6. Pesta Ulang Tahun

1016 Words
Luna menepis tangan besar itu. Dia memandang kesal. "Sarapanmu sudah ada, aku akan siap-siap untuk bekerja," ucap Luna. "Kondisimu seperti itu kau masih mau bekerja?" tanya Bagas. "Luka kecil ini tidak membuatku tidak bisa bekerja, Mas." "Apa uangku tidak cukup untuk membuatmu tetap berada di rumah?" tanya Bagas menghentikan langkah Luna. Perempuan itu menoleh, menatap suaminya dengan raut datar. "Apa maksudmu, Mas?" "Apa uang yang kupunya tidak membuatmu puas, Luna?" Luna menggeleng pelan. "Tidak. Aku butuh banyak uang, Mas. Jangan halangi aku." Bagas mendecih. "Dasar wanita mata duitan!" Mendengar kalimat itu, Luna tersenyum kecut. Dia tetap melangkahkan kakinya untuk bersiap-siap. Sementara Luna bersiap-siap, Bagas menghampiri pria yang sejak tadi berada di ruang tamunya. "Sejak kapan kau mengenal Luna?" tanya Bagas duduk di hadapan Arya. Dia menatap tajam. "Luna rekan kerjaku setahun terakhir, kenapa memangnya?" "Tidak papa, aku hanya bertanya. Rasanya tidak etis seorang pria datang ke rumah wanita yang sudah bersuami. Sangat tidak sopan!" desisnya. Arya tertawa hambar. "Tidak perlu berpura-pura, Pak. Aku tahu hubunganmu dengan Luna tidak sedekat itu." "Apa maksudmu?" "Aku tahu soal pernikahan kontrakmu. Luna sudah mengatakan semuanya," ucap Arya. "A-apa?!" Bagas menatap kesal. Sesaat, suara langkah kaki Luna terdengar mendekat. Begitu Luna datang, sontak Bagas menatap wanita itu dengan tatapan marah. Luna yang kebingungan menatap Bagas dan Arya dengan bergantian. "A-apa kalian membicarakan sesuatu?" tanyanya. Belum sempat Bagas menjawab, Arya sudah bangkit. "Tidak ada. Kami hanya mengobrol biasa. Ayo, setengah jam lagi kita harus bekerja." Luna menurut, dia berjalan mengikuti Arya. Membiarkan Bagas yang sejak tadi duduk itu semakin mengepalkan kedua tangannya. *** Pagi ini Bagas sudah memiliki janji dengan Alysa. Dia akan mengantarkan wanitanya menghadiri pesta ulang tahun salah satu teman. Dengan jas mahal dipadukan celana bahan, Bagas melesat menuju apartemen mewah Alysa. Tiba di sana dia sudah disambut oleh wanita yang tampak cantik dengan balutan dress hitam yang kian menambah s e k s i penampilannya. "Sayang, bantu aku ..." ucap Alysa yang berusaha mengaitkan tali dresnya. Melihat itu, Bagas tersenyum miring. Dia berjalan mendekat lalu menyentuh punggung m u l u s kekasihnya. "Kubilang pasangkan talinya, bukan menggodaku, Sayang!" seru Alysa kesal. Bagas terkekeh. Dia menurut dan memasangkan tali itu dengan terampil. "Kau benar-benar sempurna, Al ..." bisiknya m e m e l u k Alysa dari belakang. Pria itu memberikan k e c u p a n ringan di leher kekasihnya. "Sayang ..." lirih Alysa serak. "Iya?" "Kita tidak akan datang ke pesta jika kau begini terus!" omelnya. Bagas tertawa. Dia melepaskan pelukannya dan mulai memeluk pinggang wanitanya. "Baiklah, kita ke pesta sekarang." Keduanya lalu melesat menuju sebuah hotel ternama. Ini adalah pesta ulang tahun Zara, rekan kerja Alysa saat masih menjadi model dulu. Namun sejak pensiun menjadi model dan memilih bekerja sebagai influencer, Alysa sudah jarang sekali bertemu dengan Zara. Mereka hanya menjalin hubungan melalui w******p atau sesekali berbagi pesan melalui DM i********:. Tiba di sana Alysa langsung menyerahkan kado yang sudah disiapkannya, dia juga memperkenalkan Bagas sebagai calon tunangannya. "Jadi kapan rencana kalian?" tanya Zara memandang Bagas dan Alysa dengan bergantian. Alysa tersenyum tipis, dia menyenggol lengan Bagas pelan. Sadar dengan hal itu, Bagas cepat-cepat menjawab. "A-ah, aku dan Alysa akan bertunangan secepatnya." "Itu bagus. Kuharap kalian bisa segera bertunangan dan menikah. Kalian pasti akan sangat bahagia." "Tentu saja. Aku dan Mas Bagas memang menginginkan pernikahan secepatnya. Tapi pekerjaan dia sangat padat, mungkin masih perlu mencari waktu yang tepat. Ini hanya soal waktu saja," tutur Alysa. Zara mengangguk paham. Melihat kekasihnya yang asik mengobrol, Bagas berpamitan pergi ke kamar mandi. Dia hanya tidak paham dengan beberapa pembahasan yang kekasihnya bicarakan. "Kau yakin akan menikah dengannya?" tanya Zara tiba-tiba. "Maksudmu?" Zara menghela. "Jangan pura-pura polos, Al. Aku tahu kau masih sering pergi dengan Gama beberapa kali. Apa Bagas tahu soal itu?" tanyanya. Mendengar pertanyaan itu, Alysa menghela napas. Dia memang kerap memposting kedekatannya dengan sang mantan di second akun instagramnya. Itu pun hanya beberapa orang yang tahu, termasuk Zara. Sejujurnya Alysa memang belum begitu yakin dengan Bagas, apalagi ditambah dengan kedatangan gadis butik itu yang tiba-tiba menggantikan posisinya. Selama ini Alysa hanya menganggap Bagas sebagai rekening pribadinya, pria itu saja yang cinta m a t i dengannya. "Mas Bagas tidak punya banyak waktu untukku, dia lebih mementingkan pekerjaannya. Aku hanya mencari sedikit hiburan di luar sana, sepertinya tidak salah juga," balas wanita itu. Zara menggeleng pelan. "Sejak dulu kau memang tidak pernah berubah, Al. Tapi kulihat kekasihmu itu sangat tulus. Apa kau tidak kasihan dengannya?" "Jangan mulai, Zara. Aku mencintai kekasihku. Aku hanya bersenang-senang dengan Gama, tidak lebih. Lagi pula Gama bisa menemaniku ke mana-mana, berbeda dengan Mas Bagas." Sementara itu, di lain tempat Luna yang sibuk melayani pelanggan itu dibuat heran dengan sikap perhatian Arya akhir-akhir ini. Pria itu menawarkan tempat duduk untuknya. "Tidak perlu, Mas. Aku tidak apa-apa," tolak Luna halus. "Tidak papa, gunakan saja. Aku tidak ingin melihatmu kelelahan." Luna menurut. Dia duduk sembari melipat beberapa pakaian yang baru saja datang dari tempat produksi. "Tadi kudengar suamimu marah-marah, apa dia tidak mengizinkanmu bekerja?" tanya Arya. "Mas Bagas memang begitu. Semenit saja tidak marah rasanya mustahil." Arya terkekeh. "Dan kau harus tinggal bersama pria itu selama dua tahun," celetuknya. "Tidak, sepertinya Mas Bagas akan mengakhiri kontrak itu secepatnya." "Kenapa?" "Beberapa waktu lalu kekasihnya datang ke rumah. Dia meminta mas Bagas segera mengakhiri kontrak nikahnya. Kudengar mereka juga sudah merencanakan pernikahan," tutur Luna. Arya mengangguk paham. "Bagus lah. Aku tidak mau kau terlalu lama tinggal bersama pria itu. Kau pasti sangat tersiksa." Luna bergeming. Dia cukup sadar dirinya juga akan ditinggalkan dalam waktu dekat. Hanya saja ada satu hal yang membuatnya khawatir. Yaitu soal hutang keluarga. Jika dia bercerai dengan Mas Bagas dalam waktu dekat mungkinkah bu Dewi akan tetap menagih hutang-hutang keluarganya? Luna hanya takut ibu dan adiknya kembali menderita setelah dia berpisah. Meski selama ini dia tidak pernah mendapatkan perlakuan yang baik, tetap saja mereka keluarganya. Luna tidak memiliki siapapun lagi kecuali mereka. "Aku hampir lupa. Kemarin aku bertemu dengan tante Sekar," ucap Arya. "Apa dia meminta uang lagi?" Arya mengangguk. Mendengar itu Luna menghembuskan napas panjang. Dia benar-benar malu dengan kelakuan orang tuanya. "Lain kali jangan berikan. Aku takut ibu semakin memerasmu, Mas."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD