Mobil berhenti di depan butik elegan bercat putih krem dengan papan nama yang anggun. Raka turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuk Ayu. Gadis itu menghela napas dalam-dalam sebelum melangkah keluar, membawa satu koper kecil di tangannya. Begitu pintu butik terbuka, aroma lembut bunga segar langsung menyapa. Di dalam, seorang wanita paruh baya berpenampilan anggun sudah menunggu—ibunda Raka. “Ah, Ayu.” Suaranya terdengar hangat, seolah menyapa anak yang sudah lama dikenal. Senyum di wajahnya tulus, tak ada jarak. “Akhirnya kamu jadi juga pindah ke sini.” Ayu menunduk hormat. “Iya, Tante, maaf tiba-tiba” “Tidak usah sungkan begitu,” sang ibu segera meraih tangan Ayu, menepuknya pelan dengan penuh kasih. “Di sini kamu harus merasa nyaman, anggap butik ini rumahmu.” Senyum itu membua

