BAB 6 - Jangan Sentuh Aku, Mas!

1022 Words
"Pulanglah!" Wanita itu mengernyit. "Hanya karena istrimu memergoki kita berdua, kamu tak menuntaskan apa yang memanas di sini?" ujar wanita itu semakin berani menggoda Luke dengan menggesekkan kakinya di antara kedua kaki pria itu. "Bukannya kamu tahu kalau Alea adalah segalanya bagiku?" geram Luke. "Dan apa kamu pikir aku hanya mainan mu?" jawab wanita itu. "Lalu apakah mungkin kamu akan menuntaskan ini sendirian?" ejek wanita itu. Tanpa banyak bicara, Luke mendorong wanita itu ke dinding. Menjawab tantangan wanita yang selalu menggodanya. Namun sedikit pun tak ingin ia jadikan istri kedua. *** Malam sudah sangat pekat. Luke menyiapkan makan malam untuk Alea. Ia rasa istrinya itu saat ini sedang meringkuk lapar. Tenaganya pasti terkuras habis usai menangis seharian. Dengan membawa nampan yang berisi makanan,Luke mengetuk pintu di hadapannya, berharap wanita tercintanya membukakan pintu yang tertutup berjam-jam. "Al, aku bawain makanan kesukaanmu. Aku masakin ini khusus untuk kamu. Buka pintunya ya? Makan malam dulu?" ucap Luke di depan pintu kamar itu. Tak ada jawaban. Luke mencoba memutar kenop pintu di hadapannya. Terbuka! Kamar yang biasanya terang meski saat malam itu, mendadak gelap ... dan sunyi. Luke meraba dinding kamar itu, mencari sakelar lampu yang seharusnya tak jauh dari ambang pintu. Lampu kamar menyala sepersekian mili detik setelah sakelar ditekan. Luke mendapati Alea meringkuk di atas ranjang mereka, membelakangi sisi yang lainnya. "Al, makan, yuk?" bujuk Luke. "Jangan sentuh aku, Mas!" Tangan Luke yang hendak merapikan anak rambut yang menutupi wajah Alea, menggantung di udara. Senyum di wajah pria itu mendadak hilang. Penolakan dari sang istri sukses membuat mood nya berantakan. "Baiklah. Aku letakkan makan malam mu di sini. Jangan lupa makan. Aku tak mau kamu sakit," ujar Luke sembari menahan amarah yang membuncah. Luke beranjak meninggalkan kamar. Meninggalkan Alea dengan perasaan yang berantakan karena penolakan sang istri kesayangan. Usai menutup pintu kamar, Luke berjalan gontai ke arah ruang tengah. Ia menjatuhkan bobot tubuhnya di atas sofa empuk yang berhadapan dengan televisi datar dengan layar tiga puluh dua inci itu. Tangannya menyangga kepala yang ia rasa cukup berat karena beban hari itu. Hah! Betapa bodohnya ia yang tak bisa menolak pesona wanita itu. Jangan salahkan dirinya yang begitu mudah dijebak oleh godaan luar biasa dari wanita sore tadi. Alea yang enggan melayaninya, membuat ia terpaksa mencari "rumah" lain sebagai tempat singgah. Meski Alea tetaplah rumah untuk Luke pulang. Luke meremas rambutnya kasar. Ia bingung dengan apa yang akan ia lakukan ke depannya. Tak mungkin baginya melepaskan keduanya. Wanita itu memiliki kelebihan yang Alea tak punya, dan begitu pula sebaliknya. Anggaplah Luke serakah. Hingga akhirnya pria itu tertidur di atas sofa karena kelelahan. Lelah berbagi peluh dengan wanita itu, juga lelah menghadapi Alea yang selalu merajuk. Sementara itu, Alea mengabaikan makan malam yang Luke siapkan. Sedikitpun ia tak menyentuh apa yang Luke berikan. Dia merasa jijik dan semakin enggan dengan pria itu. Dia tak sudi berbagi tubuh Luke dengan wanita lain, tapi kenapa justru Luke dengan senang hati memberikan dirinya pada wanita itu? Alea menatap ponselnya. Jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari, dan ia masih terjaga. Sebenarnya ia merasa pening karena lapar. Setelah melihat pemandangan tak pantas sore itu, Alea kehilangan nafsu makan. Apakah kini saatnya untuk merelakan? Ataukah ia diperbolehkan melakukan pembalasan? Alea membuka aplikasi perpesanan berwarna hijau di ponselnya. Ia lupa belum membalas pesan dari orang-orang yang begitu mengkhawatirkan dirinya. Satu per satu Alea buka pesan yang isinya berbeda-beda. Hampir semua dari mereka menanyakan, "Al, Kamu tak apa? Apa kamu baik-baik saja?" Bolehkah Alea membalas, memberitahukan pada mereka kalau ia tak baik-baik saja? Sebuah pesan menyita perhatian Alea, dari Julian. Pesan yang isinya berbeda. "Kalau kamu ingin membalas mereka, jangan segan meminta bantuan ku," lirih Alea membaca pesan Julian. Alea segera mengetik pesan balasan saat melihat tanda online di panel status pria itu. "Apa maksudmu?" "Kita bisa membalas perlakuan suamimu dengan perlakuan yang sama." Begitulah balasan dari Julian. Ponsel di tangan Alea terjatuh begitu saja. Apa maksud pria itu membalas dengan perlakuan yang sama? Bukan berarti ia akan melakukan hal nekat seperti yang suaminya lakukan padanya, bukan? Apa bedanya ia kalau membalas suaminya dengan perlakuan yang sama? Alea masih waras. Ia tak ingin melukai hati putri kecilnya. Alea tak ingin membuat anaknya mengalami trauma. Dia tak ingin putri kesayangannya mencontoh dirinya melakukan kesalahan. "Dengan atau tanpa izin mu, aku akan membalas perlakuan suamimu, Al. Hingga suamimu melepaskan kamu, aku tak akan menyerah untuk mendapatkan mu. Jangan salahkan aku. Semua itu karena suamimu yang menyia-nyiakan wanita sebaik kamu!" Sebuah pesan kembali Alea terima. Siapa lagi kalau bukan dari Julian. Pria itu sama keras kepalanya dengan Luke. Alea memilih mematikan ponselnya. Dia kembali mencoba memejamkan matanya agar bisa terlelap. Berharap penatnya sedikit menguap. Detik jam terus berputar. Hari sudah mulai pagi. Alea sudah menyiapkan sarapan dan semua kebutuhan suaminya seperti biasa. Hanya saja Alea tak membangunkan Luke yang tertidur di atas sofa. Wanita itu langsung menuju kamar putrinya untuk memandikan si gadis kecil karena akan mengajak Alisha jalan-jalan. Saat Alea dan Alisha selesai bersiap, Luke ternyata sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Pria itu berusaha menyapa Alea yang tetap menampilkan wajah datarnya. "Al, kita perlu bicara," ucap Luke mencekal lengan Alea. Alea menatap ke arah Luke, kemudian beralih menatap ke arah tangan pria itu yang masih memegang lengannya. Luke mengangkat kedua tangannya, menjauhkan tangannya dari lengan Alea. "Kita bisa berbicara nanti saat jam makan siang. Aku mau pergi, mengajak Alisha membeli barang-barang keperluannya," ujar Alea. "Apa perlu aku antar?" tawar pria itu. "Tak usah, Dewi sebentar lagi akan menjemput." Benar saja, tak lama setelahnya Dewi mengetuk pintu. Setelah dipersilakan masuk, Alea pun pamit pergi. "Aku sudah menyiapkan sarapan dan bekal untukmu di kantor. Terserah mau dibawa atau tidak. Aku pergi dulu," ujar Alea sembari menggendong Alisha pergi bersama Dewi. Mobil Dewi melaju meninggalkan kediaman Luke dan Alea. Semua berlalu begitu saja, Luke tak sempat memberikan larangan. Luke pun tak sanggup menahan istrinya. Tak mungkin ia terus menerus melarang Alea untuk pergi berbelanja. Mungkin Alea butuh suasana yang berbeda. Luke bergegas sarapan. Usai menandaskan menu sarapan paginya, Luke bergegas berangkat ke kantor. Ketika Luke hendak masuk ke dalam mobilnya, pria itu dikejutkan oleh seseorang yang ternyata sudah menunggunya di depan rumah. "Hai! Boleh bareng, kan?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD