BAB 2 - Diantar Mantan

1060 Words
Pandangan Alea dan Julian saling bertemu. Keduanya saling menatap mencoba menyelami isi hati masing-masing melalui sorot mata keduanya. "M-maaf," ucap Alea pada akhirnya. Alea mengurai pelukan Julian yang terjadi akibat spontanitas itu. Alea merasa respon tubuhnya sedikit aneh. Tubuhnya terasa seperti tersengat listrik karena bersentuhan dengan Julian. Keduanya melanjutkan acara makan bersama. Alea merasa tak enak hati di depan kedua temannya. Alea juga bingung bagaimana menjelaskan hal yang baru saja terjadi. Meski gadis kecil itu melihat dalam diam, nanti pasti akan menanyakan hal yang baru saja terjadi. Alea khawatir Alisha akan bertanya nanti saat suaminya sudah tiba di rumah mereka. Bisa gawat. Usai menyantap makan siang bersama dengan penuh rasa canggung, Alea kemudian pamit undur diri. Sebenarnya dia merasa tak enak hati jika pamit lebih dahulu. Namun Alea pikir itu lebih baik daripada dirinya nanti akan salah tingkah karena debar jantungnya yang tak biasa. "Aku antar, tanpa penolakan." Julian memaksa dengan tegas. Pria itu, sedari awal Alea mengenalnya, sudah memiliki sifat yang dominan. Saat keduanya menjalin hubungan pun, Julian sangat protektif padanya. Alea diperlakukan layaknya seorang ratu oleh pria itu. Apapun akan dilakukan oleh Julian supaya Alea tak berpaling darinya. Dulu... Saat mereka duduk di bangku SMA, keduanya bertemu. Berada dalam satu organisasi di sekolahnya, membuat keduanya dekat, apalagi jabatan mereka saling memiliki keterikatan. Keduanya sering menghabiskan waktu bersama, meski tak hanya berdua. Dan dari sana awal hubungan mereka bermula. Julian terang-terangan mengungkapkan rasa sukanya pada Alea. Alea yang hanya gadis dari kalangan orang biasa, merasa tak pantas jika menerima perasaan Julian yang merupakan anak orang kaya. Namun Julian tak pernah putus asa. Pria itu meyakinkan sang pujaan hati untuk menerima dirinya bahkan dia rela menuruti apapun keinginan Alea. Julian yakin kalau Alea bukanlah wanita materialistis yang akan memanfaatkan dirinya dan harta kekayaan dari orang tuanya. Setelah melalu perjuangan yang tak mudah, Alea akhirnya luluh dengan seorang Julian. Bahkan Julian menyanggupi permintaan Alea agar pria itu mau berusaha tanpa bantuan kedua orang tuanya untuk masa depan mereka yang masih sangat jauh untuk remaja seperti mereka. Julian memenuhi permintaan Alea. Pria itu menepati janjinya. Setelah kuliah, pria itu sudah memiliki penghasilan dan harta kekayaan yang cukup untuk bersama dengan Alea. Dan karena saking fokusnya pria itu memenuhi apa yang diminta sang kekasih, ia tak menyadari kalau Alea menaruh hati pada pria lain. Bahkan saat Alea menyuruh Julian untuk bersaing dalam melamar dirinya, Julian pun dengan bodohnya menyetujuinya. Padahal sudah jelas kalau hari itu merupakan hari pertunangan Alea dengan Luke. Julian yang masih sangat mencintai Alea, dengan bodohnya masih mengira bahwa Alea dipaksa menerima pria lain. Hingga saat yang dinantikan Julian tiba. Pria itu mendengar kabar bahwa Alea tak bahagia. Bahkan dia mengetahui kalau rumah tangga Alea dan Luke kini sedang rapuh karena adanya orang ketiga. Dan Julian bahkan bersiap untuk menjadi orang keempat dalam hubungan mereka. Julian ingin mendapatkan kembali Alea, wanita yang menjadi obsesinya. Keduanya kini tengah berada dalam mobil milik Julian. Sebuah mobil mewah hasil usaha Julian kini mengantar Alea dan Alisha pulang ke rumahnya. Sejak awal, Alea hanya terdiam. Wanita itu tak berani memecah kesunyian dan rasa canggung yang mendera. Julian sengaja melajukan mobilnya berputar-putar, melalui rute terjauh agar bisa berlama-lama dengan Alea. Pria itu tak akan membiarkan kesempatan bersama dengan Alea berlalu begitu saja. "Ke Jalan Pemuda, blok B-2 nomor 15," Alea menyebutkan alamat rumahnya tanpa diminta karena ia merasa Julian sengaja tak segera mengantar pulang ke rumahnya. Julian hanya tersenyum. Senyumannya tetap mempesona. Senyum yang sama yang Alea dapatkan jika Julian bersamanya. Dan entah mengapa, Alea merasa getaran aneh dalam dirinya. "Terima kasih," ucap Alea saat mereka telah sampai di depan rumahnya. Alea hanya mengucap terima kasih dan tak terlalu banyak bicara. Alea sedang berusaha membuka sabuk pengaman mobil itu. Julian yang selalu tanggap, membukakan kunci sabuk pengaman wanita pujaannya. Dan tanpa mereka ketahui, seseorang berdiri di teras rumahnya, memperhatikan dua orang yang sedang berada dalam mobil yang dari luar tampak seperti sedang berciuman di dalamnya. Luke yang terbawa emosi, dengan segera berjalan ke depan gerbang rumahnya. Pria itu menghampiri dua orang yang menurutnya tengah berciuman itu dan menggedor kaca mobil hitam itu. "Turun kau, Alea!" Suara Luke terdengar begitu keras. Alea dengan santainya membuka pintu mobil saat kunci seat belt yang menguncinya tadi terbuka. Hal itu membuat Luke semakin geram. Sikap dingin dan tak acuh dari Alea sungguh membuat emosinya naik sampai ke ubun-ubun. Dengan kasar, Luke menarik tangan Alea, membawa wanita itu masuk ke dalam rumahnya. Dia menyuruh ART rumahnya untuk membawa Alisha ke kamarnya. Luke dengan kasar menyeret Alea masuk ke dalam kamar. Pria itu kemudian mengunci kamarnya dan membuang kunci kamar mereka dengan asal. Pria itu menghempaskan tubuh Alea dengan kasar ke atas peraduan mereka. Satu persatu, Luke membuka pakaiannya sendiri. Menyisakan celana dalam miliknya yang masih melekat pada tubuh atletisnya. Tindakan Luke membuat Alea ketakutan. Sudah tiga bulan, Alea bersikap dingin pada suaminya itu. Bahkan ia tak memberikan hak suaminya karena hatinya menolak untuk disentuh sang suami. "Mau apa kamu, Mas?" Suara Alea tampak bergetar, ia ketakutan. "Aku selama ini sudah cukup bersabar untuk menghadapi mu, Al. Kini aku akan meminta hak ku," ucap Luke menyeringai. "Tidak, Mas. Aku tak sudi kau sentuh. Aku jijik denganmu!" teriak Alea beringsut mundur, menghindari Luke yang hendak berusaha melucuti pakaiannya. "Kamu milikku, Al. Dan tak akan aku biarkan orang lain menyentuhmu seujung kuku pun!" bentak Luke. "Aku cemburu, Al. Aku tak suka kamu bersama pria lain, apalagi sampai berciuman seperti tadi di mobil!" Luke berhasil menindih Alea. "Aku tak-" Belum selesai Alea berbicara, Luke sudah membungkam Alea dengan bibirnya. Tak hanya itu, Luke mulai melancarkan aksinya. Tangan kiri nya yang mengunci kedua lengan Alea di atas kepala, dan tangan kanan yang bergerilya melucuti pakaian milik Alea, membuat Alea menitikkan air mata. Alea ingin memberontak, tapi tenaganya kalah dengan tenaga suaminya. Alea akhirnya pasrah saat Luke berhasil memasuki tubuhnya. Meski hati dan pikirannya menolak, tidak demikian dengan tubuhnya. Alea merasa tubuhnya berkhianat pada dirinya yang begitu menginginkan lebih seorang Luke. Setelah Luke puas melakukannya berkali-kali dengan istrinya, keduanya pun kelelahan. Luke memeluk erat istrinya yang berbaring memunggunginya. "Sampai kapanpun aku tak akan melepaskan mu, Al," bisik Luke kemudian mengecup pundak Alea, meninggalkan jejak tambahan pada tubuh istrinya. "Maafkan aku, Al. Kamu mau, 'kan? Memaafkan ku?" Luke membelai lembut istrinya yang mana berhasil menaikkan lagi keinginan untuk mengulang kegiatan tadi. "Aku tahu kamu menginginkannya lagi, Al," bisik Luke yang kemudian mengulang kegiatan panas mereka di ranjang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD