Sinar mentari pagi yang melewati sela tirai jendela menyapa dua insan yang tengah berpelukan setelah kegiatan olahraga malam mereka. Alea merasa sedikit terusik dengan sedikit cahaya terang yang mengenai wajahnya. Hal itu membuat wanita bertubuh ramping itu bangun.
Sejenak ia menoleh ke belakang, menatap pria yang sudah menjadi suaminya tiga tahun terakhir. Masih ada rasa sayang pada pria itu. Namun, rasa kecewa tetap mendominasi.
Di tengah lamunannya, Alea mendengar ponsel Luke berdenting. Benda pipih itu tergeletak di meja samping tempat tidur mereka
Perlahan, Alea membuka notifikasi pesan dari aplikasi berwarna hijau itu.
"Beb, hari ini jadi 'kan? Aku sudah siap nih. Kamu udah berangkat? Hati-hati di jalan ya? Jangan ngebut. Love you." Tulis pesan itu yang juga terselip emotikon hati di akhir chat.
Alea tak lagi terkejut. Dua orang itu sepertinya masih berhubungan baik. Bahkan panggilan antara keduanya begitu mesra. Bertolak belakang dengan panggilan sang suami pada dirinya yang selalu memanggilnya dengan nama baik secara lisan atau tulisan.
Alea kembali menggeser layar ponsel suaminya. Ternyata janji yang diucapkan Luke bahwa tak akan berhubungan dengan wanita itu lagi hanyalah omong kosong belaka.
Kini Alea tahu alasan suaminya selalu menyimpan ponselnya dan marah padanya jika ia membuka ponsel suaminya tanpa izin. Dengan alasan privasi, sang suami bahkan menghardik Alea secara terang-terangan. Bukankah setiap pasangan yang sudah menikah harus terbuka satu sama lain? Masihkah perlu privasi padahal nyaris setiap malam saling berbagi peluh yang membawa sepasang manusia ke surga duniawi?
Alea meletakkan kembali ponselnya. Mungkin karena sudah terlalu sering kecewa, membuat wanita itu sudah kebal saat kekecewaan kembali bertambah. Perasaan yang tadinya sudah akan luluh, kini sudah musnah.
Alea kemudian memutuskan untuk membersihkan diri, dan menyiapkan keperluan anak dan sang suami. Dia tak mau lalai dalam kewajibannya meski tengah terluka hatinya.
Alea membangunkan sang putri tercinta dan membantu gadis kecil itu untuk mandi. Setelah itu, barulah Alea memasak untuk sarapan pagi keluarganya. Beruntung saat ini akhir minggu. Alea tak perlu bingung mempersiapkan pakaian kerja suaminya atau khawatir suaminya terlambat.
Tepat saat Alea selesai memasak, suaminya keluar dari kamar mereka. Sudah berpakaian rapi dengan menggunakan kaos hitam dan celana jeans yang jelas menampilkan otot tubuh bagian atas pria itu.
Alea seolah mengabaikan Luke. Dia mengalihkan pandangannya dari sang suami yang tengah tersenyum ceria melihat dirinya.
"Aku mau pergi dulu sebentar. Kamu jangan ke mana-mana," titah pria itu
"Icha mau ikut papa. Boleh, 'kan?" sahut gadis kecil itu.
"Boleh kalau Icha mau," jawab Luke sembari mengusap pucuk kepala gadis kecilnya.
"Aku nanti ada janji dengan Risa," ucap alea sembari membereskan peralatan masak yang digunakannya sebelum mulai sarapan dengan suami dan anaknya.
Luke menghela nafas berat. "Baik. Asalkan tak sampai malam. Hanya boleh sampai sore karena aku juga akan pulang sore hari."
Luke mengalah. Ia tak ingin istrinya merasa bosan dan terkekang karena harus di rumah sendirian. Sementara tak mungkin dia membawa sang istri ikut serta. Luke tak ingin istrinya salah paham lagi dengannya. Padahal tanpa dia ketahui, Alea sudah memiliki stok kepercayaan yang tipis untuk dirinya.
***
Alea mematut dirinya di depan cermin. Wanita itu kini tengah bersiap untuk pergi dengan temannya. Dia merasa bosan di rumah saja. Selama menikah dengan Luke, wanita itu tak pernah sekalipun bisa bepergian dengan temannya atau sekedar piknik bersama keluarga kecilnya. Luke tak pernah sedikit pun mengizinkan Alea keluar rumah. Bahkan untuk keperluan rumah tangganya, Luke yang pergi berbelanja sendirian.
Untuk sebagian orang mungkin berkata bahwa Alea beruntung mendapatkan suami seperti Luke yang memenuhi dan menjamin kebutuhannya sehari-hari. Namun, tak demikian dengan Alea.
***
Suara klakson mobil terdengar dari luar rumahnya. Siapa lagi kalau bukan Risa yang kini sudah siap di depan rumah untuk menjemput dirinya.
Alea gegas menuju keluar. Tak lupa ia berpamitan kepada ART dan satpam rumahnya agar menjaga rumah saat dia pergi.
"Maaf nunggu lama," ucap Risa nyengir kuda.
Alea memutar kedua bola matanya. Dia sudah hafal dengan kebiasaan temannya yang masih menjomlo ini.
Risa adalah satu-satunya teman Alea yang masih belum menikah. Sebelumnya, wanita itu sudah akan menikah tiga tahun lalu, tepatnya sebulan setelah resepsi pernikahan Alea dan Luke. Namun tiba-tiba calon suami Risa membatalkan sepihak seminggu sebelum acara pernikahan dimulai. Dan itulah yang membuat Risa kecewa dan trauma dengan yang namanya pernikahan. Menurut Risa, sendiri lebih baik. Hatinya bisa aman terkendali tanpa adanya baper dan sakit hati.
"Jadi, mau ke mana?" tanya wanita di balik kemudi itu.
"Bebas. Nongkrong oke, belanja oke, ke bioskop oke."
"Lah, emang gak dicariin suami atau anakmu?"
"Mereka lagi pergi. Aku tadi udah izin. Palingan dia mau ketemuan lagi dengan wanita itu."
"Hah? Serius?! Kamu tau dari mana? Jangan fitnah. Itu suamimu loh. Suami sempurna kayak dia gak mungkin kayak gitu."
"Ya udah ayo kita belanja dulu aja. Nanti kamu bakal lihat sendiri."
Risa menoleh. Menatap temannya tak percaya. Melihat Alea tak peduli, Risa kemudian memilih melajukan mobilnya ke Mall yang tak jauh dari rumah Alea.
***
Setelah lima belas menit berkendara, keduanya kini sudah sampai. Dengan santainya Alea berjalan, ke tempat-tempat yang mungkin akan dituju oleh suami dan anaknya.
Alangkah terkejutnya Risa, ternyata apa yang dikatakan oleh Alea benar adanya. Rasa kagumnya pada suami Alea musnah sudah.
"Ternyata cowok sama aja, ya." celetuk Risa
"Cowok yang mana? Aku beda, lho...." Seseorang dibelakang Alea dan Risa menyahut.
Risa dan Alea membalikkan pandangannya. Tak disangka Julian kini ada di belakang mereka.
"Lihatin siapa, sih?" Pria itu mendongak, seperti mencari tahu arah pandang dua wanita di depannya.
"Bukan siapa-siapa," ketus Alea.
Alea buru-buru menarik lengan Julian. Dia mengajak Risa dan Julian pergi dari toko di mana Luke berada. Dia tak ingin Luke menyadari keberadaannya. Biarlah nanti Alea akan membuat perhitungan dengan sang suami.
Luke yang asyik bercengkerama dan memilih pakaian dengan Alisha, merasa diperhatikan oleh orang lain. Dan tepat saat wanita yang bersamanya di toko itu memanggil, dia melihat Alea ada di luar toko bersama Risa dan seorang pria. Dan bahkan Alea menggandeng lengan pria itu?
Luke ingin menyusul mereka. Namun, langkahnya terhenti karena wanita di depannya mencekal lengannya dan melarang Luke pergi. Dia tersadar, Alisha kini bersamanya. Dan dia tak pergi ke toko itu hanya berdua seperti sebelumnya.
"Mau ke mana?" tanya wanita itu tanpa melepas cekalan tangannya di lengan Luke.
Luke tak menjawab. Pria itu menatap ke luar mengikuti arah perginya Alea dan dua orang lainnya.
"Apa hubunganmu dengan pria itu, Al?" batin Luke.
"Kenapa kamu justru pergi dengan pria lain?"