Hari-hariku terasa semakin sempit sejak pria menyebalkan itu terus saja muncul di setiap langkahku.
“Stop, Ken! Jangan ikuti aku terus!” bentakku, menahan emosi yang sudah di ujung batas.
"Aku tidak mengikuti kamu, Zea,” jawabnya santai, seolah semua ini hal biasa. “Aku hanya tidak ingin calon istriku kenapa-kenapa.”
Aku berhenti mendadak, berbalik menatapnya dengan tatapan tajam penuh penolakan.
“Gak usah mimpi,” desisku dingin. “Mending kamu kubur dalam-dalam mimpi kamu itu.”
Ken hanya tersenyum tipis. Bukan senyum biasa—ada sesuatu di balik itu, sesuatu yang membuat dadaku tiba-tiba terasa tidak nyaman.
“Aku gak pernah mimpi, Zea,” katanya pelan, langkahnya mendekat. “Aku selalu mewujudkan apa yang aku mau.”
Deg.
Jantungku berdegup lebih cepat. Bukan karena tersentuh… tapi karena takut.
Atau… mungkin karena firasat buruk yang tiba-tiba muncul tanpa permisi.
“Aku gak akan mau… dan gak akan pernah mau menikah denganmu, Tuan Kenan,” sinisku tajam, menatapnya tanpa sedikit pun ragu.
Kenan terdiam sesaat. Rahangnya mengeras, sorot matanya berubah—bukan lagi sekadar penuh percaya diri, tapi seperti menahan sesuatu yang lebih dalam.
“Aku semakin dibuat gila sama kamu, Zea,” ucapnya pelan, namun terdengar berat.
Aku terkekeh kecil, meski hatiku sendiri bergetar.
“Bagus. Itu urusan kamu, bukan aku.”
aku berbalik hendak pergi, tapi langkahnya terhenti saat Kenan tiba-tiba menarik pergelangan tanganku.
"Lepasin!” bentakku,berusaha melepas.
"Enggak,” jawab Kenan singkat, suaranya tegas. “Kamu boleh benci aku, kamu boleh nolak aku berkali-kali… tapi satu hal yang harus kamu tahu—aku gak akan pernah nyerah.”
aku menatapnya penuh amarah, namun di balik itu ada sesuatu yang sulit dijelaskan—perasaan asing yang mulai mengusik.
“Kamu keras kepala,” desisku.
Kenan tersenyum tipis.
“Dan kamu alasan kenapa aku jadi seperti ini.”
Aku menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.
“Permisi, aku mau kerja dulu,” seruku datar.
Kenan hanya tersenyum sinis, lalu berbalik dan pergi begitu saja, meninggalkanku dengan perasaan campur aduk yang sulit dijelaskan.
"Aaghhh! Kenapa sih aku harus bertemu orang seperti Kenan!!” gerutuku kesal sambil berjalan cepat menuju ruangan.
Krieeet…
Pintu ruanganku terbuka.
“Mana calon suami kamu itu yang sangat tampan itu?” suara itu langsung menyambutku dengan nada menggoda.
"Diamlah,” kesalku sambil menjatuhkan tubuh ke kursi.
"Eh serius, Zea… dia tuh bukan cuma tampan, tapi auranya itu loh… beda banget,” lanjutnya, duduk santai di depan mejaku sambil tersenyum jahil.
aku memutar bola mata.
“Kalau kamu suka, ambil aja. Gratis.”
“Wih, kalau bisa sih mau banget,” sahutnya cepat. “Tapi sayangnya… dia cuma lihat kamu.”
Aku terdiam sesaat. Ucapan itu entah kenapa terasa mengganggu.
“Jangan ngaco deh,” gumamku pelan, mencoba fokus ke berkas di depanku.
namun bayangan tatapan Kenan tadi… terus saja terlintas di pikiranku.
Dan itu membuatku semakin kesal.
---
Sore harinya aku pulang dengan perasaan jauh lebih ringan. Untuk pertama kalinya hari ini terasa damai—tanpa gangguan, tanpa sosok menyebalkan bernama Kenan.
Aku bahkan sempat tersenyum kecil di perjalanan.
Namun semua itu langsung lenyap begitu aku sampai di panti.
Langkahku terhenti di depan pintu.
Mataku membulat sempurna.
Kenan… ada di sana.
dan bukan hanya dia.
Di sampingnya berdiri seorang pria tua dengan pakaian rapi—sangat rapi—yang langsung membuat jantungku berdegup tak karuan.
Pak penghulu.
"Apa-apaan ini…?” suaraku bergetar, antara kaget dan marah.
Semua orang di ruangan itu menoleh ke arahku.
ibu panti tersenyum hangat, terlalu hangat hingga membuatku semakin curiga.
"Zea, kamu sudah pulang. Bagus sekali,” ucapnya lembut.
Aku melangkah masuk perlahan, mataku tak lepas dari Kenan yang berdiri dengan tenang seolah ini semua hal biasa.
“Aku tanya… ini apa?” tegasku, menahan emosi.
Kenan menatapku lurus.
“Kita akan menikah hari ini.”
deg.
Duniaku seperti berhenti berputar.
"Apa?!” bentakku. “Kamu gila, ya?!”
“Aku serius,” jawabnya datar.
aku langsung menoleh ke ibu panti.
"ibu! Ini bercanda, kan? Ini gak mungkin!”
namun yang kudapat justru anggukan pelan.
"Ibu pikir ini yang terbaik untuk kamu, Zea…”
Hatiku langsung mencelos.
“Terbaik?” ulangku lirih, tak percaya. “Ibu menjual aku begitu saja ke dia?!”
“Zea!” tegur ibu panti, tapi aku sudah terlalu marah untuk peduli.
Aku menatap Kenan dengan penuh kebencian.
“Kamu yang atur semua ini, kan?!”
Kenan tidak menjawab. Tapi diamnya… sudah cukup jadi jawaban.
Aku menggeleng pelan, mundur satu langkah.
“Gak akan,” bisikku tegas. “Aku gak akan menikah sama kamu. Sampai kapanpun.”
suasana mendadak tegang.
Namun Kenan justru melangkah mendekat, menurunkan suaranya hanya untukku.
“Kamu boleh nolak sekarang,” bisiknya pelan. “Tapi lihat saja… kamu tetap akan jadi milikku, Zea.”
jantungku berdegup keras.
Bukan karena cinta.
Tapi karena aku sadar…
Aku benar-benar sedang terjebak.
****