sampai kamar, gadis itu lantas membaringkan tubuhnya di ranjang. Menghela napas sebentar sebelum ia mengambil ponselnya yang ada di saku celana jeans yang ia pakai. Banyak pesan masuk, terutama dari Abrar, lelaki yang kini sedang dekat dengannya.
Tiana tersenyum senang. Tapi entah kenapa ada sedikit ruang di hatinya yang merasa tidak rela jika ia dekat dengan lelaki lain. Wajah gadis itu tiba-tiba murung mengingat bahwa ia sudah memiliki suami.
Kak Abrar
Lagi apa Na? Maaf ganggu loh ini 17.48PM
17.48 PM Lagi rebahan aja kak
Kenapa gak masuk? Tadi aku cariin ke kelas kamu, kata Elis kamu sakit 17.49PMGws yaaaaaaa. 17.49PM
17.50PM Iya Kak, makasih ya
Besok udh masuk belum? Ada yang mau aku omongin. 17.50PM
Ketika membaca pesan itu, entah kenapa hati Tiana merasa was-was. Gadis itu jadi penasaran, apa kira-kira yang akan dibicarakan oleh lelaki itu?
17.50PM Iya Kak, inshaAllah
Setelah itu mereka kembali membicarakan hal yang tidak penting. Sampai Tiana mendengar suara adzan, akhirnya mereka menghentikan kegiatannya itu. Gadis itu bergegeas untuk mandi.
•••••
Tiana membuka pintu kamar dengan perlahan, setelah mandi dan solat, gadis itu sudah segar dengan pakaian tidur miliknya. Ia jadi teringat ucapan ibunya, yang berkata bahwa dia harus lebih mendekatkan diri kepada keluarga Yama. Ya, itu harus karena sekarang ia adalah bagian dari keluarga itu bukan?
Gadis itu berjalan menuju dapur, dilihatnya sudah ada Budhe Sila dan Bik Odah yang sedang memasak. Walau sedikit canggung, akhirnya Tiana mendekati mereka.
"Eh.. Tiana.. kenapa ke sini, Nduk?" tanya Budhe Sila sambil tersenyum. Tiana pun membalas senyumannya.
"Tiana mau bantu boleh, Budhe?"
"Ya boleh dong, kamu goreng ayam aja ya, biar Budhe yang ngulek sambal."
Tiana mengangguk, karena memang sudah terbiasa masak di rumah dulu, gadis itu tidak merasa kesulitan sama sekali.
"Kalau capek istirahat aja ya," lanjut Budhe dengan lembut.
"Budhe, Tiana aja baru mulai ini," jawab Tiana sambil terkekeh.
"Biasanya Neng, kalau orang lagi hamil muda, bawaannya capek terus, lemas lagi." Bik Odah mulai berbicara. "Terus Neng, kata orang jaman baheula, Den Yama yang merupakan bapaknya si dedek itu gak boleh sembarang membunuh hewan, takutnya ada apa-apa sama bayinya."
Tiana mengangguk mengerti. Sudah sering ia mendengar tentang itu, beberapa tetangganya yang pernah hamil sering menceritakan itu kepada ibunya. Dan Tiana tidak sengaja menguping saat itu.
"Bukan cuma Bapaknya, Ibunya juga harus hati-hati kalau mau ngelakuin apa aja." Budhe Sila menambahi.
"Tapi Tiana pernah dengar dari seseorang kalau itu cuma mitos," jawab Tiana.
"Hush! Udah kamu itu masih muda! Dengerin apa kata orang tua, jangan sekali-kali membantah, itu juga demi kebaikan kamu dan anak kamu," ucap Budhe Sila dengan tegas. Tiana pun langsung diam. "Bik, Yama mana?" lanjut wanita itu.
"Oh iya, saya belum lihat Den Yama setelah akad tadi."
Tiana pun mengedarkan pandangannya ke sekitar. Ia baru ngeh kalau Yama tidak ada di villa sejak tadi?
"Kamu tau dia kemana Na?"
"Gak tau Budhe," jawab Tiana.
"Ya Allah.. kemana lagi tuh lelaki?! Udah punya istri juga," gerutu Budhe Sila.
Tiana memikirkan sesuatu, dia pun kembali menggoreng ayam yang sebelumnya sudah diberi tepung kobe.
"Ehm, Bibik permisi ke kamar Den Yama sebentar ya Nyonya Sila, mau ngambil baju kotornya."
"Eh gak usah Bik, biarin Tiana aja. Tiana kan udah jadi istrinya, harus dibiasakan, sudah tanggung jawab dia." Budhe Sila tersenyum sambil menatap Tiana.
Dengan wajah yang ditekuk, Tiana pun meninggalkan pekerjaannya di dapur. Gadis itu beranjak naik melewati anak tangga menuju kamar Yama. Aroma musk khas lelaki menguar begitu ia membuka pintu kamar. Ini pertama kalinya ia memasuki kamar Yama.
Dipandanginya keseluruhan kamar dengan teliti. Warna abu-abu menjadi dominan, dan beberapa sudut diberi warna putih agar tidak menoton, dan sedikit hitam. Kasur berukuran besar dengan sprai berwarna putih dan selimut hitam. Televisi yang menempel di dinding tepat di depan kasur, dengan sebuah meja belajar yang terdapat buku-buku rapi di atasnya.
Hanya satu yang menjadi perhatian Tiana. Sebuah kulkas kecil di sudut kamar dekat dengan kamar mandi. Kening Tiana mengernyit, untuk apa kulkas itu jika di dapur saja sudah ada kulkas besar berisikan makanan dan minuman yang lengkap.
Dasar boros, batinnya.
Tanpa menunggu lama, Tiana mengambil sebuah keranjang berisikan pakaian yang ada di atas meja belajar. Namun karena ia masih penasaran, akhirnya ia mendekati kulkas itu untuk melihat apa isinya, namun sayangnya kulkas itu terkunci.
"Privasi banget, sampe dikunci gini."
Tiana pun kembali turun ke bawah dengan keranjang pakaian di tangannya.