44

1203 Words

Gilang berdiri tegak di depan rumah usang dengan papan kayu yang sudah rapuh dimakan oleh rayap. Hati lelaki itu bagai tersayat saat melihat pemadangan di depannya. “Kak.” Sisil menyentuh jemari Gilang lalu lelaki itu menggengam tangan kecil itu dengan erat. Gilang memeluk tubuh Sisil erat. “Ini rumah mama, sayang,” ucap Gilang berbisik lirih dengan air mata yang masih setia mengalir di ke dua pipinya. “Kalau ini rumah mama, kenapa kak Gilang nggak masuk?” tanya gadis itu mengerjab polos. Gilang mengusap air matanya kasar. “Kakak seperti anak yang tidak berguna. Lihatlah, rumah mama sangat reot dan tidak layak huni. Papan-papannya pun sudah berlubang di makan rayap. Sedangkan kakak di kota hidup mewah dengan fasilitas yang lengkap. Rumah pun rapat dan hangat nayaman untuk beristira

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD