Ayu tak berani menatap, ia hanya menggigit bibir, berusaha menyelesaikan perban di sisi perut Jonathan, sambil berdoa agar detak jantungnya tidak terdengar jelas. Perban terakhir sudah terpasang rapi. Ayu menarik napas lega, hendak menarik tangannya dari tubuh Jonathan. Namun, sebelum sempat menjauh, jemari Jonathan menahan pergelangan tangannya. Ayu membeku. Matanya membulat, napasnya tercekat. Ia mencoba menarik pelan, tapi genggaman Jonathan terlalu kuat. “Jo … Jonathan … a-aku sudah selesai …” bisiknya gugup, suaranya lirih hampir tak terdengar. Jonathan tidak menjawab segera. Ia hanya menatap wajah Ayu lekat-lekat, mata hitamnya gelap dan dalam, seperti menyimpan sesuatu yang tak pernah ia ucapkan. Ruangan terasa semakin sunyi, detik jam terdengar jelas di dinding, tapi bagi Ayu,

