Bab 1
Jantungku langsung berdegup kencang mendengar ucapan Arumi.
"Si-siapa orangnya?" tanyaku pelan, mencoba menahan rasa takut yang tiba-tiba muncul.
Arumi menggeleng cepat. "Aku gak tahu, Ze… tapi dia nunggu di luar. Tatapannya… serem banget."
Belum sempat aku mencerna semuanya, pintu ruanganku tiba-tiba terbuka. Seorang pria tinggi besar berdiri di sana, tubuhnya tegap dengan wajah dingin tanpa ekspresi.
"nona Zea?" suaranya berat dan tegas.
Aku hanya bisa mengangguk pelan.
"Ikut saya."
"Buat apa?" tanyaku refleks, suaraku sedikit bergetar.
"Anda akan tahu nanti."
tanpa memberi kesempatan untuk menolak, dia berbalik seolah yakin aku akan mengikutinya. Entah kenapa, kakiku terasa lemas, tapi aku tetap melangkah.
aku dibawa keluar gedung, menuju sebuah mobil hitam yang sudah menunggu. Pintu dibukakan untukku.
"Masuk."
aku menelan ludah, ragu sejenak… tapi akhirnya masuk juga.
Sepanjang perjalanan, suasana di dalam mobil sangat sunyi. Tidak ada satu pun kata terucap.
Aku hanya bisa menatap keluar jendela, mencoba menebak ke mana aku akan dibawa.
Hingga akhirnya mobil berhenti di depan sebuah rumah mewah yang sangat besar.
Halamannya luas, gerbangnya tinggi, dan suasananya terasa… asing sekaligus menegangkan.
Aku turun perlahan, menatap bangunan itu dengan jantung berdebar tak karuan.
"ini… rumah siapa?" tanyaku lirih.
pria itu hanya menatapku sekilas.
"Masuk saja. Tuan sudah menunggu."
Deg.
"Tuan?" ulangku dalam hati.
perasaan tidak enak semakin kuat, tapi rasa penasaran jauh lebih besar. Dengan langkah ragu, aku masuk ke dalam rumah mewah itu… tanpa tahu apa yang menungguku di dalam.
"Sebentar! Ini sebenarnya rumah siapa?! Dan aku punya salah apa dengan pemilik rumah ini?" seruku, mulai kehilangan kesabaran.
Pria-pria itu hanya diam, seolah tidak mendengar apa pun yang kukatakan.
Aku akhirnya berhenti di sebuah ruangan yang cukup besar.
Di tengahnya ada meja panjang dengan kursi besar menghadap ke arahku. Seseorang duduk di sana, tampak santai sambil memainkan ponselnya, seakan kehadiranku tidak berarti apa-apa.
Jantungku kembali berdegup kencang.
"Tuan, saya sudah membawa Nona Zea," ucap pria tadi dengan nada hormat.
Pria itu perlahan menghentikan aktivitasnya. Tangannya turun, lalu ia mengangkat wajahnya…
Dan saat mata kami bertemu, napasku seakan terhenti.
"Kamu?" lirihku, tak percaya.
Sudut bibirnya terangkat tipis, senyum yang sulit diartikan.
"Akhirnya… kita bertemu lagi, Zea."
"Mau apa kamu, Ken?" seruku, menatapnya dengan waspada.
"Aku mau kamu, Zea."
"Apa?!" Aku membelalak tidak percaya. "Kamu jangan gila, Ken! Aku hanya menolong kamu, gak lebih!" kesalku. "Lagipula kita baru beberapa kali ketemu, itu saja gak sengaja!"
Ken tidak menjawab. Ia hanya menatapku dalam, lalu perlahan berjalan mendekat. Setiap langkahnya membuatku mundur, sampai punggungku hampir menyentuh dinding.
"Ken, berhenti…" ucapku, suaraku mulai goyah.
namun dia tetap mendekat.
Tanpa aba-aba, Ken menangkup wajahku dan mencium bibirku dengan lembut.
Detik itu juga tubuhku membeku.
Seakan waktu berhenti.
Namun hanya sesaat.
Plaaak!
tanganku bergerak lebih cepat dari pikiranku. Tamparan keras mendarat di pipinya. Nafasku memburu, dadaku naik turun menahan amarah yang bercampur dengan keterkejutan.
"Jangan pernah lakukan itu lagi, Ken!" bentakku, suaraku bergetar.
Ken terdiam.
Ia menyentuh pipinya yang memerah, tapi anehnya, tidak ada amarah di wajahnya. Hanya tatapan dalam yang sulit kuartikan.
"Aku serius, Zea," ucapnya pelan. "Aku gak pernah merasa seperti ini ke siapa pun."
aku menggeleng cepat, mundur menjauh.
"Itu bukan urusanku! Aku cuma nolong kamu. Jangan salah artikan!" jawabku tegas, meski jantungku berdegup kacau.
Ken kembali melangkah, tapi aku langsung mengangkat tangan.
"Jangan dekat-dekat lagi."
Suasana mendadak sunyi. Hanya suara napas kami yang terdengar di antara jarak yang kini terasa begitu tipis.
Beberapa detik berlalu, hingga akhirnya Ken berhenti.
Ia menghela napas panjang, lalu mengacak rambutnya frustasi.
"Baik… kalau itu maumu," katanya lirih.
aku tidak menjawab.
Aku hanya berbalik dan pergi.
Menjauh darinya.
Menjauh dari situasi yang membuatku takut.
"sekarang antarkan aku pulang, Ken. Ibu panti pasti mencariku," ucapku tegas, mencoba mengalihkan suasana yang semakin tidak nyaman.
ken terkekeh pelan, seolah permintaanku adalah hal sepele.
"Ibu panti kamu sudah tahu kalau aku bawa kamu ke sini," katanya santai.
"Siapa yang tidak kenal aku? Kenan, pengusaha kaya raya, pewaris group wijaya, tampan… apa yang aku mau pasti tercapai."
Aku tersenyum sinis, menatapnya tanpa rasa takut.
"Bagi aku, kamu biasa saja, Ken," balasku dingin. "Seperti pria pada umumnya."
senyumnya perlahan memudar.
Untuk pertama kalinya, ekspresi percaya dirinya retak.
"Apa?" tanyanya, seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
aku melangkah mendekat satu langkah, menatapnya lurus.
"Harta, kekuasaan, wajah… itu mungkin berarti buat banyak wanita," lanjutku. "Tapi buat aku? Tidak ada artinya kalau kamu gak punya sikap menghargai orang lain."
ruangan itu mendadak sunyi.
Ken menatapku tajam, namun kali ini bukan dengan kesombongan—melainkan sesuatu yang lebih dalam… seperti tertantang.
"Kamu beda," gumamnya pelan.
"Aku memang beda," jawabku cepat. "Dan aku tidak tertarik jadi salah satu dari banyak wanita yang kamu anggap bisa kamu miliki."
aku berbalik, berjalan menuju pintu.
"Antarkan aku pulang, atau aku pergi sendiri."
Beberapa detik tidak ada jawaban.
Hingga akhirnya—
"baik," suara Ken terdengar dari belakang, lebih rendah dari biasanya.
Sesampainya di panti, aku langsung turun dari mobil tanpa menunggu Kenan. Langkahku cepat, hampir berlari menuju ruang ibu panti.
"Ibu!" seruku begitu masuk.
Wanita paruh baya itu menoleh, wajahnya tenang seperti biasa.
"Ada apa, Zea?" tanyanya lembut.
aku menarik napas, mencoba menahan emosi yang sejak tadi kupendam.
"Ibu, aku gak mau lagi berhubungan dengan Kenan. Dia—" ucapanku terhenti, ingatan tentang kejadian tadi membuat dadaku sesak. "Dia sudah melewati batas."
Belum sempat aku melanjutkan, suara langkah kaki terdengar dari belakang.
Kenan masuk dengan santai, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ibu panti," sapanya sopan, bahkan sedikit membungkuk.
Aku menatapnya tajam, tidak percaya dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah.
"Ibu, tolong… aku gak mau—"
"Zea," potong ibu panti dengan suara lembut, tapi tegas. "Ibu sudah tahu."
Aku terdiam.
"Apa maksud ibu?" tanyaku pelan.
"Ibu tahu kamu bersama Kenan hari ini," lanjutnya. "Dan… ibu rasa tidak ada salahnya kalau kamu dekat dengan dia."
Deg.
Seolah ada sesuatu yang jatuh di dalam dadaku.
"Ibu?" suaraku melemah. "Maksud ibu… setuju?"
ibu panti mengangguk pelan.
"Kenan orang baik. Dia juga sudah banyak membantu panti ini. Kalau dia serius denganmu, itu bukan hal buruk."
aku membeku di tempat.
Perlahan aku menoleh ke arah Kenan.
Dan benar saja—
Pria itu berdiri di sana dengan senyum tipis… senyum sinis yang seakan berkata bahwa dia telah menang.
Tanganku mengepal.
"Jadi… ini semua karena bantuan dia?" tanyaku lirih, menatap ibu panti dengan mata berkaca-kaca.
"Bukan begitu, Zea—"
"Tapi terasa seperti itu, Bu," potongku pelan, suaraku bergetar.
Aku mundur satu langkah.
Untuk pertama kalinya, tempat yang selama ini kuanggap rumah… terasa asing.
kenan melangkah mendekat.
"Aku bilang juga apa," bisiknya pelan di dekatku. "Apa yang aku mau… pasti tercapai."
aku menoleh tajam.
"Bukan berarti kamu benar," balasku dingin.
***