Alea, Julian dan Risa kini tengah berada di kafe dalam mall itu. Usai memesan makanan, keduanya terlibat percakapan yang cukup membuat Risa dan Julian melongo.
"Jadi itu tadi suamimu? Dengan cewek lain?" tanya Julian lagi.
Alea mengangguk. Tatapan matanya tampak kosong. Setiap orang yang berhadapan dengannya pasti akan paham kalau Alea kini benar-benar hancur.
Tiba-tiba ponsel Alea berdering. Tampak nama Luke tertera di layar ponselnya. Wanita itu menjawab panggilan dari pria yang masih berstatus sebagai suaminya.
"Lagi di mana?" tanya Luke di seberang panggilan.
"Lagi di Mall," jawab Alea singkat.
"Sama Risa, 'kan? Boleh gak ponselnya dikasihkan ke Risa dulu. Aku mau tanya sesuatu ke temanmu."
"Tanya aja." Alea menekan tombol loud speaker di ponselnya. Dia ingin tahu apa yang akan suaminya tanyakan pada Risa.
"Halo, Risa? Kamu lagi di Mall bareng Alea?" Pertanyaan yang hampir sama terulang lagi.
"Iya, Mas. Aku lagi sama Alea nonton di bioskop," jawab Risa berbohong. Beruntung suasana kafe di sana cukup sepi. Cukup meyakinkan untuk berkata bahwa mereka sedang nonton.
Alea tak lagi mendengarkan apa yang suaminya tanyakan pada Risa. Hanya satu yang ada di pikiran Alea, suaminya tak mempercayainya.
Kini, buat apa hubungan mereka jika tak ada rasa saling percaya?
Alea berbisik, pamit ke Risa dan Julian untuk ke toilet. Alea merasa matanya sedikit berembun. Dia tak ingin menangisi Luke di hadapan dua orang itu.
Julian menatap kepergian Alea dengan raut wajah yang tak dapat diartikan.
Melihat Julian juga terluka saat melihat Alea sedih, akhirnya Risa memutuskan untuk meninggalkan Julian.
"Nanti antar Alea pulang," pesan Risa pada pria itu.
Sebenarnya Julian tak keberatan untuk mengantarkan Alea. Pria itu justru sangat senang jika bisa berduaan dengan Alea. Tapi dia tak ingin membuat Alea disalahkan oleh suaminya.
Meski dengan kebimbangan hatinya, Julian mengiyakan pesan Risa. Wanita itu kemudian beranjak pergi meninggalkan dirinya dengan beberapa barang milik Alea di meja yang sama.
Setelah lima belas menit berlalu, Alea keluar dari toilet. Julian bisa melihat mata Alea yang sedikit bengkak. Sepertinya wanita itu baru saja menangis.
"Lho? Ke mana Risa?" tanya Alea.
"Katanya mendadak ada urusan. Dia buru-buru pergi tadi setelah menerima telepon," jawab Julian berbohong.
"Oh. Ya udah, kalau gitu aku pulang dulu, ya," pamit Alea.
"Aku antar." Julian menggiring Alea agar mengikutinya ke parkiran basemen mall itu.
Mau tak mau, Alea akhirnya memilih masuk ke dalam mobil pria itu. Julian tak membiarkan Alea pergi sendirian naik taksi online.
Alea terkejut saat mendapati hiasan dasbor mobil Julian. Dia tahu betul dari siapa hiasan itu. Hiasan yang mirip dengan miliknya. Yang juga masih Alea simpan rapi di suatu tempat yang tak ada satu pun orang mengetahui.
"Aku merawatnya dengan baik." Julian baru saja masuk ke dalam mobilnya. Ia tak serta merta menghidupkan mesin mobilnya meski sabuk pengaman sudah terpasang dengan benar.
"Aku masih berharap kita bisa kembali seperti dulu. Seperti hiasan itu," ucap Julian.
"Tapi itu sudah tak mungkin, Julian. Aku seorang wanita bersuami. Aku-"
"Semua masih mungkin, Al. Bukankah rasa itu masih ada?" sela Julian membungkam Alea yang berulang kali menghindarinya.
"Padahal kamu tahu kalau nomor ponselku masih tetap sama. Kamu tahu kalau alamat rumahku tetap di sana. Tapi kenapa kamu tak pernah mengatakan padaku kalau kamu tak bahagia, Al?"
"Kamu layak bahagia, Al. Aku sanggup untuk membahagiakanmu," lanjut Julian.
"Apakah rasa itu sudah tak lagi ada, Al?" tanya Julian lagi.
Alea menoleh ke arah luar. "Aku sudah tak mencintaimu lagi, Julian," ucap Alea tak mampu menatap mata Julian.
"Tatap aku, Al. Katakan kalau kamu tak mencintaiku lagi," desak Julian.
Alea hanya menunduk. Tetesan air mata mulai turun. Julian yang melihat hal itu mengusap air mata Alea dengan ibu jarinya.
"Aku menyesal, Julian," ucap Alea.
Julian langsung menyambar bibir Alea yang masih bergetar karena menangis. Keduanya saling memberikan sentuhan tak biasa, menyatukan bibirnya satu sama lain. Mengungkapkan segala kerinduan yang mereka rasa tengah membuncah. Keduanya larut dalam tangis dan perasaan saling membutuhkan.
"Aku merindukanmu, Al. Aku masih mencintaimu hingga saat ini," bisik Julian.
Tangis Alea semakin pecah. Julian mendekap erat tubuh wanita yang ia cintai itu. Seolah tak ingin Alea pergi, Julian tak ingin melepaskan pelukannya.
Alea mengurai pelukan mereka. "Kita masih di parkiran," ucap Alea mengurai pelukannya.
Julian merasa bodoh. Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia lupa sedang berada di mana.
Julian kemudian menghidupkan mesin mobilnya. Dia melajukan kendaraan roda empat itu membelah jalanan kota yang ramai di siang menjelang sore itu.
Julian sangat bahagia. Senyum terukir di wajah tampannya yang kini tengah fokus melihat jalanan di depannya. Dia merasa penantiannya tak sia-sia. Dia akan merebut Alea dan mengeluarkan Alea dari neraka rumah tangganya. Ia akan menjadikan Alea miliknya.
Julian tak ingin melihat Alea menangis. Dia merasa hatinya ikut sakit saat melihat Alea menangis. Dan lebih menyakitkannya lagi, wanita yang dicintainya itu menangisi pria yang menyakitinya, suaminya. Meski hatinya terasa nyeri, ia tak ingin Alea menanggungnya sendirian.
Julian benar-benar bertekad untuk mengambil Alea dari tangan Luke dan menjadikan miliknya. Dia sangat yakin bisa membahagiakan Alea.
***
Julian melajukan kendaraannya bukan ke arah rumah Alea. Pria itu sengaja membawa Alea ke rumahnya. Dia ingin menghabiskan waktu berdua dengan Alea tanpa gangguan siapapun.
Julian melihat ke arah kursi penumpang di sebelahnya. Alea kini tengah tertidur pulas. Mungkin karena lelah menangis sehingga wanita itu mudah sekali tertidur.
Dengan hati-hati Julian membopong tubuh ramping Alea. Dia membawa wanita itu ke kamarnya dan menidurkan wanita itu di atas ranjangnya.
Julian meminta bibi pengurus rumahnya untuk menyiapkan makanan untuk jaga-jaga kalau Alea terbangun. Julian kemudian meninggalkan Alea bersama bibi pengurus rumahnya menuju kamar mandi di ruang tamu. Julian berencana untuk membersihkan diri karena hari sudah hampir sore. Tak hanya itu, dia merasa sedikit gerah karena berkeringat saat menggendong Alea.
Tepat saat Julian tengah mengambil pakaian gantinya yang lupa ia bawa serta, Alea terbangun dari tidurnya. Mendapati Julian yang hanya memakai handuk menutupi bagian bawahnya, Alea bersembunyi di bawah selimut. Wajah Alea terasa memanas. Julian bisa melihat rona merah di pipi Alea.
Terbesit pikiran jahil di pikiran Julian. Pria itu berjalan mendekati Alea yang berada di bawah selimut. Julian membuka selimut itu dan berhasil mengejutkan Alea.
Namun, karena ulahnya justru membuat dirinya jatuh menindih Alea dengan posisi handuk yang justru terlepas dari simpulnya.
Alea tak berani menatap ke arah handuk Julian yang terlepas. Bahaya!