BAB 5 - Kepergok Berdua

1062 Words
Alea kini berada di teras rumah Julian. Ia menyesap teh hangat yang dihidangkan oleh bibi pengurus rumah itu sembari menikmati pemandangan taman yang tertata rapi dan memanjakan mata. Sementara itu, Julian mengganti pakaiannya. Kejadian sebelumnya masih terekam jelas di kepala Alea. Wajahnya mendadak menghangat setiap kali mengingat hal itu. “Ehem ... gitu ya, gak nunggu aku,” ucap Julian mengagetkan Alea. Nyaris saja wanita itu tersedak saat meminum tehnya. Dia tak menyangka kalau Julian sangat cepat berganti pakaian. Meski hanya menggunakan kaos berwarna hitam dengan celana biru dongker selutut, pria itu tampak sangat memukau. Pesonanya seolah tak pernah hilang termakan usia. Tidak! Alea tak boleh jatuh dalam pesona Julian. Ia masih memiliki misi yang belum terselesaikan Dia harus menuntaskan urusannya dengan sang suami. Salah jika dirinya justru tergoda oleh pria lain! “Ngomong-ngomong, kenapa kamu membawaku ke rumahmu?” tanya Alea sembari meletakkan cangkir tehnya. “Memangnya kamu mau kalau aku mengantarmu terus orang-orang bertanya-tanya mengapa istri seorang Luke tertidur dalam gendongan pria lain, begitu?” Apa yang dibicarakan oleh Julian ada benarnya. Tetangganya adalah cctv hidup di sekitar rumah mereka. Tapi tunggu! Apakah mungkin, Luke tak pernah membawa wanita itu ke rumah mereka saat ia tak ada? Tetapi kapan ia tak ada di rumah? Setelah menikah dengan Luke, ia selalu ada di rumah bersama putrinya. Kemungkinannya akan sangat kecil kalau Luke membawa wanita itu ke rumahnya. “Aku harus tau alamat wanita itu,” gumam Alea. Alea berpikir kalau mereka pasti sering kali bertemu dan bahkan berduaan saat di rumah wanita itu. Dia sangat yakin. “Apa?” Julian samar-samar mendengar gumaman Alea. “Memangnya tadi siapa?” tanya Julian kepada Alea. “Dia wanita spesialnya suamiku.” Alea menjawab pertanyaan pria itu dengan singkat. “Hah?! Serius?” tanya Julian. Alea menganggukkan kepalanya. Alea sangat serius dan yakin dengan apa yang ia katakan. “Berarti aku masih memiliki kesempatan untuk mendekatimu. Bukankah begitu?” tanya Julian. Alea tak menjawab pertanyaan Julian yang ia anggap sebagai gurauan itu. Pria itu tak benar-benar akan merebut Alea dari suaminya, bukan? *** “Apakah seperti itu istri yang selalu kau bela di depanku?” tanya seorang wanita yang berada di dalam mobil bersama Luke. Luke mengikuti Alea yang pergi bersama Julian. Ia awalnya tak menyangka kalau benar Alea melihatnya bersama wanita itu di dalam Mall. Wanita yang kini tengah duduk di kursi penumpang belakang mobil, di sebelahnya. “Seharusnya kamu lepaskan saja wanita yang seperti itu,” ucap wanita itu berusaha menyulut emosi seorang Luke. “Diamlah! Kamu pun tak berhak berbicara seperti itu,” ucap Luke sedikit membentak. Wanita itu akhirnya bungkam. Luke mengamati interaksi antara istrinya dengan pria lain yang ada di sana. Apa yang mereka lakukan bukanlah sebuah hal yang di luar batas. Tapi kenapa Luke merasakan sesak di dadanya? Apa kamu menyukai pria itu, Al? Batin Luke. Pria itu melihat ke arah Alisha yang tengah terlelap dalam pangkuannya. Dia hanya tak habis pikir dengan istrinya. Wanita itu sengaja menyuruh Alisha untuk ikut dengannya sementara Alea pergi berdua dengan pria yang mungkin adalah kekasihnya. “Kita pulang, Pak,” ucap Luke kepada pria paruh baya yang berada di belakang kemudi mobil itu. *** Luke menggendong Putri kecilnya. Diletakkannya tubuh gadis itu dengan hati-hati. Berharap gadis kecil yang tengah terlelap itu tak terbangun dari mimpi indahnya. Luke kemudian beranjak menuju dapur, mengambil air dingin dari lemari pendingin di dapur. Derap langkah seorang wanita terdengar mendekat ke arahnya. Wanita itu melingkarkan kedua tangannya ke tubuh Luke dari belakang pria itu. Luke yang tengah minum, cukup terkejut mendapati dua tangan dengan jemari lentik menari di atas perutnya. Kemeja yang ia kenakan menjadi basah karena sedikit air yang tak sengaja ia tumpahkan. Lekuk tubuh bagian depan pria itu tampak jelas. Tubuhnya yang atletis, cukup menggoda iman setiap wanita yang melihatnya. Apalagi jejak air yang tertinggal di kemeja bagian atas pria itu, semakin membuat Luke tampak menggoda. Dan wanita itu semakin tergoda. Naluri lelaki seorang Luke tanpa sadar bangkit. Ditambah bibir wanita itu yang mendarat tepat di atas bibirnya, membuat percikan api dalam dirinya semakin membara. Luke membalas godaan yang wanita itu berikan kepadanya. Suara desah manja terdengar sangat merdu di telinga pria itu. Membuat jiwa liar Luke semakin tak terkendali. Keduanya bergerak seirama, memberikan sentuhan menggoda satu sama lain. Kancing bagian depan keduanya kini terbuka. Tubuh bagian atas dua manusia berbeda jenis itu saling bersentuhan, memberikan sensasi tersendiri yang cukup menggetarkan jiwa keduanya. Kegiatan mereka terhenti tatkala suara langkah lain terdengar mendekat ke arah mereka. Ya, Alea kini tengah berdiri di ambang pintu yang memisahkan dapur dengan ruang tengah rumah itu. “Maaf mengganggu. Kalian lanjutkan saja,” ucap Alea kemudian melangkahkan kaki menuju kamar putrinya. “Sial!” Luke kembali mengancingkan bajunya yang sedikit basah itu. Ia bergegas mengejar Alea yang baru saja memergokinya berdua dengan wanita itu. “Al, tunggu!” Luke berhasil meraih salah satu lengan Alea yang hendak menjauh. “Apa lagi?” tanya Alea berusaha menetralkan emosi yang hendak meledak. “Kamu salah paham, Al. Semua itu tak seperti yang kamu pikirkan,” ucap Luke. “Memang apa yang aku pikirkan?” tanya Alea menantang seorang Luke yang tengah membela dirinya sendiri. “Aku melihat dengan kedua mata kepalaku sendiri kalau kalian melakukan hal itu di sini. Kalau aku tak pulang, apa kalian akan berhenti? Tidak! Kalian mungkin saja akan melakukan hal yang lebih di dapur atau bahkan mengotori ranjang kita berdua.” Luke bungkam. Pria itu tak bisa berkata-kata lagi. Ternyata Alea melihat apa yang ia lakukan dengan wanita itu. Pembelaan apa lagi yang akan ia ucapkan kini? Kalau saja ia bisa memutar waktu, ia tak ingin tergoda oleh wanita itu lagi. Semua memang salahnya. Membiarkan wanita itu masih berada di rumah ini dengan alasan sebagai teman. “Aku akan menyuruhnya pergi,” ucap Luke. “Untuk apa? Bersenang-senanglah kalau itu memang mau kalian. Aku tak akan melarang. Untuk apa aku melarang kalau ujung-ujungnya selalu kamu langgar.” Alea kemudian berbalik dan bergegas masuk ke dalam kamar Alisha. Wanita itu mengunci kamar gadis kecilnya dari dalam. “Al, buka pintunya Al,” seru Luke mengiba. Alea tak menjawab. Wanita itu menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Berusaha meredam isak tangis yang mungkin akan didengar oleh suaminya. Luke mengeram frustrasi. Seharusnya ia yang menanyakan ke mana istrinya itu pergi, menghakiminya agar istrinya itu jujur. Tetapi kenapa justru ia yang kini menjadi tersangka dan disalahkan? “Semua itu karena dia!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD