Berkali-kali Fatimah menatap ke arah luar jendela, berharap Nean dan Gilang akan segera kembali. Namun, meskipun sudah duduk berjam-jam lamannya sampai membuat pinggangnya sakit, tetapi ke dua orang lelaki yang ditunggunya tidak kunjung datang. “Umi.” Lila menghampiri Fatimah. Ke dua mata yang cemas itu menatap Lila lalu ke dua sudut bibirnya terangkat membentuk sebuah lengkungan senyum yang tipis. “Nak Lila.” Fatimah menggeser sedikit tubuhnya agar Lila lebih leluasa untuk duduk di sampingnya. “Umi kenapa di sini? Dari tadi Lila perhatiin umi selalu menatap ke luar?” tanya wanita itu menyadari ada kesedihan di wajah Fatimah. “Umi sedang menunggu semuanya pulang. Nean, Gilang, Zee, Budi, dan juga Lovinta. Umi berharap mereka bisa kembali dalam keadaan selamat.” Fatimah kemabli mena

