Yama mengernyitkan dahinya, untuk apa Tiana dan Bapaknya datang ke sini?
"Suruh tunggu sebentar, Yama mau bersih-bersih dulu."
Bik Odah mengangguk lalu berjalan pergi. Dan saat itu pula Yama berlari menuju kamar mandi. Berkaca sebentar sebelum ia mencuci wajahnya dengan sabun. Lalu menggosok giginya agar tidak berbau alkohol. Sebenarnya ia sudah mandi, tapi tak apalah, yang penting ia terlihat segar dimata Bapak Tiana.
Yama tersenyum sambil menyisir rambutnya dengan jari tangan. Lelaki itu menatap pantulan wajahnya di cermin. Sebotol wine tidak membuat seorang Balaram Yamadipati mabuk. Setelah selesai, lelaki itu bergegas turun untuk menemui tamunya. Dan ketika sampai di ruang tamu, bukan senyumanlah yang ia dapatkan dari pria paruh baya yang berdiri di depan pintu, tapi suatu kemarahan dan emosi yang menggebu-gebu.
Lalu tatapan Yama beralih menatap gadis yang sedari tadi menunduk diam sambil memilin jarinya. "Ada apa Bapak—"
Bugh!
"Argh!" geram Yama sambil memegang pipinya yang sudah ditonjok oleh Arif. "Ini kenapa?" tanya Yama bingung.
Arif langsung menarik kaos polos putih yang dipakai Yama, tanpa pikir panjang pria itu lantas meninju perut Yama hingga lelaki itu mengerang kesakitan dan terjatuh di lantai.
"Pak! Udah, ayo pulang.. Tiana mau pulang.." ucap Tiana lirih sambil memegang erat lengan Bapaknya yang ingin kembali memukuli Yama.
"Besok bawa orang tuamu menemui saya di rumah! Tanggung jawablah atas apa yang kamu perbuat!" ucap Pak Arif dengan nada dingin.
Yama semakin tidak mengerti. Namun, ketika ia mendengar ucapan yang dilontarkan pria itu selanjutnya, dunianya seakan runtuh seketika.
"Tiana hamil," lanjut Pak Arif dengan emosi yang masih menggebu.
Yama langsung menatap Tiana yang masih menunduk di belakang tubuh Bapaknya. Lalu pria tua itu menarik tangan putrinya dan berjalan keluar villa. Hingga Yama mendengar suara motor milik Pak Arif yang perlahan-lahan menghilang dari pendengarannya.
"Maaf Na.. maaf.." lirih Yama sambil memegang perutnya yang terasa sakit. Ia yakin bahwa setelah ini, perutnya itu akan memar.
"Den Yama, itu bibirnya berdarah, biar Bibi obati," ucap Bik Odah sambil menatapnya sedih, baru saja wanita paruh baya itu ingin bergegas mengambil obat namun suara Yama menghentikannya.
"Gakpapa bik, Yama mau langsung pergi ke Jakarta."
Yama berusaha bangkit. Berjalan tertatih menuju kamarnya. Mengambil sebuah jaket kulit yang tergantung di pintu belakang kamarnya. Lalu ia merogoh kunci motor yang ada di atas nakas. Dan mengganti celana pendeknya dengan celana jeans panjang berwarna hitam.
Setelah itu Yama kembali turun ke bawah, tanpa menghiraukan panggilan Bik Odah yang menyuruhnya agar membersihkan lukanya, Yama bergegas menaiki motornya, tak lupa ia memakai helm, tanpa menunggu lama lelaki itu lantas mengendarai motornya menuju Jakarta.
Tempat dimana ia dibenci oleh orang tuanya sendiri.
••••••
Motor ninja berwarna hitam itu memasuki pekarangan rumah mewah yang tampak sangat terang karena lampu yang begitu banyak menyala dari dalam.
Yama turun dari motornya, membuka helmnya lalu menaruhnya di spion motor, setelah itu ia membuka resleting jaket kulit yang ia kenakan karena merasa sesak. Menatap sebentar pintu besar di hadapannya, sebelum akhirnya ia memberanikan diri untuk melangkahkan kakinya masuk ke rumah itu.
Yama memencet bel berkali-kali. Lelaki itu tersenyum kecil mengingat ini adalah rumahnya tapi dirinya seperti orang asing.
"Loh, Mas Yama?" ucap seorang asisten rumah tangga yang membukakan pintu.
"Ayah.. ayah.." Yama kelu untuk menanyakan apakah ayahnya ada di rumah. Kilatan-kilatan masa lalu menghantui dirinya.
"Pak Guntur ada di dalam," jawab ART itu seakan tau apa yang dipikirkan oleh anak dari majikannya. Yama mengangguk sambil tersenyum. "Masuk Mas, mau bibi buatkan minum apa?"
"Eh, gak usah Bik, saya mau langsung pulang."
Yama melangkahkan kakinya semakin masuk ke rumah itu. Pemandangan pertama yang ia lihat adalah foto besar yang terpampang di dinding ruang tamu. Hatinya sakit, dulu foto keluarganya yang terpampang disitu, tapi sekarang foto Ayahnya dan calon istrinya yang baru.
Pandangan Yama semakin menelisik isi rumah itu, Yama ingat dulu banyak foto kecilnya dan juga adiknya terpampang di setiap sudut ruangan, namun sekarang, itu semua tergantikan oleh beberapa lukisan.
"Ngapain kamu di sini?! Uang yang Ayah berikan tidak cukup, heh?!"
Yama memandang seorang pria paruh baya yang melangkah turun dari tangga. Pria itu masih memakai stelan jas lengkap, tampak habis pulang kerja.
Yama melangkah mendekati Ayahnya itu. Sekarang bukan lagi tatapan ketakutan yang ia pancarkan kepadanya, namun tatapan dingin yang sangat menusuk.
"Kehidupan saya senang di Puncak. Terima kasih atas fasilitas yang Ayah berikan," ucap Yama sambil menarik napasnya pelan.
Yama tersenyum kecut, bahkan berbicara dengan Ayahnya sendiri ia harus menggunakan bahasa formal.
"Lalu untuk apa kamu kemari? Pasti kamu berbuat hal buruk di sana, memang dasar anak badung, dari kecil bibit-bibit preman sudah ada dalam diri kamu."
"Saya ingin Ayah ke Puncak besok."
Sekarang, Ayahnya sudah berada di hadapannya. Beberapa meter dari tempatnya berdiri.
"Untuk apa?" Pria paruh baya itu melipat tangannya di d**a. Lalu tatapan tajam Ayahnya membuat Yama kembali takut. Dinding tebal yang ia bangun selama ini, perlahan terkikis.
"Yama.. Yama.. Yama harus bertanggung jawab," ucap Yama gugup.
"Bicara yang jelas!"
"Pacar Yama hamil dan itu anak Yama," Lelaki itu menghembuskan napasnya pelan.
"Sialan! Anak kurang ajar!"
Plak!
Tubuh Yama terlempar ke samping hingga lelaki itu terjatuh karena tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya dan juga tamparan yang sangat keras.
"Pergi! Nikahi dia! Tapi jangan harap saya akan datang ke sana! Kelakuanmu itu sungguh membuat saya muak!"
Yama tersenyum kecil. Ia sudah yakin bahwa Ayahnya tidak akan menyetujui permintaannya.
Satu-satunya orang tua yang belum ia hubungi adalah Mamanya.. tapi bagaimana bisa menghubungi wanita itu, Yama saja tidak tau nomornya. Yang Yama tau dari Bik Odah, wanita yang sudah melahirkannya itu kini tinggal di Belanda..
Bersama kekasihnya.
Sungguh miris sekali hidupnya ini.
•••••
Pukul 2 dini hari, Yama memarkirkan motornya di halaman villa. Bik Odah membuka pintu dengan cepat, karena wanita paruh baya itu mendengar suara motor Yama yang keras.
Bik Odah menatap wajah anak majikannya yang babak belur. Tiba-tiba rasa kasihan menyergap dihatinya. Bagaimanapun, ia juga memiliki seorang anak yang seumuran dengan Yama di kampung. Perasaannya sebagai seorang Ibu pastilah cemas jika anaknya kenapa-napa.
"Tuan Guntur gak mau ke sini ya, den?" tanya Bik Odah.
Yama mengangguk, lelaki itu mendudukkan tubuhnya di atas sofa. "Kayak gak tau Ayah itu gimana sama Yama, Bik. Bertahun-tahun dia masih benci sama Yama," jawab Yama sesekali meringis perih akibat robekan diujung bibirnya.
Bik Odah yang melihat itu langsung pergi ke dapur untuk mengambil air dingin dan kompresan dari handuk kecil. Lalu ia taruh di atas meja ruang tamu.
"Bersihkan dulu lukanya, den."
Yama mengangguk, dengan tangan kanannya ia menekan pelan luka yang ada di ujung bibirnya. Menggigit bibir dalamnya sambil sesekali meringis perih.
"Den Yama mau menelpon Nyonya?"
Yama mendongak menatap Bik Odah. Tanpa pikir panjang, ia mengangguk.
"Sebentar bibik ambilkan dulu ponselnya." Lalu Bik Odah kembali dengan ponsel di tangannya. Wanita tua itu memberikan ponselnya kepada Yama. Ponsel tua yang tidak menggunakan touchscreen. "Di sana ada nomor Nyonya Mila, Den Yama cari saja."
Yama mengangguk, mengotak-atik ponsel itu lalu ia menemukan kontak Mamanya. Saat itu juga Yama ragu untuk menghubungi wanita yang sudah melahirkannya itu. Namun ini demi Tiana, harapannya ada pada Mamanya. Mudah-mudahan saja wanita itu masih ingat jika Yama adalah putra kandungnya.
Yama menekan tombol dial, lalu suara operator yang menyapanya.
Nomor yang Anda hubungi sedang sibuk. Silahkan tunggu beberapa saat lagi..
Yama kembali menelpon Mamanya dan kali ini terhubung. Beberapa saat kemudian, suara wanita yang paling ia rindukan menyapa di telinga kanannya.
"Halo. Odah? Ngapain telepon? Saya sibuk!"
Yama terdiam. Meresapi suara itu dengan segenap hatinya. Katakanlah dia lebay, tapi rasa rindu yang membuncah di hatinya tidak bisa berbohong. Lima tahun berpisah, bukanlah waktu yang sebentar.
"Halo? Halo? Kok kamu diam saja? Yaudah kalau gitu saya matikan!"
"Ini.. ini Yama, Ma," ucap Yama sambil mendongakkan kepalanya menatap langit-langit villa. Berusaha menghalau air mata yang ingin keluar.
"Aduh, Yama.. kenapa sih? Tumben banget telepon? Ayah kamu itu gak ngasih uang?"
Air mata yang ia tahan akhirnya keluar juga. Bukan jawaban seperti itu yang ia inginkan. Harusnya seorang Ibu menanyakan kabar anaknya. Apakah Mamanya tidak rindu dengannya?
Yama tersenyum kecut. Jangankan rindu, pasti Mamanya lupa kalau ia masih mempunyai anak di Indonesia.
"Bukan. Bukan uang yang Yama mau. Yama cuma mau Mama pulang besok," lirih Yama.
"Hah? Jangan gila Yama! Belanda ke Indo itu jauh! Mama banyak kerjaan di sini, lagian ngapain sih kamu suruh Mama ke sana? Gak biasanya. Memang Ayahmu itu kemana?"
"Ma.. Yama melakukan kesalahan. Pacar Yama hamil dan itu anak Yama, Yama butuh Mama sekarang."
Tidak ada jawaban. Yama masih menunggu jawaban Mamanya, ia berharap Mamanya akan datang besok.
"Capek Mama sama kamu! Kenapa sih kamu itu?! Maaf Yama, Mama tetap gak bisa pulang, kerjaan Mama banyak, nanti Mama kirim uang buat kamu nikahin pacar kamu, dan nanti Mama telepon Budhe dan Pakde kamu supaya datang besok, mewakili Mama."
"Ma.. Yama—"
Tut tut ..
Panggilan diakhiri oleh Mamanya. Yama menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Memandang sejenak nomor telepon Mamanya sebelum memberikan ponsel itu kepada Bik Odah.
"Kenapa, den? Nyonya bisa besok ke sini kan?" tanya Bik Odah penasaran. Yama menggeleng pelan. Lalu ia bangkit dan berjalan menuju kamarnya tanpa sepatah katapun.
••••• "Assalamualaikum.."
Yama membuka pintunya. Senyuman lelaki itu mengembang melihat siapa yang datang.
"Budhe.." ucap Yama sambil menyalami tangan wanita berusia 40an yang memakai hijab itu. "Pakde.." sapa Yama kepada suami Budhe Sila. Dan Pakde Haris langsung memeluk tubuh tegap Yama.
"Kamu tuh bikin ulah apalagi Yama? Anak orang kamu hamilin?!" ujar Pakde Haris sambil memukul pelan punggung Yama dengan telapak tangannya.
Yama tersenyum kecil. "Maafin Yama, Pakde. Ngerepotin lagi."
Pakde Haris melepaskan pelukannya. "Le', kamu itu udah Pakde anggap sebagai anak sendiri. Jadi jangan sungkan untuk meminta bantuan Pakde, tapi kalau masalahnya sebesar ini, kamu harus diberi pelajaran!"
Budhe Sila adalah adik dari Mamanya Yama. Budhe Sila menikah dengan Pakde Haris hampir 16 tahun.
Tapi sampai sekarang, mereka belum dikaruniai seorang anak. Jadi, mereka menganggap Yama sebagai anaknya sendiri.
Apalagi ketika mereka tau bahwa Mila dan Guntur—orang tua Yama—memperlakukan Yama sangat diluar batas. Karena masalah dulu.
Ketika Yama tidak sengaja membunuh adiknya sendiri.
"Gimana kabar kamu, Yam? Sehat?" tanya Budhe Sila sambil mengelus lengan Yama. "Tinggi banget kamu sekarang, ganteng."
Yama tersenyum simpul mendengarnya.
"Budhe juga, tambah cantik."
"Enak ya, Yam, tinggal di Puncak, walaupun panas gini, tapi adem gitu, banyak anginnya. Sekarang Pakde tau kenapa kamu gak mau ikut kita ke Semarang," ucap Pakde Haris.
"Lagian Yama juga udah betah di sini. Yaudah masuk Pakde, nanti ada yang mau Yama ceritakan."
Setelah mereka duduk di sofa. Bik Odah membawakan minum dan makanan ringan. Tanpa tunggu lama Yama menceritakan semuanya. Kejadian dimana ia bisa membuat Tiana hamil.
"Kamu itu kenapa semakin bandel? Masih muda, jangan mabuk-mabukkan!" geram Budhe Sila sambil mencubit lengan Yama.
"Maaf, Budhe."
"Itu haram, Le'! Dan sekarang kejadiannya seperti ini! Kamu masih sekolah, dan sebentar lagi mau kuliah, gimana toh kamu ini?" ucap Budhe Sila dengan emosi yang masih ditahannya.
Yama menunduk sedih. Bahkan mereka tidak tau bahwa Yama sudah lebih dari seorang pemabuk. Tiba-tiba rasa bersalah menghampirinya.
"Muka bonyok gitu, pantes Bapaknya marah ke sini. Kalau Pakde jadi Bapaknya si cewe, udah Pakde giles kamu di mesin cuci!"
"Maaf Pakde."
"Jangan minta maaf sama Pakde! Sore kita ke rumah pacar kamu! Biar kelar semuanya, kasihan dia, Le'. Ya Allah.."
Yama mengangguk pelan sebagai jawabannya.