KTA'S 14 - Words

2150 Words
Lantas menarik Nanta untuk semakin menepikan diri dari keramaian. "Mau pinjem hape lo, boleh?" tanya Teddy harap-harap cemas. Ia hapal dengan Nanta yang selalu menyimpan segala privasinya rapat-rapat. "Buat apa?" Nanta mulai menyelidiki. "Nge-chat Tiffany. Gue takut dia ilfill. Mau mastiin aja." "Oh." "Gue janji, Nan. Cuma buat nge-chat Tiffany doang. Nggak buat nge-chat yang lain-lain apalagi sampe ngebajak hape lo." Teddy menangkupkan kedua telapak tangannya di hadapan Nanta. "Please ... gue butuh bantuan lo, Nan." Nanta mengetuk-ngetuk layar ponselnya untuk menambah pintasan chat dari nomor telepon milik Tiffany agar Teddy tidak perlu membuka akun miliknya. Lantas menyodorkan ponselnya pada Teddy. "Mana hapemu?" tanyanya kemudian. "Bu-buat apa?" Teddy mengernyit. "Barangkali Laisa nyari saya." "Oh, ini." Tanpa pikir panjang Teddy segera memberikan ponselnya pada Nanta. "Thanks, Nan," ujar Teddy semringah. Nanta menepuk bahu Teddy. "Saya ke ruang jurnalistik dulu," pamitnya. Teddy mengangguk. Tepat di sudut area sekre ini ia berusaha untuk tetap tenang di antara luruh gemuruhnya isi d**a. Kemudian jemarinya bergerak mengklik ikon yang tampak sebagai kontak Tiffany. Tampak kolom pesan yang hanya terisi obrolan standar sebagaimana mestinya antar seorang teman. Antara Nanta yang meminjam flashdisk juga Tiffany yang bersedia meminjamkannya. Lantas beralih topik dengan Nanta yang hanya meminta untuk dikirimkan fotonya sewaktu observasi melalui email dan Tiffany memenuhinya. Ah, pantas saja gadis secantik Laisa mau bertahan dengan laki-laki yang tak pernah peduli akan penampilannya seperti sosok Nanta. Ananta'S: Tiffany. Satu pesan yang seakan memanggil sosok gadis itu terkirim. Sebisa mungkin Teddy menyamai gaya ketikannya dengan gaya ketikan Nanta. Dua menit berlalu dan pesan itu berbalas dengan satu pertanyaan. Tiffany: Iya, Nan. Kenapa? Mendadak. Teddy merasakan jemarinya bergetar dan sialnya rasa dingin pun turut merangkap kulitnya. Ananta'S: Nggak apa. Gimana sama Teddy? Udah ada feeling, kah? Deretan kalimat itu Teddy hapus kembali. Rasanya terlalu terburu-buru dan akan tampak begitu kentara. Ananta'S: Sibuk, kah? Pesan bertanda tanya itu melesat cepat. Membuatnya tak lama kemudian berbalas-balasan. Tiffany: Agak luang, sih. Kenapa emang? Ananta'S: Nggak apa. Barangkali saya ganggu waktu kamu. Cuma mau tanya sesuatu. Teddy menimbang sebelum mengirimkan pesan itu. Namun sepertinya sudah tidak ada masalah dan cukup mirip dengan gaya bahasa yang Nanta gunakan. Ananta'S: Boleh, kah? Susul satu pesan itu setelah ia mengirimkan pesan sebelumnya. Tiffany: Boleh. Tanya aja. Atau mau sekalian ketemu? "Ketemu?" Teddy menggumam tak habis pikir. "Seakrab ini dia sama Tiffany?" Ananta'S: Nggak, saya tanya lewat chat aja. Tiffany: Oke, jadi apa yang mau lo tanyain? Ananta'S: Gimana? Masih nyaman dengan orang yang kamu maksud? Entah apa yang menuntun Teddy untuk mengetikkan deretan kalimat itu. Lebih lagi saat ia tahu dari Nanta bahwa gacoannya sedang merasa nyaman dengan seseorang. Tiffany: Maksud lo? Ananta'S: Ya, dengan orang yang kamu bilang waktu itu. Tiffany: Oh itu. Masih, sih. Kenapa emang? Ananta'S: Nggak apa. Sekedar mau ngasih saran aja. Lebih baik memedulikan seseorang yang selalu ada buat kamu. Tiffany: Oh, oke. Makasih banget buat sarannya. Ananta'S: Iya, semoga bisa kamu terima dengan baik, ya. Tiffany: Iya, semoga. :) Pesan singkat itu berakhir. Teddy menatap layar ponsel milik Nanta dalam beberapa detik sebelum dirinya kembali menemui pemilik dari ponsel yang kini berada di genggamannya. Berpikir sejenak bahwa ia bisa memanfaatkan cara ini untuk mengetahui isi hati Tiffany yang rupanya terlalu dalam untuk digapainya. "Nan." Ia menyodorkan benda pipih itu pada Nanta. "Udah. Bisa lo liat sendiri isi chat gue sama Tiffany," lanjutnya. "Nggak akan saya buka," balas Nanta. "Biar itu jadi privasi kamu. Kalau selesai bilang aja. Biar saya bisa hapus tanpa harus baca isi chat ini." "Baca aja. Biar kalo Tiffany nanya, jawaban lo bisa nyambung." Nanta mengulum bibir lantas ia pun mengembalikan ponsel milik Teddy. Ia cukup enggan untuk terlibat dengan masalah perasaan Teddy terhadap Tiffany. "Ke warsun Mbok Wati, yuk. Ngisi amunisi!" Rezky berseru dari arah pintu ruang sekre. "Eliana ke mana? Nggak ngasih makan lo?" Maul menceletuk menanggapi seruan Rezky yang lantas membuatnya berdecak kesal. Rautnya yang riang pun berubah mendung. "Eliana lagi pulang kampung. Seminggu di sana." Rezky menjawab dengan lesu. "Salah sendiri lo nggak ikut." Teddy ikut menyelatuk. "Mana bisa, Bedul! Kita berangkat observasi, dia balik ke kampungnya!" Rezky kembali berseru penuh buru emosi. "Sabar, Jul. Sabar." Dari belakang Nanta menepuk-nepuk pundak Rezky. Rezky menghela napas panjang. Berusaha menormalkan amarahnya yang nyaris meledak. "Udahlah, yuk." Teddy merangkul Maul lalu melangkahkan kakinya begitu saja mendahului teman-temannya yang lain. Tanpa menunggu waktu lama mereka pun menyusul langkah Teddy. Sesampainya Nanta mendaratkan bokongnya pada bangku panjang yang melintang di dekat tembok. "Kopi item satu—." "Jangan dikasih gula." Mbok Wati menyambar bersamaan dengan senyuman khasnya yang mengembang di antara pipi bulatnya. "Ya," tanggap Nanta seraya ikut tersenyum. "Pantes aja, nih, Mas Nanta kalo pesan kopi sukanya yang pahit-pahit." Mbok Wati mulai bertutur di sela dirinya membuatkan pesanan untuk Nanta. "Loh, kenapa, Mbok?" Nanta mengernyit penuh tanya. "Senyumannya udah manis," ujar Mbok Wati lantas cekikikan menahan rasa semu malu di kedua pipinya. Nanta terkesima dengan ucapan Mbok Wati. "Oh, my God! What?! Nanta manis?!" Teddy ikut histeris. "Apa nggak salah liat, Mbok?" Maul ikut menambahkan. "Nggak kok. Emang itu faktanya." Mbok Wati menjawab dengan gaya kalem andalannya. Sedangkan Rezky hanya dapat menggeleng-gelengkan kepala seraya melirik ke arah Hans dan Adi. "Nggak boleh nyebar berita bohong, Mbok." Hans berdecap. "Ntar kena pasal, loh," lanjutnya. "Tapi makasih loh, Mbok. Saya emang manis," kelakar Adi ikut menimpal. Tawa kontan memenuhi ruangan. Membuat suasana kian riuh dan seakan siap beradu dengan siang yang menyengat. Namun dalam seperkian detik keenam anak muda itu terdiam saat sesosok idola kampus memasuki area warung Mbok Wati. "Nanta," panggil sosok itu membuat Nanta yang tengah menikmati kopi pekatnya harus menjeda. Nanta mengangkat kepala mengarahkan pandangannya pada Panji. "Ngopi dulu, Mas," sahutnya dengan santai. Teddy bergerak mendekati Nanta. "Ada urusan apa lo sama dia?" bisiknya dan hanya dibalas dengan kedikan bahu. "Bisa ikut gue sebentar?" Panji menatap Nanta dengan isyarat tidak bisa dibantah. Sambil menyulut api di ujung kreteknya Nanta bangkit menghampiri Panji. "Jagain kopi saya," pintanya pada Teddy sebelum langkahnya sampai. Teddy hanya diam mengawasi Panji. Sedangkan Nanta sudah melangkah kakinya pergi keluar dari warung dan entah berhenti di mana. Panji menghentikan langkahnya lalu menatap Nanta dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan tatapan menilai. "Gue kasih tau lo dari sekarang. Karena gue tau, Laisa nggak pernah cerita sama lo." Nanta diam mendengarkan sambil asyik sendiri mengepulkan asap rokok dengan santai. Tatapannya jatuh pada perairan dangkal dari danau buatan di hadapannya. "Lo sendiri tau kalo hubungan lo sama Laisa nggak sesuai. Dan gue nggak akan ngejelasin lagi soal ini." Panji memulai. "Jadi, lebih baik lo selesai dari Laisa. Apalagi lo juga sadar diri kan kalo hubungan kalian itu sia-sia." Nanta menoleh sekilas ke arah Panji sebelum kembali menatap perairan jernih di depannya. Ia tidak segera menanggapi ucapan Panji, tapi kemudian tersenyum penuh arti. "Kami memulai dengan cara yang baik-baik dan tanpa paksaan apapun. Jadi, menurut saya biarkan kami selesai dengan cara yang baik-baik pula. Dan untuk Mas Panji sendiri, dimohon buat nggak ikut campur antara saya dengan Laisa. Biar itu jadi urusan kami." "Iya. Gue tau dan gue paham banget soal itu. Tapi ada yang belum lo tau." Panji mengambil jeda. Menyimak wajah Nanta yang hanya tampak datar. "Lo perlu tau, kalo dalam waktu dekat ini gue tunangan sama Laisa," lanjutnya setelah menyimak raut Nanta dan tidak menemukan ekspresi yang ia inginkan. Nanta hanya mengangguk-anggukkan kepala pelan. "Kalo boleh tau kapan?" tanyanya berusaha untuk tetap terlihat santai, meski lain halnya dengan isi dadanya yang kian bergemuruh. "Tiga bulan yang akan datang. Setelah gue wisuda." "Tau-tau ngomongin wisuda. Emangnya udah sidang?" "Ya." "Wah, selamat. Jadi ikut senang dengarnya." Nanta mengulurkan tangannya. Panji melirik tangan Nanta. Lantas menjabatnya hanya dalam hitungan detik dan melepasnya dengan gegas membersihkan telapak tangannya dengan hand sanitizer. Nanta tertawa. Menertawai kekonyolan Panji. "Semoga ilmunya dapat dimanfaatkan dengan hal-hal baik," tuturnya tulus. "Amin." Hening. Keduanya saling diam. Nanta sibuk menyesap rokoknya dan Panji sibuk menatap jauh ke perairan. "Jodoh nggak ada yang tau, Mas. Kecuali Tuhan. Tapi saya harap Laisa dapat laki-laki yang layak untuknya, meski nantinya bukan saya," ucap Nanta memecah keheningan. "Oke. Gue masih ada urusan lain. Jadi pikirin baik-baik apa yang gue omongin tadi." Nanta mengangguk dan Panji beranjak dari tempatnya. *** Tanpa kata permisi cahaya senja ikut menyelinap masuk ke ruangan tatkala Nanta membuka pintu kamarnya. Rasa lelah usai seharian beraktivitas seakan ingin cepat diluruhkan bersamaan dengan tubuhnya yang direbahkan di atas pembaringan. Dengan sembarang ia menjatuhkan tas satchel-nya ke lantai usai mengambil secarik kertas putih di dalamnya lantas menarik kursi dan duduk. Ia menghela napas sejenak sebelum membuka lembaran kertas putih itu. Menatapnya cukup lama dengan membiarkan isi ruang pikirnya melanglang buana ke berbagai masa. Beban yang ingin luruh di pembaringan seakan kembali beranjak menuju puncak bahunya. Menekannya pelan sampai tak terasa kian memberat. Nanta bangkit dari duduknya, berlalu menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket. "Hai, Ted. Nanta ada?" suara Laisa menyapa Teddy yang hendak menuju dapur. "Tadi masuk ke kamar mandi tuh." Dengan wajahnya Teddy mengarahkan tatapan Laisa ke kamar mandi. "Lo baru balik?" tanya Teddy. "Iya. Gue abis beli makanan buat Nanta." Laisa mengangkat tote bag di tangan. "Buat gue mana? Masa cuma Nanta yang lo beliin?" Raut Teddy berubah memelas. "Lo beli sendiri aja," balas Laisa segera berlalu meninggalkan Teddy dan masuk ke kamar Nanta. "Gila. Enak amat jadi si Nanta. Gue ngincer Tiffany aja belum tentu dia mau sama gue." Teddy merutuk sambil kembali melangkahkan kakinya. Setibanya Laisa menaruh bungkusan yang ia bawa ke meja. Lalu duduk manis di tepi ranjang dengan bola mata mengedar ke seluruh ruang. Menatap buku-buku yang berderet tak beraturan bahkan ada tumpukan lembaran kertas di atas deretan buku-buku itu. Lalu beralih menjatuhkan netranya pada pakaian yang dibiarkan tersampir di pintu lemari yang setengah terbuka. Untuk hal ini, Laisa menghela berat. Dan lagi, matanya mengedar dan berhenti pada secarik kertas yang tergeletak di atas meja. Nanta memang bukan tipikal orang yang rajin merapikan segala sesuatu. Tangan Laisa bergerak terjulur memungut secarik kertas itu. Dalam diam ia membaca perkalimat yang ada di dalamnya. Berusaha menangkap maksud dari isi yang tersampaikan. Senyumnya mengembang, ada rasa tak percaya melihat satu hal yang baru saja dilihatnya. "La." Nanta muncul dengan sehelai handuk melingkari pinggangnya. "Sejak kapan kamu jadi pemateri di acara seminar literasi?" tanya Laisa tanpa rasa terkejut sedikitpun dengan kemunculan Nanta yang seperti itu. "Belum lama," jawab Nanta melewati Laisa begitu saja. "Waw! Hebat dong kamu. Padahal belum punya buku cetak yang terbit, tapi udah diundang jadi pemateri seminar. Mereka tau kamu suka nulis dari mana? Bukannya nggak ada yang tau soal kamu di dunia literasi?" beruntun Laisa masih merasa takjub. Nanta tidak segera menjawab. Ia segera mengenakan pakaiannya tanpa melepaskan handuk yang melilit di bagian tubuhnya. "Mungkin mereka tau karena sebelumnya saya pernah isi seminar," jawab Nanta kemudian. "Kapan? Kok aku nggak tau?" "Kira-kira sebulan yang lalu. Pas kamu lagi sibuk-sibuknya sama anak BEM. Dan saya pun jadi lupa buat ngasih tau kamu." Laisa berdecak. "Susah, ya, punya pacar pelupa kayak kamu." Nanta hanya tersenyum. "Mau jalan? Udah mandi, nih," tanyanya mengalihkan pembicaraan. "Jalan ke mana?" "Pantai, mungkin. Atau puncak?" "Aku sibuk." "Tumben." Nanta menatap Laisa bersamaan dengan senyumnya yang mengembang. "Ada tesis yang harus segera aku selesaikan." Laisa beralibi. "Oh ya?" Laisa menarik napas. "Nan." "Kenapa, Sayang? Hm?" Nanta mendekat. Menatap Laisa dari jarak yang kurang dari setengah meter. Wangi segar terhirup lembut. Menguar dalam isi kepala seperti bunga-bunga yang bermekaran. "Punggung kamu masih sakit?" "Masih dikit, sih. Tapi udah nggak apa-apa." "Kamu ada masalah?" tanya Laisa. Tampak ada kilatan sedih pada bola mata indahnya. "Ada," jujur Nanta. "Apa? Cerita sama aku." Laisa mendesak perlahan. "Nanti, ya. Saya belum siap cerita sama kamu." Nanta mengembangkan kedua sudut bibirnya meminta pengertian. Laisa hanya diam menatap Nanta. "Saya janji. Saya akan cerita sama kamu setelah semuanya berhasil saya selesaikan dengan semetinya." "Aku nggak percaya." "La," panggil Nanta halus. Kedua tangannya bergerak memegang bahu Laisa. "Masalah ini nggak ada kaitannya sama kamu. Jadi, biarkan saya lalui sendiri. Saya nggak mau melibatkan orang lain dalam masalah ini." "Kamu mau menghadapi masalah kamu sendiri?" "Saya cuma mau kamu kuatkan saya dari doa-doamu." Hening. Laisa diam. Memilih bisu, sementara ada banyak kata yang berenang di kepala. "Jadi ke pantai?" tanya Nanta. Laisa menggelengkan kepala. "Tapi kita jadi jalan, kan?" Laisa mengangkat wajahnya. Menatap Laisa yang tengah menatapnya seakan penuh harap. "Jalan ke mana?" tanyanya. "Ke mana aja. Bisa ke tempat yang kamu suka." "Tadi kamu ketemu sama Panji?" Laisa melanjutkan pertanyaannya. "Iya." Harus Laisa akui. Nanta memang selalu jujur. Tapi entah untuk satu kalimat dari pertanyaan selanjutnya. "Dia ngomong apa ke kamu?" Pertanyaannya satu ini membuat Nanta memilih diam. Mengatupkan bibirnya seakan membisu adalah cara terbaik untuk memberi jawaban. "Kamu ada sesuatu sama Panji?" Nanta mendekat. Memangkas jarak yang tersisa. Dengan pelan ia mengecup kening Laisa. "Saya ceritain semuanya sambil jalan, ya." Digandengnya tangan Laisa sementara tangannya yang lain meraih kunci motor di tas nakas. Laisa menghentikan langkahnya. Diam di tempat dan tidak mau bergerak satu langkah pun. Tatapannya lekat tepat di manik mata Nanta. TBC...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD