BAB. 9 - Hanya Main-main?

1077 Words
"Kenapa?" "Dia menghubungiku. Tujuh puluh enam panggilan tak terjawab." Alea menunjukkan layar ponselnya kepada Julian. "Tumben?" kekeh Julian. Alea mengangkat kedua bahunya. Dia kemudian membuka pesan dari Luke, tanpa berniat untuk membalas pesan itu. "Gak dibalas? Kalau dia khawatir, bagaimana?" goda Julian. "Gak mungkin! Dia kan punya mainan baru," ujar Alea sembari tertawa miring. "Kalau dia mainan, berarti cuma main-main, dong?" tanya Julian. "Berarti kamu akan memaafkannya?" Pertanyaan Julian seolah menamparnya. Tak pernah terpikirkan jika menghadapi keadaan seperti itu. Alea merasa bimbang, antara memaafkan atau tidak. Namun, mengingat apa yang Luke lakukan di rumah mereka, rasanya Alea tak ingin lagi bersama pria itu. "Hei! ngelamun aja!" ujar Julian menyadarkan Alea dari lamunan singkatnya. "Ayo kita kembali. Kasihan Alisha menunggu lama." Julian mengangguk. Dia menggenggam tangan Alea tanpa ragu dan berjalan bersama wanita itu ke arah parkiran. Selama perjalanan, hening menyapa dua orang itu. Keduanya sibuk dengan pikiran mereka yang berbeda. "Al?" "Ada apa?" Alea menoleh ke arah Julian yang masih menatap ke jalanan di hadapannya. "Kalau kamu memang ingin berpisah dengan Luke, aku siap menerimamu. Jangan khawatir, aku juga akan menerima Alisha kalau kau bawa gadis kecil itu ikut serta," ujar Julian yakin. "Aku tak main-main," imbuh Julian berusaha meyakinkan Alea yang tertawa tanpa suara. "Terima kasih, Julian. Tapi, tolong jangan terlalu berharap dulu. Aku takut justru kau akan mendapatkan kecewa," jawab Alea. Bukan tanpa sebab Alea mematahkan hati pria itu lebih dahulu. Dia tak ingin pria baik yang duduk di balik kemudi di sampingnya itu merasa kecewa yang luar biasa karena mungkin segalanya tak sesuai dengan harapannya. Alea sendiri tak yakin, apakah dia akan bertahan dan memaafkan atau memilih meninggalkan Luke yang mengkhianati sakralnya pernikahan. Hingga tanpa terasa keduanya sudah sampai di kediaman Dewi. Teman dari Alea itu membawa Alisha ke rumahnya karena tak ingin Alea terganggu dengan Alisha sehingga melupakan dirinya yang tengah terluka. Sesekali memang Alea butuh bantuan seseorang untuk menjaga putrinya itu sejenak untuk beristirahat saat dia sedang merasa lelah dan capai karena seharian mengerjakan pekerjaan rumah. "Kalian udah datang? Kenapa cepat sekali?" sapa Dewi saat melihat Alea dan Julian sudah sampai di rumahnya. "Iya, takut kamu kerepotan jagain Alisha." Alea menjawab seadanya. Jujur saja Alea memang khawatir Dewi kerepotan menjaga anaknya. "Padahal udah sengaja diatur sedemikian hingga supaya kamu ada waktu berdua dengan Julian," bisik Dewi kepada Alea. "Ya sudah, kalau begitu aku pamit dulu. Atau ... Alea mau langsung pulang? Biar aku antar sekalian?" tawar Julian. "Oh, tidak perlu. Terima kasih tawarannya. Dan juga ... terima kasih untuk tadi," ucap Alea sembari tersenyum. Julian mengangguk seraya tersenyum. Pria itu kemudian pamit meninggalkan Dewi dan Alea di rumah bernuansa modern milik Dewi. "Kamu kenapa menolak tawarannya?" tanya Dewi setelah keduanya masuk ke dalam rumah usai mengantar Julian hingga depan rumah. "Aku tak ingin menambah masalah saja, Wi," jawab Alea lesu. "Aku lelah dengan semua ini. Rasanya aku ingin menyerah saja," ujar Alea yang mulai terisak. "Apa aku melewatkan sesuatu?" selidik Dewi. "Kemarin, mereka melakukannya di dapur rumah kami. Bahkan dengan tak tahu malunya mereka melanjutkan kegiatan panas mereka yang terjeda karena melihat kedatanganku." "Gila!! Kau serius?" pekik Dewi. Alea mengangguk. "Alisha tidak sedang terjaga, bukan?" tanya Dewi lagi yang dijawab gelengan oleh Alea. "Bagaimana kalau kamu pindah saja?" usul Dewi. "Pindah ke mana?" *** "Al ... Alea?" seru Luke sembari mencari Alea ke seluruh ruangan di rumahnya. Pria itu sudah tiba di rumah. Namun, ia melihat rumah dalam keadaan sepi. Sepertinya Alea masih belum kembali. Luke bergegas pulang karena berpikir bahwa Alea tak mungkin berlama-lama ke luar rumah. Luke paham betul bagaimana sifat Alea yang cenderung introver. Pria itu menjatuhkan bobotnya di atas sofa di ruang tengah rumahnya. Diraihnya ponsel yang ada di dalam saku dan menekan tombol angka pada layar ponsel datar miliknya. 'Aku udah pulang. Kamu di mana? Aku jemput!' Luke mengirim pesan kepada istrinya. Dia tak sabar menanti istrinya pulang dan menemui wanita yang menghabiskan waktu bersamanya beberapa tahun ini. Luke memainkan ponselnya sembari menunggu balasan dari Alea. Hari ini dia ingin membuat kejutan bagi istrinya dengan mentraktir istrinya makan. Namun, pria itu merasa lelah untuk membuatkan makanan sebagai kejutan. Luke memesan tempat di sebuah restoran yang cukup ternama. Menurut beberapa orang, tempat itu memiliki pemandangan yang sangat indah saat malam hari. Dan menurut Luke tempat itu adalah tempat yang ia cari. Dia pikir istrinya pasti akan terhibur jika diajak ke tempat yang indah seperti itu. Tak berapa lama, terdengar suara pintu terbuka. Alea muncul dari balik pintu kayu yang cukup besar itu bersama dengan Alisha. alea terburu-buru pulang saat mendapati pesan dari Luke yang mengatakan bahwa pria itu akan menjemputnya. Sebenarnya bukan masalah kalau Luke menjemputnya. Hanya saja Alea tak ingin membuat Dewi malu saat Luke yang emosinya mudah berubah itu tiba-tiba mengajak ia ribut di kompleks hunian orang dan mengganggu sekitar. "Kamu sudah datang?" tanya Luke sumringah. "Hem," jawab Alea mengangguk singkat. Luke mengekor Alea ke kamar putri mereka. Dia mengamati Alea yang sangat hati-hati memindahkan putri kecil mereka ke atas tempat tidurnya. Luke memeluk Alea saat wanita itu hendak bangkit dari ranjang gadis kecilnya. Namun, Alea menepis tangan Luke yang melingkar di perut wanita itu. "Ada yang ingin aku bicarakan," ujar Alea yang kemudian berjalan ke arah ruang tengah rumah itu. Luke masih setia mengekor wanita itu tanpa banyak bertanya. Hingga keduanya kini sudah duduk di atas sofa dan duduk berhadapan. "Kau tak ingin tahu?" "Kalau kamu ingin cerai, maaf ... aku tak akan pernah mengabulkan keinginanmu itu," ujar Luke. Alea tersenyum miring. Dia sudah bisa mengira. Luke terlalu egois. Bahkan untuk melepaskannya saja, pria itu tak mau. "Aku hanya ingin keadilan," ujar Alea tegas. "Apa maksudmu?" "Kau dengan wanita mu, maka biarkan aku dengan pria yang lain. Bukankah itu adil?" "Jangan sembarangan bicara, Al!" seru Luke tak terima. "Aku sudah memikirkannya dengan baik. Bukankah itu sesuatu yang sudah sangat Adil? Kau tak ingin berpisah, sementara kau masih ingin berhubungan dengan wanita itu. Sementara aku? Apa kau tak pernah memikirkan bagaimana perasaanku?" Luke menundukkan wajahnya. Tubuh pria itu tampak bergetar. Sepertinya pria itu tengah menahan tangis agar suara tangisnya tak didengar Alea. "Tak bisakah kau memaafkan ku, Al? Aku hanya main-main dengannya." Luke memelas. Pria itu bersimpuh di hadapan Alea sembari mengatupkan kedua tangannya. "Hanya main-main?!" Alea melengos. "Kau sungguh menjijikkan, Luke!" geram Alea. Alea kemudian beranjak pergi meninggalkan Luke yang masih bersimpuh di tempat yang sama. Bulir bening yang berusaha ia tahan akhirnya jatuh juga. Dia tak ingin berbagi tubuh istrinya dengan pria lain. Tak akan pernah! "Aku tak akan kehilangan kamu, Al!" batin Luke.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD