Mimpi buruk itu tiba ketika seorang penghulu mulai menjabat tangan Bagas. Diliriknya pria dengan tuxedo berwarna hitam itu. Sama seperti dirinya, Bagas tampak tertekan dengan pernikahan ini.
“Saya terima nikah dan k a w i n nya Aluna Berliani binti almarhum Bimo dengan mas k a w i n tersebut dibayar tunai!”
Napas Luna tertahan.
Ini bukan pernikahan impiannya, bukan pula pernikahan seperti kemauannya. Keinginan untuk menikah dengan pria yang dicintai seketika lenyap begitu saja. Luna merasa semua mimpi dan harapannya pias bersamaan dengan resminya dia menjadi istri keluarga Gavindra.
Berbeda dengan dia, Sekar dan Raya tampak bahagia menyambut resminya dia menjadi bagian dari keluarga Bagas. Mereka seperti baru saja melepaskan beban yang selama ini ada.
Begitu selesai, Bagas menyodorkan secarik kertas yang sudah dibalut rapi dalam map merah.
“Apa ini, Mas?” tanya Luna.
“Perjanjian. Anggap saja pernikahan ini hanya kontrak kerja. Kau menikah denganku untuk membayar hutang, dan aku menikah sebagai wujud baktiku kepada orang tuaku. Setelah dua tahun kontrak kita selesai, kau bisa melanjutkan hidupmu lagi seperti sebelumnya," ucap Bagas.
Luna terdiam, dia membaca banyak sekali peraturan yang tertulis di sana. Salah satu yang membuat fokusnya buyar terdapat pada poin nomor enam. Di mana mereka harus sepakat untuk tidak ikut campur dalam kehidupan masing-masing.
"Apa kau setuju?" tanya Bagas sembari menyodorkan bolpoin biru ke arahnya.
Luna mengangguk, menerima bolpoin itu dan lekas menandatangani perjanjian yang Bagas berikan.
"Gadis pintar," gumam Bagas mengambil alih perjanjian itu.
"Ah ya, aku hampir melupakannya. Malam ini kita tidur terpisah. Gunakan kasur lipat yang ada di lemari, dan jangan katakan apapun soal perjanjian kita pada mama," imbuhnya.
Luna mengangguk paham. Dia hanya memandang kepergian Bagas dengan senyum tipis.
'Jadi begini rasanya menikah dengan orang kaya.'
***
Pagi-pagi sekali Luna terbangun akibat suara berisik seseorang dari lantai dasar. Dia berjalan sembari mengikat rambutnya, menghampiri wanita yang sedang sibuk dengan asap di dapur.
"Sedang apa Mama di sini?" tanya Luna berjalan mendekat. Dia memperhatikan beberapa kompor yang sedang nyala itu.
"Luna, kamu sudah bangun? Mama sedang membuatkan sarapan untukmu dan juga Bagas. Hari ini hari pertamamu di rumah ini, mama ingin membuatkan sesuatu yang berkesan untukmu," ujarnya.
"Kenapa repot-repot, Ma? Luna bisa masak sendiri. Mama istirahat saja, biar Luna yang melanjutkan." Dia mengambil alih spatula milik Dewi, namun dengan tegas wanita itu melarangnya.
"Tidak perlu, kamu duduk saja," ujar Dewi. Sesaat, wanita itu menyadari sesuatu dan menatap heran ke arah menantunya. "Semalam kalian belum melakukannya?" tanya Dewi.
Luna mengernyit. "M-maksudnya, Ma?"
Wanita itu tersenyum tipis. "Mama paham, mungkin kalian masih perlu beradaptasi, tidak apa-apa. Perjodohan kalian memang terlalu cepat. Tapi mama harap kamu dan Bagas bisa segera memberikan mama cucu," ujarnya.
Luna hanya menanggapi dengan senyum seadanya. Seandainya saja mertuanya mengetahui perihal perjanjian itu, mungkin sekarang beliau tidak mungkin mengatakan ini.
"Oh ya, mama sudah siapkan rumah untuk kamu dan Bagas. Sebenarnya sudah lama rumah itu ada, kadang Bagas yang menempati jika sedang ingin. Nanti setelah sarapan, kamu ajak Bagas siap-siap pindahan, ya."
Luna mengangguk.
Benar saja, begitu selesai sarapan, Luna dan Bagas bersiap-siap untuk pindah rumah. Dibantu oleh Dewi yang menyiapkan segala kebutuhan mereka.
“Luna, nanti kalau Bagas macam-macam, kamu bilang mama, ya,” ucap Dewi mengusap rambut menantunya.
Luna tersenyum hangat.
"Oh iya, jangan lupa juga, mama nungguin cucu dari kalian," sambung Dewi.
“Jangan mulai, Ma,” sahut Bagas malas.
Dewi hanya terkekeh. Wanita itu dengan sabar membantu memasukkan koper Bagas ke dalam mobil. Selang beberapa saat Luna dan Bagas melesat menuju ke rumah barunya.
Sudah bertahun-tahun Dewi menantikan momen seperti ini. Selama ini dia selalu was-was dengan pergaulan putranya. Karena sudah lebih dari tiga tahun dia tidak pernah melihat Bagas membawa perempuan ke rumah. Dewi khawatir putranya tidak memiliki h a s r a t untuk menikah.
Tapi sekarang perasaannya sudah benar-benar lega. Dia bahagia melihat putranya menikah dengan perempuan pilihannya. Meskipun yah, Luna bukan berasal dari keluarga yang setara, tapi Dewi yakin Luna merupakan gadis baik-baik. Sudah setahun lebih dia menagih hutang pada Sekar, dan selama itupun Dewi selalu melihat Luna yang melayani orang tuanya dengan sangat baik.
***
“Ada dua kamar di rumah ini, gunakan kamar yang ada di dekat dapur," ucap Bagas begitu keduanya tiba.
Luna menurut, dia menyeret koper miliknya memasuki kamar tamu yang letaknya berada di dekat dapur.
Sebenarnya masih ada beberapa ruangan kosong di rumah ini, hanya saja belum ada kasur dan furniture lainnya. Mengingat rumah ini masih baru dan jarang sekali ditempati.
Baru beberapa saat Luna menata barang-barangnya, terdengar suara bel pintu yang ditekan beberapa kali. Dengan sedikit tergesa-gesa dia membuka pintu utama.
"Ada yang bisa dibantu?" tanya Luna memperhatikan pria dengan kemeja putih yang berdiri menatapnya heran.
Sama seperti dirinya, pria itu juga kebingungan dengan keberadaan Luna. "A-ah Bagas ada?" tanyanya.
Luna mengangguk. "Sepertinya di kamar, apa perlu aku panggilkan?"
"Tidak perlu," balas pria itu kemudian melenggang pergi menuju ke kamar Bagas.
Jika diperhatikan, mungkin pria ini salah satu rekan kerja suaminya. Mengingat dia seperti hafal sekali dengan layout rumah ini. Dia bahkan tahu di mana kamar Bagas tanpa harus bertanya kepadanya.
Tidak ingin pusing, Luna memutuskan kembali ke kamarnya untuk menata beberapa pakaian dan memindahkannya ke lemari yang ada.
"Apa sekarang begini cara mainmu?"
Bagas menoleh. "Julian kau?"
Benar, pria yang itu bernama Julian. Selama ini Julian lah yang menjadi sekretaris Bagas dalam mengelola usaha keluarga. Sudah seperti keluarga sendiri, Julian betul-betul sangat dipercaya dalam mengawasi perusahaan ... dan Bagas tentu saja.
Julian tertawa. "Siapa gadis itu?" tanyanya. Dia merebahkan diri di atas kasur.
"Gadis siapa yang kau maksud?"
"Gadis itu, jangan berpura-pura. Kau pasti menyembunyikan satu lagi gadis untuk memuaskan keinginanmu," ujarnya.
Bagas mendecak. "Luna maksudmu?"
"Jadi namanya Luna, cantik juga," ucap Julian sembari meraih setoples kacang di kasur dan mengunyahnya.
"Dia istriku."
"Lelucon macam apa itu?"
"Aku serius. Kita baru saja menikah."
Julian menarik baju Bagas. Dia melotot tidak percaya. "Kau bercanda kan?"
"Apa wajahku terlihat bercanda?" balas Bagas.
Julian menggeleng. "T-tapi kapan? Kenapa kau tidak menceritakan apapun padaku? Kau diam-diam menikahi seseorang tanpa sepengetahuanku? Apa dia hamil?"
Bagas mendorong jidat Julian pelan. "Ngawur! Luna itu gadis pilihan mama. Aku bahkan baru mengenalnya sepekan terakhir," ucap Bagas.
"Kalian dijodohkan?"
Bagas mengangkat bahunya tak acuh. "Begitulah." Dia duduk di kasur sembari melempar beberapa majalah ke sembarang arah. "kau tau sendiri bagaimana mamaku. Dia benar-benar ingin aku menikah secepatnya."
"Apa Alysa tahu?"
Bagas menggeleng lemah, memandang Julian dengan wajah lesu. "Kuharap dia tidak akan pernah tahu," balasnya.
"Tapi bagaimana jika dia tahu?"
"Kalo begitu, bantu aku supaya dia tidak tahu," ucap Bagas. Dia menatap Julian dengan senyum simpul.