“Mau apa kamu ke sini,” sinis Luke.
Wanita yang menggunakan stiletto berwarna hitam itu melangkah perlahan. Kaki jenjang nan mulus wanita yang mengenakan dress di atas lutut itu sengaja dipamerkan untuk memikat Luke yang kini tengah sendiri, hendak berangkat kerja.
Tak ingin mengulang kesalahan yang sama apalagi sampai terpergok Alea, Luke buru-buru masuk ke dalam mobil berharap wanita itu tak bisa mendekatinya.
Perhitungan Luke salah. Entah karena Luke sengaja membiarkan wanita itu masuk ke dalam mobil atau memang wanita itu yang begitu sigap masuk ke dalam kotak besi beroda empat, hanya Luke dan Tuhan yang tahu. Wanita itu kini sudah duduk di bangku penumpang samping kemudi, menyunggingkan senyum sembari berkata, “Aku merindukanmu, Luke!”
“Kita sudah bertemu kemarin. Apa itu belum cukup?” ujar Luke sembari menghidupkan mesin mobilnya.
“Apa menurutmu kemarin itu cukup?” wanita itu membalikkan pertanyaan kepada Luke.
“Aku tahu kalau Alea menghukum kamu dan mengabaikan mu semalam. Dan aku yakin kamu pasti masih menginginkannya,” lanjut wanita itu sembari mendekat ke arah Luke.
Luke menelan ludah saat jari lentik wanita itu membelai rahangnya yang mengeras.
“Ini masih pagi, Ra,” geram Luke.
“Memangnya kenapa dengan pagi? Bukankah itu bagus untuk berolahraga pagi?” ucap wanita di sebelah Luke semakin menantang.
Wanita itu mengubah posisi duduknya. Diraihnya leher pria yang berstatus sebagai suami Alea itu agar lebih mendekat ke arahnya.
Tidak ada penolakan!
Lengkungan tipis terbit di wajah wanita yang kini memberikan akses sepenuhnya kepada Luke. Pria itu tak dapat menahan godaan Adara – wanita yang kini tengah ada di dalam mobilnya, wanita yang menawarkan dirinya untuk pria itu cicipi berulang kali.
“Aku menginginkanmu, Luke!” desah Adara tatkala Luke semakin membenamkan kepalanya pada wanita itu.
Sementara itu, tanpa mereka sadari, ada dua pasang mata lain yang mengamati dua orang yang entah melakukan apa di dalam mobil yang mesinnya menyala itu.
Bulir bening menetes tanpa permisi dari kedua bola mata wanita cantik yang tengah berada di dalam mobil lain.
Ya, Alea yang tadinya hendak mengambil sesuatu yang tertinggal di rumahnya, mengurungkan niatnya untuk kembali ke rumah. Melihat pemandangan yang tak biasa dari seorang yang masih sah bertakhta sebagai kepala keluarga itu, Alea mengurungkan niat untuk kembali.
Beruntung Alisha saat ini tengah tertidur di kursi belakang mobil itu, sehingga tak melihat hal tak lazim yang dilakukan ayahnya.
“Ayo kita pergi, Wi.”
“Apa kamu tak marah? Kalau kamu ingin melabrak mereka, aku akan membantumu!” ujar Dewi geram.
“Biarkan saja,” jawab Alea datar sembari mengusap jejak air mata yang melewati pipinya.
Dewi yang kesal memilih membunyikan klakson mobilnya, berharap dua orang itu menyadari keberadaan Alea. Namun, sia-sia. Dua orang dalam mobil yang terparkir di garasi mengabaikan gangguan lain dari luar.
Dewi akhirnya memilih melajukan mobilnya dengan kesal. Dia tak bisa membayangkan bagaimana hancurnya hati Alea.
“Sudah dua kali aku melihat mereka melakukannya,” ujar Alea tanpa mengalihkan pandangannya yang tertunduk.
Dewi hanya melongo. “Lalu kenapa kamu ngebiarin mereka gitu aja?”
“Mungkin karena aku semalam mengabaikan Luke, jadi dia mencari pelampiasan lain,” jawab Alea dengan suara yang cukup pelan.
“Tapi itu gak bisa dibenarkan, Al. Kamu istrinya. Kamu berhak marah. Kamu berhak menghukum mereka!” ujar Dewi dengan emosi yang menggebu.
Alea menggeleng. “Tidak, Wi. Di sini aku juga salah. Mungkin aku yang kurang peka dengan kebutuhannya itu yang membuat dia melakukannya dengan orang lain.”
“Aku sadar diri kalau aku tak ada apa-apanya dibanding wanita itu, Wi,” imbuh Alea dengan suara tertunduk.
“Aku akan mendukung apa pun keputusanmu, Al. Kalau kamu membutuhkan bantuan ku, jangan sungkan untuk menghubungiku.”
“Hem,” jawab Alea sembari mengangguk.
Mereka berdua tersenyum dalam kecanggungan. Tak mudah untuk bersabar seperti yang dilakukan Alea. Apalagi hingga melihat dengan jelas tayangan secara langsung hal yang tak pantas dilakukan suaminya itu.
Setelah melajukan kendaraannya sekitar dua puluh menit, Dewi mematikan mesin mobilnya. Mereka kini sudah sampai di pelataran sebuah bangunan tinggi dengan mobil yang berjajar rapi di kanan dan kirinya.
Tiba-tiba kaca mobil di samping Alea diketuk dari luar. Seorang pria tampan dengan pakaian kasual memberi isyarat supaya Alea membuka jendela mobil yang menghalangi mereka berdua.
“Turunlah,” pinta pria itu.
Alea menoleh ke arah Dewi. Wanita itu mengangguk. “Aku akan menjaga Alisha. Kamu tenang saja,” jawab Dewi seolah mengerti maksud Alea.
Karena Dewi yang terus mendorong Alea untuk turun, akhirnya ia keluar dari dalam mobil. Dan detik berikutnya pria itu menggenggam tangannya, menarik Alea dan membawanya pergi ke dalam bangunan itu.
Julian berharap Alea bisa mengurangi kesedihannya dengan berjalan-jalan di sana. Mendapati pesan dari Dewi bahwa Alea sedang tak baik-baik saja beberapa saat lalu, Julian langsung pergi meninggalkan urusannya, meninggalkan pekerjaannya yang masih menumpuk hanya untuk Alea. Meski belum tahu pasti apa yang terjadi, Julian tak ingin Alea merasa sendiri.
Mereka berdua ke area bermain di dalam Mall itu. Melihat senyum Alea yang tampak bebas saat bermain, membuat Julian ikut tersenyum. Alea masih sama dengan Alea yang dulu ia kenal.
Pernah Julian meragukan Alea yang saat itu tiba-tiba berubah karena Luke. Julian pikir, pria itu akan membahagiakan Alea. Namun, melihat Alea yang sedih seperti beberapa saat lalu, membuat Julian ingin melindungi Alea, merebut wanita itu dari pria yang telah membuatnya kecewa.
“Kamu sudah tidak apa-apa ‘kan, Al?”
“Memangnya aku kenapa?”
“Tidak ada.” Julian menggeleng sembari tersenyum.
“Syukurlah,” lirih pria itu.
Tiba-tiba ponsel Alea berdering. Sebuah panggilan dengan nama “Husband” tertera di layar ponsel wanita itu.
Alea mengabaikannya. Sengaja menolak untuk menjawab dan bahkan kini ia mematikan ponselnya.
“Kenapa tak dijawab?” tanya Julian.
“Biarkan saja. Aku tak ingin mengganggu mereka bersenang-senang,” jawab Alea mengalihkan pandangannya dari Julian.
Julian masih menatap Alea dengan pandangan tak percaya. Dia tak yakin kalau Alea baik-baik saja. Wanita itu pasti sedang berusaha menyembunyikan luka.
“Aku akan selalu mendukungmu, Al. Kami sahabatmu, akan selalu ada dan berdiri di sampingmu,” ucap Julian meski sempat tercekat saat mengucap kata sahabat.
Alea tersenyum lembut. “Aku tahu,” jawabnya singkat.
“Al ... Apa kamu tak ingin membalas perlakuan suamimu?” tanya Julian pada akhirnya.
“Maksud kamu?”
“Aku tak masalah kalau kamu memanfaatkan ku untuk membalas suamimu, Al,” jawab Julian.
Alea mengernyit. Dia paham dengan apa yang dipikirkan Julian. Namun, Alea ragu kalau apa yang dia pikirkan adalah sama dengan yang Julian pikirkan.
“Aku tak masalah menjadi pelarian mu, atau bahkan menjadi simpanan mu, Al,” ucap Julian dengan tegas.