"Antar ummi ke rumah ibu, Za," ucap ummi dengan wajah berubah ceria. Bisa kubilang terlalu bersemangat. Entah kabar apa yang dikatakan Azka, namun jelas membuatku cemburu karena dia sudah berhasil membuat ummi terlihat begitu bahagia. Aku tak paham dengan hatiku sendiri, mengapa selalu saja cemburu bila melihat kebahagiaan Azka. Padahal selama ini, dia memang jarang sekali terlihat bahagia. Selalu aku yang diutamakan ummi dalam hal apa pun. Dan selalu aku yang bisa membuat ummi tersenyum bangga dan bahagia. Mungkin karena itu pula, aku sudah terbiasa menjadi yang pertama dan satu-satunya, jadi ada rasa aneh manakala aku bisa dikalahkan oleh Azka, meski itu hanya sekadar kabar bahagia yang terlalu sederhana. "Gaza, kok malah bengong aja. Ayo ke rumah ibu," ucap ummi lagi sudah siap den

