KTA'S 13 - Sweet Sin

2179 Words
Tangannya bergerak perlahan untuk menanggalkan pakaian yang melekat di tubuhnya. Rasa nyeri yang berpadu dengan ngilu ternyata tidak main-main sakitnya. Nanta meringis pelan bahkan harus menggigit bibir bawahnya agar tak keluar lengkingan suara penuh kesakitan yang ia tahan kuat-kuat. Ia mendesah pelan kemudian memungut sebatang rokok dan menyelipkannya di antara bibir. Disusul dengan nyala api dari pemantik yang menyulut ujung batang rokok. Asap dengan aromanya yang menenangkan lantas ikut membumbung ke udara. "Nan." Laisa masuk ke kamar dengan membawa es batu yang ia bungkus dengan sehelai sapu tangan. "Lagi keadaan kayak gini masih sempat-sempatnya kamu nyebat," omelnya kemudian. Nanta bangkit dari duduknya, lalu menghela panjang bersamaan dengan asap rokok yang keluar dari mulutnya. "Buang rokoknya, kalo nggak aku pulang." Laisa mengancam. Namun, Nanta tidak mendengarkan ancamannya. Bahkan tampak tidak takut sama sekali. Sekali lagi ia menghisap asap rokoknya. "Ada yang mau saya tanyakan, La," ucapnya setelah kembali menghela panjang. "Apa?" "Mungkin pertanyaan saya ini akan menimbulkan perdebatan antara kita." Hening. Nanta diam mengambil jeda seraya menatap Laisa tepat di sepasang irisnya. "Kalo akan seperti itu, lebih baik kita bahas nanti. Karena untuk sekarang, lebih baik obatin dulu luka kamu." "Luka di raga bisa sembuh dengan sendirinya, La. Sedangkan luka di hati nggak akan pernah sembuh sekalipun ada penawarnya." "Sepenting apa emangnya, Nan?" "Sepenting kamu di hidup saya." Tatapannya melekat pada sepasang mata indah itu. "Nan—." "La, apa yang membuat kamu mau bertahan dengan saya?" Laisa diam. Dirinya bungkam oleh duka cita yang bangkit dan menari di atas awan hujan miliknya. "Karena kamu cuma satu. Biar aku kasih tau apa yang sebenarnya membuat perempuan mau bertahan. Yang nggak lain yaitu, karena dirinya merasa selalu dibutuhkan meski nggak pernah terucap dengan kata-kata, merasa dirinya selalu dihargai padahal dirinya sendiri pun tau betapa rendahnya ia, dan terakhir merasa dirinya memang nyaman dengan sosok yang ia yakini adalah pilihan Tuhan." "Begitu, kah?" "Nan, cukup, ya. Kalaupun kamu nggak mau percaya atau memang nggak percaya. It's okay. Cuz that's not big problem." "Bohong kamu, La. Justru itu yang menjadi masalah besarnya." Nanta mendekat. Memangkas jarak wajahnya dengan Laisa seusai memadamkan bara api dari ujung rokoknya. "Saya yakin ini akan menjadi dosa terbesar saya," bisiknya tepat di telinga Laisa. Tak lama bibirnya bergerak menautkan dengan sepasang bingkai ranum gadisnya. Mengecapnya pelan seraya menuntunnya untuk ikut menari di antara awan-awan. Laisa membalasnya. Menerima tarian itu. Menikmatinya hingga terlena dan lupa dengan maksud kedatangannya ke tempat singgah Nanta. Tubuhnya pun limbung pada tilam putih halus tatkala lelakinya menuntunnya menuju tempat itu. Tanpa mereka ketahui ada sesosok tubuh berdiri dengan sepasang mata yang tengah menatap ke arah dalam ruangan melalui celah gorden yang terbuka sedikit. Meski jemarinya tengah sibuk memutar-mutar flashdisk. Nanta mendesah. Rasa sakit di punggungnya seakan semakin menjalar ke seluruh tubuh. "Maaf," ucapnya hanya mampu melontarkan satu kata tersebut. "Buat apa?" "Semuanya." "Udah terlanjur. First kiss punyaku udah kamu ambil." "La." Nanta mengeluh. "Hm." Nanta merundukkan kepalanya tepat di pangkuan Laisa. Membuatnya tampak seperti seorang anak kecil yang merindukan pangkuan dan pelukan sosok ibu. "Kamu menyesal?" tanya Laisa. "Untuk apa? Sudah terlanjur." "Nggak apa kalo kamu menyesal. Tapi dari aku happy anniversary, semoga hubungan kita direstui Tuhan." "Masa, sih, Tuhan mau merestui? Sedangkan kita nggak pernah sadar kalo kita ini pendosa yang nggak tau malu." "Entah. Jangan tanya aku. Karena aku pun nggak tau." Tangan Laisa mengusap rambut Nanta dengan halus. Dalam kenyamanan kelopaknya terpejam. Membiarkan tubuhnya perlahan mengikuti irama waktu yang tanpa ia sadari membawanya kembali pada masa yang telah silam. Telah usai dan hanya menjadi sebagian kecil dari sebuah kenangan. Meski ia masih dapat merasakan tangan gadisnya bergerak mengusap menyembuhkan luka yang biru menyembilu. Sekalipun ia masih dapat merasakan rentetan pilu di punggungnya. Tapi ada tangan lain bergerak mengusapnya penuh rindu yang hangat. Di antara sekat jarak sosok itu kembali. Datang untuk senantiasa memberi kehangatan serta ketenangan. Dalam sekejap ruangan berubah senyap dengan cahaya remang yang hanya diterangi oleh secercah cahaya dari lampu bohlam yang kerap dipaksa menyala, padahal sudah begitu tua dan renta. "Nang." Usapan lembut itu menguraikan helaian rambutnya dengan tulus juga dibalut kehangatan yang penuh dengan kerinduan. "Ngopo toh, Nang?" tanyanya penuh kasih sayang. "Aku ndak rela, Bu. Apa yang sudah menjadi milikku diambil orang lain." Ia berusaha menyeka air mata yang menembus dinding kelopaknya. Berusaha sekuat tenaga untuk meredakan hujan deras yang jatuh di pipinya. Sedangkan tangannya yang lain memeluk benda kesayangannya dengan begitu erat. "Kalau begitu kamu jaga baik-baik, ya." Nanta mengangguk. "Sudah, sini Ibu obati dulu luka-luka kamu." Ibu menjemba. Senyumnya yang hangat masih terus melekat. Usapan tulus di puncak kepalanya dari sesosok yang kini memangkunya masih belum berhenti mengelusnya. Ia lantas memeluk Nanta, merengkuh dukacita yang menyergapnya. Meredakan badai prahara yang datang mengerubunginya. "Sejak dulu, saya paling nggak rela kalau harus melepas apa yang sudah menjadi milik saya." Kalimat yang terlontar dari bibirnya memecahkan keheningan. "Tapi sayang, nggak semuanya apa yang sudah menjadi milik saya dapat benar-benar bisa menjadi milik saya," lanjutnya. "Kalau suatu hari nanti saya harus benar-benar melepasmu, setidaknya saya pernah memilikimu." Nanta menarik napas. Ia masih belum beranjak dari pangkuan Laisa. "Kita ini ibarat dua insan yang berdiri di persimpangan. Kecuali di antara kita ada yang berani menyebrangi simpang jalan itu. Ah, sayangnya saya nggak begitu berani." Laisa tersenyum getir. "Kenapa orang kayak kamu itu cuma ada satu di dunia ini?" Nanta tertawa kecil. "Karena manusia itu bukan baju seragam." "Ya, emang bukan." Laisa ikut tertawa. "Ada-ada aja kamu." Untuk kedua kalinya Nanta tertawa. "Manusia tetaplah manusia, La. Itulah kenapa Tuhan nggak menciptakan manusia dengan sama." "Itulah sebabnya Tuhan menciptakan kamu hanya satu." Laisa menambahkan. Nanta bangkit dari posisinya. "Udah hampir malam. Saya antar kamu pulang, ya." Laisa menggeleng. "Kamu kan lagi sakit. Aku bisa pulang sendiri, pesan taksi." "Kamu itu ibarat bunga di bawah sang rembulan, La. Terlalu berbahaya." Laisa tetap menggelengkan kepala. "Nggak usah memaksakan, Nan." "Saya udah mendingan. Lagipula ini cuma luka kecil. Luka yang cuma tergores karena balok, bukan karena rindu." Laisa berdecih seraya menahan senyumannya agar tidak lolos begitu saja. Sayang, kepalanya tak kuasa untuk tidak mengangguk. "Oke," putusnya kemudian. "Dengan satu syarat, kabarin aku kalo kamu udah sampai." "Beres." Sesuai janji malam yang merayap pelan memberikan keheningan yang nyaman. Lantas merengkuhnya dalam gelap dengan sisa sinar gemerlap. Langkahnya terhenti tatkala ia sudah sampai tepat di depan pintu apartemen gadisnya. Sementara Laisa melenggang masuk setelah membuka pintu. "Selamat malam." Ia melempar senyuman untuk lelakinya. "Iya, selamat malam," balas Nanta menatap Laisa. Tatapannya kian melekat seraya saling memberi isyarat dari dalam nurani. Bersama sepi seakan berbalas-balasan nyanyian hati. Laisa mengulurkan tangannya, menggapai d**a Nanta dengan jemarinya. Lalu mengangkat kedua tumitnya agar berhasil mencecap segaris bingkai yang kerap memilih bungkam. "Kalaupun kelak kita berpisah, setidaknya kita menggenggam malam yang dapat saling dimiliki," bisiknya. Tarian itu berlanjut di tengah dinginnya malam yang kian tenggelam. Menyisakan rintihan nikmat yang lolos di antara desah nan resah. Nanta sendiri tidak dapat membohongi hatinya, terlebih saat sorot netranya seakan disuguhi hamparan semesta dengan segala keistimewaannya. Ya, perempuan ibarat semesta yang tersekat jeda untuk menjelajahinya. Ada asa yang membumbung tinggi bersama cakap cakrawala yang kian meminta lebih. Nanta mengangkat wajahnya usai nyaris mencecap seluruh semestanya. Menatap awan lembayung yang juga tengah mengarahkan sepasang iris indah ke arahnya. Ia mendekat, mengecup kening gadisnya dengan hangat. "Saya nggak akan merenggut mahkotamu, La." Laisa mengangkat sudut bibirnya. "Sekalipun kamu bersedia." Nanta melanjutkan kata-katanya. "Kamu emang laki-laki baik, Nan. Makasih, ya," ucap Laisa lantas di akhir kata menenggelamkan wajahnya di pelukan hangat Nanta. "Iya." Nanta menghela napas sesaat. "Oh iya, aku kurang suka sama Bukit." Laisa memulai pembicaraan. "Bukit? Siapa dia? Gangguin kamu?" Nanta mengernyit. Lalisa sontak mendesis sebal. "Tokoh di novel Tarian Badai yang kamu kasih." "Oh, kenapa emangnya?" "Iya, kurang suka aja." "Pasti ada alasannya dong." "Ya, ada." "Terus?" "Ya, nggak apa. Aku cuma mau bilang nggak suka aja." Ucapan Laisa sukses membuat Nanta harus menghela sabar. Ia mengeratkan pelukannya lantas menggigit pelan telinga Laisa. "Oke, oke. Aku jelasin kenapa aku nggak suka sama Bukit." Laisa menyerah, baginya gigitan Nanta di telinganya seolah menjadi bentuk ancaman manis. Nanta menghentikan gigitan lembutnya. "Jadi?" "Sejak awal cerita, penulis menunjukkan kalau Bukit itu seperti bambu yang diterpa angin. Mudah terbawa sana-sini. Nggak punya prinsip, bahkan untuk hidupnya sendiri." "Oh gitu?" "Hm." Laisa mengangguk. "Saya justru nggak suka sama Anna." "Loh, kenapa? Menurut aku dia tokohnya yang patut dijadiin tokoh favorit." "Ya, tapi kenapa dia harus setega itu mengkhianati Daniel yang tulus dan serius kepadanya?" "Dia nggak mengkhianati, dia berusaha jujur." Nanta mengembangkan senyumannya. "Udah, tidur. Besok saya masuk shift pagi." "Aku udah bilang sama Bang Johan kalo kamu sakit. Katanya boleh ijin." Untuk ke sekian kalinya Nanta menghela. Dalam dirinya ada badai yang mesti diselesaikan juga tenggat rasa yang minta dituntaskan. Ditatapnya bola mata itu hingga ke iris terdalam lantas bergerak membungkam desah yang mengiringi malam. Kembali menyesapnya dengan sukacita dan lagi menjelajahi semestanya tanpa harus menceburkan diri pada lautan yang memabukkan. "Selamat malam. Semoga mimpi indah," tutupnya. Lalu mengecup kening Laisa cukup lama. Laisa mengangguk. "Kalo gitu saya pulang." Perkataannya membuat Laisa menggeleng tegas dan menolak. "Ini udah malem banget, Nan. Kalo kamu kenapa-kenapa di jalan gimana? Udah, ya. Jangan ambil resiko. Kalo kamu nggak mau satu kamar sama aku, kamu bisa tidur di kamar sebelah. Lagi pula kamu juga tau sendiri, kan? Kalo aku sewa apartemen empat kamar ini supaya kamu atau Rezky bisa nginap," jelas Laisa dalam satu tarikan napas. Nanta mengangguk-angguk pelan. "Iya, kamu tidur, ya. Saya tidur di kamar sebelah." "Please, jangan bikin aku cemas." Nanta menggelengkan kepala lantas tersenyum. Sekali lagi ia mengecup kening Laisa meski singkat. Lantas tanpa gegas beranjak dari tempatnya, berlalu meninggalkan Laisa sendiri usai kembali mengenakan kemeja kanvasnya. Menciptakan malam untuk dapat digenggam rupanya semanis ini. *** "Lo kenal siapa pelakunya?" Hans menginterogasi. Nanta menggeleng. "Asing. Saya belum pernah ketemu sebelumnya." "Gila tuh orang." Teddy ikut menggerutu. Dering ponsel yang menyala seakan menyusul gerutuan Teddy. Nanta merogoh saku celananya untuk mengambil benda pipih itu. Dilihatnya ada satu pesan masuk yang mengisi bar notifikasi tepat di layar ponsel. Urusan kita belum selesai. Gue tunggu lo di halte depan kampus malam ini. Tulis pesan singkat itu yang lantas membuat Nanta berdecak jengah. Tanpa diminta Hans merebut ponselnya. "Kita beresin sekarang aja," ujar Hans menggebu. "Udahlah, nggak usah diladenin," putus Nanta dengan malas kembali mengambil ponselnya dari tangan Hans. "Masalahnya orang kayak gini tuh nggak akan pernah berhenti gangguin lo, Nan. Kecuali lo ngelepas Laisa." Lama-lama Hans gemas sendiri dengan keputusan Nanta. "Dan bisa-bisa dia bisa teror lo, Nan." Rezky menambahkan. Nanta menggelengkan kepala pelan. Lantas memungut cangkir berisi kopi miliknya, tanpa sepatah kata apapun lagi yang keluar dari sepasang bibirnya, ia berlalu masuk ke ruang jurnalistik. Langkahnya menghampiri aquarium yang hanya terisi oleh dua ekor ikan cupang. "Ini akuariumnya kegedean nggak, sih, buat ikan cupang segede biji salak gini?" tanya Nanta meminta pendapat Maul yang baru saja ikut masuk dengannya. "Jangan sempit-sempit. Ntar kayak otak lo." Bukannya menjawab, Maul malah menyindir. Nanta berdecak. Lantas kembali keluar menemui teman-temannya. "Oke, saya udah ngambil keputusan buat masalah ini." Mereka mengalihkan perhatiannya pada Nanta. Menatapnya penuh dan tidak main-main. "Apa keputusan lo?" tanya Hans curiga. "Saya akan melakukannya sendiri. Dan buat kalian tenang aja, nanti saya beri tau kelanjutannya," jawab Nanta tidak lagi ingin memperpanjang masalahnya. Hans berdecak agak kecewa. "Lo nggak percaya sama kita?" "Ini bukan soal kepercayaan, Bang. Saya cuma nggak mau melibatkan kalian. Lagipula ini murni urusan saya." "Oke. Yang penting kalo ada apa-apa. Lo bilang sama kita." Teddy memberi jalan tengah. Tangannya terulur menepuk-nepuk bahu Nanta. Nanta hanya mengangguk dan membalas tepukan Teddy di bahunya. Suara ponsel miliknya yang berdering cukup lama membuat Nanta lantas harus menepikan diri. Mengambil jarak cukup jauh setelah tahu siapa penelepon di seberang sana. "Ya, Mas. Ada apa?" tanyanya untuk seseorang di seberang. "Tanggal 8 mau ada demo. Kamu ikut?" "Ndak tau, Mas." "Tapi ada kemungkinan?" "Ya, gimana nanti aja, Mas." "Mas saranin kamu buat ndak ikut demo, ya. Tapi terserah kamu." "Mas Handara sendiri gimana? Kabarnya buruh juga banyak yang ikut." "Ndak. Mas ndak ikut." "Kenapa, Mas?" "Banyak kerjaan. Tanggal segitu Mas harus antar barang ke luar kota." "Bener?" "Ngapain Mas bohong sih, Nan?" "Terus Mas Andi gimana?" "Tanya aja langsung sama orangnya. Mas ndak tau." "Oh ya udah." "Inget, yo. Ndak usah ikut demo." "Bapak juga ngelarang aku yo, Mas?" Handara menghening di seberang. "Mas." "Eh, Nan. Mbok ya sadar diri sama keadaanmu, loh. Kalo tiba-tiba kolaps gimana?" "Aku kan udah sembuh." "Nih anak, ngelawan terus sama orang tua. Inget loh, umur kamu sama Mas beda jauh." "Cuma beda empat tahun tok, Mas." Handara berdecak kesal sekaligus pasrah. "Mas, sampe kapan anggap aku pesakitan?" "Nan, ini semua buat kebaikanmu, loh." "Iya, Mas. Aku ngerti. Tapi mbok ya, berhenti anggap aku sebagai orang yang pesakitan, Mas." "Makanya sadar diri." Nanta menghela sabar. "Udah, yo. Mas masih banyak urusan lain." "Yo." Ditatapanya ponsel itu sebelum berkedip dan mati. Tak habis pikir dengan cara Handara mengkhawatirkannya. Tubuhnya berbalik. Namun dalam seperkian detik jantungnya harus diuji dengan kemunculan Teddy yang secara tiba-tiba. "Nan." Teddy memanggil. Wajahnya tampak lesu. "Kenapa?" Teddy tidak segera menjawab satu pertanyaan dari Nanta. Ia menggaruk telinganya dengan resah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD