Di antara hangatnya atmosfer ada rasa yang mengawang-awang hebat. Yang menerkam kuat, lantas mengikatnya dalam jerat. Ah, sebelum hal itu terjadi atas kesilapannya, Nanta segera bangkit. Ia tak ingin hal pahit yang pernah ia rasakan terjadi lagi. Ia tidak ingin kembali jatuh pada lubang yang sama.
Kemudian kakinya melangkah menuju dapur. Dan berhenti tepat di hadapan lemari pendingin yang berdiri tegak di tepi dapur. Lalu menarik kenop pintu kulkas. Namun detik berikutnya setelah pintu kulkas terbuka, Nanta termangu menatap lemari pendingin yang berisi penuh makanan. Dan ... tertata begitu rapi. Bahkan tampaknya tumpukan dedaunan dari sayur-mayur pun ikut tertata rapi.
"Se-semalaman aku nggak bisa tidur. Aku kambuh." Usai mengatakan itu Laisa mengulum bibirnya. Menatap Nanta dengan perasaan kalut.
Nanta menolehkan kepala ke arah gadisnya. Sialnya, ia baru menyadari lingkaran hitam yang tersamarkan oleh riasan wajah yang Laisa pakai. Ia kembali menghampiri Laisa, lantas dipeluknya erat sampai terdengar suara gedebam keras dari balik dadanya.
"Ada yang kamu cemaskan?" tanya Nanta berharap kalau itu bukan pertanyaan bodoh yang keluar dari sepasang bibirnya.
"Selalu ada."
"La." Nanta mendesah. Lalu ditatapnya Laisa tepat di sepasang manik matanya yang cokelat. Indah.
"Nggak ada yang perlu kamu cemaskan."
"Aku udah mencoba, Nan."
"La. Dengar, kita hanya perlu menjalani yang sedang kita jalani."
"Tapi agar bisa berjalan, kita harus punya rencana, kan?"
"Nggak, La. Kita nggak butuh rencana—."
"Kita butuh, Nan. Meskipun Tuhan yang menentukan. Tapi kita tetap butuh perencanaan."
Benar. Nanta merasa dirinya sangat bodoh dalam seketika. Ah, ia teramat bodoh untuk mewujudkan rasa sayangnya pada Laisa.
"Oke. Kamu menang. Tapi ada hal yang harus selalu kamu ingat. Bahwa segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik."
"Kamu bilang aku berlebihan?"
"Bisa jadi." Jauh di dalam lubuk hatinya Nanta berdoa, semoga pengakuannya tidak membuat Laisa semakin berpikir negatif.
Gadisnya terdiam dengan sepasang mata yang menatap kosong.
"Oke. Sepertinya kita harus selalu ingat saran dari Dokter Maurin waktu kamu konsultasi, dengan coba belajar pelan-pelan untuk nggak terlalu menghiraukan benda-benda yang memang nggak perlu kamu bereskan. Meski tata letaknya bikin kamu gemas. Tapi percayalah, aku yang lebih menggemaskan." Nanta terkekeh, merasa geli sendiri dengan akhir kalimatnya.
Hal itu pun membuat Laisa berdecak sebal, lalu tangannya bergerak mencubit lengan Nanta dengan pelan.
Segaris lengkung manis timbul dari sepasang bibir Nanta. "Apalagi kamu ditakdirkan untuk menjadi pacar dari seorang Nanta. Seorang yang nggak begitu memedulikan penampilan dan segalanya, karena yang penting nyaman."
"Bukannya kita harus memedulikan segala hal supaya tetap nyaman?" tanya Laisa.
"Masuk akal." Nanta menggumam kagum. Laisa memang gadis yang cerdas. "Saya bangga sama kamu," jujurnya sepenuh hati. Lalu menarik napas. "Sayangnya saya harus menyangkal." Ia mengambil jeda sejenak.
"Justru, karena kita terlalu peduli pada segala hal termasuk hal-hal yang sebenarnya nggak begitu perlu. Kita nggak akan merasakan kenyamanan yang kita maksud selama ini. Sebaliknya, ketika kita peduli dengan seperlunya saja. Kita justru akan tahu di mana letak kenyamanan kita, La."
Laisa diam, lantas menundukkan kepala. Menghela napas pelan. "Sekarang kamu yang menang," ungkapnya. "Dan selama ini, aku nggak pernah benar-benar bisa nyaman sama keadaanku yang seperti ini." Lantas mengakui.
"Tapi kamu tetap nyaman sama saya, kan?"
"Kok tanya gitu?" Laisa memprotes.
"Nggak apa-apa. Barangkali ada kelakuanku yang nggak bikin kamu nyaman."
"Banyak!" teriak Laisa.
Nanta hanya tertawa. Namun tawanya perlahan menghilang, bergantian dengan ibu jarinya yang bergerak pelan menyentuh bibir Laisa.
"Boleh saya sentuh bibir kamu?"
"Bu-buat apa?" Laisa terbata dengan sepasang iris tertuju kaku ke arah Nanta. Sedangkan Nanta, kedua matanya sudah jatuh tepat di sepasang bibir ranum Laisa.
"Dancing on your lips," jawabnya pelan dan begitu dalam.
Detak yang semula berdebar kini justru mendadak menjadi ledakan hebat yang nyaris meluluhlantakkan segala organ dalamnya. Juga kupu-kupu yang telah begitu lama tertidur di dalam perutnya, kini seakan ikut berkeliaran terbang hambur memenuhi lambungnya. Baru kali ini Laisa melihat Nanta begitu berani mengatakan hal yang biasanya paling dihindari oleh laki-laki itu. Dan bodohnya, tanpa sadar kepalanya mengangguk. Memberi kata iya yang tak mampu ia berikan suara.
Nanta menunduk dan perlahan memangkas jarak antara dirinya dengan Laisa. Lalu memiringkan kepalanya untuk segera menyesap segaris manis yang hanya tersisa jarak dua sentimeter. Beberapa detik, Nanta menatap bibir yang tampak tergigit manis oleh deretan gigi milik gadisnya sendiri. Sukses membuat alam bawah sadarnya meraung ingin menyentuh dengan seutuhnya, bahkan kalau perlu sepanjang malam ia menari bersama gadisnya di bawah remang cahaya hangat ruangan.
Puluhan detik berlalu dan segaris senyum itu belum juga ia tautkan dengan sentuhannya yang hangat. Nanta menghela pelan lalu kedua tangannya menarik tengkuk leher Laisa bersamaan dengan tubuhnya yang menegak. Bibirnya pun ia jatuhkan pada kening Laisa. Menciumnya cukup lama.
"Sekalipun kamu bersedia untuk memberikan semuanya. Saya nggak akan pernah mengambilnya sebelum melewati tali pernikahan. Sebab, kamu terlalu berharga untuk saya sentuh sekarang, La."
Laisa tertegun. Menatap Nanta dengan binar mata yang nyaris tumpah. Kedua tangannya terulur ke depan lantas meraih tubuh Nanta untuk dipeluknya erat-erat.
Dan lagi, untuk Nanta senyumannya mengembang sempurna. Ia merasa telah menjadi pemenang hanya karena berhasil meredam keinginan yang bukan menjadi haknya.
"Malam ini saya ada diskusi dengan teman-teman di kafe. Jadi saya mau pulang dulu ke kosan, belum mandi dari pagi." Nanta terkekeh atas pengakuannya.
Sontak Laisa menatapnya sebal. Meski dua detik kemudian rasa sebal itu hilang tatkala menangkap tawa kecil Nanta. Ah, memang. Nanta tidak pernah berubah. Ia tetap selalu menjadi dirinya sendiri tanpa kehendak orang lain sekalipun dirinya.
"Nggak kuat. Di rumah Tiffany airnya dingin." Nanta melenguh manja dan sukses membuat Laisa tertawa.
"Tapi udah ada pelukan aku jadi hangat, kan?" Laisa mempererat pelukannya lagi.
Nanta terkekeh lagi. Lalu dikecupnya puncak kepala Laisa. "Mungkin ini akan terasa sedikit berlebihan, kalau kamu memang penghangat sekaligus penyemangat untuk saya."
Entahlah, Laisa harus benar-benar percaya atau cukup mempercayainya saja. Namun sayang, dirinya sudah terlanjur mengawang ke udara yang membawanya melesat bersama cahaya. Dan Nanta seperti malaikat yang memiliki dua sayap besar di punggungnya yang membawanya menuju nirwana keabadian.
***
Lonceng di ujung pintu berbunyi membuat beberapa kepala menoleh ke arah sesosok yang baru saja datang. Suara dari derap langkah kaki beralaskan sepatu boot pun ikut sukses membuat sekumpulan pemuda-pemudi menelengkan kepalanya. Tak lama kemudian mereka bersorak riuh mengunjukkan rasa protesnya.
"Kemana aja sih, lo? Kenapa baru dateng?" runtut salah seorang temannya.
"Sori, tadi macet banget," alibinya tidak ingin ambil pusing.
"Alasan klise," sambung sesosok yang duduk di pojokan dekat rak buku. Kedua matanya tampak tetap fokus pada lembaran kertas yang sedang dibacanya.
"Emang macet, kok." Ia mengajukan pembelaan.
"Paling lo mah macetnya di kosan gebetan." Rezky menyerang dengan santai sambil menyesap kopi pekatnya.
Pernyataan Rezky membuatnya perlahan tidak bisa berlagak menjadi orang penting. "Udah, nggak usah sok penting. Duduk sini!" Hans menariknya.
"Tadi diskusi sampe mana?" tanya Teddy.
"Udah selesai," jawab Nanta menoleh sedikit ke arah Teddy.
"Lagian lo kelamaan, Mukidi!" Rezky menoyor kepala Teddy dengan gemas.
"Udah, waktunya kita ngobrol santai." Adi mengambil posisi.
"Perihal kelanjutan dari teknik fracking dalam memanfaatkan panas bumi, setelah kita tinjau kemarin ada banyak dampak kerusakan lingkungan yang terjadi. Padahal satu teknik ini dipercaya menjadi cara yang efektif juga ramah lingkungan. Apakah kata efektif dan ramah lingkungan pada teknik fracking ini bisa kita katakan tepat, sementara pada kenyataannya ada banyak kerusakan yang disebabkan?" Nanta mengajukan pertanyaannya.
"No." Dan Radit segera menimpali, "Menurut gue pribadi untuk keefektifan mungkin, ya. Tapi untuk ramah lingkungan gue rasa nggak sama sekali. Karena hal yang benar-benar ramah lingkungan pasti tidak akan memiliki dampak yang merusak bagi lingkungan."
"Right. Gue setuju sama pendapat lo, Dit." Kirana menguatkan.
"Lalu, apa ada cara lain selain fracking untuk memaksimalkan pemanfaatan energi panas bumi?" Nanta melanjutkan pertanyaannya.
Semua diam. Saling melirik satu sama lain. Seolah saling melempar tanda tanya yang memenuhi kepala.
"Ada. Yaitu metode seismik pasif, di mana penggunaannya lebih memanfaatkan getaran dari alam dalam skala kecil. Sayangnya metode seismik pasif ini pemanfaatannya di negara kita masih sangat jarang digunakan untuk memaksimalkan penggunaan energi panas bumi." Kirana menjelaskan.
"Lalu sederhananya bagaimana cara kerja dari metode seismik pasif ini?" Nanta masih ingin bertanya dan Kirana habis-habisan harus memeras isi otaknya.
Juga malam yang rupanya turut tak mampu melarutkan masanya di antara gelap dan menerawang. Serta sunyi yang perlahan ikut hadir berbunyi di antara suasana dan kian menyepi. Untuk ke sekian kali, Nanta menyesap kopi pekatnya yang hanya tersisa sedikit. Ia sendiri baru kali ini memiliki rasa ingin tahu dari inti diskusi. Sungguh, padahal biasanya apapun yang menjadi bahan diskusi ia tidak peduli.
Maul menarik kursi ke depan, mata kantuknya masih turut hadir menyimak penjelasan dari Kirana. Nanta melirik ke arah Maul tentu tanpa disadari oleh sosoknya. Ada senyum yang mengembang tipis dari sudut bibir Maul dan berhasil ditangkap oleh retinanya. Sedikit, ia lantas memperhatikan makna di balik tatapan kantuk itu, yang menatap jauh ke arah Kirana. Lebih jauh dari yang sedang ia pikirkan sekarang.
"Kok lo betah jomblo, sih, Ma?" tanya Rezky sewaktu-waktu.
"Gue suka cewek yang cerdas," jawab Maul kala itu. "Dan belum nemu yang cerdasnya sesuai dengan versi gue."
"Mereka punya versi cerdasnya masing-masing. Nggak bisa lo bandingin."
"Gue nggak membandingkan. Lagipula setiap versi bisa dijadikan satu kalau itu cocok."
Setelah diingat lagi obrolan kala itu, sepertinya Maul mulai menemukan gadis cerdas yang ia butuhkan. Ah ... Nanta mendesah panjang lalu matanya mengedar ke berbagai sudut ruang kafe tempatnya bekerja. Cukup berantakan, lebih lagi dirinya harus ikut diskusi. Sementara Teddy tengah menikmati masa liburnya. Pasti Bang Johan sedang begitu sibuk membereskan dapur dengan karyawan barunya.
"Saya mau beres-beres dapur dulu. Kalian lanjutkan saja dulu," pamit Nanta saat menuju ujung diskusi kemudian beranjak dari tempatnya duduk.
Karina pun telah selesai menjelaskan pertanyaan yang Nanta ajukan dan hanya tersisa obrolan-obrolan kecil dibarengi dengan tawa ringan.
Suara dering ponsel miliknya merayap tatkala tubuhnya baru saja melewati pintu koboi dan memasuki area dapur. Nanta lekas mengambil benda pipih di dalam kantong celananya dan tampak nama si pemanggil.
"Kenapa, La?" tanyanya langsung.
"Nggak salam dulu?"
"Kan salamnya beda."
"Kan bisa pake 'Selamat malam, Sayang'."
"Oh, ya udah atuh. Selamat malam, Sayang. Ada apa? Kok kamu belum tidur?"
Tanpa diketahuinya ada senyum yang merekah layaknya bunga lili air yang mengembangkan seluruh kelopaknya di malam hari.
"Ditanya kok nggak dijawab?"
"Uh, maaf. Tadi aku lagi, um ... siram bunga. Hehehe." Dan itu hanyalah alibi yang Laisa katakan.
"Oh iya iya."
"Kamu masih di kafe?"
"Masih."
"Terus pulang jam berapa?"
Nanta melirik ujung jarum pendek yang menunjuk ke arah nomor dua belas. "Setengah jam lagi mungkin. Anak-anak yang lain juga udah selesai diskusinya."
"Ya udah. Hati-hati ya, Sayang. Kalo udah sampe kosan jangan lupa kabarin aku."
"Insyaallah, ya. Kalo nggak tidur."
"Hati-hati loh, kamu udah bilang insyaallah. Jadi utang janjimu nggak cuma sama aku, tapi langsung sama Allah."
"Iya, La. Udah sana tidur. Insyaallah aku pulang langsung kabarin kamu." Nanta mengembangkan kedua sudut bibirnya. Dalam hatinya berharap, semoga selalu ada Laisa yang menghubunginya untuk menanyakan kabar.
"Langsung nyuruh aku tidur emangnya kamu nggak butuh jawaban dari aku?"
"Nggak perlu, saya paham."
"Ya udah kalo gitu. Selamat malam. Semoga lelahku menjadi berkah."
"Aamiin. Selamat malam juga, semoga mimpi indah."
Panggilan yang hanya diisi obrolan sederhana namun dalam pun berakhir. Nanta menatap ponselnya yang tidak menampilkan apa-apa selain layar hitam. Bibirnya kembali terangkat tipis. Rasanya selalu mempertanyakan pertanyaan yang sama dan terus berulang. Kenapa selalu ada rindu di setiap selesainya ia mengangkat telepon itu?
Ah, sudahlah. Gegas tangannya mulai membereskan dapur yang kemudian dilanjut membersihkan ruang depan juga bar.
Tampaknya Teddy memasuki ruang belakang, berjalan menghampirinya dan menarik kursi lantas duduk tepat di belakangnya.
"Yang lain udah balik?" tanya Nanta menoleh sedikit ke arah temannya itu.
"Belum." Teddy menjawabnya dengan singkat. Sebelum kemudian melanjutkan kata-katanya. "Ada hal yang harus lo tau, Nan."
"Soal?"
"Laisa."
"Kenapa Laisa?"
"Panji suka sama dia."
"Oh."
"What the f**k? Apa maksud lo 'oh'?"
"Yang itu saya udah tau."
"Ketinggalan info lo, Ted." Bang Johan menimpali.
Teddy berdecak sebal. Lalu diam sejenak. "Sebenernya bukan itu sih yang mau gue omongin," lanjutnya agak lesu.
"Terus?" tanya Nanta. Sementara kedua tangannya sibuk mencuci perkakas dapur di wastafel.
"Gue cuma nggak yakin aja." Teddy berusaha melanjutkan.
Nanta cukup mengerti ke mana arah pembicaraannya dengan Teddy. "Kalo ragu mending nggak usah, tapi kalo kamu sanggup coba kamu yakinin rasa ragu itu."
"Bener, tuh. Hasil yang dikerjakan secara ragu-ragu nggak akan pernah menemui titik baiknya." Bang Johan menambahkan, sementara karyawan barunya memilih diam sambil mendengarkan meski kedua tangannya sibuk menyapu ruangan.
"Jadi?" Teddy menatap dua orang di depannya secara bergantian.
"Ya itu tadi, yang saya bilang. Kalo ragu mending jangan, siapin aja dulu," jawab Nanta.
"Tapi di sisi lain, gue merasa dia memang orang yang selama ini gue cari." Teddy menguatkan argumentasinya.
"Coba tanya lagi sama hati kamu. Bener nggak kalo dia orang yang selama ini kamu cari? Pendekatannya baru beberapa hari." Nanta menanggapinya.
"Emang pedekatean lo sama Laisa berapa lama?"
"Sebulan lebih mungkin. Lupa saya." Ah, sial. Teddy mengingatkan masa itu. Masa yang paling tidak ia kehendaki, sebab dirinya justru menghilang saat telah menaruh janji pada gadisnya.
"Tuh, Nanta aja sebulan. Masa lo seminggu?" Bang Johan masih terus ingin menimpalinya.
Teddy diam lagi. Mengambil jeda cukup lama sebelum lantas mengatakan, "Gue mau nembak Tiffany."
"Jangan!" Spontan Nanta berbalik menatap Teddy.
Teddy menatap Nanta dengan kedua alis nyaris tertaut.