Siang ini Luna pulang lebih cepat dari biasanya. Dia mengalami sedikit kecelakaan kerja yang membuat lengannya berdarah. Salah seorang pelanggan tidak sengaja menjatuhkan furniture di butik dan menimpa Luna. Hal itu sukses meninggalkan beberapa luka sobek di lengan kiri Luna dan terpaksa diperban.
Ting tong!
Luna yang sedang memplester lengannya bergegas bangkit untuk membukakan pintu.
Cklek!
"Kau?" Alysa menatap tajam. "Untuk apa kau di sini? Di mana Bagas?!" serunya.
"A-aku ..." Belum selesai Luna berbicara, Alysa menyerobot masuk dan berteriak memanggil kekasihnya.
"Di mana Bagas? Katakan padaku di mana Bagas?!"
"M-mas Bagas ..."
"MAS? Kau memanggil kekasihku dengan sebutan mas?!"
Luna menggeleng kuat. "A-aku hanya ..."
"Mana Bagas? Katakan padaku di mana Bagas!" teriak Alysa sekali lagi. Bersamaan dengan itu seseorang yang baru saja tiba membelalak.
"A-alysa, kau di sini?"
Alysa dan Luna kompak menoleh. Wanita itu menatap Bagas dengan tatapan tajam.
"Dari mana saja kau? Dia ... kenapa dia ada di rumah ini?"
"S-sayang, dengarkan aku dulu. Aku bisa jelaskan semua ini, Luna hanya untuk membantu. Dia ..."
"Jangan membohongiku, Sayang!" potong Alysa cepat. "kalau hanya untuk membantu, kenapa dia memanggilmu dengan sebutan mas? Kenapa? Apa jangan-jangan kalian ..."
Bagas menggeleng kuat, pria itu menangkap wajah mungil kekasihnya. "Percaya padaku, Sayang. Aku dan Luna tidak ada hubungan apapun."
"Kali ini aku tidak bisa mempercayaimu. Sekarang katakan, kenapa dia bisa di sini. Katakan padaku kenapa karyawan butik ini bisa berada di rumahmu!" serunya.
Bagas menghembuskan napas panjang, dia melirik Luna yang hanya diam menunduk.
"Baiklah, aku akan jujur. Tapi kau janji tidak akan marah 'kan? Kau akan mempercayai semua yang aku katakan 'kan?"
Alysa mengangguk singkat. "Ya. Sekarang katakan apa yang aku tidak tahu."
Sebelum mengatakan yang sebenarnya, Bagas sempat menelan ludahnya sendiri dengan kasar. Pria itu meraih kedua tangan Alysa dan menggenggamnya dengan erat.
"Mama menjodohkanku dengan Luna."
"A-apa?" Alysa melotot. "jangan bercanda, Sayang. Mama menjodohkanmu dengan karyawan butik ini? Yang benar saja!"
"Dengarkan aku dulu, Sayang. Iya, mama menjodohkanku dengan Luna karena suatu hal. Dan aku tidak bisa menolaknya."
"Jadi?"
"Jadi kami menikah," ucap Bagas.
"APA?!"
"Sayang, dengar dulu. Aku memang menikah dengan Luna, tapi kami sama-sama tidak menginginkan pernikahan ini. Kami sudah menandatangani perjanjian untuk mengakhiri pernikahan ini setelah dua tahun. Kita juga tidak akan macam-macam!"
"Omong kosong! Siapa yang bisa menjamin kalian tidak macam-macam, hah? Aku tidak yakin, Sayang. Jika tiba-tiba kalian jatuh cinta, siapa yang tahu?" balas Alysa.
"Sayang, kumohon percayalah. Aku hanya mencintaimu, mana mungkin aku bisa mencintai orang lain selain dirimu ..."
Alysa melipat kedua tangannya di depan d**a. Dia memandang Luna yang sejak tadi hanya diam. Entahlah, tiba-tiba Alysa merasa benci dengan perempuan itu.
Seorang karyawan butik murahan tiba-tiba lancang masuk dalam hubungannya dengan Bagas. Dia betul-betul tidak menyangka akan bersaing dengan seorang karyawan biasa. Benar-benar bukan kelasnya.
"Lalu kapan kalian akan mengakhiri pernikahan sialan ini?" tanya Alysa masih memandang jijik ke arah Luna.
"Secepatnya. Secepatnya kami akan akhiri pernikahan ini, paling lambat dua tahun."
"Dua tahun?" Alysa membelalak, dia menggeleng kuat. "tidak. Aku tidak bisa menunggu selama dua tahun. Aku mau kita akhiri saja hubungan ini jika kamu masih mau melanjutkan pernikahanmu!" ucapnya.
"Tidak, Sayang. Aku tidak mau hubungan kita berakhir. Kumohon dengarkan aku. Baiklah aku akan segera mengakhiri pernikahanku, aku dan Luna akan berpisah secepatnya. Setelah itu aku akan segera menikahimu."
"Bagaimana dengan mamamu?"
"Aku yang akan bicara pada mama, jangan khawatir. Aku akan membujuk mama sampai kita mendapatkan restu, percayalah."
Alysa menghela malas. "Baiklah, aku beri kesempatan dua bulan. Sebelum akhir tahun kuminta kalian sudah berpisah!" ucapnya kemudian melangkah pergi.
"Julian, antarkan aku pulang!" ucapnya.
Julian menurut, dia bergegas mengantarkan Alysa pulang.
Sepeninggalan Alysa, Bagas menatap Luna sebentar. Tanpa mengatakan sepatah kata pun dia melangkah melewati Luna begitu saja.
***
"Jika pernikahan ini mengganggu hubunganmu, biar aku yang bicara pada mama, Mas," ucap Luna sembari menghidangkan teh hangat untuk suaminya.
"Tidak perlu," balas Bagas.
Luna mengernyit. "Kenapa? Aku tidak mau merusak hubunganmu. Lagi pula kita menikah tanpa cinta, untuk apa dipertahankan?"
"Jika begitu, kenapa kau mau menikah denganku?"
"Ibuku berhutang banyak pada keluargamu, Mas. Kami tidak sanggup melunasi hutang-hutang itu, karena itulah aku terpaksa mau menikah denganmu," ucap Luna.
Bagas terdiam.
"Kau sendiri, kenapa mau menikah denganku? Bukankah kau sudah punya calon tunangan, kenapa tidak menikahi Nona Alysa saja?"
"Mama tidak tahu soal Alysa," jawabnya.
"Kenapa?"
"Aku sudah coba kenalkan Alysa dengan mama, jauh sebelum kami menjalin hubungan. Tapi mama tidak suka dengan Alysa."
Luna diam. Dia memperhatikan pria yang saat ini sedang memainkan ponselnya itu.
"Aku sudah berusaha yakinkan mama, tapi dia tetap tidak suka dengan Alysa," sambung pria itu.
"Lalu rencanamu apa, Mas?"
"Aku dan Alysa akan menikah secara diam-diam," ujarnya membuat Luna seketika tidak berkutik.
Pagi-pagi sekali Luna yang baru selesai masak itu dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang cukup dekat dengannya.
"Mas Arya?" ucap Luna terkejut.
Arya mengulas senyum. "Aku bawakan sarapan, kau pasti belum sarapan."
Luna tersenyum lebar, dia mempersilahkan Arya masuk.
Arya merupakan rekan kerja Luna setahun terakhir. Mereka terhitung cukup dekat karena kerap dipertemukan dalam satu shift bersama. Belakangan Arya jugalah yang sering membantu beberapa masalah Luna, termasuk mencicil hutangnya kepada bu Dewi.
Dan kemarin ketika Luna mengalami kecelakaan kerja, Arya juga yang membantu mengantarkan Luna ke rumah sakit hingga pulang.
Dia memang sudah mengetahui perihal pernikahan Luna dengan Bagas. Dan Arya tidak mempermasalahkan hal itu, dia lebih percaya jika Luna bisa menjaga batasan dengan suami kontraknya. Toh hal itu tidak akan berlangsung lama, mereka hanya menikah untuk sementara waktu.
"Apa suamimu masih di rumah?" tanya Arya.
Luna mengangguk. "Mas Bagas masih belum bangun."
"Baguslah. Kita bisa sarapan dulu, aku bawakan banyak makanan untukmu. Kau tahu, semalam aku tidak bisa tidur karena mengkhawatirkanmu."
Luna tertawa. "Jangan berlebihan, Mas. Aku baik-baik saja. Oh ya, aku baru memasak beberapa hal, apa kau mau?"
"Aku tidak lapar, kau saja yang makan."
"T-tapi aku ..."
Belum selesai Luna berbicara, Arya sudah menyodorkan sesuap nasi untuknya. Sontak hal itu membuat orang yang sejak tadi berdiri di ujung sana menatap tidak suka.
"Buka mulut ..." ucap Arya.
Luna menurut.
"LUNA!" seru Bagas mengejutkan keduanya. Luna yang belum sempat memakan nasi itu cepat-cepat berdiri, dia menghampiri Bagas yang menatapnya dengan tidak suka.
"Kenapa, Mas?" tanyanya.
"Siapa dia? Siapa yang mengizinkanmu membawa orang asing ke rumah?"
"D-dia mas Arya, teman kerjaku. Dia datang hanya ingin mengantarkan sarapan, masalahnya apa?"
"Sarapan? Memangnya kau tidak sanggup membuat sarapan sendiri sampai orang asing datang ke sini?"
"Dia bukan orang asing, Mas. Dia teman kerjaku," ucap Luna tidak terima.
"Terserah. Aku ingatkan padamu, Luna. Jaga batasanmu, ini rumahku. Kau harus mengikuti semua peraturan yang aku buat!" Bagas mencengkram lengan kiri Luna dengan kuat.
"Akhh, Mas sakitt ..." rintihnya.
Bagas terkejut, dia melepaskan cengkraman tangannya sembari memandang cemas ke arah lengan yang sedang dibalut perban itu.
"L-luna, kau ..."