Zenna masih terdiam kaku di tempatnya berdiri. Badannya semakin terhimpit karena Nean terus saja bergerak maju. Lelaki itu tidak menghiraukan saat tangan mungil milik Zenna terus saja berusaha untuk menahan d**a bidang lelaki itu agar tidak semakin mendekat. “Kenapa kamu diam?” Tanyanya lagi. suaranya kian melirih. “Kak, bisa tolong munduran?” Bisik gadis itu pula. Nean tidak menghiraukan, lelaki itu semakin memajukan bibirnya untuk mengecup bibir merah jambu milik Zenna yang sedari tadi menggodanya. Nean menggelengkan kepalanya cepat saat bibirnya hampir saja mengecup bibir gadis yang berdiri di depannya. Lelaki langsung tersadar dengan kegilaanya. Zena menghela napasnya pelan saat tubuh Nean sudah mulai menjauhinya. Gadis itu mengusap peluh yang berada di dahi dengan punggung tan

