Sepulang bekerja Luna dikejutkan dengan keberadaan Alysa yang terlihat bermesraan dengan suaminya itu. Wanita itu terlihat duduk di pangkuan Bagas sembari mengalungkan kedua tangannya.
Tap tap!
Mendengar langkah kaki Luna, Bagas cepat-cepat mendorong tubuh Alysa menjauh.
"Malam ini Alysa tidur di sini," ucap Bagas membuat langkah Luna terhenti. Dia menoleh, memperhatikan Bagas dan Alysa dengan bergantian.
Luna berdehem singkat.
"Keluarga Anderson mengundang kita untuk makan malam hari ini," ucap Bagas lagi.
"Ajak Nona saja, aku lelah."
"Mama ingin kau yang ikut."
"Untuk apa?"
Bagas mendecak. "Secara hukum kau masih istriku, mama ingin kau mengenal tuan Anderson. Beliau adalah salah satu investor besar di kota ini, akan sangat menguntungkan jika kau mengenalnya."
"Aku hanya karyawan biasa, apa untungnya untukku?"
"Lupakan soal keuntungan, kau hanya perlu datang sebagai istri, itu saja. Dan Alysa ... dia ikut," ucap Bagas.
Luna menghela. "Kau atur saja, Mas. Aku ingin istirahat," ucapnya melangkah menuju kamar. Meninggalkan Alysa dan Bagas yang masih berdiri di sana.
"Menurutmu apa dia mau?" tanya Alysa kembali bergelayut m a n j a pada lengan k e k a r Bagas.
"Dia harus mau, ini perintah mama."
Alysa mendecak. "Andai saja mama tau jika putranya ini lebih mencintaiku, dia pasti tidak perlu menyuruh wanita kampungan itu pergi bersamamu. Dia pasti akan membuatmu malu, Sayang," ucap Alysa manja.
Bagas menghela, mengusap tangan kekasihnya lembut. "Tenanglah, aku akan bicara dengannya. Nanti biar Julian yang menemaninya, kau tetap denganku."
Alysa tersenyum lebar.
C u p!
"Aku benar-benar mencintaimu, Sayang."
***
Malam hari Luna sudah tampil dengan blouse krem dipadukan celana cokelat mahogany itu. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan beberapa pita kecil yang menghiasinya.
Setelah menyemprotkan parfum, Luna mengayunkan langkah menuju lantai dasar. Di mana Bagas dan Alysa juga sudah menunggunya sejak tadi.
"Lihatlah, Sayang. Dia benar-benar ingin membuatmu malu. Pergi ke acara makan malam saja penampilannya kampungan begitu!" celetuk Alysa.
Bagas menatap Luna yang hanya menggunakan blouse dan loose pants seadanya itu. Penampilan perempuan itu seperti seseorang yang hendak pergi bekerja.
Bagas menghela. "Benar kata Alysa, bajumu tidak sesuai untuk acara makan malam. Masih ada sepuluh menit untuk ganti," ucapnya.
Luna mengernyit, dia menatap dirinya sendiri. Sesaat, Luna menghembuskan napas panjang. "Kurasa tidak ada yang salah. Pakai apapun tidak masalah."
"Tapi—"
"Kita berangkat sekarang," ucap Luna mengayunkan langkahnya lebih dulu.
Melihat itu Alysa mendecak. "Selain kampungan, istrimu itu sombong sekali!"
"Sudah lah, kita berangkat saja." Bagas mengalah sembari menggandeng Alysa memasuki mobilnya. Di sana sudah ada Julian yang duduk di balik kemudi, ditemani oleh Luna yang duduk di sebelahnya.
Tiba di kediaman Tuan Anderson, mereka turun dan berjalan menuju ruang yang sudah disiapkan. Kali ini Bagas berjalan di sebelah Luna, dia hanya ingin terlihat profesional. Bagas juga khawatir Tuan Anderson menceritakan sesuatu ke mamanya jika dia tidak memperlakukan Luna dengan baik.
"Tuan Anderson, lama tidak bertemu," ucap Bagas menjabat tangan pria itu dengan senyuman lebar.
Anderson tertawa. "Kudengar kau sudah menikah, yang mana istrimu?"
Bagas menarik lengan Luna, memperkenalkan perempuan itu sebagai istrinya.
"Malam, Tuan," ucap Luna mengulas senyum.
Anderson memperhatikan penampilan Luna sebentar, dia mengangguk lalu tersenyum seadanya. "Kau terlihat seperti wanita baik-baik, apa Bagas menjebakmu supaya kau mau menikah dengan pria n a k a l ini?" tanya pria itu bercanda.
"Tuan, jangan mulai," tegur Bagas pelan.
Anderson tertawa.
"Mas Bagas sangat baik, justru saya merasa sangat beruntung bisa menikah dengannya," ucap Luna seketika membuat Bagas melirik ke arahnya.
Setelah itu makan malam berlangsung cukup hangat. Bukan tanpa alasan Tuan Anderson mengundang mereka untuk bertemu, beliau menawarkan sejumlah dana yang tidak sedikit nilainya untuk bekerja sama. Mendengar itu Bagas langsung setuju, dia tahu betul bagaimana jam terbang Tuan Anderson di dunia bisnis. Pria ini bukan sembarangan, tidak semua perusahaan bisa mendapatkan atensinya.
"Nona Luna, apa kau juga berniat membangun usaha?"
"E-eh saya ..."
"Jika kau berminat, aku bisa menanamkan modal awal untukmu. Kulihat kau sangat berbakat dalam dunia bisnis," ucapnya.
Luna melirik ke arah Bagas sebentar. Paham dengan hal itu, Bagas cepat-cepat buka suara.
"Luna hanya karyawan butik biasa, dia tidak terbiasa dengan hal itu. Sepertinya kali ini anda salah, Tuan," katanya.
Anderson terkekeh. "Oh ya? Tapi aku melihat istrimu ini memiliki hoki yang baik jika dia mendirikan usaha. Kalaupun tidak sekarang, jika Nona ingin mendirikan usaha, kabari saja aku," ucap pria itu menyodorkan kartu namanya.
Luna tersenyum lebar. "Terima kasih, Tuan. Suatu kehormatan untuk saya menerima tawaran besar anda."
Sementara itu, Alysa mendecak kesal. Sejak tadi dia sama sekali tidak diajak berbincang. Bahkan pria tua ini terus saja memuji Luna di hadapannya. Padahal dari segi mana pun Luna tidak ada apa-apanya dibanding dirinya.
Karena kesal, Alysa sengaja menjatuhkan garpunya, seketika itu semua orang memandang ke arahnya.
"Ah ya, Nona Alysa, apa aku mengundangmu? Seingatku aku hanya mengundang Tuan Gavindra dan istrinya ..." ucap Anderson.
Kedua tangan Alysa mengepal kuat. "Belakangan aku memang dekat dengan keluarga Gavindra, aku ini—"
"Dia kekasih sekretarisku," potong Bagas cepat.
Alysa membelalak, dia menginjak kaki Bagas tidak terima.
"Kebetulan Alysa ini kekasih sekretarisku, jadi ke mana pun sekretarisku pergi dia akan ikut," sambung Bagas.
"Ah begitu, ya." Tuan Anderson mengangguk-angguk paham. "Apa kau tidak punya pekerjaan lain, Nona? Tidak seperti Nyonya Gavindra, biarpun sudah menjadi bagian dari keluarga Gavindra, dia tetap mencari kesibukan dengan bekerja. Kurasa wanita memang seharusnya mandiri, tidak terlalu mengandalkan seorang pria. Apalagi bukan suaminya," ucap Anderson setengah menyindir.
Alysa kesal, dia bangkit. "Tuan tidak perlu khawatir, tanpa bekerja aku sudah memiliki cukup banyak uang. Bukan berasal dari keluarga kampungan juga!" desisnya melirik ke arah Luna.
Sadar dengan hal itu, Luna hanya menunduk.
"Permisi," sambung Alysa melangkah pergi.
"Tuan, saya permisi dulu," ucap Bagas bergegas mengejar kekasihnya.
"Sayang, tunggu. Dengarkan aku!" serunya meraih lengan m u l u s Alysa.
"Sayang, kumohon jangan marah. Aku hanya tidak ingin Tuan Anderson salah paham ..." ucap Bagas.
Alysa menepis tangan Bagas. "Jangan sentuh aku! Aku benar-benar kecewa padamu, Mas. Untuk apa aku ikut jika hanya untuk dipermalukan seperti ini?!" serunya.
"Sayang, dengar. Aku minta maaf, aku tidak tahu jika Tuan Anderson akan membandingkanmu dengan Luna, aku ..."
"Apa?" Alysa menatap tajam. "Kau sama sekali tidak membelaku di hadapan si tua itu! Kau malah mengatakan aku kekasih Julian, apa kau sudah tidak waras, Mas?"
"Tidak ada pilihan lain, kumohon percayalah. Jika sudah memungkinkan, aku juga akan menceraikan Luna dan menikahimu. Kumohon bersabarlah."
"Sampai kapan? Mau sampai kapan kau menyuruhku bersabar, hah? Aku sudah menunggu lama dan kau sama sekali tidak segera menceraikannya!"
"Sayang dengar, aku dan Luna baru beberapa hari menikah. Setidaknya tunggu sampai satu atau dua bulan. Lagi pula aku sangat membutuhkan bantuan dana dari Tuan Anderson. Perusahaan sedang merugi, jika tidak dibantu oleh Tuan Anderson perusahaanku bisa bangkrut. Memangnya kau mau menikah dan jatuh miskin bersamaku?" tanya Bagas.
Alysa terdiam, dia mendecak kasar. "Tidak!"
"Kalau begitu bersabarlah. Hanya tinggal sebentar lagi semua akan baik-baik saja."
"Kau tidak akan membiarkan gadis kampung itu tinggal di rumahmu lebih lama lagi kan?"
"Tentu saja tidak. Aku akan segera berpisah dengan Luna jika sudah memungkinkan. Setelah itu kita akan menikah." Bagas berkata sambil meraih kedua tangan Alysa. Sesaat, pria itu m e n c i u m bibir Alysa sebelum akhirnya memeluk tubuh s e k s i itu dengan erat.
"Aku mencintaimu, percayalah," bisiknya.
Sementara itu, Luna yang melihat kemesraan Bagas dari kejauhan hanya bisa menghembuskan napas.
"Menurutmu, apa aku harus meninggalkan status ini secepatnya, Julian?" tanya Luna melirik pria di sebelahnya.