Setelah berfoto bersama, serta para tamu undangan juga telah selesai menyantap makan siang mereka. Acara kemudian ditutup dengan pelemparan bouqet bunga oleh Naomi ke arah bawah panggung, sebagai simbol pelepasan estafet masa lajangnya.
Semua teman-teman Naomi berebut ingin mendapatkan bouqet tersebut. Mereka meyakini bahwa, siapa yang berhasil mendapatkannya, maka akan segera menyusul berumah tangga.
"Nao, sekali lagi selamat ya?" ucap salah seorang rekan Naomi.
"Makasih ya, Laura."
"Siap-siap nanti malam. Kamu bakal diajak bertempur sama dia."
"Ih, kamu apa-apaan sih, Lau."
"Btw, dia lebih ganteng dari si Mario, Nao. Kamu beruntung lepas dari pria pengecut itu."
"Sudah ah, kita tidak perlu membahas laki-laki itu lagi. Aku sekarang sudah menjadi istri orang." Naomi melihat ke arah Stevan yang sedang berdiri bersama Roland dan teman-teman kantor sang Papa.
Kamu benar, Lau. Aku memang seberuntung itu bisa bertemu dan menikah dengan pria sehebat dan sebaik dia.
"Ciye ... dilihat terus Paksunya." Goda Laura lagi.
"Sudah sudah, kamu jadi pulang tidak? Sebentar lagi kan kamu harus dinas."
"Iya iya. Pokoknya kalau kamu sudah masuk kerja lagi, jangan lupa ya ... ceritakan bagaimana malam pertamamu."
"Ih, Laura ...." Naomi membesarkan matanya.
Ia kemudian menoleh sekali lagi ke arah Stevan yang berdiri agak jauh dari tempatnya dan Laura. Tanpa diduga oleh Naomi, suaminya itu menoleh ke arahnya dan kemudian melemparkan senyum sekilas kepadanya. Naomi membalasnya dengan penuh rasa malu.
Dasar tidak punya harga diri ....
"Oh ya, Nak Stevan ini kerja di mana? Saya merasa seperti pernah melihat Nak Stevan, tapi di mana ya?" tanya salah seorang rekan satu kantor Roland.
"Ha? Saya?" tanya Stevan balik.
"Iya ...."
"E ... sa—"
"Dia ini punya bisnis. Ya ... bisnis kecil-kecilan saja." Potong Roland.
"Bisnis dibidang apa?"
"Ojek online," jawab Stevan cepat.
"O—ojek online?" tanya pria itu lagi.
"E ... mak—" Roland hendak memotong lagi, tapi sudah lebih dulu dijawab oleh Stevan.
"Iya, transportasi umum berbasis digital." Stevan memotong ayah mertuanya.
"Oh, begitu?"
Stevan mengangguk pelan sembari tersenyum ramah. Namun, pandangan Roland kepadanya, jelas menyiratkan rasa tidak nyaman dan benci yang begitu dalam.
Ha, lagakmu seperti seorang CEO, padahal hanya seorang supir. Dasar pria tidak waras. Tapi tidak masalah dia membual cerita, daripada rekan-rekanku tahu siapa dia sebenarnya, bisa malu aku ditempat kerja.
Stevan kembali menoleh ke arah Naomi. Namun ternyata istrinya itu sudah tidak lagi berada di tempat semula. Sehingga Stevan mulai mencari-cari keberadaan istrinya itu. Ia pun kemudian pamit pada Roland dan juga konco-konconya untuk pergi mencari Naomi.
Evan mencari Naomi ke sana ke mari tapi perempuan berkursi roda itu tidak terlihat batang hidungnya. Sampai Stevan bertemu dengan Rossa dan menanyakan keberadaan Naomi. Namun perempuan paruh baya itu juga tidak melihat sang istri. Rossa sedang sibuk melayani para tamu dan sanak saudara yang datang dari jauh sehingga tidak fokus kepada Naomi.
Ke mana dia?
Setelah mencari ke sana ke mari, akhirnya Stevan menemukan keberadaan Naomi. Pria berjas hitam dengan aksen bunga di sakunya itu menarik napas lega dan tersenyum pelan.
Namun, baru saja Stevan akan melangkah maju mendekati Naomi, matanya sudah lebih dulu menangkap sosok yang pernah ia temui sebelumnya.
"Hai ...." sapa Mario kepada Naomi.
"Mau apa kamu mengajak aku bertemu? Kamu tahukan kalau hari ini adalah hari pernikahanku?"
"Aku tahu Naomi, tapi apa salahnya jika aku datang melihatmu seraya mengucapkan selamat atas pernikahanmu?" tanya Mario.
"Tidak, tidak salah. Terima kasih."
"Sama-sama." Mario tersenyum sinis. " Oh ya, siapa sih pria itu?" tanya Mario.
"Pria yang mana?" tanya Naomi balik.
"Pria yang sudah menikahimu itu."
"Kamu tidak perlu tahu."
"Ternyata ada juga yang mau menikahi gadis cacat di dunia ini, ya ...?"
"Maksudmu apa berbicara seperti itu? Kamu pikir karena aku cacat, terus tidak akan ada yang mau menikah denganku? Begitu?" Naomi mulai gusar.
"Tidak, bukan begitu Naomi. Aku hanya salut saja kepada pria itu." Mario tertawa namun sarat akan menghina.
Naomi meremas gaun pengantinnya. Andai dia tidak waras, pasti sudah ia tampar mulut pria yang saat ini ada di depannya. Namun Naomi masih menahannya. Dia tidak ingin mood baik dihari pernikahannya, rusak hanya karena ia menanggapi ucapan sang mantan.
"Apa masih ada yang ingin kamu bicarakan? Jika tidak ada, aku akan kembali ke dalam." Naomi sudah siap akan memutar kursi rodanya.
"Nao, tunggu ...." Mario memegang tangan Naomi.
"Lepaskan tangan istriku." Tiba-tiba saja dari arah belakang Naomi, muncul Stevan dengan raut wajah marah. Ia melihat Mario dengan tatapan mata yang sangat tajam.
"Santai bro. Aku hanya memegangnya sedikit saja." Mario juga terlihat kesal kepada Stevan. Pria dewasa itu menatap nanar sekilas ke arah lawan bicaranya.
"Kamu sudah selesai? Apa mau balik ke dalam?" tanya Stevan kepada Naomi.
"Hmm ...." Naomi mengangguk cepat sembari tersenyum kepada Stevan.
Stevan mulai mendorong kursi roda Naomi dan membawa gadis berambut indah itu kembali ke dalam ballroom hotel. Meninggalkan Mario yang masih berdiri mematung dan hanya membiarkan mereka berlalu.
"Mulai hari ini, kamu jangan pernah lagi pergi sendiri, ya?" ucap Stevan sambil terus mendorong kursi roda Naomi.
"Iya ...." Naomi tersenyum bahagia.
.
.
Pernikahan telah usai. Semua tamu undangan tampak mulai meninggalkan ballroom hotel. Roland dan Rossa mendekati Naomi dan Stevan yang hendak bersiap menuju ke ruang ganti.
"Nao, Papa tunggu di depan ballroom ya?" ucap Roland seraya melihat ke arah Stevan.
"Loh, Naomi dan Stevan kan masih harus di sini hotel, Pa," ucap Naomi.
"Di—hotel? Berdua sama dia?" nada bicara Roland naik satu oktaf.
"Paket pengantinnya 'kan satu set sama kamar, Pa. Sayang kalau tidak dipakai. Mana tujuh hari lagi," jelas Naomi.
"No-no-no, Papa tidak setuju, Naomi. Kamu pulang sama Papa ya? Sudah, biarkan saja kita rugi. Daripada nanti papa lebih rugi lagi." bujuk Roland lagi.
"Papa kenapa sih, Naomi bilang Naomi tidak mau pulang."
"NAOMI!" Roland membentak putrinya di depan Stevan. Membuat tangan pria bertubuh proporsional itu mengepal erat di samping pahanya.
"Baru satu hari kamu menikah dengan dia sudah berani kamu membantah Papamu!" Roland benar-benar murka kepada Naomi.
"Sudah Pa. Malu dilihatin orang." Rossa memegang lengan Roland.
"Papa yang lucu. Papa menikahkan aku dengan Stevan tanpa persetujuan aku dulu, tapi Papa yang bersikap seolah Papa tidak percaya dengan dia. Kalau memang papa tidak percaya dengan laki-laki ini, kenapa juga Papa menikahkan putri Papa sendiri dengan dia!" teriak Naomi.
"Sudah berani kamu sama Papamu!" Roland mengangkat tangannya hendak menampar Naomi, tapi Stevan sudah lebih dulu menahan tangan ayah mertuanya itu. Membuat atensi Roland beralih kepada sang menantu.
"Biar saya saja yang bicara dengan Naomi, Om," ucap Stevan pelan.
Roland melepaskan pegangan tangan Stevan dan berlalu pergi dengan raut wajah penuh kemarahan. Rossa segera menyusul suaminya itu dan meninggal Stevan dan Naomi berdua.
"Kita ganti baju dulu ya?" Stevan mendorong kursi roda Naomi.
Dan sepanjang mereka jalan ke arah ruang backstage, tanpa Stevan ketahui air mata Naomi jatuh menetes di pipi lembutnya. Hatinya begitu sakit saat melihat pria yang saat ini sudah bergelar suami bagi dirinya, direndahkan dan tidak dipercayai oleh ayahnya sendiri.
Ia saja yang belum melihat wajah Stevan bisa menaruh rasa percaya yang begitu besar kepada pria itu dan mau menikah dengannya atas permintaan sang Papa. Mengapa Papanya yang sekarang tidak percaya kepada suaminya? Naomi sungguh tidak mengerti.
Stevan membuka jasnya dan mulai mengganti pakaiannya. Namun, saat dirinya melihat ke arah Naomi, gadis cacat itu hanya duduk diam dan termenung di atas kursi rodanya seperti orang melamun.
Setelah menarik napas dalam, Stevan pun kemudian mendekati Naomi dan berjongkok di depan istrinya itu. Naomi hanya melihatnya saja tanpa berkata apa-apa. Hanya matanya yang terus basah oleh air mata.
"Kita pulang saja ya? Ikuti saja apa maunya Papamu," bujuk Stevan.
"Kamu kok malah membela Papa?" tanya Naomi kesal.
"Aku tidak membelanya, tapi hanya tidak ingin kamu dan dia semakin bermasalah. Adakalanya kita memang harus mengalah agar semuanya tetap baik-baik saja." Stevan melempar senyum simpul kepada Naomi.
"Boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Naomi.
"Tentu saja. Memangnya kamu mau bertanya apa kepadaku?" Stevan bertanya balik.
"Apa kamu menikahiku karena terpaksa?" tanya Naomi.
Senyum yang semula mengembang di bibir Stevan, seketika redup setelah ia mendengar pertanyaan dari istrinya itu. Dia terdiam dan terpaku tanpa kata sama sekali. Membuat Naomi menunggu untuk menjawab dan mengatakan yang sebenarnya.
"Kenapa kamu diam?" tanya Naomi.
"Apa itu penting untuk kita bahas sekarang?"
"Penting!"
"Baiklah, aku akan katakan yang sebenarnya sekarang."