Ia melesat membelah jalanan lengang pukul dua dini hari. Seolah tak pernah menghendaki laju kendaraanya untuk mengurangi kecepatan pacunya. Bahkan seakan tak sudi jika fajar turun lebih dulu menuju kaki langit, meski dingin kian menusuk-nusuk jemarinya yang menggenggam erat pegangan kemudi. Namun angin berembus seperti tengah mengantarkannya menuju sebuah bangunan minimalis modern dengan atap pelana yang dikelilingi rimbun pepohonan, juga dibatasi oleh pagar tinggi yang senada dengan warna malam. Tanpa beranjak dari jok motor sepasang netranya mengedar, menyimak kesunyian yang terlalu khidmat menuju pergantian fajar yang mulai menyingsing pagi. Sementara udara dingin masih terasa tak lekas menepi. Ia turun mengayunkan sepasang tumitnya menuju pagar besi besar yang menghadang seraya menged

