Terdengar helaan napas panjang dari ujung telepon, lalu suara Raka yang bergetar karena lega sekaligus bahagia. “Terima kasih, Pa … akhirnya.” Namun sesaat kemudian, nada suaranya berubah serius. “Pa … aku minta satu hal.” “Apa itu?” tanya Hanggono. “Jangan beritahu Ayu dulu, aku ingin membuatnya bahagia dengan kejutan saat aku pulang nanti.” Hanggono terdiam sejenak, lalu tersenyum penuh kebapakan. “Kau ini … selalu saja memikirkan dia.” “Dia berharga bagiku, Pa, aku ingin menebus semua waktu yang hilang,” jawab Raka mantap. Hanggono menghela napas, matanya menerawang. “Baiklah, Ayu tidak akan tahu dari kami. Tapi kau harus pastikan, saat kembali nanti … kau benar-benar sudah siap untuk masa depan kalian—kau harus bergabung ke perusahaan.” Raka mengangguk meski ayahnya tak bisa m

