Pagi itu, cahaya matahari masuk samar lewat tirai kamar hotel yang setengah terbuka, Ayu menggeliat pelan, matanya terbuka dengan kepala masih berat, tubuhnya terasa letih. Namun begitu kesadarannya kembali, ia terdiam kaku. Di sampingnya, ranjang itu kosong, Jonathan sudah pergi. Yang tersisa hanyalah paper bag coklat di atas meja, dengan lipatan rapi, berisi pakaian baru untuknya. Ayu bangkit pelan, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, lalu melangkah gontai ke arah paper bag itu. Tangannya gemetar saat membuka isinya: blus sederhana berwarna pastel, celana panjang, bahkan pakaian dalam baru. Semua seolah disiapkan dengan perhitungan yang membuat jantung Ayu makin sesak. Air matanya menetes tanpa bisa ia tahan. Dengan langkah goyah, ia menyeret tubuhnya masuk ke kamar mandi. Begit

