Hati-hati di jalan. Bandara menjelma senyap dan dengan perlahan orang-orang yang tengah sibuk berlalu lalang lenyap terbawa embusan angin. Padahal ia sendiri yakin, bandara akan selalu sama. Menjadi tempat jumpa dan pergi dengan penuh sambut tawa juga tangis. Lalu merengkuh dekapan hangat, genggaman erat yang tak rela dilepaskan. Pun mereka seolah mengakui bahwa rindu selalu menjadi kelemahannya. Kedua bola mata Laisa mengedar ke seantero ruang tunggu yang luas. Dan Andrean tampak tertunduk dengan kedua tangan mengepal gelas dengan isi kopinya yang nyaris tandas. Entah pada menit ke berapa ia melihat pria paruh baya yang amat disayanginya itu menengadahkan wajahnya menatap sesosok jangkung yang baru saja datang dan menyalaminya dengan hangat. "Oh, Laisa. Om bangga sama kamu," seru Andre

