Dukun Modern

2042 Words
Setelah kemarin Mbak Dewi dipulangkan ke Yayasan, kembali hanya Bunga dan Bu Maryam saja yang membantu urusan pekerjaan rumah tangga keluarga Brotoasmoro. Itu tidak berlangsung lama. Karena setelah kejadian Mbak Dewi diberhentikan hari itu juga. Beberapa bulan kemudian Bu Maryam pun diberhentikan oleh Tante Pinkan. Tasha yang sudah bersekolah di Sekolah Menengah Atas pulang ke rumah karena sedang libur weekend. Di hari Senin - Jum'at ia akan berada di asrama. Setelah jam sekolah usai Tante Pinkan akan menjemputnya. Pakaian kotor yang dibawa dari asrama, dicuci pada hari sabtu pagi oleh Bu Maryam. Mereka akan hang out, makan, atau sekadar berkeliling kota. Pada Senin pagi, gadis yang wajahnya mirip pemain film 'Olga dan sepatu roda' itu akan diantarkan ke asrama dan kembali bersekolah. Setelah membereskan pekerjaan sebagai penyapu jalanan di komplek perumahan ia segera menuju ke rumah Tante Pinkan. Sebelum masuk ke dalam rumah dibukanya sepatu boot dan topi caping miliknya. Tidak lupa ia mencuci tangan dan kaki di keran air yang ada di sepetak kecil tempat cucian baju. Gadis itu paham betul Bu Maryam sangat lelah. Di usia yang seperti itu seharusnya tidak lagi memikirkan ini dan itu. Sudah beristirahat di rumah menikmati usia tua. Namun, kebutuhan hidup untuk anak kecil yang pernah diceritakannya dulu masih sangat banyak. Si malang itu sakit-sakitan dan harus pergi ke dokter setiap bulan. Ia ditinggalkan oleh ibunya. Ya, ibu kandungnya. Mau tidak mau Bu Maryam harus merawatnya. Seperti Nini yang sangat menyayangiku. Begitu juga Bu Maryam yang menyayangi si kecil melebihi anaknya sendiri. "Mau di buatkan teh, Bu?" tanya Bunga kepada Bu Maryam yang entah kenapa seperti tampak sangat lelah hari itu. "Ndak usah Neng, biar Ibu bikin sendiri saja." Bu Maryam melanjutkan pekerjaan memilah-milah pakaian Tasha. Suara mesin cuci yang berputar terdengar, saat Bunga sedang berada di dapur. Tidak lama Bu Maryam membilas pakaian-pakaian dalam bak hitam besar, memberi pewangi kemudian menjemurnya. Sambil menunggu pakaian kering biasanya Bu Maryam akan makan dan minum atau menyelesaikan setrikaan yang belum selesai kemarin. Setelah agak siang pakaian yang di cuci tadi dan akan disetrika lagi. Jajaran pakaian tersusun rapi dan wangi. Akan menjadi tugas Bunga selanjutnya untuk memasukkan ke dalam lemari pakaian. Tidak berselang lama berteriak dari kamar depan memanggil Bunga. "Kakak ... kakak!" "Iyaaa Tante," jawabnya sambil berlari menuju ke kamar besar di sayap kanan. "Mana Bu Maryam?" Tante Pinkan bertanya sambil menampakkan wajah yang tak begitu sedap dipandang mata. "Ada Tan," jawab Bunga dengan napas yang terengah-engah. Ditangkapnya sesuatu yang tidak enak, yang bakal terjadi setelah ini. Keluar dari kamar Tante Pinkan, mata Bu Maryam tampak merah. Matanya sembab. Seperti baru selesai menangis. Belum selesai menangis tepatnya. "Mulai besok, Ibu tidak kerja lagi disini. Kamu baik-baik disini. Sekolah yang rajin. Kerja yang jujur. Ibu doakan semoga nanti jadi orang yang berhasil." Bu Maryam berkata sambil menahan isak tangis. Ia lantas mengenakan topi lusuh, memasukkan sepatu boot hitam plastik, dan sapu yang biasa beliau gunakan untuk menyapu jalan ke dalam gudang. Perempuan baik itu menahan tangis di depan Bunga saat akan mulai mengayuh pedal sepeda. Bunga menatap sendu. Hatinya mendadak sakit lagi. Sakitnya sama seperti saat ia tidak diizinkan untuk menginap dirumah Nini. Namun, ia tidak bisa melakukan apa-apa. Tidak terasa dadanya menjadi sesak dan air mata menetes satu demi satu. "Maafkan Bunga karena ndak bisa bantu apa-apa, Bu," ujarnya lirih sambil melihat punggung Bu Maryam yang perlahan menghilang ditelan gerimis yang mendadak datang tipis-tipis. ... Beberapa hari berlalu, Bunga benar-benar sendirian. Tidak ada lagi yang bisa dilihat dan dinanti pada jam sepuluh pagi. Tidak ada lagi yang mengajak mengobrol dan berbagi kisah petuah hidup. Sayang ia tidak berani menanyakan alasan kenapa Bu Maryam diberhentikan. Pagi itu semuanya terjawab. "Kak, nanti ada Bibi baru yang datang nanti sore. Kalau Tante lagi diluar, Kakak kasih tahu saja kamarnya di mana dan kerjaannya apa saja. Mudah mudahan Bibi ini kerja nya lebih beres dari Bu Maryam. Jangan seperti Bu Maryam. Masa iya pakaian sekolah Tasha tercampur sama baju main Golf Om yang warna merah itu terus luntur. Ngapain coba, sampe kerjanya ga bener begitu." Bagai tersambar petir, gadis itu terkejut mendengar penuturan Tante Pinkan. Hati dan matanya panas. Hanya gara-gara baju sekolah Tasha yang luntur. Alasan yang mengada-ada. Ia tidak habis pikir, Bu Maryam sudah bekerja sangat lama di sini. Tidak adakah sedikit kesempatan untuknya. Ia tidak mencuri. Ia hanya tidak sengaja. Pakaian yang luntur bisa dibeli lagi. Tapi orang yang belasan tahun bekerja dengan setia dan jujur sangat jarang ditemukan. Ia tidak mengerti apa yang terjadi dengan tantenya. Kewelas asihannya sedikit demi sedikit terkikis. Dan itu membuatnya kecewa. Seorang wanita paruh baya datang bersama Kevin dan Tante Pinkan. Mereka baru saja pulang berkunjung dari rumah Yangti—ibu dari Om Atmo. Seseorang itu berbadan besar dan tinggi. Rambutnya keriting hitam. Ada t**i lalat menghiasi bagian atas bibir. Pakaiannya kaos besar dengan kulot. Sekilas Bunga tampak tidak begitu menyukainya. Entah mengapa sebabnya. Dari yang ia tahu. Bibi Sumarni pengganti Bu Maryam. Ternyata Tante Joy — adik Om Atmo yang mereferensikan kepada Tante Pinkan. Tentu saja informasi riwayat pekerjaan dan tipe manusia seperti apa ia, Tante Joy sedikit membumbui. Bi Sumarni akan tinggal di rumah Belanda itu selama betah. Ia akan membantu mencuci, menyetrika, dan masak. Ya, memang Bi Sumarni tidak ramah dan baik seperti Bu Maryam. Awalnya. Ia sedikit cerewet, selalu ingin tahu, selalu menyanggah perkataan Tante Pinkan. Tapi bagi Bunga yang terpenting adalah kamar paling belakang itu berisi manusia, tidak kosong melompong. Setidaknya ada teman untuk berbagi cerita. ... Minggu-minggu berlalu. Hingga tiba masa jelang Pemilihan Umum. Rumah Brotoasmoro mulai ramai dikunjungi orang-orang dengan berbagai macam keperluan dari pagi sampai tengah malam silih berganti. Dari yang Bunga dengar dari Kevin—papanya ternyata akan mencalonkan diri sebagai salah satu anggota Legislatif. Om Atmo menjadi sangat sibuk, demikian juga dengan Tante Pinkan. Setelah membereskan kamar, Tante Pinkan meminta Bunga mengisi paper bag kecil dengan kaos bergambar foto suaminya yang sedang mengenakan jas dan beberapa kartu tanda nomor pencoblosan. Om Atmo juga sering menitipkan uang kepada Bunga dengan pesan harus diberikan dengan seseorang dengan nama ini yang akan datang di jam sekian. Gadis itu menurut saja. Memang lelah. Tapi, Bunga sangat menyukai ketika rumah keluarga Brotoasmoro ramai dengan tamu-tamu yang datang. Rumah Belanda terang dan menyala. Tidak suram dan dingin seperti yang selama ini dirasakan. Ia suka ketika Om Jojon dan Pak Arip tidur di ruang tengah sehingga dirinya tidak merasa takut kalau harus ke kamar mandi belakang. Ia suka ketika menyibak gorden transparan yang ada di ruang tamu bukan kengerian yang didapat. Tapi orang-orang yang sedang tertidur di teras depan. Sama seperti dirinya Bi Sumarni pun merasakan sesuatu di sekitar kamar belakang. Bunga ingat sekali sewaktu pertama kali datang ke rumah ini, kawat ayam bolong yang terbentang di depan koridor kamar belakang akan ditutup dengan apa saja. Begitu juga yang dilakukan dengan Bi Sumarni. Wanita bersemangat itu akan menutupnya ketika magrib akan datang. Dengan sajadah, mukenah, kain, pakaian panjang atau apapun itu yang bisa menutupnya dengan sempurna. Sebelumnya, Bunga sengaja memasang tali panjang seperti tali jemuran agar bisa menggantungkan sesuatu di sana. Agar ketika melewati koridor panjang tidak ada sosok wajah yang terlihat di luar sana. ... Pemilihan Kepala Daerah akan di mulai. Semua jadi sibuk dan rumah keluarga Brotoasmoro semakin ramai. Bunga dan Bi Sumarni yang tidak mengerti apa-apa cuma mengobrol di dalam kamar ketika tidak dibutuhkan bantuannya. Jam sembilan malam Tante Pinkan meminta mereka untuk membuat beberapa loyang puding coklat, gorengan, dan beberapa teko minuman hangat seperti kopi, teh dan bandrek. Wanita cantik yang mengenakan midi dress berwarna biru navy tampak tergopoh-gopoh menyambut serombongan orang. Ia mempersilakan mereka untuk duduk di ruang tengah yang posisinya satu area dengan dapur dan meja makan. Bunga dan Bi Sumarni ikut dikenalkan. Diantara mereka ada seorang yang bernama Mami Deborah. Ia berusia mungkin sekita 50-60 tahun. Rambutnya berwarna merah maroon. Long dress panjang hitam sangat elegan dihiasi aksesoris giok di leher dan pergelangan tangan. Sekilas, ia orang yang sangat ramah, suka mengobrol, dan humoris. Namun, tidak bagi Bunga. Menurutnya Mami Deborah memiliki sesuatu yang aneh dari dalam dirinya. Setiap tidak sengaja beradu pandang, Mami Deborah selalu memberikan senyuman yang aneh. Senyuman yang dingin sambil menatap tajam tepat ke arah mata. Seolah akan menelan gadis itu hidup-hidup. Bunga masih mengaduk puding ketika meja makan bulat besar di ruang tengah menjadi tempat diletakkan beberapa barang-barang. Ia bisa melihatnya dengan jelas walau dari dapur. Ada dupa, ada ayam yang hitam sekali seluruh badannya. Ada bunga kantil, mawar merah, mawar putih, kenanga, melati dan yang lain. Namun, ada beberapa barang lain yang tidak ia ketahui. Sedang sibuk memperhatikan benda-benda yang tak lazim, Tante Pinkan memerintahkan untuk ke kamar. Ia diminta mengambil tujuh buah pakaian Om Atmo yang sering dipakai. Gadis itu menurut saja. Atmo Brotoasmoro memiliki banyak lemari. Tapi Bunga sudah paham di mana letak pakaian harian, pakaian kerja seperti kemeja dan celana bahan. Ia juga tahu susunan pakaian formal suami istri itu. Lemari kayu kuno yang berada persis di sebelah kiri ranjang Tante Pinkan tidak pernah di buka sama sekali kecuali oleh Om Atmo. Lain halnya dengan lemari tanam dan lemari-lemari biasa. Bunga memiliki wewenang untuk itu. Dengan cekatan gadis itu memilih pakaian-pakaian yang biasa Om Atmo kenakan dan segera memberikannya kepada Tante Pinkan. Pakaian itu diletakkan di atas meja. Mami Deborah meletakkan ayam hitam, bunga, serbuk dan barang-barang lain di atasnya. Terakhir mengikatnya dengan dedaunan. Setelah membentuk sebuah buntelan Mami Deborah memercikan entah air atau minyak sambil membaca sesuatu. Lautan puding meletup-letup saat ia tengah sibuk memperhatikan apa yang dilakukan Mami Deborah. Seketika bulu kuduknya meremang. Buntelan itu seolah memiliki energi yang tidak biasa. Puding beres. Beberapa loyang alumunium cake minta diurus segera, juga. Karena di dapur tidak ada saklar, otomatis gadis itu harus mengerjakannya di samping meja bundar besar. Di posisi itu Bunga bisa mendengar obrolan Mami Deborah dan Tante Pinkan sambil sesekali mencuri pandang ke arah tujuh buah buntelan ayam hitam tadi. Ia mendengar Mami Deborah menyuruh menanam buntelan-buntelan ini pada empat penjuru mata angin dan tempat lain. Baru sebentar memikser adonan, Tante Pinkan memintanya untuk menemani Om Atmo ke halaman depan. Ia harus memegang senter ketika kepala keluarga Brotoasmoro itu sedang membuat lubang di tanah. Ketika sedang memegang senter, atmosfer di sekeliling mereka tiba-tiba saja berubah. Hawa menjadi dingin. Suasana menjadi mencekam. Entah kenapa kepala gadis itu dipaksa untuk menoleh ke arah balkon yang ada di atas kamar Tante Pinkan. Di sana sudah bertengger sesuatu yang pernah ditemui di lapangan basket. Makhluk itu sedang duduk manis di sana. Tawanya terdengar. Ia terlihat amat sangat tinggi. Gaun menjuntai sampai menutupi jendela kamar. Dan kepalanya belum terpasang dengan sempurna. Tampak bagian itu hanya leher saja yang tersisa. Kepala dan rambut panjang masih betah di tentengnya ke sana kemari. Ini pertemuan ke dua mereka. Namun, tetap saja Bunga masih merasakan ketakutan. Ia mendadak ingin ke kamar mandi untuk buang air kecil. Tawa panjang terdengar. Membuat bulu kuduk semakin merinding. Gadis manis itu merasa heran kenapa Om Atmo tampak biasa saja. Apakah pria berkacamata dengan rambut ala Brad Pitt itu sedang menahan rasa takut? Atau memang tidak mendengar apapun. Galian itu sudah hampir selesai dan buntelan sudah tertanam. Bunga tidak berani melihat ke atas balkon. Ia masih membaca ayat kursi. Dari sudut mata terlihat sosok tanpa kepala masih di sana. Om Atmo sudah selesai. Sandal gunung penuh dengan tanah basah yang menempel. Ia membersihkannya di paving blok yang ada di teras. Bunga tertinggal beberapa detik. Baru saja akan masuk ke dalam rumah, gadis itu dikagetkan oleh benda bulat yang menggelundung. "Kenapa, Kevin main bola malam-malam?" gumamnya. Semakin dilihat-lihat lagi bola itu memiliki rambut yang sangat panjang. Ternyata .... Benda bulat itu adalah sebuah kepala. Kepala yang sangat senang saat melihatnya ketakutan. Gadis yang mengenakan piyama batik merah muda itu merasa heran. Orang-orang seperti tidak ada yang menyadari kehadiran makhluk tanpa kepala itu. Bunga masih termenung saat seseorang menegurnya. "Bunga kenapa?" tanya seorang laki-laki berusia dua puluh tahunan dengan perawakan kurus tinggi. "Gpp Kak, cuma kepleset aja," jawabnya bohong. "Jangan melamun tengah malam gini," sambungnya lagi. "Iya Kak," jawab Bunga sambil menundukkan kepala karena malu. "Masuk sana ambil wudu!" "Iya, Kak." Bunga berjalan meninggalkan laki-laki yang dipanggilnya Kakak itu. Ia segera masuk. Tapi langkahnya terpaksa berhenti di ruang tamu. Rasa penasaran menggelitik hati. Bunga melihat ke arah teras. Laki-laki itu masih berdiri di atas paving blok sambil menoleh ke atas balkon. Entah apa yang dilakukannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD