"Maksud saya jangan dalam waktu sesingkat itu. Saran saya kamu harus kenal dulu siapa Tiffany," lanjut Nanta menjelaskan.
"Kenapa emangnya? Dia cerita sesuatu sama lo?"
"Ya, ada. Sedikit-banyaknya dia cerita ke saya."
"Cerita gimana?"
Nanta berdeham kecil. Ia meluruskan matanya ke arah Teddy. "Dia sih cuma bilang ke saya kalo dia lagi nyaman sama seseorang. Entah, saya juga nggak tau orang itu siapa. Yang pasti, saya rasa itu bukan kamu."
Wajah melemas terpatri di wajah Teddy.
"Sabar, Ted. Tuhan selalu punya rencana dan sebaik-baik rencana adalah rencana Tuhan." Bang Johan melanjutkan lantas menepuk-nepuk bahu Teddy sebelum berlalu.
"Jadi menurut saya kamu masih harus lebih mengenalnya," ucap Nanta setelah menyudahi pekerjaannya. Ia kembali melangkah menghampiri tiang gantung yang berdiri di dekat pintu koboi. Lantas melepas kain celemek yang membungkus separuh tubuhnya dan menggantungkannya.
"Jangan buru-buru. Yang penting kamu bisa ngasih dia kepastian. Jangan seperti saya." Setelah mengatakan itu Nanta berlalu menghampiri teman-temannya yang juga hendak pulang.
Gegas Teddy mengejarnya bahkan menguntit setiap langkahnya dengan tetap berdiri di samping Nanta. Hingga suasana kafe benar-benar sepi dengan hanya menyisakan dirinya, Bang Johan dan satu karyawan baru.
"Lo bisa ngasih kepastian ke Laisa, Nan," ujarnya.
"Kepastian apa lagi, Ted? Saya nggak punya kuasa."
"Seenggaknya lo punya sebuah keputusan."
Nanta menggeleng-gelengkan kepala.
"Pisah atau nikah." Teddy kembali melanjutkan.
Sontak ucapannya itu menimbulkan gedebam keras di dalam d**a Nanta. "Pernikahan dan perpisahan nggak bisa sesederhana itu, Ted."
"Semuanya bisa disederhanakan, Nan. Lo masih percaya kuasa Tuhan, kan?"
Kedua mata Nanta jatuh tepat di sepasang iris tajam milik Teddy yang sepertinya tidak sedang bercanda. Ah, lagipula sejak awal pun siapa yang sedang bercanda? Ia diam, membiarkan alur pikirnya mengunci bibirnya untuk tidak bersuara.
"Jangan jadi ateis hanya karena cinta, Nan. Jadi, gue mau ingetin lo soal Tuhan meskipun gue nggak sereligius lo."
"Oke." Iya, ia nyaris lupa dengan keberadaan Tuhan.
"Libatkan segala urusan lo dengan Tuhan, Nan." Teddy menepuk bahu Nanta.
"Makasih banget udah ingetin saya," ucap Nanta tulus lantas tersenyum.
***
Uluran satu tangan yang dipenuhi dengan berkas-berkas membuat Laisa mengangkat kepala, lalu tatapannya bergantian tertuju ke arah si pemilik tangan tersebut. "Semua udah oke. Tinggal gladi resik," katanya.
Laisa mengangguk sambil menerima puluhan lembaran kertas dari tangan Panji. Lantas bergegas menuju ruang aula tanpa berkata apapun pada laki-laki itu.
"Um ..., La." Panji segera mencegat langkah Laisa.
Kedua alis Laisa terangkat dengan sepasang bola mata yang tertuju pada laki-laki itu.
"Besok malam ada party, cuma acara anniversary pernikahan mama sama papa. Gue mau ajak lo buat ke sana. Mau, kan?" Panji memang selalu to the point termasuk perihal apa pun itu.
Laisa menghela napas. "Beberapa hari ini gue sibuk. Ada beberapa paper yang harus gue selesaikan. Jadi, makasih banget atas ajakannya, meski sayangnya gue nggak bisa dateng ke acara party lo," jawabnya.
"Kalo gue maksa?"
"Tulang rusuk itu tercipta dengan bentuk yang melengkung. Kalau dipaksa lurus, ia akan patah." Suara itu menjawab kata-kata yang Panji lontarkan pada Laisa.
"Saya mau minta lembar daftar hadir sama nomor kelompok peserta, Karin bilang ada sama kamu," lanjut sesosok itu tanpa memedulikan kehadiran Panji lagi dan tatapannya lebih mementingkan untuk tertuju ke arah gadis di sampingnya.
"Oh iya, ini." Laisa memberikan selembar kertas dan kartu pada Nanta.
"Makasih, ya." Nanta melempar senyum manisnya dan Laisa menangkap senyum itu dengan anggukan kepala.
"Kamu abis ini mau ke mana?" tanya Laisa seolah benar-benar tidak ada Panji di sekitarnya. Padahal laki-laki itu sedang menatap Nanta dengan matanya yang menyimpan rasa berang.
"Kelas."
Dengan satu tarikan tangannya, Laisa segera membawa Nanta menuju tempat yang laki-laki itu sebutkan.
"Untung kamu dateng," leganya setelah berhasil menghilang dari sosok Panji.
Tangan Nanta terulur mengusap puncak kepala Laisa. Entah mengapa hal sesederhana ini justru menjadi hal favoritnya. Rasanya seperti ada mantra ajaib yang menyelubungi isi hatinya dan lalu membasuhnya dengan sejuknya embun pagi.
Langkah Nanta terhenti saat dirinya telah sampai di depan pintu ruang aula. "Saya ke kelas dulu, ya. Kalau ada sesuatu telepon langsung aja."
"Siap, Boss!" Laisa mengangkat ibu jarinya dengan mantap. "Tapi kamu juga siap, kan, ikut aku ke ulang tahun Oma?"
"Belum tau, sih. Kalo soal itu, gimana nanti aja, ya. Apalagi Oma kamu sensitif kalo ada saya."
Laisa mendesah berat. "Oke deh."
Nanta mengangguk lalu pamit pergi.
Di tempatnya berdiri kedua mata Laisa masih tertuju kepada sosok Nanta yang semakin menjauh dengan langkahnya menuju sebuah kelas di ujung koridor. Namun ia harus menyipitkan selaput matanya tatkala melihat seorang gadis menghampiri Nanta, lalu mengulurkan tangannya untuk meminta berjabat tangan sejenak.
"Kak Nanta."
Suara dari sesosok gadis yang memanggilnya membuat langkah Nanta terhenti. Tak lama kemudian muncul sosok itu dari belokan koridor dan menghampirinya.
"Saya Briya, Kak, mahasiswi dari jurusan Sistem Informatika semester dua. Senang bertemu dengan Kakak dan saya juga nggak nyangka kalau ternyata satu kampus dengan Kakak," ucap gadis itu menggebu.
"Ah, iya. Senang bertemu denganmu juga, Bri," balas Nanta yang sebenarnya menyimpan tanda tanya di dalam kepala mengenai siapa sosok di depannya ini.
"Saya pernah ikut seminar tentang literasi di Komunitas Pena Literasi Nusantara dan Kakak yang menjadi pematerinya." Briya menjelaskan.
"Oh iya."
"Saya juga suka dengan penyampaian Kakak saat membawakan tema seminar."
"Terima kasih."
"Sebelumnya apa boleh meminta waktu Kakak sebentar? Karena ada hal yang ingin saya sampaikan."
"Iya, boleh."
"Saya perwakilan dari Komunitas Peduli Sastra ingin mengundang Kakak sebagai pemateri dalam acara seminar kami bulan depan. Dan ini undangannya." Di akhir kalimatnya Briya menyerahkan selembar amplop putih pada Nanta.
Nanta menerima lembar kertas tersebut. "Insyaallah besok saya kabari lagi, ya."
"Iya, Kak. Kalo gitu saya pamit dulu."
Gadis itu meluncur ke arah asal dirinya muncul. Sementara Nanta membolak-balikkan secarik surat undangan yang kini ada di tangannya. Membukanya lalu membaca deretan kalimatnya sesaat. Lantas gegas melanjutkan langkahnya menuju kelas.
***
Tepuk tangan terdengar riuh setelah seorang mahasiswa menyampaikan pendapatnya.
"Silakan, apa ada yang ingin memberi tambahan atau menyanggah?" Sang moderator berujar.
Uluran tangan yang terangkat ke atas dari sosok idola seluruh mahasiswi sukses membuat gemuruh tepuk tangan kembali riuh. Padahal sosok itu bicara saja belum. Ah, rupanya begitu kuat sosok dari seorang Panji.
"Saya ingin menambahkan satu hal terkait pemanfaatan energi panas bumi yang disampaikan oleh Saudara Sandy, bahwa seperti yang telah kita ketahui jika energi panas bumi adalah energi yang dapat dimanfaatkan sebagai energi terbarukan yang ramah lingkungan. Dalam pemaksimalan pemanfaatannya pun pemerintah merancang Pasal 74 Undang-undang Nomor 21 tahun 2014 yang berbunyi 'Setiap Orang yang dengan sengaja menghalangi atau merintangi pengusahaan Panas Bumi untuk Pemanfaatan Tidak Langsung terhadap pemegang Izin Panas Bumi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 46 huruf b dipidana dengan pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun atau pidana denda paling banyak Rp. 70.000.000.000,00 (tujuh puluh miliar rupiah).' Dalam konteks ini pun dapat kita lihat kepedulian pemerintah terhadap pembangunan negara dan sayangnya kerap menjadi kontra antara pemerintah dan rakyatnya."
Kembali riuh saat mereka bertepuk tangan. Entah karena apa banyak makhluk bergelar mahasiswa yang termakan ucapan Panji.
"Baik, apa ada yang ingin memberi komentar?"
Semua diam. Hans sendiri memilih untuk menyenggol bahu Nanta. "Giliran lo yang ngomong," katanya pada Nanta yang tampak sibuk mencatat pendapatnya.
Tepuk tangan yang riuh seketika senyap tatkala Nanta mengangkat tangan dengan dua jarinya mengapit bolpoin. Sedangkan matanya tertuju pada tulisan tangannya yang lebih mirip dengan cacing kering.
"Tepat sekali apa yang telah disampaikan oleh Mas Panji. Silakan applause untuk Mas Panji," katanya yang lantas disusul gemuruh riuh tepuk tangan.
"Baik, cukup. Memang benar, energi panas bumi adalah energi terbarukan dan ramah lingkungan, sehingga demi kelancaran pemanfaatannya pun pemerintah harus merancang undang-undang khusus. Dalam hal ini, saya ingin mempertanyakan kontra yang seperti apa yang terjadi antara pemerintah dan rakyat? Bisa tolong jelaskan?"
Perdebatan pun dimulai.
"Saya tahu, Anda menginginkan jawaban yang lebih aplikatif dari saya. Tapi saya tidak akan menjelaskan panjang lebar, karena bisa Anda lihat sendiri dengan kontra yang terjadi antara pemerintah dan masyarakat setempat untuk menolak pengembangan ekstraksi panas bumi. Padahal pengembangan ini memiliki masa depan yang jelas untuk negeri."
"Ya, masa depan yang jelas menghancurkan." Hans menyambar tanpa permisi.
"Mohon untuk tidak menyela." Sang moderator berusaha menengahi.
"Sebelum lebih lanjut, ada hal yang perlu kita ketahui terutama mengenai teknik yang digunakan untuk pengembangan energi panas bumi menjadi energi yang terbarukan dan ramah lingkungan. Teknik yang digunakan dalam pemanfaatan energi panas bumi di negara kita yaitu teknik fracking. Di mana prosesnya akan cukup menguras sumber mata air. Sebab pengeboran dilakukan dengan menggunakan air untuk memecah pori-pori batuan, sehingga gas dapat keluar menuju sumur-sumur produksi. Nah, hal ini yang menjadi masalah besar dan amat kontradiktif. Lebih lagi, masyarakat sekitar menggantungkan hidupnya dengan aliran air yang bersumber langsung dari curug. Jadi, masyakarat menolak bukan karena tidak setuju dengan rencana yang pemerintah canangkan, melainkan karena proses pengekstrasiannya yang memiliki dampak buruk bagi ekosistem sekitar. Andai ada cara atau teknik lain untuk memaksimalkan pemanfaatan energi panas bumi dengan benar-benar ramah lingkungan, bisa jadi masyarakat akan setuju dan siap membantu. Terlebih bahwa energi panas bumi adalah energi yang tidak akan pernah habis dalam pemanfaatannya. Sekian."
Tepuk tangan mengalun lebih riuh dari sebelumnya. Nahas, bukan itu yang Nanta inginkan, bukan pula pujian yang tanpa segan terlontar kepadanya.
"Bagus Ananta. Bapak bangga dengan kamu," ucap Pak Samir memuji setelah acara diskusi interaktif selesai dan semua orang berhambur keluar ruangan.
Nanta hanya menundukkan kepala sebagai tanda terima kasih. Meski dalam hatinya ia terus meronta untuk tidak lekas menerima pujian itu.
Pak Samir pamit berlalu usai mengajaknya berbincang dengan tetap memberikan wejangan pada Nanta, tak lama kemudian Laisa datang dengan dua jempol yang terjulur ke arahnya. Cepat-cepat Nanta menurunkan ujung ibu jari yang Laisa arahkan kepadanya.
"Cukup, La. Nggak usah berlebihan," ucapnya sungkan.
"Eh, ini nggak berlebihan, loh. Karena akhirnya ada yang bisa membuat bungkam sosok Panji." Laisa berujar pelan. Berbisik tepat di telinga Nanta lalu terkekeh kecil. "Tadi aku videoin kamu, terus aku kirim ke Papa. Dan Papa bilang kalo dia bangga banget punya calon menantu kayak kamu," tambahnya sambil menunjukkan layar ponsel miliknya.
Nanta menghela berat. Ia hanya mampu menganggukkan kepala dan mengiakan segala ucapan Laisa.
"Aku juga bangga sama kamu." Senyuman tulus milik Laisa merekah.
Nanta membalasnya hanya dengan senyum simpul sederhana miliknya.
"Kamu duluan, ya. Aku masih harus briefing," ucap Laisa kemudian memberi kecupan singkat tepat di pipi Nanta sebelum dirinya meluncur menuju aula.
Nanta hanya menganggukkan kepalanya lagi. Tanpa sadar jemari tangannya bergerak menyentuh pipinya yang terasa seperti ada getaran aneh merambat perlahan menuju pusat denyut nadi. Ia terkekeh kecil. Rasanya seakan selalu ada pohon baru yang tumbuh dari dalam jiwanya hanya karena perlakuan manis Laisa kepadanya, lantas tumbuh berkembang menjadi pohon yang kokoh menanungi segala asanya.
Langkah Nanta terayun menuju area parkir tepat di belakang gedung fakultas. Menuruni puluhan anak tangga dan melewati dua lantai yang kemudian langsung berakhir di lantai parkir. Namun tatkala dirinya mulai menunggangi motor, hantaman keras mengenai bahunya sampai membuat tubuhnya nyaris limbung ke tanah.
Suasana area parkir yang sunyi membuat sosok itu kembali beraksi. Nanta menoleh ke belakang menatap si pelaku yang tengah mencengkeram erat balok kayu panjang di tangannya, yang kemudian mengayun bebas untuk kembali dihantamkan tepat di wajah Nanta. Dengan gesit Nanta menghindar dari serangan itu.
Sorot mata Nanta tertuju pada orang itu yang juga sedang mengarahkan sepasang irisnya dengan tajam.
"Urusan kita nggak akan pernah selesai selama lo masih berhubungan sama Puti!" tegas orang itu lantas berlalu.
Helaan napas berat membumbung ke udara. Sesuatu yang pening seolah datang menindih isi kepalanya. Nanta menyapu wajahnya dengan pasrah. Langkahnya gontai menghampiri kuda besi yang sejak tadi menunggu untuk segera ditunggangi.
Bruk!
Sesuatu yang hangat dan erat melingkari tubuhnya. "Kamu nggak apa-apa?" tanyanya selang tiga puluh detik berlalu.
"Nggak apa," jawab Nanta seraya menghela napas. Lalu diusapnya puncak kepala Laisa. Meski ada rasa nyeri yang menyergap punggungnya.
"Ada yang sakit?"
Nanta menggeleng.
"Tadi aku dapat laporan dari Vira kalo tiba-tiba ada yang nyerang kamu pake balok."
"Nggak apa, orangnya udah pergi."
"Nan, kamu ada masalah apa, sih?"
Dan lagi, Nanta hanya mampu menggelengkan kepala tanpa mengerti apa yang sebenarnya terjadi. "Nggak tau, La. Tapi kamu tenang aja, semuanya udah oke. Orangnya juga udah pergi."
"Bisa aja dia balik lagi sewaktu-waktu." Laisa berdecak.
"Udahlah. Nggak usah di pikirin."
"Nan, ini tuh bukan masalah kecil."
"Iya, saya tau, La."
Hening. Laisa menatap raut Nanta yang sebenarnya dipenuhi rasa kalut. Namun Nanta tetaplah Nanta, sosok yang selalu bisu di tengah rasa sakitnya yang mendera, sosok yang tak akan pernah terlonjak girang tatkala dirinya sedang senang, dan sosok yang akan selalu menyimpan semuanya dalam diam. Iya, sosok yang tak pandai berekspresi.
"Aku mohon, kamu cerita sama aku." Suara Laisa terdengar parau. Seperti ada sesak yang melesak memenuhi isi dadanya.
"Udah sore, kita pulang dulu," putus Nanta tidak ingin lagi memperpanjang perdebatannya.
Laisa memalingkan wajahnya. Menyembunyikan rembesan air hujan yang jatuh membasahi kedua sisi wajahnya.
"It's okay, La. Semuanya akan berlalu." Nanta mengusap bahu Laisa. Berusaha menenangkan gadisnya.