Ayu meronta, tapi cengkeraman Jonathan bagai belenggu besi. Tubuh mungilnya ditarik ke arah ranjang, langkahnya terseret tanpa daya. Hatinya berdegup kencang, napasnya terengah-engah. “Lepaskan, Tuan … saya mohon …” suaranya pecah, hampir tak terdengar. Namun tatapan Jonathan gelap, wajahnya keras tanpa belas kasih. Ia mendorong Ayu hingga tubuh rapuh itu terhempas ke atas ranjang. Ayu berusaha bangkit, tangannya menahan sprei, tubuhnya gemetar hebat. Tapi bayangan Jonathan sudah menutupinya, dingin dan mengancam. Dalam kepanikan, Ayu menoleh ke pintu. Terkunci. Satu-satunya jalan keluar telah lenyap. Air mata mulai jatuh membasahi pipinya. Tangan nya bergetar, berusaha mendorong d**a Jonathan, namun sia-sia. “Jangan … Tuan … tolong …” bisiknya, terputus-putus. Jonathan menahan kedu

