BAB 8 - Sesuatu yang Salah

1055 Words
Untuk beberapa saat, Alea terdiam. mendengar penuturan Julian membuatnya berpikir. Ditatapnya manik mata pria di hadapannya itu, mencari kebohongan yang mungkin pria itu selipkan. Alea mengenal Julian sebagai seorang pria yang ramah dan humoris. Oleh sebab itu ia tak sepenuhnya yakin dengan apa yang dibicarakan oleh pria itu. Akan tetapi, kali ini Alea tak menemukan setitik kebohongan yang pria itu ucapkan. Sorot matanya menunjukkan kesungguhan. "Jangan mengatakan hal aneh, Lian," ujar Alea mendorong Julian sedikit menjauh. "Intinya, kalau kamu membutuhkanku, aku akan siap kapan saja. Bahkan, untuk menggantikan suamimu pun, aku siap," kekeh Julian. Alea hanya menanggapi dengan tertawa. Ia tak terlalu berharap Julian akan melakukan hal nekat seperti yang diucapkannya. Sementara itu, seorang pria tampak mengeraskan rahangnya. Kedua tangannya terkepal di samping tubuhnya saat ia melihat istrinya bersama dengan seorang pria yang sorot matanya tampak menginginkan Alea. Pria itu bisa mendengar dengan jelas bagaimana Julian merayu wanita yang masih berstatus istrinya. Dia tak rela. Sampai kapan pun Luke tak akan rela jika Alea jatuh ke dalam pelukan Julian. Terlebih menggantikan posisinya dengan pria itu. Luke merogoh ponsel di dalam kantongnya. Pria itu menekan tombol layar di jam tangan pintar yang ia kenakan. Jam tangan yang terhubung dengan ponselnya itu cukup membantu dirinya dalam membuat panggilan dengan orang lain tanpa repot-repot merogoh ponselnya yang berada di balik saku setelan jasnya. "Aku butuh bantuan mu mencari tahu latar belakang seseorang. Aku harap kamu bisa memberikan informasi yang lengkap padaku nanti malam," ujar Luke pada seseorang yang ada di seberang panggilan. Tak lama pria itu menutup panggilan suara antara dirinya dengan seseorang yang baru saja ia hubungi. Luke masih geram dengan apa yang ia lihat di dalam area mall tak jauh dari tempatnya berdiri. Alea dan dirinya tak pernah sedekat itu. Oleh karena itu, dia sangat cemburu. Di mata pria itu, Alea begitu hangat saat bertemu dengan Julian. Berbeda dengan saat dengan dirinya, sangat dingin dan datar. Bahkan, berbicara pun Alea serasa enggan. "Aku tak akan membiarkan kalian bersama, sampai kapan pun!" "Ternyata pergi keluar rumah untuk membeli keperluan Alisha hanyalah alasan kosong," ujar Luke tersenyum miris. Kembali dia mengambil ponselnya, mencari nomor istrinya-Alea, lalu kemudian memencet tombol panggil pada layarnya itu. Luke mendengar tanda panggilannya terhubung. Akan tetapi ia tak mendapati tanda-tanda Alea akan menjawab panggilannya. Bahkan, Luke melihat Alea tak tampak terganggu dengan ponselnya yang berbunyi. "Apa dia tak membawa ponselnya? Tapi panggilan ke nomornya terhubung," gumam Luke. Luke masih memegang ponsel yang masih terdengar nada sambung dari nomor istrinya itu. Namun, pandangannya masih memperhatikan gerak-gerik Alea yang masih berada di dalam pertokoan tak jauh dari pandangannya. "Aku akan membuat perhitungan denganmu, Al!" geram Luke mengayunkan langkahnya kembali menuju tempat di mana mobilnya terparkir. "Apa-apaan sih kamu!" seorang wanita mengerucutkan bibirnya. Luke hampir melupakan Adara yang sengaja menunggunya di dalam mobil. "Kamu langsung berlari mengikuti wanita itu dan mengabaikan ku di sini. Apa maksudmu, Luke?!" geram Adara. "Jaga mulutmu!! Wanita itu adalah istriku. Kau tak berhak berkata buruk tentangnya!" bentak Luke. Adara menghembuskan napas sembari memutar bola matanya malas. Baru pertama kali dia melihat Luke begitu marah padanya hanya karena seorang Alea. Bukankah sebelumnya dia tak pernah menganggap wanita itu ada? "Lalu aku ini siapa mu?" tanya Adara dengan suara datar. Wanita itu menatap ke depan. "Turunlah! Aku tak mau berdebat denganmu." "Apa kau masih mencintainya, Luke? Bukankah kau berjanji bahwa kau tak akan meninggalkanku?" ujar Adara sembari menatap Luke yang sama sekali tak melihat ke arahnya. "Ternyata kau sama saja dengan yang lain." Adara mulai terisak. Luke mengepalkan tangannya di atas kemudi. Tak pernah terpikir sebelumnya bahwa semua akan serumit ini. Padahal Luke tak pernah merasa terusik dengan apa yang dilakukan Alea di masa lampau. Tapi kenapa saat dia menemukan wanita lain yang dia cintai, dia merasa sakit saat melihat Alea bersama seorang pria yang merupakan mantan kekasih wanita itu? Bukankah Luke tak mencintai Alea dengan sungguh-sungguh? "Sudahlah. Jangan menangis. Maafkan aku." Luke kemudian merangkul wanita yang duduk di kursi penumpang di sampingnya. Luke memeluk wanita itu dengan erat seolah tak ingin melepaskan Adara. Salahkah kalau Luke menginginkan wanita yang kini bersamanya namun tak kehilangan istrinya? Tak bisakah ia mendapatkan cintanya tapi rumah tangganya tetap utuh? Setelah merasa wanita dalam dekapannya kembali tenang, Luke melajukan kendaraannya. Pikirannya terasa kosong, hingga tanpa sadar ia sudah berada di depan rumahnya. "Bukankah kita akan ke apartemen?" tanya Adara. "Ah, maaf. Aku lupa," ujar Luke sembari tersenyum. Pria itu kemudian melajukan mobilnya lagi menuju apartemen Adara, hunian yang diberikan Luke kepada wanita itu. *** Dua orang itu kini sudah berada di unit milik Adara yang berada di lantai lima. Luke menatap ke luar jendela besar yang menampakkan pemandangan kota yang masih tampak ramai dengan hilir mudik kendaraan. "Jangan terlalu banyak berpikir. Semuanya pasti baik-baik saja. Bukankah ada aku?" Adara memeluk luke dari arah belakang. Luke mengusap lengan mulus wanita itu. Senyumnya tampak dipaksakan. Pikirannya masih memikirkan sang istri. "Apa menurutmu, Alea melakukan hal sama dengan yang kita lakukan bersama pria itu?" tanya Luke masih menatap ke arah jendela. "Bisa saja. Bukankah sudah jelas bagaimana dia memperlakukanmu dibandingkan dengan dia memperlakukan pria itu. Lalu apa yang masih kamu pikirkan?" Adara berjalan ke depan pria itu. Perlahan Adara membuka kancing Luke satu persatu. Diusapnya tubuh bagian depan pria itu dengan lembut dan perlahan, membuat Luke kini mengalihkan pandangannya kepada wanita yang sudah berdiri di hadapannya dalam jarak yang sangat dekat. "Aku tak bisa membayangkan Alea melakukan hal seperti ini," ujar Luke yang kemudian menepis tangan Adara. Pria itu berjalan menjauhi Adara yang masih berdiri dengan tatapan kesal. Sudah beberapa kali Luke menolaknya. Padahal selama ini Luke tak pernah menolak godaan darinya. "Kau berbohong padaku, Luke!" seru Adara. Luke menghentikan langkahnya. Pria itu kemudian menoleh ke arah Adara yang berdiri beberapa langkah dengan wajah yang basah. Luke merasa sangat lemah saat melihat orang yang dia cintai menangis. "Kau tak mencintaiku, Luke!" seru Adara lagi. Hal itu membuat Luke kesal. Tanpa banyak bicara lagi, Luke berjalan ke arah Adara dan membekap bibir wanita itu dengan bibirnya. Tiba-tiba Luke menghentikan apa yang dilakukannya. "Ini adalah sesuatu yang salah, Adara. Semua ini tak benar," ujar Luke yang tiba-tiba menghentikan tindakannya. Luke kembali mengancingkan kemejanya. Dia meraih jas dan ponselnya yang sebelumnya ia letakkan di atas sandaran sofa. Pria itu meraih kunci mobil yang tergantung di dekat pintu, lalu keluar dari apartemen itu meninggalkan Adara yang terpaku. "Aku akan membuatmu tak bisa berpaling dariku, Luke!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD