Julian menghampiri gadis yang sejak tadi duduk di teras memandangi jalanan luar. Dia penasaran mengapa gadis ini mau menikah dengan Bagas.
"Kudengar kalian dijodohkan."
Luna menoleh, dia cepat-cepat menundukkan tubuhnya. "T-tuan."
"Panggil Julian saja. Aku sekretaris suamimu," sahut Julian cepat.
Luna menurut. Dia kembali memandang jalanan sembari menghembuskan napas panjang.
"Apa seseorang memaksamu menikah dengan Bagas?" tanya Julian lagi.
Luna mengangguk, tatapannya tidak beralih sedetik pun dari jalanan yang ramai lalu lalang kendaraan. "Ibuku memiliki banyak sekali hutang pada bu Dewi. Kami tidak sanggup membayarnya. Karena itu, bu Dewi memintaku untuk menikah dengan putranya sebagai jaminan."
"Dan kau mau?"
Luna menoleh, memperhatikan raut Julian sebentar. Lalu menggeleng pelan.
"Aku sudah menolaknya berkali-kali, tapi ibuku memaksa. Lagi pula, kami tidak punya cukup uang untuk membayar hutang-hutang itu ..."
"Apa ibumu tidak berusaha melakukan hal lain? Maksudku, ada banyak sekali yang bisa dilakukan dibanding harus menikah dengan pria yang tidak kau kenal. Aku—" Julian tidak melanjutkan ucapannya, dia fokus pada raut wajah Luna yang terlihat sendu itu. " ... baiklah, aku paham. Mungkin hanya itu yang bisa kalian lakukan," sambung Julian.
Dia yakin, Luna pun pasti tidak menginginkan pernikahan ini.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Bagas berjalan menghampiri keduanya. Pria itu tampak sudah rapi dengan jas hitam yang membalut tubuh tingginya.
Julian melirik Luna sebentar, lalu menghela napas. "Tidak ada, hanya mengobrol. Kau mau ke mana?" Dia balik bertanya.
"Ada tugas penting. Kalian lanjutkan saja mengobrolnya, aku permisi dulu." Bagas berjalan tergesa-gesa menuju ke mobilnya. Tak lama dia melesat pergi entah ke mana.
Sepeninggalan Bagas, Julian menatap Luna dengan senyuman. Dia menepuk pundak ringkih itu pelan.
"Selama menjadi istri Bagas, kuharap kau banyak-banyak bersabar," ujarnya lalu melangkah pergi.
***
"Apa tidak bisa lebih lama lagi?"
"Sayang maaf, di kantor banyak sekali yang harus aku urus," ucap Bagas merebahkan diri di kasur apartemen mewah itu.
"Sejak kapan urusan kantor lebih penting dariku?" Alysa menatap kesal, memperhatikan pria yang saat ini merebahkan diri sembari memejamkan mata sebentar itu.
Sesaat, Bagas menarik wanitanya untuk duduk di kasur. Berhadapan langsung dengan dirinya. "Sayang, ayolah. Kau pasti paham, sejak papa tiada aku sangat kewalahan mengurus kantor. Lagi pula jika kita menikah kelak, kantor juga akan menjadi milikmu, Sayang ..." ujar Bagas.
"Benarkah? Tapi kapan kau akan menikahiku? Jangan lama-lama, aku tidak mau orang lain mendahuluimu!"
Bagas terkekeh. Dia mengusap rambut panjang Alysa dengan penuh kasih sayang. "Pegang janjiku, Sayang. Kita akan menikah secepatnya."
"Bohong!"
"Aku serius, apa selama ini aku pernah membohongimu?"
Alysa menggeleng. Namun dia masih tampak kesal dengan Bagas. Belakangan mereka memang jarang sekali memiliki waktu bersama. Bagas sibuk mengurus pernikahannya dengan Luna.
"Hei, berhentilah cemberut begitu. Aku janji akan menikahimu secepatnya. Sekarang, apa yang kau mau? Aku akan memberikan apapun asal kekasihku ini tidak marah lagi."
"Apapun?" Kedua bola mata Alysa berbinar senang.
Bagas mengangguk. "Katakan saja."
"Aku mau tas baru, Sayang. Kau tahu, tas lama yang kau belikan itu sudah ketinggalan zaman. Teman-temanku sudah pakai yang keluaran terbaru!" ucapnya.
"Pilih saja yang mana, biar aku transfer ke rekeningmu sekarang."
Alysa mengangguk senang. Setelah asik memilih dan memesan beberapa tas branded, dia bergelayut manja di lengan kekasihnya. Sesekali dia sengaja menggesekkan bagian tubuhnya ke lengan kekar Bagas.
"Sayang ..."
"Iya?"
"Jika kukatakan, apa kau akan marah?" Alysa menatap dengan wajah sedih. Melihat itu Bagas tertawa, dia mengusap pipi m u l u s kekasihnya dengan penuh kasih sayang.
"Katakan saja, jangan khawatir."
Alysa menurut. Wanita itu kembali memeluk Bagas sembari berbisik. "Jika aku minta ponsel baru, apa kau akan mengabulkannya?"
Bagas mengernyit. "Ponsel lagi? Bukannya bulan kemarin aku sudah memberikannya yang baru?"
"Rusak!" Alysa menyodorkan ponselnya yang sudah retak di beberapa bagian itu.
Bagas mengehela. Dia sudah sering sekali membelikan ponsel baru untuk Alysa, tapi tetap sebentar saja pasti akan rusak.
"Kumohon ..." pintanya memelas.
Bagas mengangguk. "Tapi kali ini tidak gratis, Nona. Kau tau kan harus melakukan apa?"
Alysa tersenyum, tanpa aba-aba dia mendorong tubuh Bagas dan m e n i n d i h n y a. Alysa memberikan beberapa k e c u p a n pada leher pria itu.
"Kau mau aku m e m u a s k an m u bukan?"
Bagas menggeleng, dia menarik tubuh Alysa dan menindihnya. "Lebih tepatnya ... melayaniku."
***
Pagi ini Luna terbangun di meja makan, dia memegangi kepalanya sendiri yang terasa pusing.
Saat memandang isi meja, dia baru ingat. Semalaman penuh Luna menunggu Bagas pulang untuk makan malam, tapi hingga detik ini suaminya itu tidak kunjung pulang.
Karena sudah lelah, Luna memutuskan mandi dan bersiap-siap. Hari ini dirinya harus kembali bekerja. Dia perlu melayani beberapa customer yang sudah menghubunginya beberapa waktu lalu.
Saat hendak pergi, Luna dikejutkan dengan Bagas yang pulang dengan keadaan sedikit berantakan.
"Mau ke mana?" tanya Bagas.
Luna mematung, matanya tertuju pada leher Bagas yang banyak sekali meninggalkan bekas merah itu. Mata pria itu juga tampak merah seperti kelelahan.
"Apa kau tidak dengar?" ulang Bagas.
Luna tersentak kaget. "A-ah a-ku ... aku harus bekerja, Mas," jawabnya gelagapan.
"Apa sarapannya sudah siap?"
"Semalam aku masak banyak sekali, tinggal hangatkan saja. Aku tidak sempat memasak yang baru," ujar Luna.
Mendengar itu Bagas mendecak kesal. Dia langsung menelepon seseorang dan mengajaknya untuk sarapan bersama.
"Aku sarapan di luar, kunci saja pintunya," ucap Bagas kemudian bergegas pergi.
Luna hanya menurut. Dia mengunci pintu rumah sembari memperhatikan Bagas yang sudah pergi lebih dulu itu.
Tiba di butik Luna langsung melayani banyak sekali pelanggan. Memang, sejak dua hari dia tidak masuk, sudah ada banyak sekali pelanggan yang menghubunginya untuk menanyakan beberapa model pakaian.
"Luna, kemarilah," ucap Luisa, manajer butik tempat Luna bekerja.
"Iya, Mba. Apa ada yang bisa saya bantu?"
Luisa mengangguk. "Nanti akan ada influencer ternama datang ke sini untuk melihat-lihat gaun. Kamu layani dia dengan baik," ucapnya.
Luna mengangguk patuh.
Benar saja, tidak berselang lama datang seorang wanita dengan paras cantik dan tubuh proposional menghampiri Luna. Dia meminta diambilkan seluruh gaun putih yang ada di butiknya.
"Bagaimana dengan ini?" tanya wanita itu.
"Terlihat cantik, Nona. Sesuai dengan anda yang sangat cantik," balas Luna memberikan pujian.
Wanita itu tersipu malu.
"Aku mau yang sedikit simpel, tapi tetap elegant. Menurutmu di antara ini, mana yang paling cocok?"
"Yang ini sangat cocok untuk pernikahan, Nona ..."
Wanita itu tertawa. "Tidak tidak, aku bukan ingin menikah. Aku baru akan bertunangan dengan kekasihku."
Luna mengangguk-angguk.
"Sayang apa ada yang coc—"
"Nah, ini calon tunanganku."
Luna terkejut dengan kedatangan Bagas, begitu pun dengan pria itu. Keduanya sama-sama menatap dengan tidak percaya.
"Sayang, gimana?" tanya Alysa lagi.
Bagas tersentak, dia meneguk ludahnya sendiri dengan kasar. "A-ah ambil saja yang mana pun, kau selalu cocok menggunakan apapun, Sayang," balasnya.
Senyum Alysa mengembang. Wanita itu pergi untuk mencoba beberapa gaun pilihannya, meninggalkan Luna dan Bagas berdua di sana.
"L-luna, aku ..."