"Akhirnya lo sadar juga."
Tiana dengan perlahan membuka matanya. Memandang ruangan itu dengan kening mengernyit, karena ia merasa pusing. Tak lama ada seorang anak PMR yang memberikan teh hangat untuknya. Tiana tersenyum menerimanya, tidak lupa ia berucap terima kasih.
"Lo kenapa, Na? Belum makan?" tanya Dila, yang merupakan Kakak kelasnya sekaligus ketua PMR.
"Iya tadi pagi lupa, kak." jawab Tiana sambil kembali membenarkan seragamnya yang berantakan sembari berbaring.
"Kalau sesak gak usah dikancingin sampai atas," ucap Dila lagi. Namun Tiana menggeleng, ia tidak mau karena ada Yama dan Farid di dalam ruangan itu. Tiana malu. "Pusing sama mual gak Na?" lanjutnya.
"Iya, kak," Tiana memijit pelipisnya, menelan kembali ludahnya beberapa kali karena ia merasa mual.
"Lo maag deh kayaknya. Bentar ya, gue ambilin obat dulu," Dila bangkit dan berjalan menuju rak obat.
Tiana bangkit dan duduk di bangsal itu. Matanya menatap ke depan, walaupun ia merasa gugup karena ia dapat merasakan Yama yang terus menatap dirinya sedari tadi. Lalu Tiana meminum teh hangat itu untuk meredakan sedikit rasa pusingnya.
"Nih, minum ya Na," ucap Dila sambil memberikan Tiana obat. "Gina, lo sama Rani tolong periksa denyut nadinya ya, abis itu tulis di buku catatan siswa sakit," perintah Dila kepada anggota PMR lainnya yang sedang berjaga.
Gina dan Rani mengangguk. Setelah selesai, mereka mendata nama Tiana di buku catatan siswa sakit.
"Lo anak kelas sepuluh yang masuk karena beasiswa ya?" Tiana mengangguk membenarkan ucapan Gina.
"Sabar ya, gue sering liat gengnya Devi ngebully lo," ucap Rani sambil tersenyum kecil.
"Iya, kak," jawab Tiana ramah.
"Teman seangkatan lo banyak yang jahat gak? Karena gue dengar, cuma lo doang yang masuk sini karena beasiswa tahun sekarang, keren, pinter banget!" Puji Rani dengan tulus. "Gue aja masuk sini mesti nyogok, nyogok taukan nyogok?"
Tiana terkekeh sambil mengangguk kecil. "Ada beberapa sih kadang suka jahil, tapi gak masalah," jawab Tiana sambil tersenyum.
"Misi! Misi!" suara berat itu membuat Rani dan Gina yang duduk di sebelah Tiana berdiri dan berjalan menjauhi gadis itu. Tiana menahan napas ketika seorang lelaki yang ia benci kini duduk di tempat bekas Rani sebelumnya. "Lo sakit?" tanya lelaki itu.
Tiana harus bersikap tenang. "Udah nggak, kak," jawab Tiana seadanya.
Yama tersenyum mendengarnya, apakah Tiana sudah memaafkannya? Lelaki itu senang karena Tiana sudah berbicara dengannya lagi. Tapi ia tidak bisa menampik bahwa dari tatapan matanya, gadis itu masih menyimpan rasa benci untuknya.
"Beneran? Kenapa lo sampai pingsan? Lo masih kuat sekolah atau mau pulang? Nanti gue izinin ke guru piket sama walas, pulangnya gue anterin," ucap Yama dengan nada khawatir, karena ia melihat wajah Tiana yang pucat tidak seperti biasanya.
Tiana menggeleng keras. "Nggak usah, kak, makasih." Sejujurnya Tiana merasa risih, karena ditatap oleh murid-murid yang ada di UKS dengan pandangan penasaran. Tiana takut, dirinya dikira menjadi perusak hubungan antara Yama dan Sinta. Tiana tidak mau itu sampai terjadi.
"Yama! Bu Fina mau ke sini! Cepet balik ke lapangan, Yam!" ucap Farid sambil menarik lengan Yama.
Bu Fina adalah guru pembimbing eskul PMR, yang sering berjaga ke UKS jika Upacara hampir selesai.
"Lepas, Rid! Bu Fina doang, ngapain lu takut sih?"
"Lo mau, nanti Bu Fina ngeblacklist kita sebagai siswa yang gak boleh masuk ke UKS lagi?! Dia sering liat kita Yam!" geram Farid. Yama masih diam di tempatnya. "Yaudah kalau lo gak mau ikut, gue aja sendiri."
"Na, gue duluan ya! Habis ini langsung beli makan, jangan lupa! Pulang bareng gue ya, Na!" ucap Yama sambil tersenyum sebelum lelaki itu menarik tangan Farid dan keluar dari UKS. Tiana menghembuskan napasnya lega. Lalu ia menoleh dan mendapati beberapa pasang mata yang melihatnya dengan tatapan tidak terbaca.
Terdengar suara ramai dari lapangan. Tiana dan Elis berjalan ke toilet karena sudah tidak bisa menahan kandung kemihnya yang penuh terhenti sejenak melihat lapangan yang begitu ramai oleh anak kelas 12, Elis mengajak Tiana untuk melihat sebentar permainan futsal yang dilakukan di lapangan itu. Karena Elis penasaran, kelas mana yang sedang tanding sekarang.
Saat sampai di sekitaran lapangan, Tiana melihat beberapa pemain yang sedang berebutan untuk mendapatkan bola, namun ketika bola itu ada dibawah kendali Yama, Tiana dapat melihat kemahiran Yama dalam menggiring bola menuju gawang hingga mencetak gol, membuat para penonton semakin semangat meneriakkan nama Yama. Terdengar suara priwitan yang membuat para pemain beristirahat sejenak.
Dan saat itu juga Tiana melihat Sinta yang datang mendekati Yama sambil membawakan sebuah botol minum dan juga handuk kecil di tangannya. Tiana terus memperhatikan saat Yama menerima botol itu dari tangan Sinta kemudian meminumnya hingga sisa sedikit sampai tangan Sinta yang mulai mengelap bagian wajah Yama dengan handuk kecil yang dibawanya membuat Tiana tersenyum kecil.
"Iri deh gue sama Sinta, dari kelas 10 sampe sekarang, gak pernah gue denger mereka putus," ucap seorang siswi yang berada di depan Tiana.
"Iya Lin, coba aja yang ketemu duluan sama Yama waktu MPLS gue, pasti sekarang gue yang ada di posisi Sinta."
Senyum Tiana perlahan menghilang. Sekali lagi ia melihat ke lapangan, tampak para pemain sudah bertukar tempat di lapangan. Lalu Yama menatapnya, dan senyum lelaki itu mengembang, namun dengan cepat Tiana mengalihkan pandangannya.
Kemudian ia mengajak Elis pergi dari lapangan karena ia tidak bisa menahan untuk segera buang air kecil.
Pulang sekolah Tiana jalan berdua bersama Elis sesekali berbicara soal pelajaran yang sudah diajarkan tadi oleh guru. Lalu Elis mengajaknya untuk membeli siomay di depan gerbang sekolah. Tiana pun menyetujuinya.
Ketika menunggu pesanan mereka dibuatkan, Elis mengajak Tiana duduk di kursi kayu sebelah gerobak siomay. Namun tatapan Tiana tertuju pada dua orang kekasih yang sedang berbonceng mesra di atas motor.
Sang perempuan begitu erat memeluk pinggang kekasihnya. Dan motor itu pun melaju pelan melewatinya. Tiana menghembuskan napasnya pelan. Lalu ia pulang bersama Elis menggunakan angkutan umum.
Pemandangan seperti tadi bukanlah hal yang baru Tiana lihat, bahkan sebelum Tiana membenci Yama, lelaki itu sering mengantar pulang Sinta jika perempuan itu tidak bawa motor sendiri. Tiana tau, Yama cinta dengan Sinta, lelaki itu sudah sering bercerita tentang Sinta kepadanya. Tiana sangat senang mendengarnya, namun sejak kejadian dimana Yama merenggut masa depannya, rasa itu berubah dengan perlahan. Tiana tidak bisa menjelaskannya, karena ia tidak ingin rasa itu semakin besar.
Tiana menghapus air mata yang keluar. Mulai sekarang, ia tidak akan dekat-dekat lagi dengan Yama. Ia tidak ingin menghancurkan hubungan Yama dan Sinta.
"Hati-hati, Na!" ucap Elis sebelum mereka berpisah di angkot. Tiana yang turun duluan, sedangkan Elis rumahnya lebih jauh dari Tiana. Walaupun begitu, Tiana harus jalan cukup jauh dari jalan raya menuju rumahnya.
Melewati hamparan kebun teh yang indah, Tiana berjalan pelan menapaki batu-batu krikil sepanjang jalan. Sesekali kakinya menendang krikil itu hingga terlempar dari tempatnya. Namun tiba-tiba ia menghentikan langkahnya, gadis itu memegangi kepalanya yang terasa pusing. Dengan langkah cepat Tiana bergegas untuk segera sampai di rumah. Ia tidak ingin sampai pingsan lagi, apalagi di jalanan.
Dan benar saja, ketika sampai rumah, Tiana sudah tidak sanggup lagi, gadis itu langsung luruh dipelukan ibunya yang baru saja keluar dari rumah untuk menyambutnya pulang. Farida panik, wanita itu langsung berteriak meminta pertolongan ke orang sekitar. Dia khawatir terjadi apa-apa dengan putrinya yang beberapa hari belakangan, gadis itu tampak pucat. Tetangga sekitar datang dan langsung membawa Tiana menuju Puskesmas terdekat.
"Tiana kenapa Bu?" tanya Arif—Bapak Tiana—dengan wajah paniknya ketika sampai di Puskesmas dan mendapati sang istri yang menangis di bangku tunggu. Tetangga yang membantu sudah pamit untuk pulang karena hari mulai sore.
"Gak tau Pak, Ibu takut Tiana kenapa-napa."
Arif mengelus punggung rapuh istrinya. Ia berdoa agar putrinya baik-baik saja. Lalu seorang bidan menyibak tirai yang digunakan sebagai pembatas. Arif dan Farida langsung menghampiri bidan itu untuk menanyakan keadaan putri mereka.
"Tiana tidak sakit Pak, Bu." ucap bidan itu dengan raut wajah yang tidak terbaca.
"Lalu Tiana kenapa? Kenapa dia pingsan?" tanya Farida bingung.
"Sepertinya Tiana.. Tiana hamil Bu," jawab Bidan itu sambil menghembuskan napasnya berat. "Jika ingin lebih akurat, saya akan memberikan testpack untuk Tiana. Atau kita bisa melakukan USG ke—"
Belum sempat bidan itu menyelesaikan ucapannya, Farida langsung terduduk lemas di bangku. Wanita itu seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
••••••
Tiana dengan perlahan membuka matanya. Dilihatnya Ibu dan Bapak yang duduk di kursi tunggu. "Bu.." panggil Tiana dengan pelan.
Farida langsung mendekati putrinya, memberikan minum untuk gadisnya. Diusapnya pelan rambut hitam Tiana dengan sayang. "Ada yang sakit?" tanya wanita itu.
"Pusing sama mual, Bu."
Farida tertegun. Apakah perkiraan bidan itu benar?
"Na.. coba kamu pakai ini ya, ada cara pakai dikemasannya, bisa kan?" ucap Farida sambil memberikan sebuah kotak kertas persegi panjang. Tiana mengambilnya, lalu membaca petunjuk pemakaian. Setelah mengerti, ia langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Arif dan Farida menunggu cemas di depan pintu toilet, berharap bahwa hasilnya negatif.
Beberapa menit kemudian, Tiana keluar dengan alat panjang di tangannya. Farida langsung mengambilnya dari tangan Tiana. Dan saat itu pula tangisnya pecah. Tiana pun ikut menangis, ia tau, dalam petunjuk penggunaan ada tulisan jika hasilnya positif maka ia dinyatakan hamil.
"Tiana jawab Bapak, apa Yama yang melakukannya?!" ucap Arif berusaha agar tetap tenang. Namun Tiana diam. "JAWAB!" teriak pria tua itu sambil menggoyangkan lengan Tiana.
Karena takut akan kemarahan Bapaknya, Tiana mengangguk berkali-kali.
Dengan kencang Arif menarik lengan Tiana dan membawa gadis itu keluar Puskesmas, Farida mengikutinya dari belakang.
"Naik!" ucap Arif saat sudah berada di atas sepeda motornya yang tua.
"Mau kemana Pak?" ucap Tiana takut.
"Naik!" ucap Arif tidak terbantahkan.
Akhirnya Tiana mengikuti perintah Bapaknya. Bahkan Bapaknya tidak mendengarkan ucapan Ibu yang meminta untuk tidak melakukan hal yang gegabah.
Tiana merasakan kulitnya merinding karena angin malam yang menerpanya. Bapaknya begitu kencang mengendarai motor melewati jalan raya yang tamaran karena hari mulai malam. Tiana tidak tau ia akan dibawa kemana oleh Bapaknya. Namun, ketika ia melihat bangunan besar yang tidak asing di matanya. Saat itu pula ia meminta Bapaknya untuk pulang.
Saat ini ia dan Bapaknya berada di halaman depan villa Yama.
Sedangkan disisi lain, seperti biasa, malam ini Yama termenung di balkon kamar sambil meminum sebotol wine yang ia simpan di kulkas yang ada di kamarnya. Tidak ada seorang pun yang tau kecuali dirinya tentang minuman keras yang ia simpan di sana. Yama selalu mengunci pintu kulkas dan membawa kunci kemanapun ia pergi. Sehingga Bik Odah atau asisten rumah tangga lainnya tidak ada yang mengetahui itu.
Bahkan Farid, Abrar dan Dirga yang sering main ke villanya tidak tau bahwa sahabatnya adalah seorang pecandu.
Yama meneguk sekali lagi wine yang ada di tangannya. Lalu lelaki itu tersenyum miring ketika mengingat bahwa dirinya merupakan seorang pecandu. Ya, pecandu pil ekstasi.
Sejak 3 bulan yang lalu Yama selalu mengonsumsinya. Dia mendapatkan itu dari seseorang yang merupakan Kakak tingkatnya di SMA yang sekarang sudah kuliah di suatu perguruan tinggi Yogyakarta.
Yama memejamkan matanya ketika ia merasa pusing. Kejadian tadi siang tiba-tiba muncul dibenaknya. Saat ia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Sinta.
Yama menarik tangan Sinta untuk duduk di sebuah bangku yang berada di sekitar lapangan. Peluh yang mengucur di dahi dan juga lehernya ia usap dengan handuk kecil yang tadi dibawa oleh Sinta.
Sedangkan Sinta, gadis dengan rambut hitam sebahu, wajahnya berbentuk oval, bibir kecil berwarna pink, hidung yang kecil tapi sedikit mancung dan alis yang tebal tak lupa juga kulitnya yang berwarna kuning langsat itu tersenyum manis menatap kekasihnya yang tampak cool karena olahraga futsal tadi.
"Mau aku beliin makan gak Yam?" tanya Sinta.
Yama menggeleng pelan. Lalu netranya menatap mata kekasihnya yang berwarna cokelat gelap. "Ada yang mau aku omongin sama kamu."
"Apa?" tanya Sinta sambil mengerutkan dahinya.
Yama mencengkram erat handuk kecil di tangannya. Lalu ia mengalihkan tatapannya menatap murid-murid yang sedang berlalu lalang menuju kantin. Lelaki itu menghembuskan napasnya pelan. Ia tidak tega untuk memutuskan Sinta, karena bagaimanapun dia sangat sayang dengan gadis itu. Gadis yang sudah mengisi kekosongan hidupnya selama 3 tahun belakangan.
"Aku mau kita putus, Sinta."
Sinta terkejut. Bibirnya melengkung membuat sebuah senyuman miring. Lalu ia terkekeh kecil.
"Gak lucu candaan kamu, sayang."
"Aku beneran, gak bercanda."
"Kalau gitu tatap mata aku Yama!" geram Sinta sambil meremas rok abu-abunya. Lelaki itu dengan cepat menatap Sinta. Dari tatapannya terlihat bahwa Sinta terluka akan ucapannya.
"Kenapa.. kamu minta putus?"
"Karena aku udah ngerasa bahwa kita udah gak cocok lagi," jawab Yama pelan.
"Oke.. kalau kamu maunya kayak gitu. Aku terima.. tapi dengan satu syarat," ujar gadis itu sambil menatap pohon rindang di samping lapangan.
"Apa?" tanya Yama penasaran.
"Mungkin kamu sekarang merasa jenuh dengan hubungan kita. Kamu mau kebebasan kan? Aku cuma minta.. selama kita masih sekolah di sini, aku mau kamu yang mengantar pulang aku setiap hari."
Yama mengerutkan keningnya. Yang benar saja.. memang dia tukang ojek?
"Kamu kan punya motor Sin?"
"Ya karena itu. Motor aku lagi di servis, gak tau benernya kapan, aku cuma minta itu doang kok, anggap aja aku temen kamu, sama kek Tiana."
Yama terdiam kala mendengar nama Tiana terucap dari mulut Sinta. Lalu dengan gerakan pelan, lelaki itu mengangguk menyanggupi syarat dari gadis yang duduk di sampingnya.
"Den Yama!!" ucap Bik Odah membuat Yama tersadar dari lamunannya.
Sedangkan Yama yang mendengarnya langsung bergegas membuka pintu kamar. "Kenapa?"
Bik Odah mengernyit mencium bau mulut Yama. Wanita tua itu tau bahwa selama ini, majikannya itu sering mabuk-mabukkan di dalam kamar. Namun, wanita itu lebih memilih diam dan tidak menegur, tapi langsung memberitahukannya kepada Tuannya yang merupakan Ayah Yama.
"Di depan, ada Non Tiana sama Bapaknya datang."