Malam itu, kamar kecil di rumah pelayan terasa sunyi. Hanya suara jangkrik dari luar jendela yang menemani. Ayu duduk di tepi ranjang, wajahnya menunduk, kedua tangannya meremas ujung selimut. Di hadapannya, Bude Sri sedang melipat kain dengan tenang, meski tatapannya sesekali melirik ke arah ponakannya itu. “Bude …” suara Ayu lirih, hampir tak terdengar. “Hm?” Bude Sri menoleh lembut. Ayu menggigit bibir, lalu memberanikan diri. “Aku … sedang berpikir … bagaimana kalau aku bekerja di butik ibunya mas Raka dan kita pindah dari sini?--- di butik itu ada kamar yang bisa buat tempat tinggal, bagaimana Bude?”. Lipatan kain di tangan Bude Sri terhenti. Matanya menatap Ayu lama, seakan membaca sesuatu yang lebih dalam dari sekadar keinginan pindah rumah. Ada kegelisahan yang jelas terpancar

