Naomi memandangi dirinya di depan cermin kamar sebuah hotel berbintang lima. Dirinya yang sudah memakai baju kebaya akad nikah bernuansa putih bersih, tampak begitu cantik dengan make flawless-nya. Melati asli juga menghiasi sanggul rambutnya yang tertata dengan begitu rapi.
Meski sudah berpenampilan pengantin, tapi sampai dengan detik ini Naomi masih belum tahu seperti apa rupa laki-laki yang sebentar lagi akan menikah dengan dirinya. Hanya bermodalkan keyakinan akan pilihan Papanya, Naomi bismilah saja untuk menerima pernikahannya
Lagi pula, apa gunanya dia mencari tahu tentang sosok yang akan menjadi suaminya nanti. Toh, suka atau pun tidak suka, dirinya tetap harus menerimanya. Jika tidak, bagaimana dengan acara pernikahan yang sudah terlanjur disiapkan ini? Kan tidak lucu jika para tamu undangan datang, sementara yang menikah tidak ada.
"Hu ...." Naomi membuang napas kasar. Sembari merapikan make up-nya dengan tisu, dia terus memperhatikan wajahnya pada pantulan cermin.
"Meski aku sekarang cacat, tapi aku tetap terlihat cantik kok," puji Naomi pada dirinya sendiri.
"Kamu memang cantik sayang ...," Rossa tiba-tiba saja sudah berdiri di depan pintu kamar hotel.
"Mama ...." Naomi memutar kursi rodanya.
Rossa langsung berjalan mendekati Naomi. Ia menyentuh dagu sang putri seraya sedikit membungkuk. Menatap haru kepada perempuan yang berpakaian pengantin tersebut.
"Kamu cantik sekali Nao. Sangat cantik ...." puji Rossa. Mata wanita tua itu mulai berkaca-kaca.
"Ma ... jangan nangis lagi dong. Semalam Mama kan sudah banyak nangis. Janjinya kan kita hari ini happy-happy, tidak ada air mata."
"Aduh, Mama cuma terharu. Anak semata wayangnya Mama dan Papa akhirnya menikah juga. Meskipun semuanya terjadi di luar keinginan kita, tapi Mama tetap saja terbawa suasana," tutur Rossa sembari mengusap air matanya.
"Ini sudah jadi takdir Tuhan, Ma. Meski Naomi belum melihat calon suami Naomi. Bahkan belum tahu namanya, tapi Naomi yakin sekali, jika dia ... adalah pria yang baik."
"Di luar dari niat dia mau menikah dengan Naomi yang belum Naomi ketahui, Naomi percaya ... dia adalah malaikat yang Tuhan kirim untuk menyelamatkan harkat dan martabat keluarga kita," puji Naomi pada pria yang sudah menabrak dirinya itu.
Entah bagaimana nanti tanggapan Naomi, saat ia tahu jika pria yang dinikahkan oleh ayahnya kepada dirinya itu, adalah pria yang sudah menabraknya dan membuat lumpuh kedua kakinya. Apakah Naomi masih akan menerimanya?
"Apapun yang membuat kamu bahagia dan bisa kembali bersemangat lagi, Mama akan selalu mendukungmu. Ok?"
Naomi mengangguk cepat dan tersenyum lebar. Sesaat kemudian, seseorang datang dan mengatakan jika mempelai wanita sudah diperkenankan untuk keluar dari dalam kamar, sebab akad nikah akan segera dilaksanakan.
Rossa mendorong kursi roda Naomi keluar dari dalam kamar hotel. Mereka kemudian masuk ke dalam lift dan langsung turun ke ballroom hotel, tempat di mana acara diadakan.
Sesaat kemudian mereka pun sudah berada di depan pintu ballroom dan langsung disambut dengan tatapan para tamu undangan yang begitu ramai sekali. Mungkin ada sekitar seribu tamu undangan yang memeriahkan pernikahan sang dokter muda itu. Mengingat sang ayah yang seorang kepala dinas kesehatan kota, sudah pasti punya banyak kolega dari kalangan orang-orang penting.
Rossa dan Naomi sudah tiba di dekat panggung akad. Namun, wanita tua itu justru bingung saat melihat dua anak tangga yang tidak mungkin untuk dilalui oleh kursi roda Naomi. Membuat atensi Roland langsung tertuju kepada istri dan anak perempuannya itu.
Roland yang sudah berada di meja akad segera bangkit dan berjalan mendekati Naomi dan Rossa.
"Pa, ini bagaimana kita bawa Naomi ke atas panggung?" bisik Rossa. Semua tamu melihat ke arah mereka.
"Biar Papa coba angkat Naomi, Ma." Roland pun langsung mencoba untuk mengangkat putrinya itu. Namun, karena faktor usia dan bobot Naomi yang memang sedikit berisi membuat tenaga Roland kalah dan tak bisa mengangkat putrinya itu.
"Aduh, papa tidak sanggup ...." ucap Roland jujur.
"Biar aku saja." tiba-tiba saja Stevan muncul di belakang mereka. Mata Naomi pun langsung tertuju ke arah pria tampan tersebut.
Ya Tuhan ..., siapa pria ini? Apakah dia laki-laki yang akan menikah denganku? Jika benar, ini sih namanya gugur satu tumbuh semilyar. Masha Allah, ganteng sekali.
"Maaf ...." ucap Stevan saat akan menyentuh Naomi. Laki-laki berahang tegas itu pun segera mengangkat Naomi dan membawanya naik ke atas panggung.
Sepanjang jalan menuju ke meja akad, mata sang dokter muda itu tak lepas dari melihat pria berjas yang saat ini tengah menggendong dirinya.
Seakan-akan seperti mimpi, Naomi mulai merasa jika takdir ternyata tidak begitu kejam kepada dirinya. Buktinya, ditinggal oleh pria tampan, dirinya justru dapat yang sangat tampan.
Papa benar, dia jauh lebih ganteng daripada Mario. Yah, walau dia terlihat lebih dewasa. Tapi tidak masalah sih, sebab aku memang suka yang sudah matang.
Para tamu undangan pun langsung terbawa suasana saat menyaksikan kemuliaan hati Stevan saat mengangkat Naomi. Bak di drama-drama ber-genre romance picisan, Stevan tak ayalnya seperti pria gentle yang mencintai kekasihnya dengan begitu tulus. Lantas, bagaimana mungkin sang dokter tidak jatuh hati kepadanya?
Stevan langsung mendudukkan Naomi di kursi saat sudah di dekat meja akad. Kemudian menyusul dirinya dan juga Roland yang duduk di depannya.
Stevan langsung melirik sepintas kepada calon ayah mertuanya itu. Sebab ia teringat akan perjanjian yang telah mereka sepakati.
Kau tidak boleh menyentuh putriku ....
Namun, akad nikah belum terlaksana, Stevan sudah main gendong-gendong saja. Membuat jantung si bapak tua mulai gelisah dan tidak tenang memikirkan nasib putrinya setelah nanti akad nikah selesai.
Awas saja kalau kau melanggar perjanjian kita, akan aku buat kau membusuk di penjara.
"Baik, kita langsung mulai saja akad nikahnya," ucap sang penghulu.
"Pak Roland, apa Anda sudah siap?"
"Iya, siap ...." jawab Roland dengan ekspresi datar, tidak ada senyum-senyumnya.
"Baik, silahkan bapak bersyahadat dulu, kemudian beristighfar sebanyak tiga kali lalu setelah itu membaca basmalah, dan segera mulai ijab qabulnya."
Roland pun mengikuti semua arahan penghulu. Setelah semua terlaksana dengan cukup baik, ia pun memulai ijab qabulnya.
"Stevan Jovan Anderson, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya Naomi Meishana Eloise dengan mahar ... maaf sebentar." tiba-tiba saja Roland berhenti dari melafazkan kalimat ijabnya.
"Kenapa Pak Roland?" tanya sang penghulu. Semua tamu undangan pun dibuat bingung oleh bapak tua satu itu.
"Ti—tidak. I—ini benar, maharnya se—gini?" tanya Roland gugup.
"Ini benarkan maharnya?" tanya penghulu kepada Stevan.
"Iya, benar. Memangnya ada apa ya?" tanya Stevan bingung.
"Satu set berlian senilai dua ratus juta rupiah?" tanya Roland.
"Iya ... kenapa? Apa itu kurang?"
"Tidak, lupakan saja. Ayo kita ulangi lagi." Roland menghembuskan napas panjang.
Roland kembali mengulurkan tangannya kepada Stevan dan mengulangi lagi kalimat ijabnya. Dan dalam hitungan detik tanpa terputus, Stevan langsung menjawabnya dengan suara keras dan begitu lantang.
"Saya terima nikah dan kawinnya Naomi Maishana Eloise binti Roland Eloise dengan mas kawin satu set berlian seharga dua ratus lima puluh juta rupiah dibayar tunai."
"Bagaimana saksi, apakah sah?"
"SAH!" ucap saksi dan semua yang hadir menyaksikan ijab qabul yang spektakuler itu.
Stevan langsung memakaikan mahar set berlian tersebut kepada Naomi. Sebuah kalung dan gelang dengan desain yang seragam. Sebagai tanda jika wanita yang saat ini ada di depannya, sudah sah menjadi istrinya.
Setelah Stevan selesai memakaikan mahar padanya, Naomi pun segera meraih tangan Stevan dan mengecupnya di depan Roland. Membuat mendidih darah sang ayah yang sebenarnya tidak menyukai menantunya itu.
Sialan, aku kecolongan lagi ....
Naomi lalu melepaskan tangan Stevan dan kembali duduk menghadap ke arah meja. Setelah menandatangani buku pernikahan, mereka lalu berfoto sembari memegang buku nikah masing-masing. Awal untuk memulai kehidupan yang baru.
Kini akad nikah sudah selesai dilaksanakan. Lanjut kepada acara resepsi. Stevan dan Naomi sudah harus mengganti pakaian.
Rossa mendorong kursi roda Naomi dan membawanya ke ruang ganti yang ada di belakang ballroom. Stevan hanya melihatnya saja dari jauh. Sesaat kemudian , Rossa sudah keluar lagi, tapi hanya sendiri.
"Mas, langsung ke ruangan itu ya?" tunjuk seseorang yang sepertinya bagian dari MUA.
Pria berjas putih itu pun langsung berjalan dan masuk ke dalam ruangan yang sama dengan Naomi, guna mengganti jasnya dengan warna yang berbeda.
"Permisi ...." Stevan masuk dan langsung disambut oleh pandangan para penghuni ruangan tersebut. Seorang anggota MUA datang dan langsung memberikan Stevan setelan jas baru.
"Ini mas, silahkan diganti ya?"
"Oh, ok." Stevan baru akan melangkah keluar dari ruangan, tapi sudah lebih dulu dicegah oleh sang MUA.
"Mau kemana mas? Ganti di sini saja, kan sudah sah. Sebentar, kami keluar dulu." Para MUA itu pun tersenyum seraya terus berlalu keluar ruangan dan kemudian menutup pintu.
Stevan berdiri mematung seperti orang yang tiba-tiba saja kehilangan roh. Padahal selama ini, entah sudah berapa perempuan yang telah ia tiduri. Namun, mengapa saat satu ruangan dengan istri sendiri, lagaknya seperti orang yang sedang menonton film horor? Tegang.
"Hai ...." sapa Naomi sembari melepas senyum manis.
"H—hai ...." Stevan melirik Naomi.