Maafkan Aku

1360 Words
Stevan bangkit dan berdiri tepat di depan pria tersebut. Ia lalu mengulurkan tangan karena ingin memperkenalkan diri. "Aku Stevan ...," ucap pria dengan kemeja yang sudah tidak lagi berada di dalam celananya itu. "Aku Mario ...," sambut pria itu. "A—aku minta maaf atas apa yang terjadi, aku ... aku benar-benar tidak sengaja. Saat aku melajukan kendaraanku, tiba-tiba saja dia menyeberang dan—" "Kau mabuk?" tebak Mario. "Heuh?" Stevan terkejut mendengar pertanyaan Mario. "Aroma mulutmu sangat bau sekali alkohol." "I—iya. Aku sangat menyesal." Stevan menundukkan kepalanya." "Pantas saja. Kalau kau tahu dirimu sedang berada di bawah pengaruh alkohol, mengapa kau masih nekat mengemudi?" "Aku sedang terburu-buru ...." "Cih, terburu-buru katamu? Kau tahu, gara-gara kelalaianmu itu, calon istriku saat ini kritis!" Mario meradang. "Aku tahu, aku akan bertanggungjawab penuh atas kelalaianku. Aku tidak akan kabur, kau tenang saja." "Tenang katamu? Kalau dia mati bagaimana, ha? Kami akan segera menikah, kau tahu?" Mario sudah mencengkram kerah baju Stevan. Pria berdasi itu hanya diam saja, pasrah dengan semua perlakuan Mario. Terserah, mau laki-laki yang saat ini ada dihadapannya akan memukulnya, Stevan akan menerimanya. Ia bisa memaklumi kemarahan Mario atas apa yang terjadi. "Naomi ...." Seorang perempuan paruh baya datang bersama bersama seorang laki-laki tua. Mereka adalah ayah dan ibunya Naomi. Saat mendapatkan kabar tentang putrinya, orang tua Naomi segera menuju ke rumah sakit guna melihat keadaan sang anak. Rossa, ibunya Naomi, tak kuasa menahan rasa sedihnya tatkala mendengar kabar kecelakaan putrinya. Wanita berkerudung itu nyaris pingsan di tempatnya berdiri, untung saja Roland sang suami cepat menyambut tubuhnya. "Bagaimana Naomi, Yo?" tanya Rossa pada calon menantunya. "Naomi masih di ruang operasi, Ma. Dia harus menjalani beberapa operasi ...." "Ya Allah, Naomi ...." Rossa semakin lemas saat mendengar penjelasan Mario. Roland pun langsung membawa sang istri duduk di kursi tunggu. Stevan hanya bisa diam melihat orang-orang yang ada di dekatnya saat ini. Dirinya belum berani untuk bersuara, takut akan memperkeruh keadaan. Namun nampaknya Roland mulai menyadari keberadaan Stevan. Pria tua itu lalu bangkit dari duduknya dan langsung mencengkram kerah kemeja Stevan. Sorot matanya begitu tajam dan menyiratkan amarah yang begitu besar. "Apa kau yang sudah menabrak putriku?" tanya Roland. "Aku ... aku minta maaf ...." Hanya itu yang bisa Stevan katakan. Roland lalu tersenyum sinis. Ia pun kemudian melepaskan perlahan cengkraman tangannya dari baju Stevan. "Aku benar-benar tidak sengaja. Aku akan ber—" Plaakk! Belum sempat Stevan menyelesaikan kata-katanya, telapak tangan Roland sudah lebih dulu mendarat keras di pipih pria berdasi itu. Wajah Stevan sampai mengarah ke samping saking kuatnya dorongan tangan Roland saat menampar dirinya. Rossa dan Mario terperangah melihat apa yang Roland lakukan pada pria yang sudah menabrak putrinya itu. "b******n kamu! Tidak sengaja katamu, ha? Aku ini tidak bodoh. Aku bisa mencium aroma minuman keras dari mulutmu itu. Kau mabuk kan saat menabrak putriku? Jawab!" bentak Roland. Stevan mengangguk cepat dan menundukkan kepalanya. Gestur tubuhnya sangat menunjukkan jika ia begitu menyesal dan terpukul sekali. Andai waktu dapat diulang, pasti Stevan tidak ingin semua ini terjadi. Tak ada dalam kamus hidupnya untuk menyakiti siapapun. Apalagi sampai membuat seseorang berada dalam masa kritis seperti Naomi saat ini. "Maafkan aku, Pak .... Aku siap untuk mempertanggung jawabkan perbuatanku." Stevan terlihat tegas. "Harus! Kau sudah berbuat, maka kau harus bertanggungjawab." Roland lalu mengambil ponselnya. "Halo, kantor polisi. Putri saya baru saja menjadi korban tabrakan. Pelaku penabrakan saat ini ada bersama saya di rumah sakit permata. Saya harap kalian bisa segera datang ke sini untuk menahan pria b*****h ini." Roland berbicara seraya melihat tajam ke arah Stevan. Stevan memejamkan matanya sejenak. Ia tahu, inilah akhir dari perbuatannya. Niat ingin memukul selingkuhan mantan tunangannya, Stevan justru berujung masuk ke dalam penjara. Apa ini yang dinamakan dengan kualat? Lampu ruang operasi sudah mati. Itu artinya, operasi sudah selesai dilaksanakan. Sesaat kemudian, sebuah troli terlihat didorong keluar oleh para petugas medis. Seorang gadis cantik tampak terbaring tak sadarkan diri di atas troli tersebut. Selang infus dan juga selang oksigen masih menempel di wajah sendunya. Dialah Naomi Meishana Eloise. Seorang dokter umum yang bekerja di sebuah rumah sakit yang saat ini menjadi tempat ia dirawat. Naomi merupakan anak tunggal keluarga Eloise. Ayahnya seorang kepala dinas kesehatan kota dan ibunya seorang bidan. Sudah setahun ini Naomi dan Mario bertunangan dan sebentar lagi mereka akan menikah. Undangan sudah disebar, acara sudah dipersiapkan. Namun sayang, Naomi harus mengalami kejadian yang kini membuat ia tak sadarkan diri. Entah bagaimana nanti nasib pernikahan mereka. Mengingat waktu yang hanya tinggal satu Minggu lagi, apakah Naomi bisa pulih sebelum hari H itu tiba? "Naomi ...." Rossa langsung berdiri dan mengikuti troli putrinya. Begitu juga dengan Mario. Dokter spesialis jantung itu langsung menghampiri sang calon istri. Melihat korban yang ia tabrak sudah keluar dari ruang operasi, membuat Stevan ingin melangkah maju guna mencari tahu keadaan Naomi. Namun, baru saja ia akan melangkah, Roland sudah lebih dulu menahannya. "Mau ke mana kamu?" tanya Roland kepada Stevan. "Aku ingin melihatnya?" jawab Stevan sembari menunjuk ke arah troli Naomi yang kian menjauh. "Buat apa? Kau tidak penting untuknya. Lebih baik kau di sini saja denganku karena sebentar lagi polisi akan datang menjemputmu." jelas Roland. "Apa salahnya aku melihatnya sebentar saja? Setidaknya untuk mengucapkan maaf sekali saja. Siapa tahu dia tiba-tiba mati ak—" "Diam! Beraninya kau bicara seperti itu untuk putriku? Dia tidak akan mati, kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Khawatirkan saja dirimu yang sebentar lagi akan mendekam di jeruji besi yang dingin." "A—aku hanya tidak ingin menyesal, itu saja. Bukan maksudku untuk mendoakan putrimu. Tentu saja aku berharap dia bertahan. Aku juga tahu bagaimana rasanya kehilangan." Mata Stevan tampak berkaca-kaca. Ia lalu kembali duduk di kursi tunggu. Roland dan Stevan terdiam untuk beberapa saat. Mereka seperti sama-sama kehabisan kata-kata. Mungkin karena sudah kehabisan energi untuk marah-marah sehingga pria tua itu pun sekarang mendadak menjadi bisu. Selang beberapa menit dari mereka terdiam, polisi pun sudah tiba di depan rumah sakit. Ponsel Roland berdering panggilan masuk dari pihak kepolisian. "Halo ... kalian sudah di depan? Baiklah, aku akan segera ke sana," ucap Roland. Ia kemudian memutus panggilan dan melihat kepada Stevan yang terus menunduk sejak tadi. "Ayo, ikut aku," ajak Roland. "Kemana? Melihat putrimu?" tanya Stevan antusias. "Melihat penjara!" pria tua itu pun segera berlalu menuju pintu keluar rumah sakit. Stevan terus mengikutinya seperti anak ayam yang mengekor induknya. "Ini dia yang sudah menabrak putri saya." ucap Roland saat mereka sudah bertemu dengan aparat berseragam itu. "Selamat malam. Apa benar anda sudah menabrak putri bapak ini hingga terluka parah?" tanya Polisi kepada Stevan. "Iya benar ...." Stevan terlihat lesu. Dia sudah berada dilevel pasrah, separah pasrahnya. "Baik, mari ikut kami untuk interogasi lebih lanjut." "E ... maaf, apa saya boleh menelepon seseorang dulu sebelum pergi?" tanya Stevan. "Silahkan ...." Stevan pun segera mengambil ponselnya dan mendial nomor seseorang. "Halo, besok tolong kau handle semuanya ya?" "Memangnya Tuan mau ke mana?" tanya orang yang ada di telepon. Perkataan ini hanya Stevan yang bisa mendengarnya karena dia tidak menggunakan speaker. "Aku mau ke suatu tempat." Stevan pun kemudian menutup teleponnya. Polisi segera memborgol tangan Stevan. Namun saat akan membawa pria tampan itu polisi lebih dulu menanyakan tentang mobil Stevan. Dirinya pun langsung menunjuk area parkir. "Yang mana mobilnya?" tanya polisi. "Yang warna hitam ...." "Yang mana? Warna hitam ada banyak di sana. Bicara yang jelas." Roland masih terdengar kesal. "Yang itu ...," tunjuk Stevan dengan posisi tangan yang sudah terborgol. "Ah kau ini, mana kunci mobilmu?" "Di saku celana ...." Roland pun segera mengambil kunci mobil Stevan dan langsung menekannya. Betapa terkejutnya Roland saat melihat sebuah mobil mewah hitam mengkilap merek BMW yang sangat Roland tahu harganya itu, menyala lampunya saat ia menekan kunci mobil Stevan. "Mobilmu ... itu?" tanya pria tua itu. Nada suaranya turun satu oktaf. "E ... bukan. Saya driver. Itu milik majikan saya," jawab Stevan. "Oh, sudah aku duga. Mana mungkin berandalan sepertimu punya mobil semahal itu. Ya sudah, selamat menikmati hari-harimu di penjara." Roland hendak melangkah masuk ke dalam rumah sakit. Namun, Stevan kembali memanggil pria berkemeja batik itu "Ada apa lagi?" tanya Roland. "Jika nanti putrimu bangun, tolong sampaikan permintaan maafku kepadanya. Katakan jika aku sangat menyesal ...." Roland pun menatap Stevan sejenak dan kemudian berlalu masuk ke dalam rumah sakit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD