Kini, dapur itu hanya menyisakan Mang Asep dan Bude Sri, sunyi. Mang Asep menatap Mbak Sri dengan ragu, lalu berbisik seolah takut ada telinga lain yang mendengar. “Mbak Sri … ada sesuatu yang harus aku katakan.” Bude Sri menoleh pelan, keningnya berkerut. “Apa itu, Mang Asep?” Mang Asep menelan ludah, suaranya diturunkan lebih lirih. “Mbak Sri … Tuan Jonathan sepertinya … menyukai Ayu—Sejak Ayu pindah dari rumah ini, Tuan Jo sering pulang larut, bahkan kadang tidak pulang sama sekali, dan—” “Hush!” Bude Sri langsung memotong tajam, wajahnya menegang. “Jangan sembarangan bikin gosip baru!” Mang Asep menghela napas, namun sorot matanya serius. “Aku yakin … Mbak Sri juga tahu itu.” Bude Sri terdiam, menunduk, bibirnya terkatup rapat, seolah menyimpan sesuatu yang tak bisa ia ungkapka

