Roland terus berjalan menuju ke ruangan ICU tempat di mana Naomi akan menjalani perawatan. Tak lama, ia sudah sampai di depan ruangan.
Dalam keadaan hati yang begitu hancur, Roland membuka pintu ruangan dan langsung mendekati ranjang sang putri.
"Bagaimana penabrak itu, Pa? Apa dia sudah dibawa ke kantor polisi?" tanya Mario.
"Sudah. Dia sudah dibawa dan akan segera ditahan."
"Bagus, dia memang layak mendapatkan hukuman itu. Sebab karena kelalaiannya Naomi jadi seperti ini sekarang."
"Bagaimana dengan acara pernikahan kalian, Yo ...." Rossa tiba-tiba saya teringat akan nasib pernikahan putrinya dan calon menantunya.
"Mama tenang saja, pernikahan tetap akan digelar. Mario yakin, Naomi pasti akan sadar sebelum hari H."
"Aamiin ya Allah. Mama takut sekali, Pa?" wanita paruh baya itu menyentuh tangan sang suami.
"Sudah, jangan menangis lagi. Lebih baik kita fokus pada kesembuhan Naomi dan jangan berhenti mendoakannya, ya?" Roland merangkul Rossa dan mengelus-elus lengan istrinya itu.
Seketika suasana menjadi hening. Hanya ada suara mesin EKG Naomi dan alat-alat lainnya yang terdengar di dalam ruangan tersebut. Sampai dokter datang dan mengalihkan atensi mereka.
"Selamat malam dokter Mario." Seorang dokter datang dan menghampiri mereka.
"Malam juga dok. Bagaimana keadaan dokter Naomi, dok?" tanya Mario pada teman seprofesinya itu.
"Jujur, sebenarnya keadaan dokter Naomi sangat mengkhawatirkan sekali. Dia mengalami trauma yang cukup parah pada bagian kepala dan juga kakinya. Saya khawatir jika ada bagian saraf yang terganggu saat kepalanya terbentur ketika kecelakaan terjadi."
"Maksud dokter apa? Coba dijelaskan secara lebih rinci lagi." tanya Roland.
"Maksudnya, jika benar ada saraf yang rusak atau terganggu akibat benturan itu, dokter Naomi bisa mengalami kelumpuhan, dok. Tergantung saraf bagian mana yang mengalami cidera." jelas dokter spesialis saraf tersebut.
"Apa? Ke—kelumpuhan?" Roland dan Rossa benar-benar shock saat mendengarnya. Dunia mereka seolah hancur dalam satu malam. Putri semata wayang yang selama ini ia kasihi dan sayangi dengan sepenuh hati, mereka sekolahkan hingga menjadi seorang dokter umum yang membanggakan, sekarang harus berakhir menjadi perempuan lumpuh yang tidak berdaya.
Tak hanya Roland dan Rossa, Mario pun sama terkejutnya. Sebagai seorang dokter, Mario tahu betul apa yang terjadi jika saraf pusat seseorang mengalami kerusakan. Sangat kecil harapan untuk sembuh.
"Pa, anak kita ...." Air mata Rossa kembali berderai dan jatuh membasahi kulit wajahnya yang tak lagi muda.
"Tenang ya Ma." Roland membelai kepala sang istri. "Lalu ... apa solusi yang bisa kita lakukan, dok?" tanya Roland lagi.
"Biasanya terapi adalah jalan satu-satunya untuk mengobati pasien yang mengalami kelumpuhan. Tapi nanti kita akan cari tahu lebih lanjut saat pasien sudah siuman. Doakan saja semoga dokter Naomi bisa melewati masa kritisnya."
Setelah menjelaskan tentang keadaan Naomi, dokter tersebut pun keluar, meninggalkan kedua orang tua Naomi dan juga sang calon suami.
Mereka kembali diam dan bergelut dengan pemikiran masing-masing. Tak Roland, tak Mario, sama-sama sedang memikirkan tentang nasib Naomi kedepannya nanti akan seperti apa. Jika benar Naomi lumpuh, bagaimana selanjutnya?
Saat mereka tengah terdiam membisu, tiba-tiba saja ponsel Mario berbunyi.
"Pa, Ma ... Mario angkat telepon dulu, ya?"
"Iya Yo, silahkan ...," jawab Roland.
Pria berkaos lengan panjang itu pun kemudian berlalu ke luar ruangan. Dia berjalan ke arah pintu keluar bangsal ruang ICU Naomi.
"Halo Ma ...," ucap Mario saat telepon sudah tersambung.
"Kamu masih di rumah sakit, Yo?" suara seorang wanita terdengar dibalik telepon. Ternyata yang menelepon adalah Andini, Ibunya Mario.
"Masih Ma."
"Bagaimana Naomi? Apa dia sudah siuman?" tanya Andini.
"Belum Ma, dia masih di ruang ICU."
"Apa separah itu?" tanya Andini.
"Kata dokter Spesialis Saraf, Naomi kemungkinan ... akan mengalami kelumpuhan, Ma."
Bagaikan mendengar petir disiang bolong, Andini begitu tersentak saat mendengarnya. Calon menantu kebanggaannya, kemungkinan akan mengalami kelumpuhan. Lalu, bagaimana jika hal itu benar-benar terjadi?
"Bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi, Yo?" dahi Andini mulai bertaut.
"Pria yang menabrak Naomi dalam keadaan dibawah pengaruh alkohol, Ma. Jadi yah ... kecelakaan itu terjadi begitu saja."
"Ya sudah, besok pagi Mama akan ke sana. Malam ini mama masih ada sedikit pekerjaan masalah rumah sakit kita, jadi harus segera Mama selesaikan dulu. Salam untuk orang tua Naomi ya?" Perempuan berambut pendek itu memutuskan panggilannya. Ia menyanggakan kepalanya pada telepon genggamnya, persis seperti orang yang sedang berpikir keras.
"Bagaimana Naomi." seorang pria paruh baya masuk dan langsung menghampiri dirinya.
"Keadaannya parah, kata dokter saraf ... kemungkinan dia akan lumpuh."
"Ha? Lumpuh?" pria tua yang tak lain adalah Andra, suami Andini atau ayahnya Mario, terkejut saat mendengar kabar dari sang istri.
"Mama bingung, bagaimana nanti jika Naomi benar-benar lumpuh? Apakah kita tetap akan menikahkan Mario dengan dia, Pa?" Andini mulai mengkhawatirkan nasib masa depan putranya.
"Kenapa mama harus bingung? Jika benar hal itu terjadi, ya kita tinggal bilang saja pada mereka, jika kita ingin pernikahan ini dibatalkan. Kita tidak mungkin menikahkan Mario, dengan gadis cacat seperti Naomi," jelas Andra dengan entengnya.
"Tidak semudah itu Pa. Acara sudah disiapkan. Undangan juga sudah di sebar. Kita pasti akan malu saat orang bertanya mengapa pernikahan anak kita tidak jadi diadakan." Andini tampak tidak setuju dengan keputusan sang suami.
Andra menatap nanar ke arah sang istri . CEO rumah sakit Permata tempat Naomi dirawat itu tampak gusar tapi seperti sedang berpikir keras.
Andra tentu saja tidak menginginkan hal ini menimpa kehidupan putranya. Namun, mau bagaimana lagi? Jika Naomi benar-benar lumpuh, apalagi lumpuh seumur hidup, Andra tentu tak akan rela putra kesayangannya itu menghabiskan hidupnya hanya untuk merawat perempuan cacat.
"Besok kita jenguk dia, sekalian kita cari tahu tentang keadaannya. Jika benar Naomi lumpuh, apalagi dalam waktu yang lama, dengan berat hati Papa tetap akan membatalkan pernikahan Mario dan dia." Andra berlalu keluar dari ruang kerja sang istri.
Andini menyibak rambutnya ke belakang. Direktur rumah sakit Permata itu membuang napas kasar. Ia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa lagi. Jika suaminya sudah memutuskan, sulit untuk dirinya dan Mario bantah.
Dulu saja, saat Mario menolak untuk masuk ke fakultas kedokteran, Andra sampai melempar gelas kaca ke arah putranya. Apalagi soal pernikahan, Andra pasti ingin yang terbaik bagi Mario. Sebab Andra merasa jika putranya adalah laki-laki yang sempurna, jadi sudah selayaknya untuk mendapatkan pendamping yang juga sempurna.
.
.
"Duduk ...." polisi menyuruh Stevan untuk duduk. Interogasinya akan segera dimulai. Padahal, jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Namun, pria dengan kemeja dan dasi yang sudah tidak berbentuk lagi itu masih bergelut dengan masalah hidup yang baru saja menimpanya.
"Mana KTP mu?" tanya polisi.
Stevan langsung mengeluarkan Kartu Tanda Pengenalnya dari dalam dompet dan menyerahkannya kepada polisi.
"Stevan Jovan Anderson. Apa pekerjaanmu?"
"Apa itu penting?"
"Kami harus mendata Anda terlebih dahulu."
"Aku seorang driver." jawab Stevan sembarang.
"Baik. Apakah saat mengemudi Anda sedang berada di bawah pengaruh minuman keras?"
"Iya ...."
"Siapa yang membawa korban ke rumah sakit?"
"Aku sendiri ...."
Setelah mendapatkan lima puluh lima pertanyaan, akhirnya interogasi pun selesai. Stevan langsung digiring masuk ke dalam sel. Bertemu dengan beberapa para napi lainnya.
Wajah-wajah penghuni tahanan itu tampak sangat tidak bersahabat. Mereka terlihat kusam dan tak terawat. Kumis dan jambang tumbuh subur di mana-mana. Sangat kontras sekali dengan wajah Stevan yang sering perawatan sehingga putih dan sangat mulus.
"Heh, kau korupsi?" tanya seorang napi. Mungkin karena penampilan Stevan yang masih menggunakan setelan kantor, sehingga ia dikira pejabat negara yang terkena OTT oleh KPK.
"Mana mungkin dia korupsi. Kalau dia korupsi, bukan di sini penjaranya, tapi yang ada AC-nya. Ha-ha-ha ...." Pria itu terbahak bersama rekannya.
"Aku menabrak seseorang hingga kritis." Stevan memegang jeruji besi sel dan menatap jauh ke arah pintu tahanan.
"Kau pasti pulang mabuk-mabukan, iya kan?" tebak napi lainnya.
"Iya, dan aku sangat menyesal."
"Kau berdoa saja semoga korban yang kau tabrak keluar dari masa kritisnya. Jika dia pulih, mungkin kau bisa keluar dari sini. Atau kau menyewa pengacara saja, siapa tahu nanti kau bisa menang di pengadilan." saran pria yang paling lebat janggutnya.
Stevan tersenyum miring. Benar apa yang dikatakan oleh napi itu. Tidak sulit bagi seorang Stevan untuk melepaskan diri dari kasus yang saat ini sedang menjeratnya.
Namun, bukan itu yang Stevan mau. Ia hanya ingin melihat, sejauh mana ia mampu bertahan, tanpa menggunakan kekuasaannya.
Ya, Stevan adalah seorang CEO di sebuah perusahaan besar milik keluarga Anderson.