"Kenapa toh? Gugup?" ucap Pakde Haris saat menatap Yama yang diam duduk di sebelahnya sambil memegang ponselnya erat.
Yama mengangguk pelan. Matanya melihat ponselnya yang belum ada notifikasi balasan dari gadis itu. Tapi ketika ia membuka chatnya, tanda centang dua sudah berwarna biru.
Itu artinya pesannya sudah dibaca.
Mobil yang dikendarai oleh Pakdenya sekarang sudah semakin dekat dengan rumah Tiana.
Lima menit kemudian, mobil itu sudah terparkir di halaman depan rumah Tiana. Yama melihat rumah itu dengan tatapan tidak karuan. Antara ingin kesana atau tetap duduk di mobil.
"Turun, Yam," ucap Budhe Sila sambil membuka pintu mobil.
Budhe dan Pakde sudah turun terlebih dahulu. Yama pun ikut turun dari mobil. Dan baru saja Yama ingin mengetuk pintunya, pintu itu sudah terbuka dan menampakkan wajah garang Pak Arif.
"Assalamualaikum.. Pak," ucap Yama sambil menyalami tangan Pak Arif.
"Waalaikumsalam," balasnya datar. "Mari masuk."
Yama dan Budhe-Pakdenya masuk ke dalam rumah sederhana Tiana. Mereka duduk di sofa usang rumah itu. Lalu tampaklah Ibu Farida sambil membawa nampan yang berisikan minum dan makanan kecil.
"Maaf, hanya ini yang bisa kami sediakan."
"Oh nggakpapa, malahan kami suka dengan ubi cilembu, selalu bawa ke Semarang kalau habis dari Bandung." Jawab Pakde Haris sambil tersenyum ramah.
"Bu.. panggilkan Tiana," bisik Pak Arif yang langsung diangguki oleh Ibu Farida.
"Sebelumnya kami ingin minta maaf sebesar-besarnya atas apa yang dilakukan oleh Yama, maaf karena orang tua Yama tidak bisa datang, karena pekerjaan. Jadi kami yang mewakilinya."
Pak Arif mengerutkan keningnya. "Jadi, kalian bukan orang tua Yama?"
"Saya adik dari Mama Yama, Pak. Yama ini keponakan kami," jawab Budhe Sila.
"Pekerjaan apa yang orang tua Yama lakukan? Hingga anaknya yang berbuat kesalahan fatal seperti ini, mereka tidak bisa hadir?!" geram Pak Arif.
Yama memejamkan matanya sejenak. Ya, orang tua seperti apa yang ia miliki?
"Mereka sedang berada di luar negeri Pak, kemungkinan besar beberapa minggu lagi akan kembali."
Yama menoleh ke arah Pakde Haris. Pakde Haris hanya mengangguk seakan meyakinkan Yama bahwa ucapannya hanya untuk meyakinkan Pak Arif.
Lalu datanglah Tiana dan Ibu Farida. Mereka duduk di sebelah Pak Arif dengan Tiana yang berada di tengah-tengah.
"Ayu sekali kamu, Nduk." ucap Budhe Sila. Tiana hanya tersenyum kecil.
Sedangkan Yama, lelaki itu terpaku melihat Tiana. Ada gemuruh dalam hatinya ketika netranya menatap Tiana untuk beberapa saat.
"Jadi Pak, apa tidak sebaiknya kita segera menikahkan Yama dan Tiana?" ucap Pakde Haris yang membuat Tiana terkejut.
"Apa? Menikah?" ucap Tiana pelan. "Aku masih mau sekolah, Bu.." lirih Tiana sambil menatap Ibunya.
Yama merasakan ada sebuah godam besar yang mengenai hatinya. Terasa sakit dan sesak, melihat pandangan Tiana yang merasa tersiksa dengan keadaannya kini. Yama merutuki kebejatannya malam itu, Tiana adalah gadis baik-baik yang tidak bersalah.
Dan ia menghancurkan semuanya. Memutus harapan kedua orang tua Tiana yang pasti ingin melihat anaknya sukses.
Tapi dia malah membawa Tiana ke dalam kehidupannya. Dimana tidak ada masa depan yang indah sekalipun di sana.
••••
Keesokan harinya, dihari Rabu yang begitu cerah. Tampak seorang gadis berseragam olahraga tengah duduk di pinggir lapangan sambil melihat teman sekelasnya berlari memutari lapangan.
Gadis itu hanya bisa menghela napas pelan. Hari ini, ia melewatkan pelajaran Olahraga, karena ia merasa pusing waktu memutari lapangan untuk putaran yang pertama. Padahal, Pak Bimo meminta memutari lapangan sebanyak 2 kali.
Dan jadilah seperti ini, duduk sendiri sambil melihat teman-temannya yang sekarang sedang mempersiapkan diri untuk pelajaran Olahraga yaitu kebugaran jasmani.
Tiana hanya diam. Sambil sesekali melihat gerakan-gerakan yang dilakukan temannya, agar dia juga bisa mempraktekannya nanti. Setelah ia agak sehatan.
"Hei.."
Tiana menoleh dan melihat Abrar yang sekarang sudah duduk di sebelahnya sambil menekukkan kedua kakinya hingga lutut sejajar dengan d**a.
"Kak, jangan duduk di sini, kotor." Tiana memperingati Abrar.
"Nggak kok, lagian pramuka ini, kotor juga gak mungkin kelihatan." Abrar tersenyum melihat Tiana yang hanya tersenyum kecil membalas ucapannya.
Dan hening. Abrar menatap Tiana yang sedang memperhatikan temannya di lapangan.
"Kenapa gak olahraga?" tanya Abrar.
"Nggak Kak, tiba-tiba pusing," jawab Tiana. "Kak Abrar kenapa di sini? Kenapa gak masuk kelas?"
"Habis dari Lab Komputer, lagian gurunya juga mau ada acara jadi habis ini kelas kosong, ada Yama sama Farid juga kok. Tuh di belakang."
Tiana menoleh ke belakang. Dan ia melihat Yama dan Farid tengah bersender di tembok sambil berdiri. Farid langsung tersenyum sambil melambaikan tangan ke arahnya. Sedangkan Yama, lelaki itu hanya diam dengan wajah datarnya dan kedua tanga yang dimasukkan ke dalam saku celana.
"Brar, cepetan, katanya lu mau madol?!" ucap Farid. Lelaki berambut cepak dengan dasi yang belum terpasang itu langsung menarik tangan Abrar hingga berdiri. "Lama. Mending lanjut dichat aja ya Na?" lanjut Farid.
"Iya deh, aku ke kelas dulu ya. Nanti malam jangan lupa balas WA," ucap Abrar sambil tersenyum. Lalu dibalas anggukan oleh Tiana.
Setelah itu mereka bertiga pergi dari sana. Tiana kembali melihat kegiatan di lapangan.
Pulang sekolah pada hari Rabu lebih awal, karena anak kelas 11 sedang melaksanakan kegiatan Pramuka. Sedangkan kelas 10 dan 12 minggu depan.
Tiana pulang bersama Elis setiap hari. Seperti biasa mereka berpisah di angkot. Tiana berjalan lagi untuk mencapai rumahnya.
Namun baru saja sampai pertengahan jalan. Tiba-tiba motor Kawasaki Ninja 1000 berwarna hitam berhenti di sampingnya. Tiana pun refleks menghentikan langkahnya.
"Na.. ayo gue anterin," ucap Yama saat kaca helmnya sudah dibuka ke atas.
Tiana menggeleng pelan. Gadis itu langsung berjalan lagi tanpa menghiraukan panggilan Yama.
Dan Yama, lelaki itu langsung melepas helmnya lalu turun dari motornya, tak lupa ia mengambil kunci motor yang menggantung. Ia berlari kecil hingga menyamakan langkahnya dengan Tiana.
"Maaf Na.."
Tiana hanya diam sambil berjalan. Yama pun terus mengikutinya.
"Tiana maafin gue, gue udah putus sama Sinta. Dan seminggu lagi, kita menikah."
Tiana mencengkeram tali tas gendongnya. Lalu menghela napas pelan.
"Maafin gue Na.. lo minta apa aja.. gue kabulin, tapi lo jangan marah lagi.."
Tiana menghentikan langkahnya. Lalu ia menoleh menatap Yama. "Apapun?" tanya Tiana.
"Iya, apapun, lo mau apa aja nanti gue turutin."
"Kalau gitu, ayo kita aborsi anak ini." Jawab Tiana sambil menundukkan kepalanya.
Yama mengepalkan tangannya. Ia menelan salivanya dengan susah payah. Entah kenapa, ucapan Tiana begitu menyakitinya. "Jangan itu, Na. Apapun selain itu."
"Kenapa gak, kam? Aku tau Kak Yama masih sayang sama Kak Sinta. Dan aku juga masih mau sekolah, aku mau jadi guru, dengan kita menyingkirkan anak ini, semuanya berjalan lancar. Kak Yama kembali dengan Kak Sinta, begitu pula aku yang bisa melanjutkan pendidikan."
"Apa kamu gak sayang sama anak kamu sendiri?" tanya Yama pelan.
"Aku sayang. Sayang banget. Tapi setiap aku melihat Ibu menangis dan berbicara dengan Bapak tentang aku, aku merasa bersalah. Mereka sudah menyekolahkanku hingga seperti ini dengan kerja keras.
Mereka ingin melihat aku menjadi orang sukses. Bisa membanggakan mereka. Tapi mereka kecewa karena harapan itu pupus ditengah jalan. Dan aku juga masih terlalu muda untuk hamil," jawab Tiana sambil meneteskan air matanya.
Yama terdiam. Ia menyugar rambutnya dengan jari tangan. "Gue tau, ucapan maaf pasti gak cukup Na, gue salah besar. Menghancurkan harapan orang tua lo yang begitu besar ingin melihat anaknya sukses. Tapi tolong, kasih gue kesempatan untuk menebus kesalahan itu."
"Percuma aku ngomong gini. Lagian juga pernikahan itu gak bisa aku tolak."
Setelah itu Tiana kembali berjalan meninggalkan Yama yang diam mematung. Sepanjang perjalanan kadang air mata masih saja keluar dari sudut mata gadis itu. Bahkan beberapa pekerja kebun teh melihatnya dengan kasihan.
"Abis putus cinta neng?" tanya Ibu yang membawa bakul berisikan pucuk teh.
Tiana menggeleng pelan. "Nggak Bu."
Setelah itu si Ibu pergi sambil tersenyum. Dan Tiana pun berjalan cepat menuju rumahnya.
•••••
Seperti baru memejamkan mata. Tiana tidak sadar bahwa seminggu sudah lewat. Dan tepat hari ini ia akan melangsungkan pernikahannya. Sudah dari semalam ia berada di villa Yama bersama kedua orang tuanya dan juga adiknya—Hasan.
Ia memandang dirinya di cermin full body di hadapannya. Gadis itu sudah cantik dengan kebaya putih gading dengan riasan wajah sederhana dan juga tatanan rambut sanggul yang indah.
Tidak ada raut kebahagian dalam wajahnya. Bahkan kantung mata yang terlihat hitam karena semalaman tidak bisa tidur, hanya sedikit memudar karena sebuah make up yang entah iya tidak tau namanya.
"Teh, disuruh ke depan sama Ibu," ucap Hasan yang baru saja masuk ke dalam kamar. Hasan memperhatikan sekitar kamar. Lalu ia mengernyit melihat banyaknya foto seorang gadis kecil terpampang di sana. "Itu adiknya A' Yama ya Teh?" tanya Hasan.
"Gak tau, Teteh juga baru tau."
"Heh, kalian ini, ayo keluar Na, ditunggu di depan," ucap Bu Farida sambil mendekati putrinya. Tiana hanya mengangguk pelan. Lalu ia memegang lengan Ibunya dengan erat.
Mereka berjalan menuju ruang tamu. Hanya pernikahan sederhana. Dihadiri oleh tetangga sekitar dan juga Budhe-Pakde Yama.
Tiana duduk di sebelah Yama. Ia menatap ke depan seakan tidak ingin melihat Yama.
"Sudah siap?" tanya penghulu itu yang langsung diangguki oleh Yama.
Kemudian tangan Pak Arif menggenggam tangan Yama. Suasana menjadi tegang. Tiana pun merasakan itu. Lalu suara Pak Arif terdengar lantang.
Dan Yama pun langsung mengucapkan ijabnya. "Saya terima nikah dan kawinnya Tatjana Melisha binti Arif dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Satu tarikan napas membuat semua orang lega. Dan kata sah pun terucap.
"Cium tangan suami kamu," bisik Ibu Farida yang membuat Tiana tegang.
Lalu tangan kanan Yama yang besar itu berada di hadapannya. Tiana pun menyambutnya dengan berat hati. Dan tiba-tiba ia merasakan dahi dicium oleh lelaki itu.
Tiana ingin menangis. Dia tidak siap. Tidak siap untuk menjadi seorang istri apalagi untuk menjadi seorang ibu diusianya yang masih enambelas tahun.
Takdir apa yang ia miliki sekarang?
•••••
Setelah para tamu pulang. Kini, hanya keluarga saja yang masih duduk di ruang tamu. Tiana duduk diapit oleh Budhe Sila dan Ibunya. Sedangkan Yama berdiri. Pakde dan Pak Arif duduk di single sofa masing-masing.
Yama lebih memilih menyenderkan tubuhnya di tembok sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku celananya.
"Ada yang ingin ditanyakan Tiana?" ucap Pakde Haris, karena ia melihat Tiana yang sedari tadi diam. Yama menoleh dan menatap lembut wajah Tiana.
"Apa... Apa Tiana masih bisa sekolah?" ucap Tiana pelan sambil menatap Pakde Haris.
"Ya, tentu. Mungkin nanti setelah kamu ujian kenaikan kelas, baru kamu akan keluar dari sekolah itu. Tinggal 5 bulan lagi kan?" ucap Pakde. Tiana mengangguk pelan.
"Gara-gara kamu! Anak saya menjadi korban, dia masih terlalu muda Yama!" geram Pak Arif dengan tatapan yang menusuk melihat Yama. "Harusnya dia masih belajar, sekolah, bermain, bukan mengandung dan melahirkan anak! Kenapa takdirnya begitu buruk?" lirih Pak Arif.
"Pak.. gak boleh salahin takdir, Allah pasti sudah merencanakan yang terbaik untuk Tiana." Ibu Farida berusaha mengingatkan suaminya agar tidak bertindak diluar batas.
Budhe Sila mengusap pelan punggung Tiana. "Sabar ya, Nduk, Budhe yakin, kamu pasti bisa merubah Yama menjadi lebih baik."
"Aku capek Bu, mau istirahat."
"Yaudah, Ibu antarkan ke kamar ya," ucap Bu Farida. Tiana hanya mengangguk pelan.
Setelah mereka pergi, Pak Arif juga ikut melangkahkan kakinya keluar rumah. Entah ingin kemana pria paruh baya itu. Semuanya hanya bisa diam melihatnya.
"Duduk Yam, ada yang mau Pakde bicarakan.." ucap Pakde Haris. Lalu Yama mengangguk, lelaki itu langsung duduk di singel sofa bekas diduduki oleh Pan Arif tadi.
Yama menundukkan kepalanya sambil menautkan jari-jari tangannya.
"Jaga Tiana. Dia masih muda, pernikahan kalian hanya sebatas tanggung jawab, karena seperti yang Pakde tau, pernikahan kalian harus diulang jika Tiana sudah melahirkan. Oleh karena itu, jangan berbuat hal yang diluar batas. Pakde gak mau sesuatu hal terjadi sama Tiana," tegas Pakde Haris yang langsung diangguki oleh Yama.
"Dan satu lagi.. selalu bahagiakan Tiana, Budhe yakin, kamu bisa melakukan itu." Budhe Sila menambahkan.
Tiba-tiba Bu Farida datang dari kamar yang sudah ditempati oleh Tiana mulai sekarang di villa Yama.
"Ibu harus pulang dulu, Yam. InshaAllah nanti ke sini lagi," ucap Bu Farida.
"Tiana tidur Bu?" tanya Yama.
"Lagi sholat."
Yama mengangguk pelan.
"Pakde sama Budhe mau istirahat dulu, kamu samperin Tiana, bicara baik-baik, perbaiki hubungan kalian." Pakde Haris bangkit dari duduknya. Lalu ia berjalan bersama Budhe Sila meniju kamar mereka.
"Yaudah Ibu pulang dulu ya Yam, Bapak udah tunggu di luar."
Yama langsung berdiri dan mencium tangan kanan Bu Farida. "Yama juga mau ke Pak Arif, Bu."
"Jangan. Dia masih emosi sekarang, nanti aja ya, Ibu yakin, Bapak pasti maafin kok."
Yama yang awalnya ragu hanya bisa mengangguk menyetujui ucapan ibu mertuanya. Ibu Farida tersenyum kecil, lalu wanita itu berjalan keluar villa.