Cahaya matahari pagi menembus tirai ruang makan, menyinari meja panjang yang sudah tertata rapi, Nyonya Dewi duduk anggun di ujung meja, sementara Jonathan masih dengan wajah lelah setelah malam mabuknya, tak berselera makan hanya menyesap kopi, jejak-jejak mabuk semalam masih terasa, membuatnya terlihat lesu. Dewi membuka percakapan dengan nada penuh penekanan. “Jonathan, kita tidak bisa menunda lebih lama lagi, kita harus segera menetapkan tanggal pernikahanmu dengan Jessica, dua minggu lagi rapat direksi akan digelar, dan itu momen yang tepat, pernikahanmu akan menjadi penguat posisi kita di mata dewan.” Jonathan meletakkan cangkir kopinya, tatapannya tajam tapi tenang. “Rapat direksi minggu depan bukan untuk menentukan kandidat presiden direktur, ma. Itu hanya rapat perencanaan vis

