Stevan mengamati sekeliling ruangan. Ternyata pria tampan itu sedang mencari kamar mandi, tapi tidak menemukannya. Ruangan itu ternyata hanyalah sebuah ruang backstage untuk acara tertentu. Jadi tidak ada toiletnya.
Stevan menghela napas panjang. Ia lalu mulai membuka gesper celananya namun dengan posisi membelakangi Naomi. Bagitu juga dengan Naomi. Perempuan cantik itu tidak melihat ke arah Stevan, hanya duduk diam saja di atas kursi rodanya dengan pandangan lurus ke arah cermin.
Namun, tanpa disadari oleh Stevan, ternyata Naomi bisa melihatnya dari pantulan cermin. Gadis 23 tahun itu mengulum senyum karena menahan rasa gelinya.
Selesai mengganti pakaiannya, Stevan pun bergegas pergi untuk keluar dari ruangan tersebut. Sebab lama-lama satu ruangan dengan Naomi, bisa membuat tubuhnya menjadi panas dingin. Bisa-bisa dia mati berdiri karena depresi.
Saat Stevan membuka pintu, ternyata MUA sudah berdiri di depannya. Make up Artist profesional itupun melihat ke arah Stevan.
"Sudah selesai ya mas? Boleh bantu saya tidak?" tanyanya kepada Stevan.
"Ban—bantuin apa?"
"Yuk mas, ikut saya." Sang MUA kembali membawa Stevan masuk ke dalam ruang ganti. Pria kaya itu hanya bisa menarik napas tapi tidak membantahnya sedikitpun.
Setelah sang MUA mengunci pintu, perempuan berkaca mata itu pun segera mengambil gaun biru muda milik Naomi.
"Mas, tolong berdiri kan mbaknya ya? Saya mau menganti bajunya." pinta sang MUA.
"Ha?" Stevan tampak bingung.
"Mas berdiri kan mbaknya, sambil dipeluk, seperti ini." MUA tersebut mempraktikkannya di depan Stevan.
"Ok ...." Stevan mulai mengangkat Naomi seperti orang dewasa mengangkat anak kecil. Memegang sang istri pada kedua ketiaknya dan kemudian mendekapnya dalam pelukannya.
Detak jantung Stevan meningkat pesat. Tatapan Naomi yang bertemu begitu dekat dengan tatapannya, mampu membuat ia lupa ingatan. Salah-salah, bisa-bisa Stevan lupa jika sekarang sedang ada MUA di antara mereka.
Sang MUA mulai membuka res kebaya Naomi, sehingga hanya menyisakan kemben putih yang menutupi dua area terlarang milik Naomi. Stevan mengalihkan pandanganya ke arah lain, tidak mau melihat kepada keindahan alam yang terpampang nyata di depan matanya itu.
Sungguh berat cobaan ini, Tuhan ....
Perlahan MUA mulai memasukkan kaki Naomi ke dalam gaun biru tadi. Kemudian berlanjut kepada tangan dan kemudian menutup res belakangnya.
"Sudah ...," ucap sang MUA.
Stevan cepat-cepat mendudukkan kembali Naomi di atas kursi roda. Berniat sekali untuk segera keluar dari ruangan ganti tersebut. Namun, lagi-lagi sang MUA menggagalkan niat pria dengan tubuh tinggi dan proporsional itu.
"Mas, tunggu mbaknya ya. Biar sekalian keluar."
"Oh, Ok." Stevan lalu duduk di sebuah kursi sembari memainkan ponselnya.
"Mba suka warna biru ya?" tanya MUA seraya memperbaiki make up Naomi.
"Iya, saya suka warna biru dan putih."
"Oh, pantas baju akad mba putih dan baju resepsinya biru."
"Sebenarnya saya pilih gaun biru karena terobsesi pada cerita animasi."
"Cerita animasi apa mba?"
"Cinderella. Kisahnya bagus. Walau dongeng tapi berkesan."
"Tentang gadis yang hidup dalam penderitaan, kemudian tiba-tiba bertemu pangeran ya mba? Best fairytale story."
"Tapi sayangnya, aku sudah tidak lagi bisa berdansa. Padahal berharap sekali bisa dansa di pernikahan sendiri."
"Sabar ya mba ...." Sang MUA mengelus pundak Naomi.
Jari Stevan terus sibuk mengotak-atik telepon genggamnya, tapi telinganya ada pada pembicaraan Naomi dan sang MUA. Menguping.
"Sudah selesai, mba. Wah cantiknya ...," puji MUA kepada Naomi.
"Terima kasih, mba ...."
"Sama-sama ...."
Stevan mulai memegangi pendorong kursi roda Naomi. Setelah MUA membukakan pintu, mereka pun segera berlalu keluar dan langsung menuju ke ballroom.
Dan sepanjang mereka jalan ke ballroom, mereka hanya diam saja tidak berbicara apa-apa. Stevan menghentikan kursi roda Naomi, saat sudah berada di dekat panggung pelaminan.
"Ayo ...." Stevan sudah bersiap untuk mengangkat Naomi ke atas pelaminan.
"Maaf ya, aku jadi merepotkan kamu," ucap Naomi.
Stevan berenti sejenak. Dia lalu menatap Naomi dengan posisi wajah mereka yang begitu dekat.
"Tidak masalah ...." Stevan tersenyum simpul.
Ia lalu mengangkat Naomi dan membawanya naik ke atas panggung. Berjalan tegap melewati para tamu undangan yang tiada habisnya memotret atau pun memvideokan mereka dengan telepon genggam masing-masing.
Sesampai mereka di atas panggung, kedua orang tua Naomi dan perwakilan dari orang tua Evan, juga naik ke atas panggung. Entah siapa yang sudah CEO satu itu bayar untuk menggantikan Papa dan Mamanya yang sedang berada di luar negeri. Namun, tak sedikitpun Roland mencurigai besan bodongnya itu.
Setelah Naomi dan Stevan duduk di atas panggung, MC pun kembali melanjutkan sesi acaranya.
"Acara selanjutnya yaitu ... acara dansa pengantin."
"Heh, kenapa acara dansa? Kamu tidak lihat kondisi pengantin wanitanya?" bisik teman MC-nya yang ada di samping.
"Ih, bagaimana ini. Aku lupa menghapusnya. Soalnya dadakan berubah aku jadi bingung," ucapnya juga sambil berbisik.
Semua tamu undangan melihat ke arah panggung pelaminan dan mulai berbisik.
"Bagaimana dia akan dansa, kan dia sekarang cacat," gumam salah seorang tamu undangan.
"Iya, MC-nya bagaimana sih?"
Roland dan sang istri pun saling lihat. Seolah mereka sedang berbicara lewat bahasa telepati. Ingin berbuat sesuatu, tapi nanti hanya akan membuat malu. Hingga kedua mata mereka melihat ke arah kursi pelaminan sang putri.
Stevan tampak berdiri dan kemudian membuat posisi menghadap kepada Naomi. Perempuan berkulit putih bersih itu pun mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk, lalu melihat ke arah Stevan.
"Kau mau berdansa denganku?" Stevan mengulurkan tangannya seraya sedikit membungkuk.
"Ta—tapi ...."
"Jangan khawatir, aku akan terus memegangi mu dan tidak akan pernah melepaskan mu."
Setelah menatap Stevan untuk beberapa saat, Naomi pun perlahan akhirnya menyambut uluran tangan Stevan.
Begitu tangan Naomi sudah digenggamnya, dengan cepat Stevan menarik istrinya itu ke atas dan langsung mendekapnya di pelukannya. Jangan tanya lagi bagaimana perasaan Roland saat melihat itu. Tangannya sampai mengepal saking beratnya menahan emosi.
Stevan lalu mengendong Naomi dan membawanya ketengah ballroom, tempat di mana dansa dilakukan sesuai dekor yang Naomi mau sebelum kecelakaan.
Stevan lalu menurunkan Naomi, tapi karena pegangannya tidak begitu erat, Naomi sempat akan terjatuh ke bawah, sehingga membuat para tamu undangan berteriak riuh serempak. Untung saja tangan Stevan cepat menyambutnya.
"Sorry ...." Stevan tertawa pelan.
"Iya, tidak apa-apa," jawab Naomi malu-malu kucing.
Stevan kini sudah mendekap Naomi dengan sangat erat. Dengan posisi berdiri tegap namun kaki tidak menyentuh landasan panggung, Naomi memegang kedua pundak Stevan dan menatap suaminya itu dengan begitu dalam.
Lampu ballroom pun mulai dimatikan, hanya menyisakan lampu sorot yang tertuju kepada sepasang pengantin yang berada ditengah ruangan. Alunan musik klasik romantis pun mulai diputarkan.
Perlahan Stevan mulai menjalankan kakinya ke samping secara bergantian. Membawa Naomi bergerak secara perlahan mengikuti melodi musik yang merdu.
Sedikit demi sedikit, gerakan Stevan mulai berganti ganti. Kini dia membawa Naomi berputar, hingga gaun dokter muda itu mengembang dan terlihat begitu indah.
Naomi lalu tertawa lepas saat dirinya merasa ngeri dan geli tiap kali Stevan membawanya berputar di atas panggung dansa. Namun, Stevan seperti tak memperdulikan rasa takut istrinya itu. Dia terus saja membawa Naomi berdansa, layaknya dansa sebenarnya.
Tubuh Naomi bahkan terlihat sangat ringan saat berada di tangan Stevan. Seolah menjadi pembuktian akan betapa gagah dan perkasanya dirinya. Sehingga membuat para tamu undangan wanita, terutama teman-temannya Naomi, berdecak kagum melihat pria berhidung mancung tersebut.
Dansa Naomi dan Stevan pun berakhir dengan posisi Naomi yang di angkat tinggi oleh Stevan sembari merentangkan kedua tangannya di udara.
Napas Stevan tampak naik turun saat mengakhiri dansanya bersama Naomi. Bagaimana tidak, tidak mudah berdansa sambil menggendong seseorang tanpa henti. Butuh energi yang cukup dan raga yang kuat. Namun sepertinya Stevan tidak merasakan lelah. Sebab ia cukup menikmati dansanya bersama Naomi. Berdansa dengan istri sendiri memang memiliki vibes yang berbeda.
"Kamu lelah?" tanya Naomi saat Stevan sedang menggendongnya kembali ke kursi pelaminan.
"Sedikit, tapi tidak masalah." Stevan tersenyum simpul.
Mereka sudah sampai di pelaminan. Namun tanpa sengaja, pandangan Stevan tertuju kepada Roland, sang ayah mertuanya. Pria tua itu duduk tidak begitu jauh dari Stevan. Hanya berkisar sekitar dua meteran saja. Jadi bisa melihat dan membaca ekspresi wajah pria tua itu saat melihat dirinya.
Roland melempar tatapan tajam ke arah Stevan. Namun dengan cepat diputuskan oleh CEO tampan itu dengan melemparkan pandangannya ke arah lain.
Aku peringatkan kau, jangan macam-macam dengan putriku. Kau menikahinya hanya atas dasar kesepakatan, tidak lebih.
Tenang saja, aku tahu batasanku. Kau tidak perlu mengkhawatirkan putrimu. Dia akan aman bersamaku.
Aman apanya? Aku tahu pria pemabuk sepertimu ini, pasti juga suka main perempuan.
Tak perlu cemas. Meski aku suka main dengan wanita malam, tapi aku tidak semudah itu dalam menyentuh wanita.
Mereka berbicara lewat bahasa telepati. Yang hanya mereka ... dan Tuhan yang tahu.