Bunga menuju ke kamar mandi untuk mengambil air wudu karena kebetulan memang belum salat isya. Kemudian ia masuk ke dalam kamar dan terlihat Bi Sumarni sedang duduk di amben kayu.
"Belum salat Bi?"
"Iya. Kakak belum salat juga, kah?"
"Bibi duluan ya. Bunga masih mau ngelurusin pinggang dulu."
Sambil meregangkan badan ia memikirkan apa yang terjadi barusan. Semua campur aduk di kepala. Bayangan wajah Tante Pinkan dan Om Atmo. Apa yang sudah mereka lakukan malam ini. Bayangan wajah Mami Deborah. Buntelan-buntelan yang berjejer di atas meja yang harus di tanam di empat penjuru mata angin. Dan bayangan wajah laki-laki muda tadi mampir di dalam pikirannya. Membuat pusing dan mual.
Bi Sumarni sudah menyelesaikan salatnya. Gadis itu mengambil mukenah yang tergantung di paku. Doanya malam itu menjadi salah satu doa terpanjang. Ia ingin menangis tapi ditahan karena malu. Selanjutnya mereka mencoba memejamkan mata dan sepertinya tertidur beberapa saat.
...
"Kak ... Kak. Bangun, Ibu nyariin tu." Bibi menggoyangkan tubuh Bunga perlahan.
"Ummm ... Iya Bi. Jam berapa ini?"
"Jam dua, Kak."
Gadis itu terbangun dengan sedikit lesu. Sebelum bertemu Tante Pinkan ia mampir ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya.
Di ruang tengah, secara tak sengaja ia berpapasan dan harus beradu pandang dengan Mami Deborah. Entah kenapa selepasnya ia merasa tubuhnya demam. Ada rasa panas yang membuat tidak nyaman di sepanjang daerah punggung sampai betis.
Tak terlihat sosok wanita cantik yang selalu wangi di manapun berada. Bunga mencari di dapur, ruang tamu, dan teras. Akhirnya ia putuskan untuk menuju kamar yang ada di sayap kanan.
Diketuknya pintu kamar itu tiga kali
"Masuk Kak!"
Terdengar suara halus dari dalam kamar.
"Tante tadi cari Kakak?"
Bunga berdiri di sebelah ranjang besi. Suasana kamar begitu gelap dan dingin. Tante Pinkan memang tidak pernah tidur atau berbaring dengan lampu yang menyala. Hanya lampu yang berada di depan kamar mandi saja yang menjadi sedikit penerang.
"Iya, Kak. Nanti kakak tolong temenin Pak Arip, ya. Ini kunci mobilnya. Hati-hati dijalan! Bilang Pak Arip jangan terlalu ngebut."
"Eh tapi, Kak. Temenin Om Atmo ke samping rumah dulu. Kakak ambil lampu darurat yang ada di lemari tanam dapur," perintah Tante lagi.
Ia keluar dari kamar kemudian membuka pintu kamar yang berada di depannya. Kevin dan Tasha ternyata sudah tertidur pulas. Bunga mengambil selimut tebal yang masih terlipat rapi di bawah kaki Tasha dan menyelimuti tubuh mereka berdua. Apa yang sedang mereka impikan malam ini?
Bunga mematikan televisi yang masih hidup. Menutup pintu kemudian menuju ke dapur. Sebelum mengambil lampu emergency yang ada di dalam lemari tanam, ia sempat melirik ke arah meja bundar besar. Buntelan masih tersisa dua. Itu berarti selama ia tertidur tadi beberapa buntelan sudah dibawa.
...
Di susulnya Om Atmo yang berada di dekat garasi. Tugasnya lagi-lagi memegang senter saat Pria parlente itu mulai membuat lubang galian. Kali ini Bunga tidak berani menoleh ke kanan dan kiri. Bulu kuduk mulai merinding ketika Om Atmo mulai memasukkan buntelan ke dalam lubang galian. Ia masih membaca ayat kursi dalam hati ketika lubang galian hampir selesai. Tidak terjadi apa-apa. Bunga hanya merasakan hawa dingin yang tidak nyaman saja.
Om Atmo masuk ke dalam rumah. Tidak perlu menunggu lama. Ia segera masuk menyusul. Baru beberapa langkah meninggalkan lubang galian terdengar ribut-ribut yang ramai. Seperti suara binatang yang sedang berebut makanan. Ia langsung menoleh ke arah garasi dan lapangan basket. Sepi dan hening. Tidak terjadi sesuatu dari arah sana. Kalau kalian ingin membayangkannya ini seperti suara anjing dan kucing ribut dengan suara yang ganas dan ramai.
Penasaran. Mungkin perasaan itu yang yang menghinggapinya. Ia membuka semua jendela yang berada di dekat jendela meja setrika. Mencoba melihat dengan seksama. Tapi memang tidak ada siapa-siapa di sana. Ia merasa tidak salah dengar karena sudah mendengarnya sebanyak tiga kali
"Ngeliatin apa Kak?" tanya Pak Arip.
Bunga sedang melamun saat Pak Arip menyodorkan sebuah buntelan di depan wajahnya. Ia kaget dan sedikit marah. Bau anyir tercium dari sana. Mual, itu yang dirasakannya.
"Ini rute selanjutnya, Kak," Pak Arip memberitahunya.
Ia mengambil sweater hoodie di kamar belakang dan menyusul Pak Arip yang sudah duluan berada masuk ke dalam mobil kemudian duduk di sebelah Pak Arip. Tadinya Pak Arip memintanya memangku buntelan. Tentu saja gadis itu tidak mau. Jadi diletakkannya saja buntelan di jok belakang mobil.
Ketika mobil mulai berjalan, hal-hal aneh mulai terjadi. Bau busuk menyebar ke dalam mobil. Seperti bau bangkai yang dikerumuni belatung. Membuat pusing dan mual. Bunga tampak memegang perutnya dan sesekali memijat pelipis yang berdenyut.
"Kenapa, Kak?" tanya Pak Arip sambil sesekali menoleh ke arah Bunga.
"Di laci situ ada minyak kayu putih," sambungnya lagi, seperti tahu apa yang dirasakan gadis belasan tahun itu.
Dibukanya laci sebelah kiri dan menemukan sebotol minyak kayu putih yang masih penuh. Sambil mengucap bismillah digosoknya bagian pelipis dan dihirup aroma itu berharap bisa sedikit lega.
Ia tampak tidak sabar dengan tugas malam itu. Berharap pagi datang dan semua kembali dengan sebagai mana mestinya.
Di pertengahan jalan Pak Arip dan Bunga berpandangan. Saat bagian atas mobil terdengar hentakan-hentakan yang cukup keras.
"Apa itu, Pak?" tanya Bunga panik.
"Mungkin kucing atau monyet," jawab Pak Arip asal.
"Apa perlu berhenti ...." Bunga belum menyelesaikan perkataannya, sudah terdengar lagi hentakan yang lebih kuat seperti sedang diinjak oleh sesuatu yang berukuran sangat besar.
Jantung mereka memacu lebih cepat. Sesak mungkin lebih tepatnya. Pak Arip menelan ludah. Bunga tampak membaca ayat kursi. Belum selesai semua itu, lalu terdengar suara erangan dari belakang lagi.
Bunga menoleh ke arah belakang, namun tidak menemukan apa-apa. Ia melihat dari kaca spion lantas mengucap istighfar. Sosok tinggi besar berbulu sekilas tertangkap matanya.
"Ada apa lagi, Kak?" Pak Arip bertanya dengan nada yang cemas.
"Ah, ga ada apa-apa, Pak. Mungkin Kakak salah liat."
Ia tetap terus membaca istighfar sambil sesekali mengelus dadanya dan meyakinkan dirinya, mungkin memang benar malam ini sudah terlalu lelah.
Tempat yang dituju tidak begitu jauh. Mungkin karena sudah larut malam jalanan menjadi sangat lengang. Ditambah Pak Arip yang sedikit mengebut karena banyaknya gangguan dari dalam mobil. Kira-kira 20 menit mereka sampai mereka di sebuah lapangan besar.
Ada spanduk bergambar Om Atmo dan gambar sebuah partai. Umbul umbul warna-warni juga tampak terlihat di sana-sini. Di ujung sisi lain ada beberapa bangunan rumah yang di cat senada dengan warna partai pendukung Om Atmo.
Di atas panggung bekas orasi ada orang-orang yang tengah sibuk. Mereka terlihat memasang sound system, duduk-duduk dan sebagian nampak bersih-bersih. Dari orang-orang itu Bunga mengenal beberapa diantaranya. Ada Kak Baim dan kawan-kawan. Juga beberapa pegawai Om Atmo yang pernah datang menyambangi rumah.
Bagian belakang panggung merupakan tujuan mereka berdua. Pak Arip membuat lubang galian dengan cangkul dan Bunga memegang senter. Gadis itu merapatkan resleting hoodienya dan mulai membaca ayat kursi. Namun, saat itu ia sudah merasa takut. Sehingga bacaan ayatnya jadi membingungkan.
Sama seperti pengalaman menanam buntelan lainnya, hawa dingin pun mulai datang menyapa. Memang di panggung ada orang-orang dan keadaan tidak begitu sepi. Tapi mereka merasa seperti terpisah dengan dunia manusia.
"Cepetan dikit, Pak!" kata Bunga kepada Pak Arip saat bulu di tengkuknya mulai berdiri.
Pak Arip yang masih mencangkul terengah-engah. Ia berpacu karena desakan Bunga dan ketakutan yang muncul dari dalam dirinya sendiri.
Sebuah suara tanpa wujud mengagetkan mereka berdua.
"Nanti ... kita main dulu!"
Bunga langsung melihat ke arah Pak Arip demikian juga sebaliknya. Laki-laki ramah itu langsung menoleh ke kanan dan ke kiri mencari sumber suara. Bunga tidak memiliki keberanian untuk itu. Ia menyeret kakinya kecil-kecil mencoba mendekatkan diri dengan Pak Arip. Mungkin Pak Arip menangkap ketakutannya kemudian mencoba menenangkan.
"Gak apa-apa, Kak. Sebentar lagi selesai, kok."
Pak Arip buru-buru menyelesaikan pekerjaannya. Sampai terdengar suara yang kedua yang lebih menggelegar.
"Ayo kita main dulu!!!"
Pak Arip memberikan aba-aba yang mendadak dan tiba-tiba. Tentu saja Bunga gelagapan.
"Lariii, Kak!"
Pak Arip berlari ke arah panggung yang ada di depan. Bunga malah berlari ke arah yang berlawanan. Pak Arip yang menyadari itu langsung menarik tangannya.
"Ya Allah Kak, sempet-sempet nya tulalit dalam keadaan begini."
Dengan napas terengah-engah mereka tiba di depan panggung. Keadaan mereka yang seperti itu menjadi tontonan Kak Baim dan semua yang ada di atas panggung. Bunga dan Pak Arip menuju ke mobil. Namun, suara serak seorang laki-laki muda menahan langkah Bunga.
"Bunga, kenapa tadi?" tanyanya sambil melompat dari atas panggung.
"Oh ... Kak Baim. Ga ada apa-apa, Kak. Jawabnya mencoba untuk menutupi kejadian di belakang panggung tadi.
Mungkin Kak Baim tahu apa yang terjadi dengan Bunga dan Pak Arip di belakang panggung. Ia berpesan kepada Bunga untuk menjaga wudunya, tidak meninggalkan salat lima waktu dan selalu mohon perlindungan dari Allah.
Gadis manis itu tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Sambil mengingat-ingat pesan yang di sampaikan oleh laki-laki muda yang baru saja ditemuinya beberapa kali itu. Namun, terlihat begitu tulus dan baik.
Pak Arip dan Bunga meninggalkan lapangan itu. Di mobil hanya helaan napas mereka saja yang berbicara.
Gadis itu di sepanjang jalan berpikir akan memilih jalan apa setelah malam ini. Wajah-wajah dan kepingan-kepingan itu campur aduk lagi di kepalanya.
Tiga hari setelah Pilkada ...
Bunga dan Bi Sumarni sedang membereskan rumah. Semua tampak berantakan dan banyak barang-barang yang tidak diletakkan sesuai tempatnya.
"Kak, Bibi mau membereskan dapur dulu yah. Nanti biar Bibi juga yang bikin sarapan. Kakak mau minta di bikinkan apa? Teh atau s**u?" tanyanya sambil menggelitik perut Bunga yang nampak lesu pagi itu.
"Teh panas aja, Bi. Kalau boleh. Terimakasih sebelumnya. Bunga mau bersiin teras dulu ya, Bi. Kayaknya banyak banget sampah dan puntung rokok."
Plastik besar, sapu, dan pengki sudah di siapkan. Ia menarik tubuhnya ke kanan dan ke kiri, semua tulang persendiannya sakit. Dirabanya kening dan pipinya. Sedikit hangat. Harus dimulai dengan cepat acara beres-beres hari ini, pikirnya agar lekas selesai juga.
Gorden putih transparan disibak. Ia membuka pintu ruang tamu lebar-lebar membiarkan udara sejuk dari teras masuk ke ruang tamu. Dilihatnya banyak sampah berserakan di pekarangan dan sekitarnya. Saat itu masih jam 06.00 pagi. Udara benar-benar segar. Di tambah lagi bagian belakang komplek itu jarang di singgahi kendaraan bermotor.
Bunga mengambil plastik besar dan mulai memungut satu persatu bekas air mineral dan puntung-puntung rokok yang berserakan tak jauh dari kamar Tante Pinkan. Ia lalu menoleh ke atas balkon dan teringat sosok tanpa kepala yang ditemuinya malam itu. Dan juga Kak Baim, tentu saja.
Dihentikan kegiatannya sejenak. Duduk bersandar di dinding bebatuan di bawah jendela. Ingatannya melayang saat pertemuannya dengan laki-laki yang dipanggilnya Kak Baim itu.
Ia ingat beberapa minggu sebelum malam Pilkada, Kak Baim dan beberapa orang temannya datang untuk menemui Om Atmo.
Malam itu sekitar jam setengah sembilan malam pintu rumah diketuk. Sebelum membukanya, Bunga atau siapapun anggota keluarga lain harus melihat dulu tamu yang datang berkunjung. Dikenal atau tidak. Anggota keluarga atau bukan. Biasanya untuk yang belum pernah datang ke rumah sama sekali Om Atmo atau Tante Pinkan akan memberikan kartu nama mereka sebagai tanda undangan ke rumah.
Lima orang laki-laki dengan wajah ramah tersenyum dan menganggukkan kepala mereka ketika Bunga menyibak gorden. Kemudian laki-laki muda dengan wajah teduh dan rambut sedikit gondrong mengeluarkan kartu nama Om Atmo dari dalam jaket jeansnya.
Bunga membukakan pintu dan tersenyum. Laki-laki muda paling depan dengan t**i lalat di pipi kanan tampak terkejut melihat Bunga. Wajah ramahnya berubah menjadi wajah sendu.
"Silakan duduk, Kak. Om lagi mandi. Nanti Bunga beritahu kalau kakak-kakak datang," ujar gadis itu sambil mempersilakan mereka untuk duduk.
"Maaf, dengan Kakak siapa ini," sambungnya lagi.
"Ibrahim. Baim," jawab laki-laki berwajah teduh tadi.
"Kami band indie, Dik. Band Lelana," tambah seorang laki-laki yang mengenakan kaos hitam dan ikat kepala.
Bunga masuk dan langsung menuju ke kamar Tante Pinkan. Diketuknya pintu kamar tiga kali.
"Kenapa, Kak?" tanya Pinkan singkat.
"Ada yang nyari Om. Kak Baim dan kawan-kawannya Tan. Band Lelana begitu katanya. Sudah Kakak suruh duduk dan tunggu."
"Iya Kak. Nanti ajak Bi Sumarni buatkan makanan buat mereka, ya."
Di dapur gadis itu menghidupkan dua mata api. Meletakkan ceret dan panci. Ditinggalkannya sebentar lalu menuju ke kamar belakang untuk minta bantuan Bi Sumarni. Sambil menunggu makanan lain yang yang sedang disiapkan oleh Bi Sumarni, ia mengantarkan beberapa toples camilan.
Sampai di depan ternyata ada tamu tak diundang yang sedang duduk di ayunan bersama teman Baim. Bunga kaget. Namun, laki-laki bertopi itu seperti tidak menyadari. Sambil meletakan toples Bunga mengucap istighfar berulang kali. Namun sosok itu masih di sana.
Ia terlihat tidak suka saat Bunga melihatnya. Ketika ingin memastikan untuk yang kedua kali sosok itu malah melotot kan' matanya yang sudah besar.
Gadis itu buru-buru kembali ke dapur tanpa melihat laki-laki berwajah teduh tersenyum kecil melihat kelakuannya. Seperti ada sesuatu di dalam hatinya yang tiba-tiba saja merasa hangat.
Beberapa menit kemudian Bunga membawa nampan yang ke dua berisi mie instan dan bala-bala. Ia pikir sosok itu sudah pergi. Nyatanya masih ada hanya berpindah posisi saja. Mungkin menurutnya di atas langit-langit teras lebih estetik dan cantik. Ah entahlah.
Kak Baim membuka toples, mengambil sepotong biskuit dan membaca Basmallah. Ajaibnya sosok itu tiba-tiba menghilang. Bunga masuk ke rumah sambil takjub dengan pemandangan barusan.
...
Ah ... melamunkan Kak Baim memang tak ada habisnya. Rutuk gadis itu dan melanjutkan lagi tugasnya membersihkan teras dan pekarangan Tante Pinkan.
Mungkin hampir satu jam ia membersihkan pekarangan dan teras. Suasana masih lengang ketika ia masuk ke dalam rumah. Mungkin karena ini weekend semua belum bangun. Lagi pula mungkin mereka masih lelah. Pendingin ruangan juga masih menyala. Artinya semua masih terlelap dan bermimpi indah.
Gadis itu menuju dapur dan mendapati Bi Sumarni sedang mencuci piring. Sudah tersedia dua gelas teh panas dan nasi goreng bawang. Ia duduk di meja batu dapur dan segera menyeruput teh hangat itu.
"Terimakasih Bi, sudah buatin teh panas dan nasi goreng," ujarnya sambil tersenyum.
Bi Sumarni juga membalasnya dengan senyuman.
Selesai mencuci piring ia melepaskan celemeknya kemudian mendekati Bunga lalu bertanya.
"Yang waktu malam itu di suruh nanem apaan sama Ibu?" tanyanya mulai kepo.
"Ada deh. Bibi kepo ihh," jawab Bunga mulai sebal kalau Bi Sumarni sudah bertingkah seperti itu.